Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pelukan Pertama Pak Hermawan


__ADS_3

"Nanti dokter!" cegah Naura ketika dokter akan menutupkan kain putih ke seluruh tubuh ayahnya


Dokter Malkan menggantungkan tangannya ketika mendengar suara Naura


Naura mendekat dan kembali dia menyentuh tangan ayahnya yang telah terlipat


Naura menggenggam tangan ayahnya sambil kembali meneteskan air mata


"Tangan ini pernah menggandengku, pernah mengusap kepalaku, pernah menghapus air mataku..." lirihnya


"Dan tangan ini pula yang kuharapkan dalam doa untuk mengijab qabulkan ku..."


Kembali bahu Naura berguncang. Dokter Malkan menepuk-nepuk pundaknya


"Berat sekali rasanya dokter..."


Dokter Malkan mengangguk sambil tersenyum


"Saya tahu bagaimana rasanya mbak, karena saya sudah lebih dulu merasakan kehilangan ayah"


"Sebaiknya mbak istirahat, dari kemarin saya lihat mbak sama sekali belum istirahat"


"Saya mau di sini dokter, menemani ayah saya"


Dokter Malkan menarik nafas dalam, dia tahu betapa terpukulnya Naura


Sementara di luar, Mikail yang sedang berbicara dengan keempat sahabatnya didekati Ozkan


"Bagaimana nak, kamu tentu tak bisa izin"


Mikail menarik nafas panjang


"Saya harus kembali bertugas papa, sejak awal saya sudah tahu konsekuensi menjadi tentara seperti apa. Dan saya sangat beruntung, berkat papa saya bisa menemui dan membimbing langsung ayah untuk terakhir kalinya"


Ozkan langsung memeluk Mikail dan menepuk-nepuk punggungnya


"Kamu yang kuat ya nak"


Mikail mengangguk


"Bagaimana, apa tidak lebih baik kita langsung memandikan jenazah sekarang?" tanya Ozkan


"Agar kamu bisa menyolatkan ayahmu sebelum kamu berangkat lagi ke Jakarta"


Semua yang ada diam dan tampak berfikir


"Maaf tuan Ozkan, jika tidak keberatan jangan dulu, soalnya Joni menelepon dia ingin melihat kakaknya untuk terakhir kali" ucap mbak Ningsih


Ozkan mengangguk


"Bagaimana nak?" tanyanya lagi pada Mikail yang diam terpaku


Mikail menarik nafas panjang sambil melihat kearah Ozkan dan pada mbah nya yang masih saja tertunduk dalam


"Ada adek kak, semuanya serahkan sama adek. Adek yang akan memandikan ayah, dan adek juga yang akan mengimami shalat ayah"


"Bahkan nanti adek juga yang akan memikul jenazah ayah dan mengazankannya"


Mikail langsung berlari kearah Adam yang berdiri di sebelah bundanya


Memeluk erat sang adik dengan kembali berurai air mata


"Ayah pasti bangga sama kamu dek" lirihnya serak


Adam hanya mengangguk menahan air matanya.


Mendengar jawaban Adam tadi hatiku langsung berdenyut.


"Ya Rabb... Kau ciptakan dari apa hati anak bungsuku ini?" batinku sambil menepuk bahunya


"Andi... lihatlah anak bungsumu, semua tanggung jawab mengurusi kamu sampai akhir menjadi tanggung jawabnya" batinku lagi sambil menyeka air mata yang kembali lolos dari mataku


Pak Hermawan mengangkat kepalanya melihat kedua cucunya berangkulan sambil tersedu


Kembali air mata mengalir deras dari matanya melihat momen haru tersebut, terlebih ketika dia juga mendengar jelas kesanggupan Adam


"Waktumu dua kurang lebih dua jam lagi kak untuk kembali terbang" ucapku


Mikail melepas pelukannya pada Adam lalu mengusap wajahnya dan menghapus hidungnya yang berair


Aku membawanya duduk di kursi, ku usap kepalanya yang menempel di pundakku


"Tentara nggak boleh cengeng" ucapku mencoba menggodanya

__ADS_1


Mikail memaksa sebuah senyum.


"Terharu saja bunda karena semuanya akhirnya diambil alih adek semua"


"Bunda tentu sadar bagaimana tadi ayah dengan tenang pergi setelah adek yang menuntunnya"


"Padahal sebelumnya kakak dan ayuk tak kurang membimbing ayah"


Aku menarik nafas panjang mendengar penjelasan Mikail. Adam yang juga duduk di sebelahku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan kakaknya


"Hanya kebetulan kak" jawabnya


Aku mengelus pipinya dengan sayang


"Karena maaf yang tulus dari adek lah yang membuat jiwa ayah kalian tenang" jawabku


"Pak RT dan Dian sudah kakak telpon sat"


Aku langsung mendongak kearah kak Andri yang sudah berdiri di depan kami


"Kakak bawa kembar pulang dulu ya, abang juga ikut kok"


Kak Andri mengangguk


"Terus kamu?"


"Aku besok bareng dengan Naura. Aku tak mungkin meninggalkan dia sendirian kak. Kakak lihat sendiri, sampai sekarang saja dia belum mau keluar dari ICU"


Kak Andri menarik nafas panjang


"Kak, tolong telpon travel semalam yang membawa kru pesawat kami. Suruh dia menjemput mereka, karena Mikail harus kembali berdinas" ucap Ozkan


"Oke"


Sambil menjawab begitu kak Andri telah mengeluarkan hpnya


"Jemput lagi pilot semalam jam lima nanti, setelah itu kamu jemput keponakanku di rumah sakit"


"Nggak usah wak, kakak aku yang antar" jawab Adam


"Kamu jemput pilotnya saja, keponakan saya akan diantar oleh adiknya"


"Jangan sampai telat, aku tidak mau keponakanku kena sanksi karena dia telat"


Setelah itu kak Andri langsung memberi laporan pada Ozkan


"Kalau begitu aku pulang ke rumah duluan ya sayang, kamu istirahatlah walau sekejap" ucap Ozkan sambil mengusap kepala istrinya


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum


"Ayo, bawa anak saya!"


Dengan sigap pak Tomo dan pak Abraham mengangkat tubuh Serkan dan Defne dan langsung membawa mereka turun


"Binsar, kamu jaga istriku di sini!"


"Baik bos"


"Siz ikiniz benimle oğlumuzun evine gelin, dinlenelim" (kalian berdua ikut saya pulang kerumah anak kami, kita istirahat)" ucap Ozkan pada dua bodyguardnya yang lain


"Tamam efendim" (Baiklah tuan)


Lalu Ozkan menggenggam bahu Mikail yang telah berdiri menghadapnya sambil sedikit meremas bahu tersebut


"Raider itu kuat nak, dan papa yakin kamu juga kuat"


Mikail mengangguk sambil segera memeluk erat Ozkan


"Terima kasih yang tiada batas untuk kebaikan papa" lirihnya


Ozkan tersenyum lalu Ozkan kembali mengusap kepala istrinya, sebelum akhirnya dia turun kebawah karena rombongan kak Andri dan kak Angga telah menunggunya di bawah


...****************...


Aku segera mengambil handphone di kantong gamisku ketika kudengar hp tersebut berdering


"Pesawat telah siap, suruh lah kakak ke bandara sekarang"


"Iya bang"


Lalu aku mengelus wajah Mikail yang terpejam di pundakku


"Sayang... kak, bangun nak, pesawatnya telah siap"

__ADS_1


Secepat kilat Mikail membuka matanya, mengusap wajahnya lalu berdiri, berjalan kearah keempat temannya yang tertidur di lantai sambil menyandarkan kepala mereka di tembok


"Bro, bangun!" ucap Mikail sambil menyentuh tangan Brendi


Brendi sama seperti Mikail tadi, secepat kilat dia membuka matanya dan langsung sigap berdiri


"Bro, bangun!!!" ucapnya dengan suara bariton


Spontan Budiman, Marko dan Alfath membuka mata dan langsung berdiri. Aku tersenyum kearah mereka melihat bagaimana sikap siaga mereka


"Jiwa raider memang telah tertanam pada jiwa mereka" gumamku


Dengan cepat kelimanya berjalan kearah ku, membungkukkan badan mereka sambil mencium punggung tanganku


Aku memeluk erat Mikail. Lalu Mikail masuk kedalam ruang ICU dimana Naura masih terduduk di sana sambil tertidur di dekat jasad ayahnya


"Ayah... kakak pulang berdinas lagi ya, ayah yang tenang ya, maafkan kakak karena tak bisa mengantarkan ayah sampai liang lahat" lirih Mikail sambil menatap lekat wajah ayahnya yang berwarna putih pucat


"Doa kakak akan selalu menyertai ayah" tambahnya sambil mengecup kening ayahnya


Naura membuka matanya dan dapat dilihatnya jika Mikail telah berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, berdoa


"Allâhumma lâ tahrimnâ ajrahu wa la taftinna ba'dahu waghfir lanâ wa lahu" 


Setelah itu dia mengusapkan kedua tangannya ke wajah, lalu menoleh pada Naura yang telah berdiri di sampingnya


"Kakak pamit ya yuk, ayuk yang kuat. Kakak yakin ayuk jauh lebih kuat dari kami" ucapnya sambil mencium punggung tangan Naura


Naura mengusap kepala adiknya lalu memeluknya


"Doakan ayah terus ya kak"


Mikail mengangguk. Lalu Naura keluar dari ruang ICU mengikuti langkah Mikail, keempat teman Mikail langsung menatap Naura tanpa berkedip


"Gilaaa, dalam sembab saja dia begitu cantiknya, gimana kalau nggak sembab" gumam Brendi tak sadar


Naura langsung memalingkan wajahnya sebentar mendengar pujian Brendi


Alfath yang berdiri di sebelah Brendi langsung menginjak kakinya agar dia sadar dengan perkataannya


Brendi tergagap dan langsung mengusap kakinya yang sakit, lalu mendelik kan matanya kearah Alfath yang nyengir


"Kenalkan, kakak perempuanku"


Keempatnya spontan berebutan mengulurkan tangan mereka


Naura tersenyum kaku sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada


"Naura..." ucapnya


Keempat teman Mikail langsung menarik cepat tangan mereka dan ikut menangkupkan tangan mereka dan menyebutkan nama mereka masing-masing.


"Ayo kak!" ucap Adam yang telah memegang kunci mobil


Mikail mengangguk, lalu kembali dia memutar badannya memeluk Naura, mengusap-usap punggung ayuknya


"Kami ada sebagai pengganti wali ayuk" bisik Mikail


Kembali air mata Naura lolos mendengar bisikan Mikail


Lalu Mikail berpindah menyalami mas Indra yang membalas dengan pelukan hangat


"Pakde doakan selamat sampai tujuan ya, kak"


Mikail mengangguk, ketika dia akan mengulurkan tangannya pada pak Hermawan, pak Hermawan yang terduduk segera berdiri dan memeluk erat Mikail sambil menangis kencang


"Maafkan mbah, nang..." ucapnya tersedu-sedu


Mikail tersenyum sambil mengusap mengusap punggung mbahnya sambil mengangguk.


Aku yang melihat pak Hermawan merangkul Mikail untuk pertama kali dalam seumur hidupnya hanya menatap tanpa ekspresi


Tapi berbeda dengan mbak Ningsih dan Nina, mereka langsung mengusap bahu pak Hermawan dan Mikail sambil ikut menangis


Kembali Mikail memeluk dan mencium keningku ketika dia menyalamiku


Setelah selesai Mikail dan keempat temannya menyalami kami semuanya, mereka langsung turun ke parkiran


Aku dan Naura mengantarkan mereka sampai mobil, ketika mobil akan berjalan, kembali Mikail membuka kaca jendela


"Baca sembilan surah dalam Al-Qur'an untuk mengurangi rasa sedih yuk, masih ingatkan surah apa saja?"


Naura mengangguk dan memaksakan sebuah senyuman pada adiknya tersebut

__ADS_1


Lalu kami melambaikan tangan ketika dengan pelan Adam melajukan mobil menembus jalan kota yang mulai ramai karena pasar pagi telah mulai buka


__ADS_2