
Aku menarik nafas lega ketika pagar ditutup rapat oleh pak Binsar. Aku menoleh kedalam, kearah umak bapakku yang berdiri menatap sendu padaku
Aku berjalan kearah mereka dan memeluk mereka berdua dengan erat
Umak bapakku mengusap pundak ku berkali-kali dan aku kembali menarik nafas dalam
Saat melepas pelukanku pada mereka aku kembali memamerkan senyum lega pada mereka
"Tak ada lagi alasan untuk kamu memendam semua perasaanmu, semuanya telah kamu keluarkan. Semoga dengan ini hatimu kembali seperti dulu lagi, nak" ucap umakku yang ku jawab dengan anggukan kepala
Lalu aku menoleh kearah pak Abraham yang berdiri di dekat tangga
"Terima kasih pak Abraham..."
Beliau tersenyum segaris dan menganggukkan kepalanya
Adam mendekat dan memelukku dari samping. Ku elus kepalanya dengan sayang sambil ku cium pelipisnya
"Bagaimana perasaan bunda?" tanyanya
"Jauh lebih baik" jawabku
Adam tersenyum dan membawaku duduk di kursi. Dengan manja dia terus memelukku dari samping
"Bunda sekarang jangan memikirkan perasaan kami lagi, kami tak ingin hanya karena memikirkan perasaan kami, perasaan bunda sendiri bunda abaikan"
Aku tersenyum dan kembali mengelus kepalanya
Kulihat Nina masih berdiri takut-takut di tempatnya tadi
"Nin..?" panggilku
Nina mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku
"Sini..."
Nina dengan ragu berjalan ke arahku, dan aku menggeser tempat dudukku, dan Nina duduk di sebelahku
"Maafin mbak ya karena tadi kasar sama bapakmu dan Maria"
Nina menggeleng cepat
"Dari awal kan memang aku tahu mbak jika mereka jahat sama mbak, jadi ketika tadi mbak memarahi bapak dan mbak Maria aku tidak tersinggung sedikitpun, bagiku mereka pantas mendapatkan itu. Aku ingat bagaimana dulu mereka jahat sama mbak"
Aku merengkuh pundak Nina dan mengusap-usapnya
"Syukurlah Nin jika kamu memahami apa yang mbak rasakan"
...****************...
Siang menjelang disaat semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing, Nina dan Naura ke klinik dan Adam bermain dengan kedua adiknya, aku lebih memilih prepare untuk keberangkatan kami malam nanti
Abang sedang fokus menatap layar tabletnya dan aku mencuri-curi pandang padanya, ada sesuatu yang mengganjal di benakku
"Abang...." panggilku
"Hemmm..." jawab Ozkan tanpa mengalihkan perhatiannya pada tablet yang ditatapnya dengan pandangan serius
"Aku boleh nanya sesuatu?"
__ADS_1
Ozkan langsung mengalihkan perhatiannya dan segera melihat kearah Indah yang sedang berdiri di depan lemari
"Sini..." ajaknya sambil mengulurkan tangannya ke arahku
Aku segera menutup pintu lemari dan berjalan mendekati abang
Dengan mesra Ozkan mengambil tangan Indah, dan tangan satunya digunakannya untuk menyingkirkan tablet
Aku duduk di pinggir ranjang, dan abang segera memelukku dari belakang, meletakkan dagunya di pundakku
"Nanya apa?" tanya abang sambil mencium pundakku
Aku menoleh kearahnya dan menatap matanya dengan tajam
"Ayo ngomong"
Aku menarik nafas panjang
"Abang tahu aku depresi dari mana?"
Ozkan terdiam, berniat tak mau menjawab, tapi tentu saja Indah akan terus mendesaknya
"Kan kamu tahu sendiri, seluruh tentang kamu abang tahu, kamu lupa?"
Aku cemberut
"Jadi selama ini abang baik dan menuruti segala permintaanku karena abang takut aku kumat lagi depresinya, terus jadi gila?"
Ozkan terkekeh, kembali dia menenggelamkan wajahnya di bahu istrinya
Aku makin cemberut
Aku makin cemberut dan melototkan mataku
"Aku nggak gila kali bang"
Kembali Ozkan terkekeh dan aku masih memasang wajah masam padanya
"Dengar!" ucap Ozkan sambil menarik wajah istrinya menghadap kearahnya
"Abang yakin kamu tahu perasaan abang sama kamu, abang yakin kamu tahu seberapa besar cinta abang sama kamu, bahkan kamu juga tahu bagaimana perjuangan berat abang untuk meyakinkan kamu bahwa abang adalah yang terbaik untuk kamu"
"Abang sangat mencintaimu Indah, makanya abang selama ini menahan amarah pada orang-orang yang merendahkan mu, tapi sejak abang melihatmu kembali seperti depresi membuat abang jauh lebih stress dibandingkan kamu"
"Kamu tahu, seujung kuku mu sakit, itu sama halnya dengan seluruh tubuh abang yang luka"
Mataku langsung berkaca-kaca mendengar ucapannya
"Sakit yang kamu rasakan abang juga jauh lebih merasakan sakitnya. Itulah makanya abang ingin kamu melepaskan semua dendammu, kamu luapkan semua kemarahan mu, karena abang ingin kamu kembali menjadi Indah yang pertama kali abang kenal"
"Indah lugu dan pemalu, yang wajahnya akan bersemu merah bila malu, yang memendam rasa cintanya pada abang, hingga akhirnya luluh karena abang tertembak"
Aku terkekeh dan langsung memeluk suamiku
"Aku bukan luluh karena abang tertembak, tapi saat itu aku benar-benar takur kehilangan abang"
Ozkan membalas pelukan istrinya
"Teruslah mencintaiku dan jadilah istriku selamanya"
__ADS_1
Aku tak menjawab melainkan terus memeluk abang
"Mulai sekarang apapun yang kamu nggak suka jangan dipendam, luapkan semuanya. Marah, senang, emosi, nangis, luapkan. Jangan dipendam"
"Kamu bisa bicara sama abang, jangan ada rahasia-rahasia lagi"
Aku mengangguk
"Bila perlu, ketika kita di Jeddah nanti abang akan membawamu untuk latihan berkuda dan menembak, jadi jika ada yang membuatmu marah kamu bisa menembaknya"
Aku tergelak dan mencubit dada abang, lalu kami berdua sama-sama tertawa
"Ingin sekali rasanya tadi abang menembak kepala Joni dan pak Hermawan itu"
Aku menggeleng kuat
"Suamiku bukan pembunuh. Suamiku orang baik, dan sangat menghormati orang lain"
Ozkan menatap mata Indah
"Pak Hermawan dan Maria memang pantas mendapatkan amarah dan amukan dariku, tapi tidak dengan hukuman dariku atau dari abang"
"Cukuplah Alloh yang akan menghukum mereka berdua kelak. Karena pengadilan yang terbaik adalah pengadilannya Alloh, dan aku yakin, mereka berdua akan mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan mereka"
Ozkan tersenyum. Dia makin menatap dalam mata Indah
"Inilah Indahku, Indah yang kukenal dulu"
Aku mencibir dan kembali mencubit dadanya
"Ngomong-ngomong, pak Abraham baik banget ya bang sama aku"
Ozkan langsung memasang wajah datar mendengar Indah memuji bodyguard nya itu
"Pak Abraham rela melakukan apa saja buat aku"
Abang diam tak bereaksi, dan aku menyadari jika abang cemburu. Tapi aku ingin abang mengetahui bagaimana pandanganku tentang pak Abraham selama ini
"Sejak di Pekanbaru, sampai aku di Jeddah, beliau selalu menjagaku, bahkan tadi saja, beliau sampai membanting Joni karena Joni melototkan matanya ke arahku"
Ozkan berdehem dan menatap Indah dengan wajah serius
"Aku beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang baik, aku tidak tahu bagaimana dulu aku di Pekanbaru jika tidak ada pak Abraham dan yang lainnya"
"Aku juga tak akan tahu bagaimana aku dulu di kontrakan jika tanpa pengawasannya, bagaimana Adam dan Mikail selama mereka di Pesantren di Jawa tanpa pengawasan beliau, bagaimana hingga detik ini beliau masih mengawal Mikail padahal Mikail sudah jadi tentara dan dewasa"
Aku menarik nafas panjang dan mataku berkaca-kaca
"Ini semua tak luput dari perintah abang, justru yang terbaik disini adalah abang, karena tanpa abang entah aku akan jadi apa, mungkin aku akan jadi Indah yang kolot dan akan jadi janda terhina"
Ozkan menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata yang meleleh di pipi Indah
"Jangan berkata begitu, telah abang katakan tadi, kamu itu sangat berharga buat abang, melebihi dunia dan seisinya"
Aku makin melow dan makin terisak
"Terima kasih karena telah mencintai dan menerimaku tanpa syarat"
Ozkan menganggukkan kepalanya dan terus mendekap istrinya sambil mengusap- usap kepala istrinya
__ADS_1