
Setelah kejadian malam itu, aku mengubur semua mimpi dan cintaku pada tuan Ozkan.
Aku harus fokus dengan cita-cita awalku, aku hanya ingin mewujudkan mimpi ketiga anakku dan membalaskan dendamku pada keluarga besar Andi.
Tak terasa aku sudah tiga tahun jadi asisten ummi. Dan alhamdulillahnya lagi, gajiku tiap tahun naik terus, dan aku sudah meminta kak Andri untuk mendaftarkan kedua orangtuaku untuk naik haji.
Walau awalnya kedua orangtuaku menolak keras, tapi akhirnya mereka luluh saat kubilang, jika mereka naik haji itu artinya bisa bertemu denganku.
Dan masalah ketiga anakku, Naura sudah berumur sepuluh tahun, dan sudah duduk dikelas empat SD, Kakak Mikail duduk dikelas dua dan sibungsu Adam, kelas satu.
Semuanya satu sekolah, sekolah di Madrasah. Bukan tanpa alasan mengapa aku memilih mereka sekolah di sana, karena pelajaran agamanya lebih banyak dan yang paling penting, karena ada program tahfidznya. Karena aku ingin ketiga anakku seperti tiga tuan muda anaknya nona Alima, yang dididik menjadi hafidz.
Walau mereka tidak tinggal di asrama, tapi mereka rutin setiap sore belajar tahfidz. Dan bagaimana sikap mereka sekarang denganku? Ketiganya masih manja padaku, masih sama seperti dulu, setiap week end, adalah jatahnya aku yang mengasuh dan mengurusi mereka, itu permintaan mereka yang tak bisa diganggu gugat, dan aku tentu saja senang
Saking akrabnya denganku, mereka ikutan memanggilku dengan sebutan bunda. Itu mereka lakukan ketika sedang bermain dengan mereka, umakku menelpon dan mengatakan jika Naura rindu padaku.
Saat itulah mereka dengar aku berkata "bunda" beberapa kali. Dan mereka bertanya itu artinya apa. Aku lalu menjelaskan jika itu sama artinya dengan kata Mommy.
Sejak saat itu mereka lantas memanggilku dengan sebutan bunda bukan aunty lagi. Bahkan diantara ketiga tuan muda itu, tuan muda Fadh adalah yang paling manja denganku. Hal ini semakin mengingatkanku dengan si kakak, Mikail, yang juga sangat dekat denganku.
Kak Andri sudah setahun menikah, dan sekarang istrinya tengah hamil tua. Tentu saja itu membuatku bahagia, karena akhirnya kakakku menikah walau dia sempat beberapa kali menolak dengan alasan ingin mengasuh ketiga anakku.
Setelah aku menangis saat menelponnya, akhirnya dia luluh dan mau meminang kekasih yang sudah lima tahun dipacarinya.
Dan cerita tentang Andi aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana kabarnya. Ada kakakku pernah bilang, jika mbak Ningsih hampir tiap bulan menengok ketiga anakku.
Aku bersyukur, itu artinya mbak Ningsih masih menyayangi ketiga anakku walau aku bukan iparnya lagi.
Dan masalah gajiku, seluruhnya aku kirimkan ke rekening Naura. Kata kakakku jumlahnya sudah hampir satu M.
Dan keluarga besarku berharap jika aku secepatnya kembali ketanah air. Karena tabunganku sudah banyak.
Tapi hari ini, saat jam istirahat aku menelpon kakakku. Saat ini aku sedang berada di luar kantor. Tepatnya di cafe yang biasa aku dan ummi kunjungi.
Ketika telpon tersambung dan terdengar suara kak Andri aku langsung menyapanya dengan suara bahagia. Aku tak ingin kakakku mendengar suaraku sedih, karena itu akan membuatnya khawatir.
"Kak, bisa minta tolong konsultasi sama bapak dan umak untuk membuatkan ketiga anakku rumah?" ucapku setelah selesai basa basinya.
"Serius kamu mau membuatkan anak-anakmu rumah?"
__ADS_1
"Iya kak, rasa sudah cukup uangnya"
"Bukannya kakak tidak setuju, apa tidak lebih baik jika uangnya kamu investasikan dulu, lagian kalau mau buat sekarang, kasihan Naura dan adiknya masih kecil, siapa yang mau jagain mereka, Andi?? Ih, jangan sampai ya"
Aku terkekeh mendengar jawaban terakhir kakakku.
"Ya umak atau kakaklah yang jagain" jawabku santai
"Hei, istri kakak mau dikemanakan, lagian kakak juga sudah punya rumah sendiri"
Aku kembali terkekeh
"Terus gimana kak, bagusnya?"
"Ya kalau menurut kakak ya itu tadi, investasi dulu. Ada teman sekantor kakak, kampung dia tidak jauh dari bekas mertua kamu itu"
Aku terbahak
"Kenapa kamu tertawa?"
"Mantan kak, kok yo bekas, kasar banget"
Aku kembali terkekeh
"Terus?" tanyaku
"Ya kata teman kakak itu, di kampungnya itu mau ada pembukaan lahan sawit. Kalau kam mau dan setuju uangnya investasikan dulu kekebun sawit, toh itu untuk masa depan kamu juga kan, nanti sekira umur tiga empat tahun sawitnya sudah berbuah, kalau harganya mahalkan bisa untuk bangun rumah. Ya, belinya sedikit saja. Jangan banyak-banyak"
Aku diam, aku menimbang saran dari kakakku itu
"Sepaketnya berapa kak?"
"Dua puluh juta, sudah lengkap itu"
"Beli dua puluh paket kak" jawabku cepat
"Gila kamu" jawab kakakku kaget
Aku lalu terkekeh lagi
__ADS_1
"Masih banyakkan kak sisa tabungan jika aku beli dua puluh?" ucapku
"Iya sih, tapi apa tidak terlalu banyak?"
"Jika untuk masa depan anakku tidak masalah kak"
"Ya, okelah. Nanti kakak rembukan dulu dengan umak bapak sama kakak-kakak yang lain" jawab kakakku
Aku tersenyum, lalu setelah mengucap salam obrolan kami berakhir.
Setelah melihat jam di handphone, aku segera beranjak menuju kasir, lalu pergi dari cafe tersebut dan kembali ke kantor.
Sampai di kantor aku kembali fokus bekerja.
...****************...
Bagaimana dengan Ozkan? Setelah kejadian malam itu, dia langsung terbang kembali ke Turki. Abraham dan Tomo disuruhnya untuk tetap tinggal di Arab, mengawasi Indah dari jauh.
Hingga di tahun kedua penugasan Abraham dan Tomo, akhirnya Ozkan meminta kedua bodyguardnya itu untuk kembali ke Indonesia
Bagaimana perasaannya pada Indah? Apakah dia berhenti mencintai wanita itu?
Tidak, dia sampai detik ini dia masih mencintai Indah. Dia ingin Indah menggapai mimpinya, dia ingin memberi kesempatan untuk Indah membuktikan jika dia bisa layak jadi pendampingnya.
Walau dibulan dan tahun pertama itu sangat sulit dilakukannya, tetapi dia terus berusaha. Dia yakin, Indah bisa meraih kesuksesan.
Dan suatu hari nanti Indah akan menyadari bahwa hanya Ozkan yang terbaik untuknya.
Ozkan tidak kembali lagi ke Indonesia. Dia mengirim tangan kanannya untuk mengurusi bisnisnya di Indonesia.
Dia sibuk mengurusi kerajaan bisnis orang tuanya di Turki. Untuk mengurangi kerinduannya pada Indah, dia menyibukkan dirinya dengan bekerja.
Kedua orangtua dan saudaranya yang sedih melihatnya, hanya bisa mensupport dan mendoakan jika jodoh tidak akan kemana.
Awalnya nyonya Aylin bersikeras untuk pergi ke Jeddah, dia ingin meminta Indah langsung kemajikannya. Tapi Ozkan melarang, Ozkan menjelaskan jika dia akan terus menunggu Indah dan dia ingin Indah bangga dengan hasil kerjanya, bukan dengan rasa kasihan.
Dia tahu bagaimana Indah, wanita keras kepala karena dendamnya.
Setiap tiga bulan sekali, dia pergi ke Jeddah, memantau Indah dari jauh. Melihat wanitanya dari jauh saja sudah membuatnya bahagia. Walau terkadang bertolak belakang dengan batinnya yang ingin menemui Indah dan berteriak bagaimana dia merindukan wanita itu
__ADS_1