
"Bunda!" suara Naura tercekat ketika dilihatnya bundanya terus menarik kasar Maria yang terisak-isak
Aku tak menggubris panggilan Naura, aku terus menarik Maria kasar
"Naura, ajak adik-adik naik!"
Naura menoleh pada Ozkan yang juga menatap dingin kearah Indah yang menyeret Maria keluar
"Tapi pa?"
"Bawa naik!"
Naura menurut. Dengan cepat direngkuhnya kedua pundak adik kembarnya dan dibawanya naik
"Daddy, what happened with Mama?"
Ozkan menangkup wajah Defne
"Follow your ukhti go to bed room, Ok?"
Keduanya mengangguk lemah, dan terus menoleh kearah mamanya yang terus berteriak marah sambil menarik kasar Maria
"Kamu lihat ini Maria!!!" teriakku sambil mendorong kasar tubuhnya sampai dia terjerembab di halaman
Melihat menantunya terjatuh tanpa ada yang berniat menolong, pak Hermawan yang sejak tadi memandang tajam kearah Indah segera hendak berlari
"Tidak ada yang boleh kesana!!!!" ucap Ozkan pelan namun penuh penekanan
Pak Tomo yang sejak tadi berdiri di depan pintu langsung memandang tajam kearah pak Hermawan
"Tapi kasihan Maria"
"Semuanya tetap disini, tidak ada satupun yang boleh menghentikan Indah!!" bentak Ozkan
Pak Ahmad dan bu Siti hanya bisa terdiam mendengar Ozkan membentak, begitupun dengan kak Andri
Sedangkan Ningsih dan Nina sudah mulai terisak. Dimas dan mas Indra memandang tak berkedip pada Indah yang kembali menarik paksa tubuh Maria untuk berdiri
"Kamu lihat ini!!!, kamu lihat ini Maria...!!!!! bentak ku
Naura berlari kearah balkon setelah sebelumnya dia meminta pada kedua adik kembarnya untuk tetap di kamar
"Pak Abraham bawa kesini petinya!"
Pak Abraham dan pak Binsar yang berjaga tak jauh dari Indah segera berjalan cepat masuk kedalam rumah
Kembali seluruh penghuni rumah menatap tegang kearah pak Abraham dan pak Binsar yang naik kelantai dua
Dan semua mata memandang tajam kearah sebuah peti yang diusung pak Abraham, tapi tidak dengan Ozkan, dia tetap berwajah datar dan dingin
Pak Abraham langsung meletakkan peti di dekat Indah dan segera membuka gemboknya
Segera aku menumpahkan isi peti yang telah terbuka, lalu kembali menarik kasar Maria
"Kamu ingat ini kan?, hemm?!"
Maria yang sudah sejak tadi menangis hanya menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya
Sedangkan Naura yang berdiri di atas balkon hanya mampu terisak
"Ingat kamu Maria???!"
__ADS_1
"Ini, kamu baca tulisan ini!, ini entah tulisanmu entah tulisan Laras, tapi yang pastinya ini adalah kerja sama kalian"
Maria hanya memegang kertas yang diberikan paksa oleh Indah.
Dan dia makin tergugu ketika dengan kasar Indah kembali menariknya
"Kamu lihat ini, ini baju anakmu dan anaknya Laras!!!"
Joni mengusap kasar wajahnya ketika dilihatnya bagaimana Indah membeberkan pakaian yang sudah compang camping ke wajah Maria
"Baju sisa untuk ketiga anakku!" ucapku emosi sambil melemparkan pakaian itu ke wajahnya
"Astaga, ini yang kau lakukan Maria?" ucap Joni lirih tak percaya
"Ayo jawab Maria, kamu ingatkan bagaimana dulu pongahnya kalian memberikan itu padaku!"
"Dan anda pak Hermawan!!!" teriakku
Wajah pak Hermawan langsung menegang begitu Indah berteriak menyebut namanya
"Anda ada di sana saat kedua anakmu memberikan baju ini padaku!!!"
Ningsih dan Nina menggeleng tak percaya melihat kearah bapak mereka
Pak Ahmad dan bu Siti yang melihat bagaiman Indah membeberkan baju robek itu hanya beristighfar berkali-kali
Sedangkan kak Andri sudah mengepalkan tangannya sejak tadi
"Kalian tidak lihat bagaimana kecewanya wajah ketiga anakku Maria" ucapku bergetar dengan air mata yang kembali mengalir deras
"Dan sejak saat itu aku bersumpah, aku akan membakar pakaian ini ketika semua musuhku mati!" geram ku sambil mengusap kasar wajahku
"Pak Abraham!!!!"
Kembali pak Abraham dan pak Binsar mendekat dengan menarik sebuah tong sampah dari drum bekas
"Jangan ada yang coba-coba menghentikan Indah!" kembali Ozkan bicara penuh penekanan ketika semua mata kembali menatap nanar kearah Indah yang masih tampak kalap
"Kamu lihat ini Maria!!!" teriakku
Lalu aku mengambil baju yang berserakan di halaman, memasukkannya kedalam drum sampah dan menuangkan bensin ke dalamnya
Pak Abraham yang berdiri di dekat Indah segera melemparkan korek gas kedalam drum sampah dan api langsung berkobar
"Kamu lihat Maria, seperti itulah kalian nanti akan terbakar di neraka!" geram ku sambil melempar satu persatu pakaian kedalam api
Adam hanya bisa melihat kemarahan bundanya sambil menitikkan air mata
Maria masih berdiri di tempatnya, lalu aku kembali mendekatinya dan kembali mencengkeram kasar lengannya
"Sini kamu!!! geram ku
Maria berontak ketika aku menariknya mendekati api. Melihat Indah menarik istrinya kearah api, Joni refleks mendekat dan langsung dicekal oleh pak Abraham
"Panas?, iya, panas? apinya panas?" teriakku sambil mendorong tubuh Maria mendekat ke api
"Ini tidak sepanas api neraka yang akan membakar kalian!" geram ku
"Pak Hermawan!!" teriakku
"Api ini juga nanti yang akan membakar mu di neraka!!"
__ADS_1
Pak Hermawan terkesiap dan wajahnya memucat
"Seperti inilah nanti kalian akan terbakar Maria, seperti inilah!"
"Panasnya api ini tak sebanding dengan panasnya hatiku ketika kalian hina dan maki"
Maria dengan cepat berlutut memeluk kakiku
"Maafkan aku mbak Indah...."
Aku menarik kakiku
"Sekarang kau baru minta maaf, dulu kau kemana, hah?, kenapa setelah aku perlihatkan api kecil di hadapanmu kau jadi ketakutan dan meminta maaf padaku?"
"Ayo, tunjukkan kesombonganmu, keangkuhanmu padaku dulu, ayo aku mau lihat!!!!" teriakku
Aku lalu mendorong kasar tubuhnya
"Sudah lama aku menantikan hari ini Maria, hari dimana aku membakar baju robek ini. Kau tahu Maria, baju ini sampai aku bawa ke Arab untuk memotivasi ku agar aku semangat kerja dan membalas semua penghinaan kalian"
"Harusnya baju ini aku bakar setelah melihat kau dan pak Hermawan mati, tapi sepertinya Alloh masih sayang sama kalian berdua dan meminta pada kalian berdua untuk bertobat"
"Dan bagaimana dengan tiga orang yang sudah lebih dulu mati?, mereka belum bertobat, apalagi ibu mertuamu dan kakak iparmu itu mereka mati tanpa membawa maaf dari ku!"
"Aku mohon mbak, maafkan aku..."
Aku tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalaku
"Harusnya kau meminta maaf padaku dari dulu Maria, bukan sekarang"
Maria hanya mampu terisak mendengar jawaban Indah
"Lepaskan tangan Joni, pak Abraham!"
Pak Abraham melepaskan cengkeramannya pada Joni dan Joni langsung berjalan cepat ke arahku
"Heeeiiiiii....." teriak pak Abraham refleks mengarahkan pistolnya kearah Joni ketika dilihatnya Joni seperti akan menyerang Indah
Seluruh orang terpekik ketika melihat pak Abraham mengarahkan pistolnya kearah Joni
Tanpa disangka ternyata Joni bukan hendak menyerang Indah melainkan langsung menarik kasar tubuh istrinya, dan
PLAAAAAKKKKKK.....
Maria memegang pipinya yang langsung memerah bekas tamparan Joni
"Harusnya dari dulu aku menamparmu...!!!" teriaknya
Lalu Joni terduduk dan ikut menangis tersedu
"Salah apa aku sama kamu Maria, semua permintaanmu sudah aku turuti, termasuk jadi murtad, tapi satupun nasehat dan bimbinganku tidak ada yang kau dengarkan"
Maria yang melihat suaminya menangis, makin terisak
"Sekarang terserah mbak Indah mau apakan dia, terserah mbak, aku angkat tangan"
Aku hanya menarik nafas panjang melihat dua orang yang menangis tersedu di dekat kakiku.
Lalu aku menoleh kebelakang, kearah rumah dimana seluruh orang menatap ke arahku
"Sekarang giliran mu pak Hermawan" geramku
__ADS_1