
Hampir empat jam aku di dalam jet pribadi milik Nona Alima. Selama dalam pesawat, sedetikpun aku tidak bisa memicingkan mataku.
Kerjaku hanya menangis dan berdoa. Air mataku entah dari mana sumbernya, karena tiada henti-hentinya mengeluarkan air.
Dudukku sudah tak terhitung berapa kali pindah.
"Abang, aku datang. Bertahan ya bang" selalu itu yang aku gumamkan untuk menguatkan hatiku yang terkoyak
"Rabb, lindungi Abang. Jangan ambil dia" ratapku
Akhirnya yang kunantikan tiba, pesawat mulai landing dan benar-benar berhenti. Pilot mendekatiku dan menggenggam tanganku
"Saya akan mengantarkan nona sampai di tujuan, itu janji saya"
Mataku kosong menatapnya. Lalu pilot tampan dengan wajah khas Arabian, berpostur tinggi besar itu menggenggam tangan Indah, membawanya menuruni tiap anak tangga pesawat
"Apa anda tahu alamatnya?" tanyanya
Barulah aku tersadar. Aku menoleh keseluruh bandara yang mulai baru ada satu dua orang. Ku rogoh smartphone dalam jaket tebalku, hampir pagi, jam 04.49.
Aku menggeleng kearah pilot yang masih berdiri di sampingku.
Pak Abraham, iya aku ingat Pak Abraham. Bukankah pak Abraham yang memberitahuku
Segera aku mendial nomor pak Abraham, lalu menempelkan smartphone di telingaku dengan gelisah.
"Saya sudah sampai di bandara Turki, tolong jemput saya"
"Siap mbak, tunggulah di sana!" jawab Abraham
Padahal saat ini Abraham sedang di rumah sakit. Sedang menunggui anaknya yang baru lahir di ruang khusus bayi.
Abraham segera keluar dari ruang bayi, mengambil handphone dalam jeansnya lalu mendial nomor Binsar
"Jemput calon istri bos sekarang juga. Dia ada di bandara, cepat!!"
Setelah mendapat jawaban dari Binsar, Abraham mengalihkan panggilan menghubungi Indah
Aku yang saat itu di bawa pilot keruang tunggu segera mengambil smartphone begitu mendengar ada panggilan masuk
"Tunggulah kurang lebih 30 menit lagi. Binsar dalam perjalanan menjemput mbak"
Aku mengiyakan lalu sambil menarik nafas panjang aku kembalikan smartphone kedalam saku jaket
Udara pagi Turki sangat dingin menusuk tulang. Sehingga aku makin merapatkan jaket ketubuhku.
Pilot yang sejak tadi duduk di sebelahku terlihat berdiri dan berjalan kearah sebuah coffee shop dan kembali dengan membawa dua gelas kopi hangat untuk kami.
Aku segera mengambil kopi cappuccino yang disodorkannya kearahku. Menghirupnya dengan dalam, dengan harapan bisa sedikit menghangatkan tubuhku
"Bagaimana, sudah ada yang bisa dihubungi?" tanya pilot padaku
"Sebentar lagi ada yang menjemput kita, saat ini mereka on the way"
Tampak sang pilot mengangkat alisnya dan kembali menyeruput kopi hangat miliknya.
Menunggu selama 30 menit serasa setahun untukku.
Matahari mulai menyemburatkan sinarnya. Perlahan namun pasti, bandara yang semula remang mulai terang.
__ADS_1
Sebuah mobil hitam berhenti di luar bandara, aku segera menoleh, dan kudapati Pak Binsar memutar badannya seolah mencari-cari
Aku segera berdiri dan berlari kearahnya
"Pak Binsar!!" teriakku
Binsar dan satu orang bodyguard segera berjalan cepat kearahku
"Bagaimana Ozkan?" tanyaku begitu pak Binsar berdiri di depanku
"Kita berangkat sekarang!" jawabnya
Aku menoleh pada pilot yang sejak tadi menemaniku
"Saya ikut!" ucapnya
Aku mengangguk. Lalu kami berjalan mengikuti seorang lelaki dengan mata coklat terang, sementara Binsar berjalan di belakang kami
Kami segera masuk kedalam mobil, lalu mobil yang dikemudikan lelaki bermata coklat terang tadi langsung melaju kencang.
...****************...
Kami masuk kedalam rumah sakit, Sama seperti tadi pak Binsar di belakang, mengawal kami.
Aku mendapati sebuah ruangan bertuliskan ICU, sedangkan di depan pintunya berdiri lima orang berbadan tegap, yang aku yakini pastilah bodyguard keluarga abang, sementara di kursi aku melihat tuan Yusuf Yilmaz duduk dengan wajah menunduk kelantai, dan dua orang wanita yang satu tampak merebahkan kepalanya di pundak tuan Yilmaz, yang satu lagi tampak merebahkan kepalanya di pangkuan lelaki yang mirip Ozkan.
Aku berjalan pelan kearah mereka. Mendengar ada langkah kaki, tuan Yilmaz menoleh dan matanya langsung tak berkedip ketika di dapatinya Indah berjalan semakin mendekat kearah mereka
Anne yang tangannya disentuh tuan Yilmaz segera menegakkan kepalanya dan turut menoleh
Anne sama halnya dengan tuan Yilmaz, tak berkedip menatap kearah Indah yang matanya kelihatan bengkak.
"I know, you are Indah, right?
Aku menangguk
"My son..." ucapnya terputus karena sudah terisak.
Canan yang tidur di pangkuan Ozlem membuka matanya. Dan melihat jika saat ini annenya sedang memeluk seorang perempuan berhijab
"Indah??" lirihnya
Tuan Yusuf Yilmaz mengangguk. Dan Canan segera berdiri dan segera berdiri di depan Indah
"My abi..." tunjuknya kearah dalam icu sambil berurai air mata. Tak urung melihat wanita cantik di depanku menangis, aku kembali menangis.
Ozlem mengusap kasar wajahnya. Tuan Yilmaz membuang nafas dalam
"Sudah enam jam abi di dalam, tapi dokter belum juga keluar!" keluhnya kesal
Aku duduk di sebelah ibunya abang, diam tak tahu harus berbuat apa.
Sejam setelahnya terlihat dua orang dokter keluar diikuti dengan tiga perawat
Tuan Yusuf Yilmaz segera berdiri cepat dan segera menanyakan bagaimana keadaan Ozkan
"vücuduna saplanan mermiyi çıkarmayı başardık. Ve onu çalıştırmayı da başardık. Şu anda hala kritik ve umarız bu kritik dönemi atlatır" (kami telah berhasil mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di tubuhnya. Dan kami juga berhasil mengoperasinya. Saat ini dia masih kritis, dan kami berharap dia bisa melewati masa kritis ini )
Setelah mengatakan itu sang dokter pergi dan kulihat tuan Yilmaz kembali ketempat duduknya. Dan aku menoleh kearah ibunya abang yang saat itu mengusap wajahnya dengan sedikit menghembus nafas dalam
__ADS_1
"He said what?" tanyaku pada beliau
"Ozkan will be fine" jawabnya yang membuatku menghembuskan nafas lega
"Anne dan baba serta Canan pulanglah dulu, saya dan beberapa anak buah saya akan menjaga abi di sini"
Anne menggeleng
"Saya akan terus di sini menunggu Ozkan" jawabnya
Tuan Yilmaz berdiri dan merengkuh pundak istrinya
"Kita pulang dulu sebentar, nanti sore kita kesini lagi" bujuknya
Canan mengangguk menyetujui dan menoleh pada anne yang nampak sangat letih
"You go home with my parents, we are here to save my brother" ucap Ozlem menoleh pada Indah
"I'm so sorry, I'm just here. I will continue to wait for him until he wakes up" tolakku
Ozlem menarik nafas dalam mendengar jawaban Indah. Karena Indah menolak untuk pulang bersama mereka, maka dengan sangat terpaksa nyonya Aylin meninggalkannya
...****************...
"May I see him? just a moment, please" mohonku ketika kulihat dokter yang tadi pagi keluar dari ruangan abang sekarang hendak masuk kembali
Dokter itu menoleh, menatap kearah Indah yang bermata sembab
"Please doctor!" ucapku sambil menangkupkan sepuluh jariku di depan dada
"She is my brother wife" ucap Ozlem yang membuat dokter itu menganggukkan kepalanya. Aku menoleh pada Ozlem dengan tatapan berterima kasih
"Come in" ajak dokter padaku
Setelah memakai baju khusus aku segera masuk keruangan abang
Aku terduduk di lantai. Hatiku sangat hancur melihatnya terbujur dengan selang oksigen di hidung dan banyak lagi selang-selang lain yang menjalar di atas tubuh abang
Aku segera memegang tangan abang yang terasa sangat dingin
"Tolong, bertahanlah demi aku bang" lirihku pilu
"Abang tahu kan, jika sesuatu terjadi pada abang maka aku yang akan mati terlebih dahulu"
"Aku mohon, bertahanlah"
Dokter yang sedang memeriksa Ozkan melirik sebentar mendengar bahasa yang dipakai Indah yang tidak dimengertinya
"Kita sudah berjanji akan menikah, oleh karena itu abang harus bangun untuk memenuhi janji abang padaku, aku mohon bertahanlah..."
Air mataku sudah makin deras mengalir, tapi abang masih tidak ada reaksi. Aku terus duduk di sebelahnya tanpa berniat pergi dari sana.
"Time is enough, you must leave this room"
Aku menoleh kearah dokter sambil menggeleng
"Please, this is better for patient"
Dengan berat hati aku menuruti permintaan dokter untuk segera keluar
__ADS_1
"Aku ada di luar bang, aku tidak akan meninggalkan abang, tidak akan" bisikku di telinga abang