Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pak Abraham Pulang


__ADS_3

Ternyata jadi janda itu memang tidak mudah. Setiap gerak yang kita lakukan menjadi bahan gosip tetangga


"Siapa Ndah lelaki yang sering kamu ajak ngobrol di lorong?" tanya mbak Mila sore ini saat aku ikut duduk dengan mereka


"Yang mana ya mbak?" tanyaku bingung


Tampak mereka saling toleh. Dan aku langsung merasa tak enak hati


"Itu lelaki sangar yang sering mengantar makanan kesini, sama yang sering ngiringi kamu kalau kemana-mana"


"Pak Abraham" batinku


"Oh, itu keluarga saya mbak" jawabku


"Oh, keluarga toh, kami kira itu pacar kamu" jawab mbak Mila yang diikuti tawa dari yang lain.


Mau tak mau aku juga ikut tertawa


"Hati-hati Ndah, kamu jangan salah pilih, kamu kan sudah ada pengalaman gagal, jadi harus pintar pilih suami, jangan hanya karena dia ada mobil dan sering ngasih makanan, lantas kamu mau sama dia" sambung bu Yus tetangga sebelah kontrakan mbak Mila


Aku menganggukkan kepalaku.


"Kalau memang dia keluarga kamu, kok dia tidak seperti keluarga ya, malah kesannya seperti pacar kamu" sambung yang lain


Aku menarik nafas dalam


"Jangan berbuat aneh-aneh Ndah di kampung sini, kalau kamu mau tetap tinggal disini"


Aku terkesiap. Tidak kusangka jika tetanggaku berfikir yang aneh tentang aku dan pak Abraham.


Tapi wajar juga jika mereka berfikir seperti itu, memang pak Abraham hampir setiap hari mengawasiku dari jauh. Mungkin keberadaan beliau memunculkan kecurigaan untuk warga disini, itulah mungkin sebabnya jika mereka berfikir yang aneh tentang hubunganku dengan pak Abraham


"Insha Alloh aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh ibu-ibu" jawabku


"Bagus deh, karena kalo iya kamu terpaksa kami usir"


Aku menelan ludah demi mendengar jawaban salah satu dari mereka.


...****************...


"*Ya Ndah?"


"Maaf sebelumnya abang, tapi aku mohon tolong abang minta kembali pak Abraham"


"Whats wrong?"


"Abang, aku ini janda. Dan abang tahu, tidak mudah lingkunganku menerima keberadaan pak Abraham"


"Iya, ada apa?"


"Aku minta sama abang, tolong suruh pak Abraham pulang lagi ke Jakarta. Stop buat jagain aku"


"Kamu keberatan jika Abraham terus mengawasi kamu? oke, abang akan minta dia tidak setiap hari menjaga kamu, abang akan suruh dia seminggu tiga kali buat mengecek keadaan kamu"


"Ya Alloh abang, tidak semudah itu. Aku mohon, tolong suruh pak Abraham pulang. Aku bukan tidak berterima kasih dengan kebaikan abang yang telah mengirim beliau buat jagain aku. Tapi sudah cukup bang. Aku sekarang sudah sah jadi janda, dan Andi tidak akan mengganggu aku lagi karena dia sudah menikah, jadi abang tidak ada alasan untuk terus menahan pak Abraham disini*"


Ariadi diam mendengar penjelasan panjang Indah.


"Bisakan *bang?"


"Jika itu yang kamu inginkan, hari ini juga abang minta dia pulang"


"Terima kasih bang, maaf jika abang tersinggung"

__ADS_1


"Never mind*"


Lalu panggilan berakhir.


...****************...


Bagi raport sudah selesai, itu artinya aku sekarang libur. Pagi ini hari minggu, aku sedang mengepel lantai ketika pak Abraham datang.


"Masuk pak" ucapku menyilahkan beliau masuk


Beliau melepas sepatunya dan masuk. Aku segera mengambil karpet untuk aku bentang karena lantai masih basah bekas ku pel.


"Kedatangan bapak kesini, untuk pamitan sama mbak Indah" ucap beliau setelah aku ikut duduk


Aku menganggukkan kepalaku dengan canggung


"Bos rasa tugas bapak sudah selesai, itulah makanya bapak diminta kembali"


"Ini pasti karena permintaanku kemarin" batinku


"Terima kasih ya pak untuk semuanya" jawabku lirih


"Mbak yakin aman kalau bapak tinggalkan?" tanyanya ragu


Aku menganggukkan kepalaku pasti.


"Aku bisa jaga diri aku pak, kalau ada apa-apa, aku bisa ngadu dengan keluargaku"


Tampak beliau menarik nafas dalam


"Bapak percaya mbak bisa jaga diri, simpan nomor bapak, kalau ada perlu mbak Indah bisa nelpon bapak" ucapnya sambil menyerahkan kartu nama


Aku segera mengambil kartu nama yang diberikannya, membacanya sebentar


"Jangan sungkan untuk menghubungi bapak, ya?"


"Iya pak" jawabku lirih


"Jangan sedih, jika Tuhan memberikan kita umur panjang kita akan bertemu lagi" ucap beliau sambil tersenyum


"Aku akan merasa kehilangan pak, dari awal kita kenal, di Pekanbaru, bapak sudah menjaga aku, sudah baik sama aku. Sampai bapak juga menjaga aku saat aku disini, hampir 24 jam menjaga aku, huffff aku pasti sedih sekali pak ditinggal bapak" jawabku terbata-bata


"Bapak akan selalu menjaga kamu mbak walau bapak tidak disini, preman-preman Lubuklinggau sini sudah bapak hubungi semua, sudah bapak minta untuk menjaga mbak dari hal-hal yang tidak diinginkan"


Aku tersenyum haru


"Ada kedua kakakku pak" jawabku


"Oh iya, bapak titip salam buat pak Andri"


"Iya pak, nanti aku sampaikan" jawabku


"Sampaikan sama beliau, kapan-kapan bapak mau ajak beliau menembak di lapangan tembak Jakarta"


Aku tersenyum mendengar ucapan beliau


"Bukankah beliau anggota Perbakin, ya kan?"


Aku menganggukkan kepalaku.


"Beliau memang benar-benar anggota BNN yang patut diacungi jempol" puji beliau


Aku tertawa.

__ADS_1


"Terima kasih pak untuk pujiannya terhadap kakak saya" jawabku sambil sambil tersenyum


"Ya sudah mbak, bapak pulang. Sampaikan salam untuk keluarga besar"


"Iya pak, sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih"


Lalu aku mengulurkan tanganku, bersalaman dengan beliau dan mencium punggung tangannya.


Mataku berkaca-kaca saat beliau mulai keluar dari pintu


"Jangan sedih. Bapak doakan kita dapat bertemu lagi. Dan bapak juga berdoa semoga kehidupan mbak jauh lebih baik lagi dan kebahagiaan selalu menyertai mbak" ucapnya setelah selesai memakai sepatu


Aku cuma bisa tersenyum kaku menahan airmataku yang siap tumpah


Pak Abraham tersenyum kearahku lalu membalikkan badannya berjalan meninggalkanku yang masih berdiri di depan pintu


Sebelum naik kemobil, dilihatnya anakku yang bermain.


Naura segera mendekat setelah sebelumnya beliau melambaikan tangan memanggil


Dapat aku lihat beliau memberikan lembaran uang ketangan mungil Naura.


Lalu beliau kembali menoleh kearahku, memberi kode dengan mengangkat kelima jarinya. Sepertinya beliau tahu, jika aku akan mencegah beliau melakukan itu.


Lalu beliau masuk kemobil, menghidupkan mesin dan mengklakson, lalu mobil tersebut berjalan menjauh


Sepeninggal pak Abraham, Naura segera berlari kearahku. Menyerahkan uang yang ada di tangannya


"Dari oom tadi, katanya untuk beli jajan"


Aku segera mengambil lembaran uang merah ditangan Naura. Menghitungnya, Sepuluh lembar.


"Maa Syaa Alloh" ucapku


Lalu aku masuk dan mengambil kartu nama pak Abraham yang tadi aku letakkan di lantai.


Mengsave nomor beliau, lalu mengirimkan sms


"Terima kasih pak untuk uang jajannya"


Pak Abraham yang sedang mengemudi, langsung meraih hpnya begitu mendengar hpnya berbunyi notifikasi pesan.


Dia tersenyum simpul setelah membaca sms yang dikirimkan Indah


Lalu beliau mendial sebuah nomor dan tersambung


"*Saya sudah on the way ini bos"


"Iya, hati-hati di jalan, bagaimana reaksi Indah tadi?"


"Sedih dia bos, katanya merasa kehilangan"


"Kamu jangan macam-macam, awas kalau kamu macam-macam*!"


Pak Abraham langsung menelan ludahnya


"Maafkan saya bos, maksud saya tidak seperti itu, maksud saya...."


Panggilan terputus.


Pak Abraham menatap sebentar hpnya, lalu menghembus nafas berat dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kenapa juga aku harus ngomong seperti tadi, cari mati" sesalnya

__ADS_1


__ADS_2