
Mataku terkesiap begitu melihat bahwa Andi juga ada di dalam restoran cepat saji ini. Yang membuatku lebih kaget lagi adalah bahwa saat itu dia tidak sendirian, ada seorang perempuan berambut pirang bersamanya.
Ketujuh temanku mulai kasak-kusuk. Aku yang ada di antara mereka menjadi tidak nyaman dan berpura-pura bersikap biasa saja.
"Siapa yang sama dia Ndah? tanya bu Kris
Aku menarik nafas dalam dan berusaha untuk tenang.
"Ayo kesana, dekati suami kamu" ucap mereka
"Untuk apa bu, biarlah" jawabku cuek masih dengan terus berusaha menutupi rasa malu dan marahku
"Ayo Ndah, atau kamu mau sama-sama dengan kita?" kali ini bu Yaya yang berbicara dengan nada kesal
Aku kembali menoleh kearah suamiku yang sepertinya tidak menyadari ada aku di restoran itu.
" Ayo Ndah cepat" desak mereka
Aku kembali menghembuskan nafas dalam, lalu meraih gelas es soda. Menyeruputnya lalu mengambil tissue dan mengelap mulutku.
Kembali aku memutar tubuhku kearah suamiku yang masih asyik disana sambil tersenyum-senyum tak jelas.
Aku lalu bangkit dari kursiku, berjalan pelan menuju dimana suamiku sedang duduk berdua dengan selingkuhannya.
Suamiku sepertinya tidak menyadari kedatanganku. Mereka masih saling menatap dan berpegangan tangan.
Dadaku rasanya mau pecah menahan marah, tapi aku harus tenang. Tidak mungkin aku meledak-ledak di sini. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri dengan mengamuk di sini. Jadi, dengan menahan marah di dada, aku segera merangkul bahu suamiku begitu tiba di tempat duduknya
"Sayaaanggg..." ucapku sambil memeluk bahunya
Refleks Andi menoleh dan segera melepas genggaman tangannya pada perempuan berambut pirang yang ada di depannya.
Wajahnya menegang begitu menoleh dan mendapatiku. Aku memasang senyum termanisku padanya. Perempuan yang duduk di hadapan Andi pun wajahnya memucat dan kaget.
Lalu aku menarik kursi dan ikut duduk bersama mereka.
"Saya Indah, istrinya Andi, kamu siapa?" tanyaku menatap selingkuhan suamiku
Dia diam, tidak menjawab. Dan duduknya mulai tak tenang.
"Kita hari ini anniv yang ketujuh tahun, ya kan sayang?" ucapku manis pada Andi yang gelisah
"Kok kamu bisa lunch sama suamiku?, sepertinya kamu bukan kolega kantor suamiku deh" ucapku menatapnya dari atas sampai bawah
Perempuan itu membetulkan rambutnya untuk menutupi cemasnya.
"Sudah selesaikan lunchnya? kok kamu tidak pergi?" ucapku penuh penekanan
Perempuan itu dengan terburu-buru bangkit dari kursinya lalu segera pergi meninggalkan kami
Aku memperhatikannya yang berjalan dengan terburu-buru sambil tersenyum sinis.
"Hebat ya kamu Andi, baru tadi kamu ngomong I love you sama aku, ehh tahunya siang ini kamu kepergok jalan dengan selingkuhan kamu"
Aku tertawa basi sambil menggeleng tak percaya.
"Alloh itu cuma banyak rencana yang tak terduga ya, saat kamu lagi dua duaan sama selingkuhan kamu ehh aku datang" kembali aku tertawa basi
__ADS_1
Andi mengusap wajahnya. Bingung harus menjawab apa.
"Itu teman-temanku disana" tunjukku pada teman-temanku yang terus menatap kearah kami.
Andi juga menoleh pada mereka, dan tampak dia menganggukkan kepalanya.
"Ayo gabung sama kami" ajakku
"Saya masih sibuk bun"
"Sibuk ngejar selingkuhan kamu tadi?" sindirku
Andi menggeleng
"Urusan kita belum selesai ya Ndi, awas kamu!" ucapku lirih dan penuh penekanan.
"Maaf bun"
"Stop bilang maaf, Anjing itu sekali dia makan kotoran, maka dia akan makan kotoran terus" jawabku lirih tapi mengandung penuh emosi.
"Kamu sekarang mau alasan apalagi Ndi, hah?"
"Kamu sakit aku urusi, giliran sehat kamu gatel lagi dengan perempuan lain"
"Pantesan kamu suka sama dia, karena dia memang cantik. Tapi apakah kamu pernah berfikir jika kecantikan itu tidaklah abadi"
"Dan aku yakin, kamu menyukai tubuhnya oleh karena itulah kau mengejar-ngejarnya. Tapi apakah kau sadar, jika tidak selamanya kulit itu akan kencang"
"Kamu modali perempuan lain untuk cantik, sedangkan istri sendiri tidak kamu modali"
"Aku juga bisa jauh lebih cantik dari dia, kamu ingatkan kita di Pekanbaru kemarin bagaimana cantiknya aku"
"Ahh, Pak Afdal. Iya, beliau kemarin memotoku menggunakan kamera ponselnya. Dan aku yakin beliau masih menyimpan foto tersebut di hpnya"
"Hubungi saja pak Afdal jika kamu mau melihat bagaimana cantiknya aku. Cantik itu perlu modal Ndi..Jadi kalau kamu ingin aku cantik, ya modalin dong. Aku yakin, aku akan jauh lebih cantik dari perempuan tadi"
Andi tetap diam mendengarkan kalimat panjang istrinya.
"Oh iya, aku mau gabung lagi dengan teman-temanku. Apakah kamu mau bergabung juga?"
Andi menggeleng
"Terima kasih ya karena telah menunjukkan tampang selingkuhanmu pada ku, jadi jika ketemu di jalan aku bisa mengenalinya"
Kembali wajah Andi menegang. Dia sudah berfikir yang aneh-aneh membayangkan hal yang tidak-tidak jika sang istri bertemu dengan selingkuhannya lagi nanti
"Pulanglah kekantor lagi, jangan sampai kamu dipecat!" ucapku sambil berdiri dari kursi dan kembali berjalan menuju mejaku tadi
Andi tertegun melihat istrinya berjalan meninggalkannya. Segera diusapnya kasar wajahnya dengan frustasi.
Aku langsung duduk kembali di kursiku dan memasang senyum pada teman-temanku. Mereka lalu mengelus bahuku
"Yang sabar Ndah" ucap bu Isma
"Yang kuat ya dek" sambung bu Kris
Aku mengangguk menahan airmata yang siap jatuh di pipi.
__ADS_1
Temanku yang lain menatap tajam kearah Andi seakan tak percaya. Karena mereka mendengar sendiri, tadi pagi ketika telponan kami masih sayang-sayangan, kok siang ini kenyataannya seperti ini.
"Yuk ah, makan lagi" ucapku sambil mencubit daging ayam dengan tangan gemetar
Teman-temanku saling pandang. Aku tidak perduli, saat ini fikiranku benar-benar kacau. Bagaimana tidak, di depan mataku aku melihat secara langsung suamiku bermesraan dengan selingkuhannya.
Suasana makan kami yang semula happy berubah menjadi senyap. Kami makan tanpa bersuara. Tidak ada tawa atau ghibah yang biasanya kami lalukan jika sudah berkumpul.
Aku dengan cepat menghabiskan makananku lalu meraih tas dan mengambil ponsel.
Mengetik pesan untuk mbak Dian.
"Mbak, kalau mbak mau pulang, anak-anak titip saja di rumah umak"
terkirim, terbaca.
"Iya bunda" balasan mbak Dian
Aku menarik nafas dalam dan termenung, sementara teman-temanku masih makan.
"Aku pulang duluan nggak papakan ibu-ibu?" ucapku dengan lirih
"No, kita pulang bareng" jawab yuk Kris
Aku kembali menarik nafas dalam.
Akhirnya ketujuh temanku menghabiskan makanan mereka lalu kami semua berdiri hendak pulang.
Aku berjalan menuju kasir hendak membayar semua tagihan makan kami
"Nggak usah dek, kita bayar masing-masing" cegah bu Yaya
Aku menoleh dan tersenyum pada mereka
"Aku yang bayar yuk" jawabku
"Tapi dek" lanjutnya
"Ini uang aku yuk, uang hadiah dari Pekanbaru kemarin" sahutku
"Wahhh, kalau gitu adek masih punya utang cerita sama kita" sahut bu Kris
"Maksudnya yuk?" kataku
"Kok bisa dapat uang dari Pekanbaru itu gimana ceritanya" jawabnya
Aku terkekeh lalu meninggalkan mereka menuju kasir. Setelah membayar kami turun dari lantai tiga.
"Ayo dek cerita gimana bisa dapat uang di Pekanbaru" desak bu Kris
"Aku dapat job jadi MC dadakan yuk, dan dibayar sepuluh juta" jawabku
"Waaaawww" jawab mereka kompak
"Wehhh, kamu hebat dek" puji mereka
Aku tersenyum bangga kearah mereka.
__ADS_1
Pekanbaru? Ah, tiba-tiba aku teringat abang.
Abang.... aku kangen bisikku dalam hati