
Abang kembali lagi keruang keluarga dengan membawa handphone milikku
Aku segera mendial nomor umakku. Tersambung, tapi tak diangkat, aku yakin umak sudah tidur karena di Indonesia sudah pukul satu malam
Aku menggelengkan kepalaku kearah abang
"Kak Andri" usul abang
Aku mengangguk dan segera mendial nomor kak Andri, tersambung dan diangkat
"Ya sat?"
"Kakak belum tidur?"
"Belum, masih ngurusi berkas orang mau rehab, kakak masih di kantor"
"Innalilahi" jawabku terkejut
Terdengar suara kakakku terkekeh
"Ada apa?"
"Ini kak, aku cuma mau ngabarin, aku sudah melahirkan kemarin malam"
"Alhamdulillah, selamat ya sat"
"Iya kak terima kasih, tolong kasih tahu umak sama bapak ya kak, juga keluarga yang lain"
"Siap, tapi kamu sehatkan?"
"Alhamdulillah sehat kak"
"Anak-anak kapan libur kak?"
"Kemungkinan pertengahan bulan depan, kenapa?"
"Aku ingin mengajak mereka kesini"
"Oh, mereka pasti akan sangat senang"
Aku tersenyum
"Ya sudah kak, itu saja, nanti jika anak-anakku libur kasih tahu kami ya kak, soalnya kami mau jemput mereka"
"Siap sat"
Lalu obrolan kami berakhir, aku menoleh kearah abang dengan wajah berseri
"Wajah ini selalu aku rindukan" ucap abang
Aku terkekeh
"Tiap habis menelpon keluarganya wajah Indah selalu berseri baba, itulah makanya aku ingin sekali anak-anaknya tinggal di sini"
Baba dan yang lain ikut tersenyum bahagia melihatku bahagia.
...****************...
Pertengahan Desember
Canan beserta baba dan yang lain sudah pulang seminggu kemudian, awalnya Canan bersikeras ingin terus disini, tapi setelah dibujuk suaminya dan Ozlem akhirnya dia menurut dan mau pulang ke Turki
Kebahagiaan Canan mendapatkan keponakan baru tentu saja membuat ku bahagia, apalagi dia begitu menyayangi kedua bayi kami dan juga menyayangiku.
Jadi anne yang tinggal di mansion. Tapi anne tak sendiri, sebagai gantinya Gulsen dikirim baba kesini.
"Dulu kau mengasuh Ozkan, sekarang kami serahkan pengasuhan anak Ozkan padamu" ucap tuan Yilmaz ketika meminta kesediaan Gulsen untuk mengasuh Serkan dan Defne.
Di rumah ini juga ada sepuluh pekerja dan lima bodyguard. Jadi nyaris aku tak kerja sama sekali. Aku hanya memberi asi twins, ngelonin mereka, makan, santai, nonton, bahkan seminggu sekali ada petugas salon yang datang ke rumah untuk memassage aku dan anne. Jadi aku benar-benar dimanjakan oleh suami dan mertuaku
Dan hari ini menurut bbm kak Andri Adam bagi raport, Naura dan Mikail besok. Itu artinya lusa mereka bisa langsung terbang ke Jeddah
"Abang hari ini adek bagi raport, ayuk dan kakak besok. Setelah itu mereka libur" ucapku pada abang saat menemaninya sarapan
"Baguslah, kalau begitu abang suruh Abraham menjemput mereka hari ini"
Aku tersenyum senang mendengar jawaban abang
Kulihat abang menempelkan handphone ke telinganya
"Hari ini kamu ke Lubuklinggau, besok siang kamu bawa ketiga anakku ke Jakarta dan malamnya langsung kamu bawa ke Jeddah"
"Penerbangan kesana sudah tidak ada bos, disini sudah siang"
Abang melihat jam di pergelangan tangannya
"Oke baiklah, besok kamu pakai penerbangan pagi, sore kamu sudah di Jakarta kan?, pastikan jika dini hari lusa ketiga anakku sudah sampai di tempat kami"
"Siap laksanakan bos!"
"Good, on the best"
Lalu Ozkan meletakkan handphonenya dan menatap Indah
"Ketiga anak kita akan berkumpul bersama kita disini sayang, kamu yang sabar ya menunggu mereka"
Aku terharu mendengar ucapan abang
"Terima kasih banyak bang"
Ozkan menggenggam erat tangan istrinya. Setelah mengecup kening istrinya lalu Ozkan naik ke kamar twins
"Mereka sedang apa anne?"
Nyonya Aylin menjawab tapi tak menoleh karena sedang memakaikan baju pada keduanya
"Sedang membuat strategi bagaimana mengembangkan ide menanam tumbuhan di mars"
Ozkan terkekeh dan segera mencium pipi kedua anaknya
"Daddy kerja dulu sayang ya, kalian sama mama dan babane dulu, nanti sore baru sama daddy lagi"
Kembali Ozkan mencium pipi kedua anak kembarnya lalu mencium kening anne, lalu dia keluar dari dalam kamar twins
Kembali dia mencium kening Indah sebelum masuk kedalam mobil, dan dua bodyguard mengiring di belakangnya
...****************...
"Saya diutus oleh bos Ozkan untuk membawa ketiga anaknya ke Jeddah"
__ADS_1
Naura dan ketiga adiknya saling toleh, sementara pak Ahmad dan bu Siti bengong
"Kata bos Ozkan mumpung mereka libur, juga karena bos Ozkan ingin menyenangkan hati nyonya Indah"
"Boleh ya nek" Mikail bersuara
Naura dan Adam saling berpegangan tangan menunggu dengan harap-harap cemas
"Boleh"
Ketiganya langsung kegirangan dan langsung melesat masuk ke kamar menyiapkan pakaian
Tak lama mereka telah muncul kembali dengan koper besar
"Kata bos Ozkan, tidak usah membawa pakaian karena telah disiapkan di sana"
Kembali ketiganya saling toleh
"Sudah jangan bengong, cepat pergi nanti ketinggalan pesawat"
Ketiganya menoleh kearah pintu, kak Andri telah berdiri di sana
"Uwak yang antar kalian ke bandara, umak sama bapak bersiaplah, kita antar mereka"
Pak Ahmad dan bu Siti segera berganti pakaian, sementara kak Andri mengobrol ringan dengan pak Abraham
Setelah sekitar sepuluh menitan pak Ahmad dan bu Siti keluar lalu mereka semua naik mobil kak Andri
"Tolong jaga mereka, karena ini adalah penerbangan terjauh mereka" ucap kak Andri ketika pak Abraham dan ketiga keponakannya akan masuk kedalam pesawat
"Pasti pak, saya pastikan ketiganya akan baik-baik saja"
Lalu Naura dan kedua adiknya memeluk nenek dan uwak mereka secara bergantian dan dengan lambaian tangan akhirnya mereka berjalan masuk kedalam bandara
Kak Andri dan kedua orang tuanya masih di bandara sampai pesawat take off barulah mereka meninggalkan bandara dan pulang
...****************...
Naura memegang tangan kedua adiknya saat mereka telah menginjakkan kaki mereka di bandara King Abdul Aziz
"Kita lewat sini nak" ajak pak Abraham
Dengan terus memegangi tangan kedua adiknya, Naura mengikuti langkah pak Abraham
Tampak pak Abraham mengeluarkan handphone
"Kamu bisa bahasa inggris kan nak?, bisa bicara sama orang yang akan bapak telpon?" tanya pak Abraham pada Naura
Naura mengangguk dan menerima handphone yang diulurkan pak Abraham
"Assalamualaikum" terdengar suara dari seberang
"Waalaikumussalam, we are at airport now, may you pick us up?"
"I'm at airport too. Where are your position?"
Naura mengedarkan pandangannya berusaha mencerna dimana posisi mereka sekarang
"Kita dekat waiting room" ucap pak Abraham
"We are near of waiting room"
"Okay, I'll waiting"
"By the way, what's your name?"
"I'm Naura"
"Okay Naura, stay at there I am on the way to your position"
"Okay sir"
Lalu Naura mengembalikan handphone ke tangan pak Abraham lagi
Tak lama muncullah dua orang berpakaian necis berjalan kearah mereka. Postur tubuh mereka tinggi atletis dan tampak sekali wajah dingin mereka, beda-beda tipis dengan dinginnya wajah pak Abraham
"Are you Naura?" ucap salah seorang dari mereka pada Naura
"Yes, I am"
Lalu kedua orang tersebut menyalami pak Abraham
"Let's go home, Mr and Mrs. Ozkan are waiting for you at home"
Kembali Naura menggenggam tangan kedua adiknya dan berjalan mengikuti orang tadi. Sementara yang seorang lagi dan pak Abraham berjalan di belakang
Lalu Naura dan kedua adiknya naik kedalam sebuah mobil dan duduk di bagian tengah
Dua bodyguard duduk di depan, sementara pak Abraham di belakang
Tampak pak Abraham mengeluarkan handphonenya
"Kami sudah di jalan menuju rumah bos Ozkan, pak Andri"
"Alhamdulillah, sampaikan salamku untuk adikku dan ketiga ponakanku"
"Baik pak"
Lalu pak Abraham memasukkan handphonenya kembali kedalam jaket
"Anak-anak ada salam dari uwak kalian"
"Waalaikumussalam" jawab ketiganya kompak
Mobil terus melaju, ketiganya memandang keluar melalui kaca jendela mobil
Tampak sekali kekaguman mereka, dan tak lama akhirnya mobil masuk kedalam sebuah mansion
"Bunda tinggal disini pak?" tanya Naura
"Sepertinya, buktinya kita dibawa kesini" jawab pak Abraham
Mobil berhenti dan seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuk Naura dan kedua adiknya
Naura dan kedua adiknya menatap dengan mata melongo melihat keindahan mansion dan halaman yang sangat luas ini
"Maa Saa Alloh, ini rumah apa istana yuk?"
Naura tak menjawab pertanyaan Adam, mulutnya masih ternganga melihat keindahan dan kemegahan mansion
__ADS_1
Tiba-tiba pintu besar mansion itu terbuka, muncul Indah
"Bundaaaaa..." ketiganya berteriak dan menghambur ke pelukan Indah
Indah memeluk erat ketiga anaknya dengan berurai air mata. Dan ketiga anaknya pun sama, mereka juga menangis
Ozkan yang berdiri di ambang pintu tersenyum melihat Indah yang menangis bahagia
"Hai guys, ketemu lagi kita" ucapnya pada Mikail dan Adam
Adam dan Mikail yang telah melepaskan pelukan mereka dari bundanya tersenyum malu
"Tidakkah kalian ingin memeluk papa juga?"
Adam dan Mikail dengan canggung memeluk Ozkan yang sudah merentangkan tangannya
"Selamat datang di rumah kalian anak-anak papa" ucap Ozkan memeluk hangat keduanya
Naura tersenyum kaku kearah Ozkan dan dengan canggung dia mencium punggung tangan Ozkan
"Tinggi Kamu sudah sama dengan papa" ucap Ozkan sambil mengusap kepala Naura
Naura tersenyum
"Ayo nak kita masuk, bunda kalian sejak tadi tak tidur"
Naura dan adik-adiknya tersenyum, Ozkan merangkul pundak kedua anak sambungnya membawanya masuk, sementara Naura masuk dengan terus menggandeng lengan bundanya
"Oh, papa lupa" ucap Ozkan menghentikan langkahnya lalu kembali memutar badannya
"Abraham!"
Pak Abraham yang sudah berjalan meninggalkan depan pintu segera berhenti dan berbalik
"Ya bos?"
"Terima kasih banyak"
Abraham menganggukkan kepala dan sedikit membungkukkan badannya
...****************...
"Akhirnya bisa berkumpul bersama bunda, papa dan adik kembarku"
Lalu Naura memasukkan fotonya yang sedang bersandar di pundak bundanya, sementara kedua adiknya menggendong twins, dan Naura memilih satu foto lagi yang ada Ozkan dan nyonya Aylin.
Lalu Naura memposting dua foto tersebut di akun media sosialnya. Tak lupa dia juga menandai kak Andri dan Dimas.
Setelah itu Naura log out dari akun sosial medianya, langsung bermanja pada bundanya dan berebutan dengan kedua adiknya menggendong twins
"Siapa tadi bunda namanya?" ulang Adam
"Serkan dan Defne, dek" jawabku
"Susah ya bun nyebutnya"
Aku terkekeh
"Itu bahasa Turki dek, nama orang Turki" sambung ku
"Anak bunda semuanya putih, cuma aku yang hitam"
Aku segera merangkul bahunya
"Tapi adek adalah yang terbesar dan tetap tersayang bunda" hiburku sambil menciumi pipinya
Sementara di Indonesia
"Buuuuukkkk..."
"Apa sih Ras?"
"Sini buk!"
Bu Mira berjalan cepat kearah Laras yang sedang bermain handphone
"Lihat ini buk!"
Bu Mira mengambil handphone dari tangan Laras, mengamatinya sebentar dan wajahnya memerah
"Jadi mereka bertiga ke Arab.."
"Iya buk, dan coba ibuk baca itu postingannya Naura "Akhirnya bisa berkumpul bersama bunda, papa dan adik kembarku"
"Jadi Indah sudah bersuami lagi?, dan ini suaminya?"
"Mungkin"
"Lihat buk tempat mereka,mewah sekali"
Mata keduanya menyiratkan iri. Dengan kesal Bu Mira mengembalikan handphone pada Laras
"Lain kali kalau postingan seperti ini jangan kasih tahu ibuk"
Laras kembali menatap layar handphonenya dengan mata penuh kebencian
"Beruntung juga ya perempuan sialan itu"
"Apa sih mbak?"
Andi yang muncul jadi ingin tahu juga
"Nih kamu lihat!"
Andi segera mengambil handphone yang diulurkan Laras
Dadanya berdegup kencang dan darahnya rasanya mendidih
"Kurang ajar!" geramnya
"Sudah menikah rupanya perempuan sialan itu!" timpal Laras
Andi segera mengembalikan handphone Laras dan membuka handphonenya sendiri
Lalu dia masuk kedalam kamar. Mengamati dengan seksama wajah-wajah dalam postingan Naura
"Aku seperti pernah melihat laki-laki ini" gumamnya
Naura tak tahu jika postingannya membuat hati Andi sakit dan Laras beserta bu Mira panas. Saat ini yang dilakukannya adalah bersenang-senang di mansion mewah milik papa dan bundanya
__ADS_1