Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Jadi Tahanan Polres


__ADS_3

Lebih dari empat jam Andi di BAP di polres Lubuklinggau. Wajahnya sudah kusut akibat banyaknya pertanyaan dan cercaan pihak kepolisian.


Afdal yang tidak tahu menahupun ikut terkena imbasnya. Polisi juga memintai keterangan dan kesaksian darinya, karena mereka rekan kerja.


Pak Tobias yang notabene kepala cabang Propinsi pun tak luput dari pertanyaan polisi. Dengan lugas beliau menjawab setiap pertanyaan berdasarkan fakta dan laporan di lapangan, jika memang benar Andi telah menggelapkan uang perusahaan.


Tubuh Andi kian lemah ketika Afdal yang rekan kerjanya malah ikut memberikan kesaksian yang menyudutkannya. Terlebih kesaksian pak Tobias. Harapannya untuk bisa lolospun kian tipis.


Jam 12 siang, pemberkasan Andi sebagai tersangka selesai. Dan hari ini juga dia siap menginap di hotel prodeo menunggu sidang keputusan tentang hukuman yang akan diterimanya.


Polisi yang memBAP Andi keluar dari ruangan. Tinggallah Andi sekarang bertiga dengan Afdal dan Pak Tobias. Andi mengusap wajahnya yang kusut. Dia menudukkan kepala dengan frustasi.


Pak Tobias memandang dingin melihatnya, sedangkan Afdal hanya diam memperhatikan


Andi menghembus nafas dalam, dan menoleh kearah Afdal yang duduk di sebelahnya. Pandangannya kosong, Afdal menepuk pundaknya


"Maafkan saya bos, saya harus menjawab jujur setiap pertanyaan tadi, karena memang saya tidak tahu menahu soal keuangan perusahaan"


Kembali Andi menunduk dan meremas kasar rambutnya sambil menghembuskan nafas dalam


"Sepintar pintarnya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga" sindir pak Tobias


Andi kian menunduk malu


"Sekarang, kau tuai apa yang kau tanam bapak Andi, saya keluar dulu, saya akan mengurus semua tuntutan perusahaan pada anda"


Andi kian terhenyak, berkali-kali dia mengusap kasar wajahnya.


"Tamat karirku Dal" ucapnya penuh sesal


Afdal kembali menepuk pundaknya. Sekali lagi Andi menarik nafas dalam.


Sementara di tempat lain, Tina sedang bersenang-senang dengan ketiga temannya.


Mereka berkaraoke sambil berjoget-joget, Andi yang sejak tadi menelpon tidak digubrisnya. Hp itu hanya dilirik dan dicuekinya saja


Andi yang kesal karena menelpon Tina tidak diangkat-angkat, akhirnya hanya bisa menghembus nafas kesal


"Nggak diangkat?" tanya Afdal


Andi menggeleng. Afdal tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam hati dia mencemooh kebodohan Andi.


"Kemana perempuan itu?" rutuk Andi kesal


"Perempuan, biasa. Mungkin dia sibuk kerja" jawab Afdal


"Sejak menikah denganku, dia berhenti kerja"


Afdal ber O panjang.


"Sibuk di rumah mungkin" lanjutnya


"Sibuk apa, tiap hari bangunnya siang, nggak pernah masak, boro-boro mau membuatkan aku sarapan" sungut Andi lagi


Afdal tersenyum menyeringai. Dulu mbak Indah selalu membawakan bekal, tapi kamu sekalipun tidak mau memakannya, sekarang tahu rasa kau pak Andi, emang enak ucap Afdal dalam hati


"Pantesan bapak tidak pernah bawa bekal lagi" sahut Afdal


Andi mendengus kesal


"Tina sudah terbiasa makan di luar ketika pacaran sama aku, jadi ketika menikah, dia bingung bagaimana caranya masak"


Afdal hanya diam mendengar penjelasan Andi.


"Beritahulah istrimu pak, biar dia tidak shock"


"Saya sudah berkali-kali menelpon tapi tidak diangkat" jawab Andi lesu


"Jangan-jangan dia main sama teman-temannya, soalnya tadi pagi dia minta uang tidak aku kasih, terus dia ngambek"


"Ternyata istri bapak belum berubah" ucap Afdal


Andi menggeleng


"Uang belanja saya kasih enam juta sebulan, pertengahan bulan sudah habis, bingung aku kemana larinya uang-uang itu"


"Dulu tiga tahun menikah Indah selalu aku kasih jatah enam ratus ribu"


Wajah Afdal kaget demi mendengar nominal uang bulanan Indah.


"Enam ratus ribu pak?" tanyanya tak percaya


Andi menganggukkan kepalanya. Afdal menggeleng-gelengkan kepalanya


"Tapi setelah itu aku kasih dua juta dia perbulan, dan sama seperti sebelumnya, uang itu selalu cukup, dia tidak pernah mengeluh kurang, atau minta tambah"


Afdal tersenyum basi

__ADS_1


"Sekarang jangan diharap ada perempuan seperti mbak Indah, pak. Anda betul-betul beruntung pernah menjadi suaminya" jawab Afdal menerawang


Andi menghembus nafas dalam. Mereka berdua diam untuk sesaat. Sampai akhirnya pak Tobias masuk lagi


"Pihak perusahaan menunggu itikad baik anda untuk mengembalikan uang yang sudah anda gelapkan" ucapnya sambil duduk di sebelah Afdal


Andi kian menunduk dalam


"Kemana pak saya harus mencari uang gantinya?" tanya Andi dengan suara nyaris tak terdengar


"Itu urusan anda, bukan urusan kami" jawab pak Tobias


Selagi mereka bertiga diam, dua orang polisi masuk


"Ayo pak Andi, untuk sementara anda kami tahan di polres dulu menunggu waktu keputusan pengadilan" ucap seorang polisi


Dengan lesu Andi berdiri dan menatap dengan mata merah pada Afdal.


"Yang sabar pak" ucap Afdal


Pak Tobias bergeming, beliau hanya memandang sinis.


Lalu kedua polisi itu membawa Andi berjalan keluar ruang penyidikan menuju keruang tahanan.


...****************...


"Cari siapa mas?" tanya mbak Lis begitu melihat ada seorang lelaki yang berdiri di teras rumah Andi


"Istrinya pak Andi ada tidak ya bu di dalam, saya dari tadi mengetuk pintu tidak ada sahutan?"


"Istrinya yang mana?, kalau yang pertama telah diceraikannya dan saya dengar dia jadi tkw ke Arab, kalau yang istrinya sekarang palingan ngelayap mas, orang tiap hari cuma itu kerjanya"


Wajah Afdal terlihat kaget begitu mendengar wanita itu mengatakan jika Indah jadi tkw. Degup jantungnya berdetak cepat, rasa marah tiba-tiba hadir di dadanya.


"Kurang ajar kamu pak Andi, memang kamu harus membusuk di penjara" gumamnya emosi


"Istrinya yang sekarang bu?" tanya Afdal


"Halaahh, nanti mas dia pulang, kalau hari sudah gelap, wanita nggak jelas ya begitu kerjanya"


"Memangnya ada apa ya mas?" sambung bu Lis lagi


"Ah, tidak ada apa-apa bu, saya ada perlu sedikit"


Bu Lis langsung memandang curiga pada Afdal


Afdal langsung beristighfar mendengar pertanyaan ibu itu. Sedang bu Lis cuek saja. Karena Tina tidak ada di rumah dan demi menghindari pertanyaan aneh lagi, Afdal segera berpamitan pulang


Di perjalanan pulang Afdal teringat perkataan ibu tadi, jika Indah jadi tkw ke Arab. Tangannya yang sedang memegang stang motor terkepal


"Semoga karma perbuatanmu dan kedzalimanmu dibalas Alloh pak Andi" geramnya


Wajahnya berubah murung ketika dia teringat ketiga anak Indah. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Matanya tak sengaja melihat Tina yang sedang berada di dalam mobil yang saat itu berpapasan dengannya.


Dengan cepat Afdal mengerem dan memutar arah mengejar mobil tersebut. Karena mobil tersebut berjalan cukup pelan, jadi Afdal bisa memepetnya


"Minggir sebentar" ucapnya pada seorang perempuan berpakaian minim yang sedang mengemudi


Perempuan itu tampak kaget dan meminggirkan mobilnya dengan takut-takut. Ketika mobil tersebut telah berhenti, Afdal yang juga minggir segera turun dari mendekati mobil tersebut


"Tina, aku mau bicara sama kamu" ucap Afdal sambil melepas helm di kepalanya dan langsung berkata pada Tina yang kebetulan duduk di sebelah perempuan yang mengemudikan mobil tadi


Isi di dalam mobil itu ada empat orang perempuan yang keseluruhnya berpakaian minim


Tina yang sudah faham jika Afdal adalah teman sekantor suaminya segera merasa lega


"Tenang say, ini teman laki gue. Paling dia mau booking diantara kalian" ucapnya cekikikan


Afdal mencibir demi mendengar ucapan Tina. Tina lalu turun dari dalam mobil.


"Kenapa?" tanyanya


Afdal diam sesaat, dia memperhatikan Tina dari kaki sampai kepala. Kets berwarna krem dengan celana hot pants dan baju hitam yang sangat ketat, serta rambut yang pirang kecoklatan.


"Ya Rabbi" lirihnya dalam hati


"Napa lu liat-liat, naksir?" ucap Tina yang jengah diperhatikan seperti itu


Afdal tersenyum menyeringai


"Amit-amit" jawabnya


Tina langsung melototkan matanya.


"Kurang ajar lu!" bentaknya

__ADS_1


"Tadi saya dari rumah kamu, rupanya kamu belum pulang, rupanya seperti ini ya kelakuan kamu"


Tina membuang muka dan mencibir


"Saya cuma mau menyampaikan jika suami kamu ditangkap polisi dan sekarang ditahan di polres"


Mata Tina spontan terbelalak. Ketiga temannya yang di dalam mobil yang ikut menguping ikut kaget


"Serius kamu?" ucap Tina kaget


"Makanya kalau suami nelpon tuh diangkat, jangan uangnya saja yang mau" jawab Afdal sambil naik kemotor


"Tunggu!" cegah Tina yang segera memutar kontak motor Afdal


"Apa lagi?"


"Kenapa Andi bisa dipenjara? apa salah dia?" bibir Tina gemetar saat mengucapkan kata itu, matanya tampak berkaca-kaca


"Kamu tanya kenapa?" Andi mendengus dan tertawa sinis


"Ini semua karena pak Andi menuruti gaya kamu yang sok ngartis dan sok gaul" jawab Afdal sambil memutar kembali kontak motor lalu pergi meninggalkan Tina yang terlihat sangat shock dan berdiri mematung


Ketiga teman Tina langsung keluar dari mobil dan segera membawa masuk Tina yang shock dan tampak meneteskan air mata


"Lu baik-baik aja kan say?" tanya temannya


Tina tidak menjawab, dia hanya terdiam sambil terisak


"Yang sabar" ucap temannya sambil mengelus pundak Tina


"Gimana hidup gue selanjutnya jika laki gue di penjara?" tangisnya


Ketiga temannya saling tatap.


"Elu sih, laki nelpon bukannya diangkat elu malah terus aja jingkrak-jingkrak" sahut satu temannya.


Mendengar jawaban tersebut, kedua temannya yang lain langsung memandang tak suka pada wanita tadi


"Bisa nggak, elu nggak ngomong kaya gitu" ucap temannya yang duduk di depan stir


"Lah emang bener kan?" jawabnya membela diri


"Udah deh say, mending sekarang elu telpon tu laki lu, elu tanyain kondisi dia"


Tina masih menangis tapi saran dari temannya itu diturutinya. Dia segera mendial nomor Andi, tersambung


"Kemana saja kamu hah?!" suara Andi langsung membentak ketika panggilan tersambung


"Maaf" isak Tina


"Aku dipenjara sekarang, dan kamu puas ngelayapnya sampai aku telpon berkali-kali tidak diangkat?, kurang ajar kamu ya!" maki Andi


"Aku tidak tahu yang kalau kamu dipenjara"


"Sekarang kamu tahu kan?" dengus Andi kesal


"Besok temui aku di polres, bawakan aku makanan dan pakaian" lanjutnya


"Ibu sama bapak sudah dikasih tahu?" tanya Tina


"Saya tidak kepikiran untuk memberi tahu mereka, kamu saja yang menelpon mereka" jawab Andi sambil mematikan hpnya


Tina menarik nafas dalam. Lalu memandang wajah ketiga temannya


"Cepat telpon mertua lu!"


Tidak menunggu dua kali, Tina langsung mendial nomor bu Mira. Tak lama panggilan tersambung


"Hallo menantu cantik ibu" jawab bu Mira dengan suara yang riang


"Buk?" suara Tina terdengar sendu


"Kamu kenapa sayang?" suara bu Mira terdengar panik


"Mas Andi buk..." suara Tina terputus karena dia sudah menangis sebelum menyelesaikan kalimatnya


"Andi kenapa?" jawab bu Mira panik.


Pak Hermawan dan Laras yang kebetulan sedang duduk santai di depan tivi bersama bu Mira menoleh demi mendengar suara bu Mira yang panik


"Mas Andi ditangkap polisi buk, dan sekarang di penjara di polres" jawab Tina


"Apa?? Andi ditangkap polisi?"


Bu Mira langsung ambruk. Laras dan pak Hermawan yang saat itu memperhatikannya langsung panik.


Laras berteriak-teriak memanggil ibunya, begitu juga pak Hermawan. Rudi yang saat itu sedang duduk di teras depan langsung berlari masuk demi mendengar suara istrinya yang panik memanggil ibunya

__ADS_1


Di dalam didapatinya, ibu mertuanya pingsan. Wajahnya sangat pucat dan istrinya tampak sangat khawatir dengan terus memanggil-manggil ibunya


__ADS_2