
Andi menarik tangan ibunya, tapi bu Mira malah menepisnya kasar.
"Apa tadi bu kades?, perempuan itu lo*****te?, iya?" tunjukku pada Laras yang masih tampak terisak karena tamparan keras kakakku.
"Benar bunda, dia sudah empat kali nikah, dan semua suaminya meninggalkan dia" jawab bu kades
Wajah bu Mira makin murka menatap kearah bu kades.
Aku terkekeh sambil menatap penuh kemenangan kearah Laras mendengar ucapan bu kades.
"Empat kali?, wah ketinggalan good news aku kalau begitu bu" jawabku yang makin membuat wajah bu Mira murka
"Setahu saya suami dia itu mas Rudi" sambungku
"Rudi sudah kabur dengan iparnya sendiri, dia kabur dengan istrinya Andi" jawab satu ibu lagi dan bu kades mengangguk
Mataku membesar mendengar jawaban diluar dugaanku itu. Spontan aku terbahak sampai kembali terduduk di kursi.
"Waaaw..." ucapku sambil menghapus airmata akibat aku tertawa terpingkal tadi
"Bagaimana rasanya Laras? enak, hem?? suami yang kamu sayangi diambil orang, dan yang mengambilnya adalah ipar kamu sendiri?" ucapku sambil kembali terkekeh
Laras menunduk mendengar ucapanku
"Sekarang kamu tahukan bagaimana rasanya,hem.. Waaww rasanya manissss sekaliii, iya kan Laras, saking manisnya sampai kamu tak bisa melupakannya" lanjutku
"Oh iya, bagaimana dengan anda?" tunjukku pada bu Mira
"Bukankah dia menantu idaman anda, menantu yang cantik, yang kalian restui, yang kalian banggakan, ehhh ternyata merebut suami anak kesayangan anda?" lanjutku sambil kembali terbahak
"Harusnya aku berterima kasih pada Tina, karena akhirnya aku tak usah repot-repot memberi pelajaran pada kamu Laras. Karena lewat Tina kamu bisa merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan!" ucapku sinis menatapnya yang tertunduk.
"Tak kusangka, mas Rudi yang pendiam bisa juga nikung istrinya" ucapku lagi masih sambil tertawa
"Jaga mulut kamu, wanita sialan!!!" bentak bu Mira lagi
"Siapa yang sialan, hah?, kamu, anakmu, atau aku, hah??!" bentakku balik
"Karma mulai berjalan, anda sekarang mulai memetik dari kejahatan anda di masa lalu" ucapku sinis kearah bu Mira
"Dan kamu Maria, kenapa kamu diam, biasanya mulut besar kamu begitu ringan jika menghinaku!" ucapku menoleh pada Maria
Maria menunduk
"Mas Rudi yang kalem saja kepincut dengan Tina, kamu sudah periksa suami kamu belum?" pancingku agar dia termakan omonganku
Maria mengangkat kepalanya dan tampak kekhawatiran di wajahnya.
Berhasil, batinku
"Bisa jadikan sebelum dengan mas Rudi, Tina ada main sama suami kamu. Apalagi kamu tahu betul jika suami kamu itu mata keranjang" lanjutku lagi
"Awas kamu, ya!!" geram bu Mira
Aku kembali menoleh kearahnya
"Pergi kalian dari sini, kalian merusak mood saya saja!" jawabku sinis
Andi kembali menarik tangan ibunya dan lagi-lagi ditepis kasar bu Mira
"Nggak tahu malu, datang kesini buat keributan, diusir nggak mau, hii amit-amit" ucap ibu-ibu mencibir kearah bu Mira dan kedua anaknya
"Heh, Laras!, pergi kamu dari sini, apa kamu mau kami usir, apa kamu mau menggoda suami-suami kami seperti kamu menggoda lelaki lain yang akhirnya menjadi suami kamu, hah?" bentak seorang ibu
Aku terkekeh mendengar ibu itu memaki Laras
"Dasar perempuan gatel, suka goda suami orang, akhirnya tahu rasakan kamu, di lepeh terus dengan suami sirimu, hahahahaha" ucap seorang ibu lagi yang disambut tawa mengejek dari ibu-ibu yang lain
"Anak lima, bapaknya juga lima, hahahaha!" sambung yang lain
Kembali aku menatap penuh kemenangan pada Laras dan bu Mira
__ADS_1
"Jika kalian punya harga diri, silahkan angkat kaki dari sini!" bentak pak kades
Tanpa disangka, tiba-tiba bu Mira menarik hijabku, dan dengan secepat kilat tangannya ditarik oleh kakakku dan didorongnya hingga beliau jatuh tersungkur di tanah
"Jika bukan karena kamu perempuan, sudah mati kamu saya terjang!" tunjuk kakakku yang kembali dipegangi oleh yuk Diana dan pak kades
"Andi, bawa pergi ibu kamu kalau kalian masih mau hidup!!!" bentak kakakku
Andi dengan tergopoh menarik paksa ibunya yang terus berusaha melepaskan tangannya.
"Menyesal saya dulu pernah punya menantu macam kamu!" kembali bu Mira berteriak
"Heh, justru yang menyesal itu kami!, kami menyesal telah menikahkan adik kami dengan sampah seperti Andi!" bentak yuk Diana yang sedari tadi diam
"Kami menyesal karena telah ikhlas melepas adik kami masuk kedalam keluarga ular seperti kalian! makhluk yang tidak ada akhlaknya!!" kembali ayuk iparku itu berteriak
Aku membiarkan ayukku meluapkan emosinya, biar bu Mira tahu seperti apa kenyataan yang sebenarnya.
Melihat kondisi yang makin tidak kondusif, Maria segera memegang bahu Laras dan menuntunnya keluar tenda. Kepergian mereka disoraki oleh seisi tenda.
"Jaga suami kamu Maria, nanti diembat Tina!" teriakku
Maria makin mempercepat langkahnya. Lalu mereka kembali naik motor dan pergi dari dalam tenda.
Setelah mereka pergi, para pekerja mulai berani mendekati kakakku yang masih emosi. Pak kades sibuk menasehati kakakku agar menahan emosinya.
Sedangkan para ibu melihatku yang tadi sempat ditarik bu Mira tampak masih khawatir.
"Ada yang sakit bunda?" tanya mereka
Aku menggeleng. Kembali aku duduk dan para ibu-ibu kembali duduk di dekatku.
Mulailah mereka berceloteh mengenai bu Mira dan keluarganya, aku khusyuk mendengarkan, karena butuh informasi mengenai keadaan mereka sekarang
"Suaminya itu kabur pas Andi dipenjara bunda, ternyata sebelum mereka kabur, mereka menjual kebun sawit mertua mereka pada pak kades dan menggadaikan bpkb mobil truk, yang akhirnya truk tersebut disita oleh pihak leasing" ucap seorang ibu paruh baya
"Maaf bunda, apa benar yang dikatakan oleh bu Mira tadi jika bunda pernah menjadi menantunya?" sambungnya dengan takut-takut
"Astaghfirullah...." gumam mereka
"Mereka itu keluarga yang tidak tahu aturan bunda, mereka itu terkenal pelit bin medit, makanya sekarang mereka kere karena harta mereka banyak terjual" sambung seorang ibu lagi.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku
"Terus bagaimana ceritanya bunda bisa cerai dengan Andi?" tanya bu kades, pertanyaan yang sejak dua minggu lalu mengganjal dihatinya perlahan mulai terkuak
"Ceritanya panjang bu, intinya jodoh kami sudah habis" jawabku
Tampak sekali rasa kurang puas di wajah bu kades mendengar jawabanku.
"Yang penting, sekarang saya sudah jauh lebih baik dibanding ketika saya hidup dengan Andi" lanjutku
"Aamiinn. Ya Alloh, semoga bunda segera bertemu jodoh yang jauh lebih baik dari sebelumnya" doa seorang ibu yang diaminkan oleh ibu-ibu yang lain termasuk aku dan yuk Diana.
"Undang kami ya bunda kalau menikah" goda mereka yang kembali membuatku ceria.
...****************...
A month later
Aku mengajak ketiga anakku bermain di wahana mall baru yang ada di Lubuklinggau.
Kembali kami mengulang permainan dulu, ketika mereka sering kuajak kewahana bermain di Ceria mall.
Dapat kulihat jika kedua jagoanku berlomba balap sedangkan aku dan Naura bermain di time zone, lalu kami berpindah ke dance revolution, kami benar-benar menikmati quality time kami. Tawa lepas ceria dari ketiga anakku mampu melepaskan beban berat yang mengganjal hatiku
Setelah puas mencicipi segala arena permainan saatnya kami makan siang. Kami segera naik kelantai tiga mall, dimana di bagian ini terdapat restoran.
Ketika pesanan sudah sampai kami segera makan dengan lahap.
"Naura..." ucap sebuah suara yang membuat kami sedang makan mengangkat kepala
__ADS_1
"Ayaaahhh...." Naura langsung berdiri dan segera memeluk Andi
Aku segera mengambil minumanku, lalu menyeruputnya dan menghentikan makanku karena tiba-tiba perutku langsung terasa kenyang
Naura langsung menarikkan sebuah kursi untuk Andi. Dan tanpa canggung, Andi ikut bergabung bersama kami
"Halo kakak, adek" sapa Andi pada kedua jagoanku yang sepertinya tak terusik dengan kedatangan ayahnya
Keduanya hanya mengangkat kepala mereka, menatap Andi sebentar, lalu kembali menyuap makanan mereka.
Aku menolehkan mataku kearah lain, perasaanku tiba-tiba tak tenang.
"Bunda, ayuk pesankan makan untuk ayah ya?" ucap Naura sambil berjalan menuju kearah pelayan
Aku mendecak kesal karena belum sempat menjawab, Naura sudah pergi. Sedangkan Andi menatap kearah Indah dengan dalam
"Apa kabarnya bun?" tanyanya
Aku menoleh kearahnya dengan dingin
"Panggil saya dengan sebutan nama!" jawabku penuh penekanan
Andi tersenyum basi mendengar jawabanku dan aku kembali membuang mukaku
"Kakak sama adek kok tidak nawari ayah?" alihnya pada kedua putraku yang masih tak perduli
Mikail menoleh
"Makan yah!" ucapnya
Andi mengusap kepalanya sambil tersenyum hangat
"Makannya yang pelan, nak!" ucapnya pada Adam yang makan cepat
Adam tidak merespon dia terus saja melahap isi piringnya. Dan aku memberikan gelas es padanya, karena aku yakin suasana hati anak bungsuku itu sedang tidak baik.
Adam segera meraih gelas yang kusodorkan, lalu menyeruputnya
"Nahhh, ini punya ayah" ucap Naura yang membawa sendiri pesanan untuk Andi
Dengan senang hati Andi meraih nampan yang diberikan Naura. Lalu meletakkan tepat di depannya
"Ayo yah langsung dimakan, kita sudah lama sekali tidak makan bersama" ucap Naura lagi dengan mata berbinar bahagia
"Loh kok bunda nggak makan?" tanyanya padaku
"Bunda sudah kenyang nak" jawabku sekenanya.
"Adek juga sudah selesai, ayok bunda kita kesana" ucap Adam menunjuk kearah luar resto
Aku segera berdiri dari kursiku dan mengulurkan tanganku kearah Adam. Lalu aku menggandengnya dan kami berjalan meninggalkan Mikail dan Naura yang makan bersama ayahnya
Andi yang menyadari sikap cuek Indah tidak putus asa, dia terus mengajak Naura dan Mikail bercerita. Dapat kulihat jika Naura sangat bahagia tertawa bersama ayahnya
"Kita turun saja bunda" kembali Adam mengajakku menjauh dari resto itu
Lalu aku kembali menggandeng tangannya, dan kami turun melalui eskalator.
Aku mengajak Adam kebagian pakaian.
"Pilihlah sesukamu Nak!" ucapku
Adam lalu sibuk memilih beberapa baju dan jeans lalu bertanya padaku apakah aku setuju atau tidak dengan pilihannya. Tiap pakaian yang ku nilai bagus, diambilnya dan diberikannya kepada pelayan agar meletakkannya di bagian kasir
"Belikan kami juga!" ucap Naura yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangku yang sedang sibuk memilih baju untukku sendiri
"Cari sendiri nak ya" jawabku
Naura segera menarik tangan Andi, dan dapat aku lihat jika berkali-kali dia memamerkan baju pada Andi meminta penilaian pada lelaki itu.
Aku menarik nafas dalam melihat keakraban mereka. Dan menggeleng-gelengkan kepalaku menahan kesal
__ADS_1