
Besoknya, pak Abraham cs sudah pergi sesuai dengan rencana mereka, kami yang diberitahu nya untuk tetap di hotel menurut saja.
Nina terlihat gelisah, berkali-kali aku dan mbak Ningsih menenangkannya. Bahkan Naura juga telah memberinya obat penenang.
"Tante yang tenang ya, ini darah tante jadi naik loh"
Nina terus bergerak gelisah sewaktu Naura memeriksa tensi darahnya.
"Telpon dokter saja yuk, tanyakan apa yang harus kita lalukan?"
Naura menggeleng
"Bunda ingat kan apa kata dokter waktu terakhir sebelum kita kesini?, tante nggak gila, tante traumatis"
"Ya bunda juga tahu itu sayang, tapi melihat tante mu sebegini gelisah nya bunda jadi khawatir"
"Tante kenapa, bilang sama Ula"
Nina menatap Naura sambil menggigit bibirnya
"Anak tante..."
Dengan cepat aku mengambil handphone mengubungi pak Abraham
"Dimana pak?, gimana dapat anaknya?"
"Tunggu saja di sana mbak Indah sebentar lagi kami sampai"
Aku menutup panggilan dan aku jadi ikut gelisah mendengar jawaban pak Abraham tadi
#Di tempat lain dua jam sebelumnya
Pak Abraham cs yang sejak dua minggu ini mengintai rumah mantan suami Nina segera mengetuk pintu
Tak lama tampak seorang wanita muda yang membukakan dan menanyakan mereka siapa
"Bapak Surya ada?"
"Oh, suami saya. Sebentar, tapi bapak-bapak ini siapa"
"Kami temannya"
Walau wajahnya tak yakin perempuan muda itu masuk memanggil suaminya, mantan suami Nina
Tak lama Surya muncul dengan hanya memakai celana pendek dan baju kaos
Wajahnya langsung kaget melihat ada tiga orang berbadan besar yang berdiri di depan pintu
Melihat itu ketiga bodyguard kepercayaan Ozkan langsung masuk dan menyergap Surya yang badannya jauh lebih kecil dari mereka
Surya yang ketakutan langsung memucat ketika tubuhnya di kunci pak Tomo
"Si..si.. siapa kalian?"
Istri muda Surya langsung menggigil ketakutan begitu melihat suaminya yang sudah tak berdaya di bawah kungkungan pak Tomo
"Kamu tidak perlu tahu kami siapa, mana anak kalian?"
Istri Surya makin ketakutan saat pak Binsar menanyakan keberadaan anak sambungnya, karena selama menikah dengan Surya dia belum dikaruniai anak
"Mana anak kalian?!!!" bentak pak Binsar
Tubuh wanita itu kian menggigil.
"Mereka sekolah, sebentar lagi pulang"
Pak Abraham cs tersenyum menyeringai. Dengan kasar pak Tomo mengangkat tubuh Surya dan menyeretnya duduk di kursi
"Kamu juga duduk sini!"
Istri Surya langsung menurut mendapat perintah dari pak Abraham, suami istri itu duduk ketakutan
"Wajah pas-pasan sok poligami" ucap pak Tomo sambil mengangkat dagu Surya dan menepiskannya
"Kamu, kenapa kamu mau jadi pelakor?, hah?!" tanya pak Abraham
Istri Surya tertunduk tanpa berani mengangkat wajah
"Hanya wanita yang tak punya hati yang tega merebut kebahagiaan wanita lainnya" sambungnya
Keduanya terdiam.
Pak Tomo lalu meneliti wajah Surya dengan mata berkilat marah
"Untung saya diperintahkan oleh bos saya tidak menyakiti kamu, seandainya saja bos besar saya bilang musnahkan, telah habis kamu oleh saya"
Wajah Surya kian memucat dan kakinya makin gemetar
"Kamu juga, apa sih yang kamu lihat dari lelaki macam Surya ini, sudah jelek, nggak kaya, bertingkah pula!"
Istri Surya tak berani menjawab
"Saya yakin kamu tertarik pada Surya karena dia banyak uang kan?, karena dia royal sama kamu kan?"
Perempuan itu tetap menunduk
__ADS_1
"Kamu tahu tidak, jika demi menyenangkan kamu, dia menipu istrinya, mengurangi jatah belanja istrinya dan menyakiti istrinya"
"Perempuan murahan macam dia mana tahu itu Tomo, yang dia tahu yang penting dia dapat uang walaupun menyakiti hati perempuan lain" jawab pak Binsar
"Kamu memalukan perempuan saja. Apa tidak ada lelaki lain sehingga kamu mengambil suami orang, hah?!"
"Saya akan pastikan wajah kamu yang juga pas-pasan ini akan menerima tamparan"
Perempuan muda itu menelan ludahnya dengan ketakutan
Dari luar terdengar suara langkah sepatu yang seperti diseret
"Kalian harus kompromi sama kami jika kalian ingin selamat!" ucap pak Tomo sambil menatap dingin keduanya
Tak lama terdengar suara salam, lalu muncul dua anak lelaki yang langsung kaget melihat ada orang asing di rumah mereka
Keduanya saling toleh, dengan cepat pak Abraham tersenyum ramah pada mereka
"Baru pulang sekolah, ya?"
Keduanya mengangguk pelan, bahkan yang kecil menunjukkan jika dia benar-benar takut
"Kelas berapa?" sambung pak Abraham mencoba membuat mereka nyaman
"Saya sudah selesai ujian pakde, tinggal tunggu ijazah, kalau adik saya sebentar lagi ulangan"
Pak Abraham menganggukkan kepalanya.
Kedua anak Nina lalu masuk kedalam dan tak keluar-keluar lagi
"Cepat kamu bujuk anak kamu agar mereka mau ikut sama kamu. Kalian berdua juga ikut kami"
Wajah Surya langsung terangkat dan menyiratkan kekhawatiran
"Panggil kesini mereka!!"
Dengan menelan ludah, Surya berniat berdiri dan bahunya langsung ditekan pak Tomo
"Panggil dari sini, kamu duduk!!!"
"Adit, Alan, sini nak, ayah mau ngomong"
Tak lama dari arah belakang kedua anak lelaki tadi muncul, wajah mereka masih menyiratkan ketakutan
"Kita jalan-jalan yuk, bapak-bapak ini temannya ayah, mereka mau ngajak kita jalan-jalan"
Wajah keduanya langsung berubah sumringah dan mengangguk, dengan cepat keduanya masuk dan muncul kembali telah berganti baju
"Loh, ayah sama ibu nggak ganti baju?"
"Oh iya, mereka lupa nak saking senangnya, ayo, gantilah baju kalian. Lima menit lagi, tahu saya kalian sudah disini"
Dengan cepat Surya dan istrinya bergegas masuk kedalam dan berganti baju.
Tak lama mereka berdua telah muncul dan langsung masuk ke dalam mobil yang diparkirkan agak jauh oleh pak Abraham
Mereka berempat duduk di bagian tengah, sedangkan pak Tomo di bagian belakang.
Saat pak Binsar terus melajukan mobil menuju hotel tempat Nina berada handphonenya berdering, panggilan dari Indah
...****************...
"Kok kita mainnya kesini yah?" Alan anak bungsu Nina mendongak pada Surya yang berjalan sambil menundukkan kepalanya
"Ini hotel nak, di sini banyak permainan, bahkan di dalam ada kolam renang, nanti kamu bisa renang" jawab pak Tomo
"Kami sudah di hotel ini mbak, sebentar lagi kami sampai di kamar"
Surya makin bergidik mendengar suara Abraham yang sedang berbicara di telepon
"Mereka sudah dekat, Nina kamu tenang ya...." bujuk ku
Mbak Ningsih terlihat gelisah, dia memegang pundak Nina yang duduk di atas tempat tidur
Tak lama pintu kamar diketuk, dan aku membukakannya. Tatapanku langsung tertuju pada dua anak lelaki yang terlihat bengong dan heran melihatku
"Biarkan mereka berdua yang masuk, pak Tomo dan pak Binsar jaga mereka!"
"Baik mbak"
Dengan lembut pak Abraham merengkuh pundak Adit dan Alan yang memandang khawatir pada ayahnya yang mematung di luar
"Jangan takut nak, bukde orang baik" ucapku sambil tersenyum
Segera aku menutup pintu kamar. Pak Abraham langsung berdiri berjaga begitu kedua anak lelaki itu kubawa masuk
"Nina... coba lihat siapa yang mbak bawa..?"
Nina membalikkan tubuhnya, badannya bergetar, air matanya mengalir, mulutnya terbuka ingin meraung tapi suaranya hilang karena kesakitan di dalam hatinya yang membuncah
Tak bisa aku cegah, kedua anak lelaki itu meraung dan berlari kearah Nina
"Ibuuuuuuukkkk..." raung mereka yang langsung menubruk tubuh Nina
Mereka langsung memeluk erat tubuh Nina yang juga menangis meraung.
__ADS_1
Aku tak tahan melihatnya, air mataku langsung deras mengalir. Teringat bagaimana dulu Adam dan Mikail meraung ketika melihatku pulang
Berkali-kali Nina menciumi wajah kedua anaknya, begitupun anaknya, mereka juga tak hentinya menciumi wajah dan tangan Nina
Aku, mbak Ningsih dan Naura menyusut mata kami melihat keharuan di depan mata kami. Bahkan mbak Ningsih sampai tersedu-sedu
"Anak aku mbak, ini anak aku..."
Aku menganggukkan kepalaku kearah Nina yang seakan tak percaya jika yang didekapnya sekarang adalah kedua anak yang sangat dirindukannya.
"Bawa mereka ketempat lain, nanti aku yang akan membawa Nina menemui mereka" bisikku pada pak Abraham yang dijawabnya dengan menganggukkan kepala
Aku biarkan Nina meluapkan rasa rindunya pada kedua anaknya, aku dan mbak Ningsih saling berpegangan tangan
"Terima kasih Ndah, terima kasih" ucap mbak Ningsih sambil berurai air mata
Aku menggenggam tangan mbak Ningsih
"Inilah caraku membalas kebaikan Nina padaku dulu mbak"
Mbak Ningsih mengangguk sambil mengusap wajahnya
Naura mengajak mengobrol adik sepupunya itu menggunakan bahasa Jawa halus, aku tersenyum karena Naura begitu lihai mengambil hati kedua adik sepupunya itu sehingga mereka cepat akrab
"Nina, ikut mbak sebentar, yok?"
Nina mendongakkan kepalanya padaku lalu menoleh kepada kedua anaknya yang sedang bermain game dengan Adam dan Naura
Lalu dia mengangguk dan mengikuti ku keluar dari kamar
Melihat kami keluar, pak Abraham langsung sigap mengawal dan membawaku kesebuah kamar yang sengaja aku booking untuk Surya dan istrinya
Aku segera mendorong pintu kamar, saat itu aku lihat pak Tomo sedang membabi buta memukuli lelaki yang aku yakini adalah mantan suaminya Nina
Terdengar erangan kesakitan dan suara memohon dari perempuan.
Ku genggam erat tangan Nina, membawanya masuk mendekati pak Tomo yang menghapus keringat yang membanjir di wajahnya
Melihat Nina, Surya yang wajahnya telah babak belur langsung merangkak bersimpuh di kaki Nina. Kembali tubuh Nina menggigil dengan mata melotot tajam saat Surya memohon ampun padanya
"Balas dia Nin, balas dia seperti yang dulu dia lakukan sama kamu!" teriak ku
"Pukul dia sebagaimana dulu dia memukul kamu, balas Nin, balas dia!"
Nina dengan dada turun naik terus memandang tajam ke wajah Surya yang menatapnya sambil berurai air mata
"Balas dia Nin. Ingat bagaimana dulu dia memukul dan menyiksa kamu. Ingat bagaimana dulu dia mengkhianati kamu, ingat bagaimana dulu dia memisahkan kamu dengan kedua anakmu!"
"Ingat bagaimana kelakukan kejinya padamu Nin....!" teriakku
"Aaaaggghhhh...." teriak Nina sambil mengambil pemukul baseball yang sejak tadi diulurkan pak Tomo
Dengan membabi buta Nina memukuli sekujur tubuh Surya, dia terus berteriak meluapkan emosinya sepanjang dia memukuli tubuh Surya
Aku dan ketiga bodyguard kami memandang puas kearah Nina yang terus memukuli Surya
Sementara istri Surya menggigil ketakutan melihat Nina yang kalap memukuli suaminya.
Melihat Surya yang tak bergerak lagi, Nina dengan nafas terengah-engah menatap tajam kearah istri Surya
"Tolong mbak, maafin aku mbak, aku tahu aku salah. Maafin aku mbak, aku menyesal"
Nina menarik pemukul baseball berjalan pelan kearah istri Surya yang berlutut di lantai
"Maaf?, kamu bilang maaf?, kamu lupa bagaimana dulu aku memohon sama kamu untuk meninggalkan Surya, bagaimana dulu aku memohon jangan kalian ambil anakku?, kamu lupa bagaimana dulu Surya memukuliku di depanmu?, kamu lupa bagaimana senangnya kamu melihatku babak belur akibat dipukuli Surya?"
"Dan sekarang kamu mau minta maaf?, iya?"
"Kamu lupa bagaimana kalian berdua juga menyiksa kedua anakku, menyuruh mereka bekerja di rumah, jika mereka tidak mau, maka kamu tidak akan memberi mereka makan"
"Kamu lupa bagaimana aku memohon sama kamu untuk membiarkan kedua anakku ikut denganku?"
Istri Surya menggelengkan kepalanya dengan ketakutan saat dilihatnya Nina mengangkat tongkat baseball
"Aaarrggghhh..." Nina berteriak histeris
Kembali dia membabi buta memukuli istri Surya yang meraung kesakitan
"Dulu kamu memukul kakiku dengan sapu hingga sapu itu patah. Sekarang kamu rasakan balasan kuuu...." teriak Nina
Aku segera menarik Nina saat dia semakin kalap memukuli istri Surya
"Sudah! cukup Nin, cukup!, mereka sudah menerima balasan dari perbuatan mereka"
Nina menoleh ke arahku, melempar tongkat baseball, memelukku erat sambil menangis sesenggukan.
"Telepon polisi pak, kita jebloskan mereka berdua ke penjara"
Pak Binsar mengangguk dan segera menelpon polisi
Setengah jam berikutnya polisi datang dan membawa Surya dan istrinya kekantor polisi
"Nanti kami akan menyusul pak, kami akan membuat pernyataan dan laporan"
Pak Polisi menganggukkan kepala mereka pada ketiga bodyguard kami.
__ADS_1
Aku segera membawa Nina duduk menenangkannya, sebelum akhirnya aku membawanya kembali ke kamar bertemu kedua anaknya