
Aku lalu meletakkan handphone dan tersenyum kearah Serkan dan Defne yang melompat-lompat kegirangan
"Come here Ma..." teriak Serkan
Aku cuma melambaikan tangan kearahnya
"Ana eatshan, min fadlik aishrab alma' ya Mama?" teriak Defne
Aku segera mengambil botol air minum yang terletak di dekatku, lalu membawanya pada Defne yang segera mengambil botol tersebut dan segera duduk, menenggaknya
"Daddy...." teriak Serkan begitu melihat abang berjalan masuk kearah lapangan
Segera kedua anak kembar kami berlarian memburu daddy mereka dan berebutan siapa yang cepat
Abang langsung menangkap Serkan, menciumnya dengan dalam dan mendekapnya hangat.
Defne yang melihat langsung mundur dan memasang wajah kecewa.
Aku hanya tersenyum melihat cemburu di matanya. Terlebih ketika abang mengeluarkan sebatang coklat untuk Serkan yang langsung diambil Serkan dan mencium pipi daddynya
"Syukron Daddy..."
Melihat Serkan dapat hadiah dari daddynya, makin membuat Defne terluka dan membalikkan badannya kembali kelapangan
Ozkan segera menurunkan Serkan dan berlari kecil menyusul Defne
"Hei, honey, why you ran?"
Defne tak perduli, dia terus saja berlari meninggalkan Ozkan yang jadi berlari kecil mengejarnya
Dengan langkah lebar akhirnya Ozkan berhasil mendahului Defne dan langsung berjongkok di depan anak cantiknya tersebut sambil memberikan banyak coklat yang dikeluarkan dari balik jas nya
Mata Defne langsung membesar dan menghambur ke pelukan daddynya.
"Sevi seniyorum Daddy, Love you a lot" ucapnya sambil menciumi seluruh wajah Ozkan
Aku dan Serkan yang duduk di pangkuanku hanya terkekeh melihat kelakuan Defne
"Mengapa Defne selalu cemburu padaku Mama, mengapa dia selalu beranggapan jika Daddy hanya miliknya seorang?"
Aku mengecup kepala Serkan
"Karena seorang papa adalah cinta pertamanya seorang anak perempuan"
Serkan menoleh padaku, lalu mengecup pipiku dalam
"Dan Mama adalah cinta pertamaku...." ucapnya
Aku mengelus wajahnya sambil tertawa
Abang bersama Defne mendekati kami, dan ikut duduk. Abang langsung mengecup keningku begitu duduk di sebelahku
"Ayo kita bermain tenis juga?" ajak abang
Aku menggeleng
Abang segera mengambil raket dan Defne bersama Serkan langsung mengambil raket mereka masing-masing. Segera di sisa sore hari ini, ketiga orang yang ku sayangi bermain tenis sambil sesekali berteriak dan tertawa berderai
Suara handphone yang kutinggalkan di meja kembali berdering yang memaksaku bangkit dan segera mengambilnya
"Ya Kak?" tanyaku ketika kulihat kak Andri yang menelpon
"Tadi kakak ke bank, masukkan uang sawit mu, tak sengaja kakak juga meminta teller memeriksa rekening ketiga anakmu"
Kak Andri diam yang membuatku penasaran
"Terus kak?"
"Tabungan Adam utuh dan Mikail berkurang beberapa juta saja. Tapi punya Naura berkurang sangat banyak"
Keningku langsung berkerut
"Kok bisa kak?"
"Mana kakak tahu"
"Berapa kak berkurangnya?"
"Lebih dua ratus juta"
"Apa??!"
Teriakan Indah memancing Ozkan menghentikan permainan dan menyuruh kedua anaknya masuk
"Ayo sayang kita selesai mainnya, besok kita lanjut lagi, dinginkan dulu tubuh kalian, baru setelah itu mandi, dan kita bertemu di mushola, ya?"
"Okey Daddy..." jawab keduanya serempak
"Bagaimana bisa uang sebanyak itu keluar dari rekening Naura, kapan itu kak kejadiannya?"
"Malam tadi"
Rahangku langsung mengencang, gigiku gemeletuk
Ozkan yang mendekat segera duduk di kursi sementara istrinya berdiri dengan wajah terlihat emosi
__ADS_1
"Kenapa lagi dengan dia?" gumam Ozkan sambil menenggak air di dalam botol yang ditinggalkan Defne
"Biar aku nelpon Naura sekarang kak, aku mau nanya kemana uang itu dibawanya"
"Nggak mungkin kalau untuk klinik, kakak tahu sendiri, alat medis untuk kliniknya telah lengkap semua"
"Ini pasti dipakainya untuk keluarga ayahnya!" geram ku
Ozkan langsung mendongakkan kepalanya begitu mendengar kalimat terakhir Indah
"Oh iya, kakak dengar Andi kecelakaan"
"Iya kak, bentar lagi mati"
Terdengar suara kak Andri terkekeh, sementara aku tetap saja emosi
"Nggak boleh gitu sat"
"Biar aja kak, aku sangat mengharapkan dia cepat mati menyusul Laras dan ibunya yang mati duluan"
"Laras dan bu Mira meninggal?, kapan?"
"Loh kakak nggak tahu?"
"Nggak, untuk apa kakak tahu tentang keluarga itu"
Aku terkekeh
"Laras mati pas kecelakaan itu kak, mati ditempat, dan ibunya dini hari tadi kata Naura matinya"
"Meninggal sat, bukan mati..."
Aku mendecak kesal. Kembali kak Andri terkekeh
"Yakin aku kak, ini uang Naura dipakainya untuk keluarga Andi. Coba deh kakak pikir, mereka dapat biaya dari mana kalau bukan dari uang anakku, astaghfirullah Naura, entah harus ku apakan anak itu"
"Udah lah Sat, jangan marah-marah, toh mereka juga sudah meninggal"
"Tapi ini masih jadi urusanku kak"
"Ya sudah, kakak cuma mau ngasih tahu itu saja, kakak nggak mau kamu suudzon begitu menyadari bahwa uang Naura banyak habis. Ntar kamu pikir, kakak lagi yang korupsi"
Aku terkekeh, setelah kak Andri mengucap salam dan salamnya ku jawab aku segera meletakkan hp ku
"Kenapa lagi sih sayang, kok marah-marah terus, jangan marah-marah ah" ucap Ozkan sambil mengulurkan tangannya kearah Indah yang langsung meraih tangan suaminya dan langsung duduk di paha kanan suaminya
"Bu Mira mati bang"
"Siapa itu bu Mira?"
"Inalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un, kapan sayang?"
"Dini hari tadi"
"Yuk kita masuk, shalat, terus kita kirim doa untuk beliau"
Aku segera menepis tangan suamiku yang melingkar di bahuku
"Nggak mau, enak aja" jawabku sambil berdiri dan masuk sambil menghentak-hentakkan kakiku
Ozkan menyusul sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya
...****************...
"Yuk Ula, hp ayuk bunyi..." teriak Hanum
Naura yang sedang merapihkan kamar untuk kedua perawat yang disewanya segera menoleh pada Hanum yang masuk sambil membawa hp nya
"Oh, makasih ya dek"
Hanum mengangguk lalu menggantikan tugas Naura memasangkan sprei
"Ya Bun, assalamualaikum"
"Waalaikumussalam, kamu kemana kan uang tabungan kamu nak?"
Kening Naura langsung berkerut, tak mengerti
"Uang tabungan apa bun?"
Aku menghembus nafas panjang menahan kesal mendengar jawaban Naura
"Nggak usah bohong nak sama bunda, bunda tahu, selama ini kamu selalu jujur sama bunda, tidak pernah bohong"
Naura kembali mengernyitkan dahinya, dan Hanum yang melihat hanya menatap bengong
"Kamu kemana kan uang tabungan kamu??! hari ini uwak ke bank, nyetor uang sawit dan ngecek tabungan kalian, dan ternyata tabungan kamu berkurang lebih dari dua ratus juta!!"
Naura langsung menepuk jidatnya
"Astaghfirullah, maaf bunda ayuk lupa, iya kemaren tuh waktu adek pergi ke Palembang ayuk nitipin atm ayuk sama adek"
"Kan ayuk tahu tuh bunda mbah sampai mau jual mobil, jual rumah untuk biaya perawatan mbah. Kan karena urgent tuh, jadi ayuk titipin lah atm ayuk ke adek, karena ayuk yakin mbah nggak ada biaya buat melunasi biaya ngobatin mbah wedok, sepertinya uang tabungan ayuk dipakai buat bayar biaya mbah deh, bun"
Panas rasanya hatiku mendengar suara Naura yang enteng berbicara seperti tanpa beban
__ADS_1
"Nauraaaa....!!!!"
Naura langsung menjauhkan hp dari telinganya mendengar bundanya berteriak, wajahnya langsung menegang
"Kamu pikir bunda ngasih uang sama kamu untuk kamu sumbangkan sama keluarga ayahmu, untuk kamu foya-foya kan buat mereka?"
"Kamu pikir bunda jadi babu di Arab untuk nyariin kamu duit terus duitnya kamu kasih dengan keluarga ayah kamu, gitu???!"
"Kemana otak kamu Naura. Kamu pernah mikir nggak sih, sekali saja bagaimana rasanya jadi bunda, pernah mikir nggak???!"
"Orang yang telah menghina dan mencaci maki bunda, yang telah meremehkan bunda enak-enakan menikmati uang hasil jerih payah bunda, pernah mikir nggak kamu??"
"Maaf bunda, Ayuk nggak tahu kalau bunda akan marah" suara Naura berubah takut bercampur sedih
Seumur hidupnya baru kali ini dia dimarahi oleh bundanya, dan kemarahan bundanya sangat menakutkan untuknya
"Pokoknya sekarang bunda nggak mau tahu, uang yang telah kamu pakai untuk membiayai mbah kamu yang sangat manis dan baik hati itu kamu kembalikan!!!"
Lalu aku memutus panggilan dan terduduk menutup wajahku
Ozkan yang sejak tadi mendengarkan dan memperhatikan istrinya yang berteriak-teriak marah dengan perlahan mendekati istrinya dan mengusap pelan kepala istrinya
"Istighfar sayang, istighfar..."
Aku mengusap wajahku sambil mengucap istighfar berkali-kali. Lalu Ozkan berdiri, berjalan kearah belakang dan tak lama telah kembali dengan membawa segelas air dingin
"Minumlah dulu untuk meredakan panas di hatimu"
Aku meraih gelas yang disodorkan suamiku, meminumnya sedikit lalu meletakkan gelas tersebut keatas meja
"Ada yang salah?"
Aku menoleh pada suamiku dengan wajah cemberut, dan Ozkan membalas dengan senyuman hangat
"Dengan Nauraaaa?"
Aku masih cemberut
"Akhir-akhir ini abang seperti merasa asing denganmu sayang, kamu sering marah-marah, dan sekarang teriak-teriak"
Aku melirik sebentar kearah suamiku, tapi wajahku masih ditekuk
"Membantu orang itu yang ikhlas sayang, apalagi itu untuk kemanusiaan"
"Ikhlas abang bilang?, enak aja!!"
Ozkan tetap tersenyum mendengar jawaban ketus istrinya
"Naura mau cari kemana uang sebanyak itu sayang, toh Naura anakmu, masa iya uang yang telah kamu kasih ke dia kamu minta kembali, kan lucu"
"Abang nggak ngerti, uang itu bukan Naura pakai untuk dirinya, tapi untuk membayar biaya perawatan rumah sakit mbahnya!!"
"Enak saja keluarga Andi, dulu menghina dan mencaci makiku, giliran sekarang, siapa yang bantu mereka?, aku bang, aku!!!"
"Rasanya pengen aku bejek- bejek itu si Naura, terus aku getok kepalanya biar dia sadar"
Ozkan kembali tersenyum melihat istrinya menggeram marah
"Sudahlah sayang, toh uang segitu nggak ada artinya juga kan buat kita"
"Berarti bang, uang sebanyak itu bisa aku bangunkan satu mushala, bisa aku sumbangkan pada sepuluh panti asuhan, bisa aku sumbangkan ke anak yatim, bukan sama mereka!!"
"Mama limadha tasrakhina? 'akhafatna Ma" (Mama, mengapa mama berteriak-teriak? mama membuat kami takut)
Aku dan abang refleks menoleh kearah sumber suara dimana kedua anak kembar kami berdiri di atas tangga menatap takut ke arahku
Aku mengusap wajahku lalu menghindari tatapan mereka
"Birşey yok canım, anne sadece başım döndü" (Tidak ada apa-apa sayang, mama hanya pusing" jawab Ozkan sambil mengulurkan tangannya kearah kedua anaknya
Serkan dan Defne saling toleh
"Baş dönmesi ve öfkeyle bağırmak farklı babalardır, artık annenin kızgın olduğu için bağırdığını biliyoruz" jawab Serkan (Pusing sama berteriak marah itu beda daddy, kami tahu jika sekarang mama berteriak karena mama marah)
"Tamam, şimdi siz annenize sarılın ki anneniz daha fazla sinirlenmesin" (oke, sekarang kalian peluk mama biar mama tidak marah-marah lagi)
Kembali Serkan dan Defne saling toleh, aku yang merasa bersalah pada mereka segera berdiri dan berjalan menaiki anak tangga, menuju mereka yang terus menatap takut padaku
"I am so sorry, pardon me, please..." lirihku sambil berjongkok dan memeluk mereka
Serkan dan Defne membalas pelukanku sambil mengusap-usap punggungku
Ozkan yang melihat dari tempat duduknya hanya tersenyum dan segera mengambil handphonenya mengetik sebuah pesan untuk Naura
Jangan diambil hati ya kemarahan bundamu, Naura kan lebih tahu, bagaimana sayangnya bunda sama kamu
Anggaplah kemarahan pertama bunda ini sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya padamu
Maksud Bundamu itu baik, dia tak ingin kamu salah langkah
Besok jangan lupa hubungi bunda, bujuk lah dia. Karena saat ini hati bundamu sangat terluka
Untung ada Serkan dan Defne yang saat ini bisa menghiburnya. Tapi semua akan jauh lebih sempurna jika yang menghiburnya adalah Naura, anak tercantik bunda, paling cantik sedunia...🙂
Tak lupa Ozkan juga mengambil foto Serkan dan Defne yang memeluk Indah dan segera mengirimkannya pada Naura
__ADS_1
Naura yang belum tidur segera membuka pesan dari papanya, dan dia kian terisak saat membaca isi pesan dan melihat gambar yang juga dikirimkan papanya