
Sampai di pondok dimana umak bapakku, keempat anakku dan bodyguard menunggu, aku segera meraih gelas es entah milik siapa
Rasanya cukup haus berjalan dari pematang sawah hingga sampai pondok
"Pulang?"
Aku mengangguk kearah umakku. Lalu Naura menuju kasir dan membayar seluruh tagihan makanan.
Selesai itu kami semua keluar dan berjalan menuju parkiran
Aku yang duduk di atas motor menoleh kearah abang?"
"You wanna try?"
Abang menggeleng kuat, dan aku langsung terkekeh
Naura telah duduk di atas motornya, begitupun dengan Adam yang berboncengan dengan pak Abraham
"Sayang, motornya biar Abraham yang bawa, ya?"
Aku menggeleng
"Serkan?"
Serkan langsung melangkah naik keatas motor yang kembali membuat wajah abang menegang
"Ayolah coba naik motor sekali aja, seru kok" rayuku
Naura telah menghidupkan motornya, yang lain juga telah naik kedalam mobil, Defne tidur di pangkuan bapakku, tinggal abang yang belum naik
Pak Tomo sudah duduk di belakang stir menunggu abang naik, begitu juga pak Binsar dan dua bodyguard yang lain
Melihat Naura menghidupkan motor, pak Abraham melakukan hal yang sama, dan aku pun juga.
Secara bersama aku dan Naura memutar motor dan ketika Naura menjalankan motor dengan pelan, abang menghentikannya
"Kenapa pa?"
Aku ikut berhenti juga dan menatap kearah abang. Kulihat abang menarik nafas panjang lalu mengangkat Serkan dan memindahkannya ke motor Naura.
Aku kaget, begitupun dengan Serkan. Naura hanya menoleh kearah Serkan yang sekarang duduk di belakangnya
Lebih kaget lagi ketika abang duduk di belakangku. Aku menoleh dengan tak percaya pada abang, dan abang hanya diam dengan wajah datar
"Yakin?" tanyaku
Abang mengangguk.
Pak Abraham saling toleh dengan Adam dan keduanya tersenyum.
"Naura kita jangan lewat jalan tadi, kita muter jalan lain"
Naura mengangguk ke arahku lalu dengan Serkan yang memeluk pinggangnya, Naura mulai menjalankan motor dengan pelan
"Bunda ditengah, biar adek dan pak Abraham di belakang"
Aku mengangguk kearah Adam dan melajukan motor dengan pelan.
"Kalau takut, pegangan sama aku bang"
Abang masih seperti tadi, tak menjawab. Sepanjang jalan aku tersenyum-senyum sendiri
Pak Abraham dan Adam cekikikan melihat bagaimana kakunya abang duduk di motor
Serkan yang dibonceng Naura sesekali menoleh kebelakang kearah kami
Karena abang hanya duduk kaku di belakangku, kejahilanku muncul, dengan jahil aku mengegas motor dan menyalip Naura
Refleks abang langsung memeluk pinggangku dengan erat
"Sayang jangan ngebut, abang takut"
Aku menahan senyum dan tak memperdulikan.
"Sayang tolong"
__ADS_1
Aku melihat wajah abang melalui spion, benar-benar tegang, jauh lebih tegang ketika dulu aku melahirkan anak kembarnya
Sepanjang jalan abang terus berteriak panik dan aku yang di depan tak memperdulikannya
Aku masih membawa motor dengan kecepatan sedang hingga akhirnya kami duluan sampai di rumah
Begitu motor berhenti di garasi abang segera turun dan langsung terduduk dilantai teras dengan wajah pucat dan tegang
Aku yang turun dari motor segera. menghampiri abang dan terkekeh melihatnya
Tak lama setelahnya muncullah Naura dan Serkan, begitu turun Serkan langsung berlari kearah abang dan memeluk erat abang
"its so amazing, right Dad?"
Abang menggeleng. Secara kebetulan bertepatan dengan pintu terbuka dan muncullah yuk Yana dan kedua kakak iparku
"Loh, sejak kapan?"
Yuk Yana mendecak dan aku segera berjalan kearah ketiga ayukku itu.
"Kami buatkan oleh-oleh untuk kamu bawa pulang, makanya kami kesini, ehh nyampe sini orangnya nggak ada"
Aku tertawa dan menoleh kearah dua mobil yang masuk
Adam segera membuka pintu mobil bapakku dan mengambil Defne dari pangkuan bapakku
Menggendongnya naik ke kamar Naura.
Pak Tomo dan pak Binsar yang baru datang segera turun dan berdiri bersebelahan dengan pak Abraham. Ketiganya memandang serius kearah Ozkan
"Bos nggak apa-apa?" tanya pak Abraham takut-takut
Ozkan mengangguk dan segera berdiri lalu berjalan masuk sambil memegang tangan pak Ahmad
Sepeninggal Ozkan, ketiga bodyguardnya langsung membalikkan badan dan membekap mulut menahan tawa
Sedangkan aku yang masuk kedalam rumah segera menuju dapur dimana ada mbak Dian
Kembali mbak Dian dan ketiga ayukku berjibaku membuat makanan untuk ku bawa pulang malam nanti
"Masukkan ke freezer bun biar awet" kata mbak Dian
Sementara umakku yang baru masuk juga menyusul kebelakang. Lalu umakku bercerita bagaimana kelakuanku pada suamiku
Mbak Dian dan ketiga ayukku terkekeh
"Aku yakin seumur hidup abang baru kali ini naik motor" jawabku sambil tertawa pula
Kak Andri dan kak Angga yang juga ada di dalam rumah tampak mengobrol dengan bapakku dan abang
Hingga akhirnya kak Andri menyusul kebelakang dan duduk di sebelah umakku
"Bagaimana ceritanya dengan atm dan buku tabungan Naura dan Adam?"
Umakku yang duduk di sebelahku menoleh dan tampak kaget
"Nanti kakak kasih kembali sama mereka, tapi ketika aku pulang, jangan sekarang"
Umakku masih menatap ke arahku
"Tabungan mereka aku sita" jawabku kearah umakku
Umakku mendecak dan menggelengkan kepalanya
"Wajar kan mak, kalo aku marah"
Umakku mengangguk. Lalu kak Andri kembali menatap serius ke arahku
"Bukan mendahului Tuhan sat, tapi kamu lihat kan jika umak dan bapak sudah tua"
Aku tahu arah omongan kakakku. Mataku langsung berkaca-kaca
"Maafkan aku ya mak karena tidak bisa mengurus umak dan bapak" sambil berkata begitu aku memeluk umakku
"Tapi walau aku jauh, aku sangat menyayangi umak dan bapak"
__ADS_1
Air mataku langsung mengalir. Dan aku segera menempelkan kepalaku di pundak umakku
"Jagain Naura dan Adam lagi ya mak, aku tahu ketiga anakku besar dalam asuhan dan kasih sayang umak dan bapak"
"Jikapun nanti aku bisa meminta sama Alloh, aku ingin mahkota dan jubah yang diberikan Naura dan adik-adiknya padaku, aku serahkan sama umak dan bapak, karena umak dan bapak jauh lebih pantas mendapatkan itu dari pada aku"
"Dan untuk kebun sawit dan usaha yang lain semua aku serahkan sama kak Andri dan kak Angga"
"Karena kakak berdua jauh lebih mengerti ketimbang aku dan ketiga anakku"
"Iya, kamu itu tahunya uang saja" jawab kak Andri yang aku yakini ingin mencairkan suasana
Aku yang sedang menangis terpaksa tersenyum kearahnya
"Yuk Yana ngurusi toko dan SPBU ya yuk, biar adil"
Yuk Yana tersenyum
"Jika tak sibuk" jawabnya
Aku tersenyum sambil menaikkan alisku
"Gajinya minta sama kak Andri" lanjut ku
Kembali yuk Yana tersenyum
Lalu muncul Naura, ku lihat wajahnya seperti sedih
Lalu Naura duduk di sebelahku. Menatap dalam mataku
"Jangan menatap bunda kaya gitu"
Naura tersenyum getir
"Bunda pasti tahu bagaimana perasaan ayuk saat ini"
Aku mengusap kepalanya
"Sungguh bunda tak pernah berfikir bahwa akan jauh dari kalian semua, jangankan terfikir, membayangkannya saja tak pernah"
"Tapi takdir Alloh lah yang membuat bunda jauh dari kalian" sambung ku sambil meneteskan air mata
Lalu aku mengangkat kepalaku menatap langit-langit rumah, sore sudah menjelang maghrib dan itu artinya kebersamaan ku dengan seluruh keluargaku tinggal hitungan menit
"Yakinlah nak bunda sangat menyayangi kalian"
Naura segera memelukku dan menangis. Kulihat umak dan ayuk-ayukku ikut menangis
Selagi kami menangis, muncul Adam dan duduk di depanku, duduk di sebelah kak Andri
Wajah Adam juga tampak mendung
"Jaga ayuk ya dek"
Adam mengangguk. Dan aku kembali menangis menatap wajah mendungnya
"Sini nak...." panggilku sambil mengulurkan tanganku kearahnya
Adam berdiri dan langsung memelukku. Jadilah aku dan kedua anakku bertangisan
"Kalian punya banyak uang nak, jika rindu sama bunda kalian tinggal susul bunda"
Keduanya mengangguk
"Adam.... alangkah banyaknya dosa bunda sama kamu nak..." lirihku pilu
Adam menggeleng sambil melepas dekapanku lalu menghapus air mataku
"Bunda mengasuh mu cuma sampai kamu umur tiga tahun nak, setelah itu sampai kamu besar nenek lah yang merawat mu"
"Bunda tidak pernah tahu bahwa selama ini kamu banyak memendam perasaan sakit, memendam kesedihan, dan merasa terabaikan"
Adam kembali menggeleng
"Tidak bunda, adek kuat karena cinta bunda, karena bunda lah adek sampai sebesar ini"
__ADS_1
Tangisku kian pecah mendengar ucapan tulusnya
"Bunda harus banyak belajar dari kamu nak" ucapku bangga