
Adam mengabadikan Akmar, ketika pria itu akan berjalan menuju pesawat yang telah menunggu
Tapi langkah Adam dan Mikail terhenti ketika di pintu keluar, mereka melihat seorang pemuda yang tampak berjalan dengan dua orang lelaki tegap
"Tuan muda Emir?" gumam keduanya kaget
Segera Adam dan Mikail berbelok, niat awal ingin langsung menuju ke pesawat mereka urungkan dan langsung berjalan kearah pintu arrived
Keempat sahabat Mikail yang melihat Mikail berbelok menghentikan langkah mereka dan ikut menoleh, begitupun dengan Akmar
Dada Akmar langsung berdetak kencang ketika dilihatnya siapa yang saat ini sedang dipeluk hangat Mikail dan Adam
"Emir..." desisnya
Tampak jelas dilihatnya jika tiga orang pemuda itu berpelukan hangat
Akmar membuang wajahnya sekilas dengan menghembuskan nafas panjang
"Akhirnya yang saya takutkan terjadi" gumamnya lesu
"Kayf halik sayid alshaabi? marhaban bieawdatik 'iilaa 'iindunisia saeidat biliqayik akhyran maratan 'ukhraa" (Apa kabar tuan muda?, selamat datang kembali di Indonesia
Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda lagi) ucap Mikail
"Alhamd lilah 'ana bisihat jayida. 'ana asf li'anani la 'astatie almaji' 'iilaa huna 'iilaa alyawm bishakl ghayr mutawaqae yumkinuna 'an naltaqi huna 'iilaa 'ayn tadhhabi?"
(Alhamdulillah saya sehat. Saya minta maaf karena baru hari ini bisa kesini, tanpa disangka kita bisa bertemu disini, kalian mau kemana?") sambut Emir ramah
"'Ana wa'asdiqayiy yajib 'an naeud 'iilaa Jakarta , ealayna 'an nakhdum maratan 'ukhraa taeal 'ayuha alsayid alshaabu , daeni 'uqadimuk 'iilaa 'asdiqayiy" (Saya dan sahabat-sahabat saya harus kembali ke Jakarta, kami harus berdinas kembali. Mari tuan muda, saya kenalkan dengan sahabat-sahabat saya)
Emir langsung mengangguk dan mengikuti langkah Adam dan Mikail yang berjalan di kanan kirinya
Wajah Emir juga menampakkan kekagetan begitu dia melihat ada Akmar di sana
"Teman-teman, kenalkan ini adalah cucunya majikan bunda saya dulu, namanya tuan muda Emir"
Keempat sahabat Mikail langsung mengulurkan tangan mereka dan menyebutkan nama mereka
Tak terkecuali Akmar, keduanya saling berjabat tangan dan saling memandang tajam
Lagi-lagi Adam menangkap tatapan keduanya. Mikail yang tak tahu menahu hanya menganggap jika tatapan mereka adalah tatapan biasa, karena mata keduanya memang tajam
"Asf 'ayuha alsayid alshaabu , ealayna almughadarat alan , la nurid 'an nata'akhar mimaa sayuadiy 'iilaa mueaqabatina" (Maaf tuan muda, kami harus segera berangkat sekarang, kami tak ingin terlambat yang menyebabkan kami mendapat hukuman)
"Oh, its okay... See you Mikail, I hope we will met as soon as possible"
Mikail lalu kembali memeluk hangat Emir dan kemudian memeluk erat Adam
"Kasihan ayuk" bisik Adam
Wajah Mikail menyiratkan rasa penasaran ketika Adam melepas pelukannya
"Nanti akan adek ceritakan" bisik Adam
Lalu Akmar kembali menyalami Emir dengan hangat
"See you soon Emir"
"See you soon too, Akmar"
Mikail langsung memandang keduanya secara bergantian. Telinganya jelas sekali menangkap jika dua pria tampan di depannya ini saling menyebut nama satu sama lain
Lalu dia menoleh pada Adam yang memberikan kode mengedipkan mata kearahnya
...****************...
__ADS_1
Akmar berkali-kali menarik nafas panjang ketika duduk di dalam pesawat yang akan membawanya ke Jakarta
Jika Akmar tampak sekali galau, berbeda halnya dengan Alfath dan teman-temannya yang justru sangat antusias
Mikail mendekati Akmar, lalu duduk di sebelahnya
"Apa abang mengenal tuan muda Emir?"
Akmar segera menoleh dengan tergagap dan mengusap kasar wajahnya dan menghembuskan nafas dalam
"Iya, ini yang kedua kalinya kami bertemu"
Kening Mikail berkerut, tatapan matanya menyiratkan tanda tanya besar
"Dulu ketika saya dan Naura di acara tamat sekolah ada Emir, juga waktu saya mengajak Naura taaruf juga ada Emir"
Kembali Akmar menarik nafas panjang
"Bahkan Naura begitu bahagia ketika menerima hadiah boneka dari Emir"
Akmar tersenyum kecut sambil memandang keluar lewat kaca jendela pesawat
"Bahkan kami berdua telah sepakat akan bersaing secara sehat untuk mendapatkan hati Naura"
Mikail terus memandang serius pada wajah Akmar yang berubah mendung
"Emir jauh lebih segalanya dari saya, kemungkinan besar Naura akan memilihnya" ucapnya lirih
Mikail tersenyum sambil menepuk bahu Akmar
"Semuanya ada di tangan Alloh, kita hanya bisa membuat rencana, Alloh lah yang memutuskan"
Akmar mengusap wajahnya sambil menghembus nafas dalam
"Tidak ada ketakutan lain dalam hidup saya selain takut melihat Naura dekat dengan Emir" ucap Akmar jujur
"Abang ingat apa yang papa saya katakan malam tadi tentang bagaimana kisah cintanya dengan bunda kami?"
"Semangat, abang jangan menyerah. Jika selama ini abang mengetuk pintu Alloh, maka mulai sekarang abang harus menggedor kuat, biar Alloh bukakan jalan terbaik"
Akmar menatap tajam kearah Mikail sambil mengangguk pasti
"Sebelum janur kuning melengkung, abang masih punya harapan"
Kembali Akmar mengangguk
...****************...
Sementara begitu pesawat yang akan membawa Mikail dan sahabat-sahabatnya take off, Adam segera mengajak Emir dan dua bodyguardnya masuk kedalam mobil yang terparkir di luar bandara
"Bagaimana jika tadi tuan muda tidak bertemu kami?" tanya Adam memakai bahasa Arab
"Saya akan menghubungi bunda"
Adam tertawa mendengar jawaban Emir
"Tuan muda juga tahu jika ayah kami meninggal?"
Emir menggeleng
"Lah, terus tuan muda kesini dalam rangka apa?, tidak mungkinkan jika tanpa alasan tuan muda kesini?"
Emir tersenyum
"Saya melihat postingan Akmar"
Adam dengan cepat menoleh pada Emir
__ADS_1
"Postingan Akmar?" tanyanya penasaran
"Iya, postingan Akmar yang mengambil swafoto dengan Naura yang sedang bermain sepatu roda"
Adam tampak berfikir, dia ingat itu adalah waktu mereka bermain ke Taman Beregam, saat itu memang Naura banyak melakukan permainan di taman tersebut, selain panjat dinding, Naura juga bermain sepatu roda
"Apa yang dikatakan Akmar pada postingannya"
Kembali Emir tersenyum
"Mencoba merayu Bidadari"
Adam langsung tergelak
"Ternyata bucin juga cowok satu itu"
"Jadi karena postingan itulah tuan muda kesini?"
"Tidak sepenuhnya, karena saya menelpon uncle Ozkan, bertanya mengapa orang kepercayaannya yang kekantor saya, bukan uncle, biasanya uncle sendiri"
"Dari uncle Ozkan lah, saya tahu jika beliau ke Indonesia karena ayah kalian meninggal"
"Dari situlah saya bisa menyimpulkan jika Akmar datang kesini karena dia ingin memberi support untuk Naura"
Adam mengangguk
"Benar apa yang tuan muda katakan, sejak Akmar datang, ayuk kami tidak sedih lagi, support dari Akmar benar-benar membuatnya bangkit dari kesedihan kehilangan ayah"
Emir tersenyum kecut
"Akmar selangkah lebih maju dibanding aku" batinnya
Lalu keduanya diam, bodyguard yang duduk dibelakang tampak membuka jendela, melihat hamparan sawah menghijau yang belum pernah mereka lihat sebelumnya
"Anaha tusamaa badi , sidi. 'iidha ra'ayt 'ashjar alnakhil fi shibh aljazirat alearabiat , fasayatimu taqdimuk huna bi'iitlalat ealaa alaimtidad al'akhdar lihuqul al'arz" ucap Adam
(itu namanya padi, tuan. Jika di Arab anda melihat pohon kurma, maka disini anda akan disuguhkan pemandangan hamparan sawah yang menghijau)
Kedua bodyguard Emir tersenyum sambil terus menatap keluar jendela.
Adam terus melajukan mobil menuju rumahnya, ketika mobil berhenti di halaman, dilihatnya papanya sedang duduk di balkon lantai dua, segera Adam turun
Adam melambaikan tangan kearah Ozkan dengan menunjuk-nunjuk kedalam mobil
Ozkan yang tak faham mengangkat wajahnya memberi kode ketidak mengertian maksud dari omongan Adam
Dia langsung faham ketika dilihatnya pintu sebelah Adam terbuka dan Emir turun
"Sayaaannggg...." teriak Ozkan
Aku yang sedang merapihkan tempat tidur hanya menjawab panggilannya dengan berdehem
"Sayang kesini dulu, cepat!"
Aku yang mendengar suara panik abang segera berjalan terburu kearahnya
"Lihat siapa yang datang"
Aku mengikuti telunjuk abang kebawah, mulutku langsung ternganga, dan secepat kilat aku berlari meninggalkan abang sendirian di balkon, dan segera berlari menuruni tangga
Sampai di bawah aku segera mengelus kepala tuan muda Emir yang mencium punggung tanganku
"Ma hi mufaja'at hadha alsayid alshaabi?" (kejutan apa ini tuan muda?) tanyaku sumringah
Emir tak menjawab, melainkan terus tersenyum
Segera aku membawanya masuk, dan membawanya duduk di kursi dimana kulihat abang tampak berjalan menuruni tangga berjalan kearah kami
__ADS_1
Adam yang begitu tuan muda Emir telah dengan bundanya, memilih naik menuju kamar ayuknya di lantai tiga
Sampai di depan kamar Naura, Adam mengetuk pintu beberapa kali. Naura yang tersenyum-senyum melihat kalung berliontin kan berlian pemberian Akmar tak mendengar jika adiknya berkali-kali mengetuk dan mengucap salam