Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Suara di Tengah Malam


__ADS_3

Aku terbangun karena rasa haus di tenggorokanku. Aku segera duduk dulu mengumpulkan nyawa sebelum turun dari ranjang.


Setelah dirasa mulai bisa mengontrol keseimbangan dari ngantuk berat ke rasa haus, aku segera berjalan kearah pintu dan membuka gerendelnya.


Aku segera menuju kulkas dan menenggak air yang langsung menyejukkan tenggorokanku.


Lamat-lamat aku seperti mendengar ada suara orang berbicara. Kupasang baik-baik telingaku. Ah iya, itu suara orang berbicara. Tapi dari mana ada orang berbicara tengah malam seperti ini.


Kulihat jam di dinding dapur, dari pantulan lampu diluar, aku melihat saat itu pukul dua lewat.


Siapa yang berbicara tengah malam seperti ini, batinku. Tanpa rasa takut aku memutar mataku melihat keluar dapur, siapa tahu ada orang di luar yang sedang mengintai rumah kami. Tapi tidak ada. Lalu aku berjalan mengendap-endap layaknya pencuri menuju ruang depan.


Aku bukakan gorden dengan sangat hati-hati, lalu mengintip keluar. Lagi-lagi hanya jalan setapak yang kosong.


Betapa kagetnya aku ketika aku kembali mendengar sumber suara itu. Tak lain itu adalah suara suamiku sendiri.


Dengan sedikit menaruh curiga aku menguping dia di depan pintu kamar yang tertutup.


"Iya, besok mamas jemput ya"


Deg!! mataku langsung terbelalak. Mamas??? siapa yang nelpon dia malam-malam begini? Nina? tidak mungkin, Nina kan lagi di Jogja buat kuliah? Terus siapa?


Kembali aku memasang baik-baik telingaku. Aku ingin mendengar kelanjutan obrolan suamiku. Aku masih penasaran siapa lawan bicaranya.


"Iya, mamas juga sayang sama kamu"


Lemas kakiku mendengar itu. Tanpa kusadari air mataku langsung menetes. Ada rasa perih dalam hatiku.


Tapi aku harus terus mendengarkan percakapan ini. Aku harus tahu ending pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Iya, nanti kalau mas gajian, mamas bakal belikan hp tipe terbaru yang kamu inginkan. Mas janji. Apa sih yang tidak buat buat kamu" lalu suamiku terkekeh.


Aku makin merasakan ulu hatiku tersayat-sayat. Benar, itu bukanlah Nina. Itu pasti perempuan lain. Air mataku semakin deras mengalir. Aku tidak menyangka, jika suamiku bermain di belakangku.


"*Besok jam 8 ya sayang, tunggu mas di tempat biasa. Nanti mas jemput, ya sudah ini sudah hampir setengah tiga loh, lebih dua jam mas nelpon kamu. bobok yaa..."


"Love you too*"


Serasa runtuh duniaku. Dengan berlinangan air mata aku meninggalkan pintu kamar itu. Aku kembali masuk kekamar utama kami. Tempat aku dan ketiga anakku tidur.


Aku menutup wajahku yang basah oleh airmata. Aku benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Aku tidak menyangka jika suamiku, orang yang sangat aku percaya ternyata mengkhianatiku. Orang yang sangat aku banggakan ternyata dia selingkuh di belakangku.


Ya Rabb... aku tergugu. Ku dekap mulutku agar suara tangisku tidak mengganggu anak-anakku yang tertidur.


Otakku mulai membayangkan hal yang bukan-bukan pada hubungan mereka. Aku mulai memikirkan apa saja yang telah mereka lakukan.


Ah iya, satu-satunya perubahan dalam diri Andi adalah dia sekarang lebih sering pulang malam dan lebih sering keluar kota.


Alasannya tak lain karena pekerjaan. Dia sibuk, itulah sebabnya dia lebih sering pulang malam. Dia sering ke Bengkulu, kekantor wilayah karena dia sebagai kepala cabang stok point Lubuklinggau harus melaporkan seluruh laporan penjualan kesana.


Betapa bodohnya aku, aku mempercayai saja semua alasannya. Bisa jadi itu hanya akal-akalan dia saja.


Ya Rabb, aku tidak tahu kapan suamiku mulai bermain api di belakangku. Apa dia tidak berfikir, jika dia sudah punya tiga anak. Apa dia tidak mencintaiku lagi?


Beragam pikiran berkecamuk dalam bathinku. Aku tidak dapat memicingkan mataku sampai adzan Shubuh berkumandang. Karena masih nifas, aku tidak bisa shalat.


Kuselimuti ketiga anakku. Kubelai kepala mereka bergantian. Kembali air mataku menetes saat menciumi mereka.


Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus berbagi suami dengan perempuan lain.

__ADS_1


Adzan subuh telah usai, tidak ada tanda-tanda suamiku bangun untuk shalat. Dengan mata yang sembab, aku kembali bangkit menuju kamar depan untuk membangunkannya shalat.


"Yah, shubuh" ucapku sambil menggoyangkan tangannya.


Tidak ada sahutan kecuali nafas teraturnya saja yang terdengar.


Jelas saja dia masih sangat mengantuk. Dia tertidur dua setengah jam yang lalu.


Kembali aku membangunkannya.


"Yah, shubuh"


Masih tidak ada sahutan.


Aku duduk ditepi ranjang memperhatikan wajah tenangnya yang pulas.


Dia memang tampan, setiap perempuan pasti akan memuji ketampanannya. Kulit putih bersih, tinggi, mata sipit, hidung mancung. Benar-benar sempurna.


Lalu aku melihat tanganku. Ah, aku hitam. Bisa dibilang aku jauh dari kata cantik. Lalu aku meraba wajahku. Hormon akibat hamil membuat wajahku yang berminyak jadi berjerawat.


Mungkin itulah sebabnya suamiku mencari perempuan lain. Apalagi sekarang aku habis melahirkan, tubuhku yang melar akibat hamil belum kembali normal. Masih bergelambir.


Apakah karena fisikku akhirnya suamiku mencari wanita lain? Aku menghempaskan nafas dalam berusaha mengusir sesak di dadaku.


"Shubuh yah" kembali aku menggerakkan tangannya.


Masih seperti tadi, tidak ada sahutan. Akhirnya aku berdiri dan berjalan kearah pintu. Sebelum meninggalkan kamar, aku kembali menoleh kearahnya yang masih pulas.


"Semoga kita baik-baik saja ya Yah, semoga aku kuat menghadapi ini" ucapku lirih lalu pergi meninggalkannya yang masih terus tidur dan kembali meninggalkan Shubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2