Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Rahasia Indah


__ADS_3

Ozkan terus membiarkan istrinya tenggelam dalam tangisnya. Dia ingin setelah ini hati istrinya akan lega dan memberi maaf pada semua orang yang telah menyakitinya


Aku menarik kepalaku yang sejak tadi tenggelam di dada abang, menghapus kasar wajahku dan menatap abang dengan cemberut


"Kok nggak jadi kekantor?"


Ozkan menggeleng sambil menghapus sisa air mata di pipi istrinya


"Mana bisa abang tenang meninggalkan istri abang dalam keadaan marah?"


Aku memukul lengannya


"Ada apa lagi?, kok sekarang sampai nangis-nangis?, apa karena luka di kening Adam?"


Aku mengangguk


"Terus?"


Aku menarik nafas dalam


"Karena aku teringat bagaimana jahatnya Laras dan bu Mira sama aku dan ketiga anakku"


Ozkan ikut menarik nafas panjang


"Selama ini yang abang tahu mantan suamimu itu berselingkuh dan melakukan kdrt sama kamu, terus apa lagi yang membuatmu sangat dendam pada yang lainnya?"


Aku berdiri dari dudukku. Mengambil sebuah kotak yang selama ini aku simpan dan tak ada satupun yang bisa membukanya, karena kuncinya aku simpan di tempat khusus


Aku mengangkat kotak yang ukurannya cukup besar, sekitar tiga puluh centi, membawanya ke dekat abang dan meletakkannya


Lalu setelah itu aku turun kebawah, mengambil kunci yang selama ini aku simpan di tempat rahasia yang hanya aku yang tahu tempatnya


Kunci itu aku letakkan dalam kantong plastik dan aku kuburkan di bawah pot bunga besar


Karena potnya cukup besar, di tambah tanamannya yang sekarang sudah tinggi, membuatku tak bisa menggali tanah di bawah pot bunga untuk mengambil kunci yang selama ini aku sembunyikan


Melihatku seperti kesulitan, seorang bodyguard penjaga rumah kami mendekatiku


"May I help you Ma'am?"


Aku menatapnya sebentar, menimbang kira-kira apakah dia bisa menggeser pot bunga ini sendirian


"Yes, sure. You can help me. Hal yumkinuk musaeadati bitahrik wiea' alzuhur hadha? ( Ya, tentu. Kau bisa membantuku. Bisakah kau membantuku dengan menggeser pot bunga ini?)


"Hasanan sayidati" (Baiklah nyonya)


Lalu bodyguard itu berusaha menggeser pot bunga. Ozkan dari balik jendela kamarnya memperhatikan gerak gerik istrinya dan juga bodyguard yang sedang berusaha keras menggeser pot bunga tersebut


Ozkan pun melihat jika di dekat istrinya ada sebuah cangkul


"Mau apa dia?" gumam Ozkan


Karena kulihat sepertinya bodyguard itu kesusahan, aku melambaikan tanganku pada bodyguard lain yang sejak tadi memperhatikan


"Hal yumkinukum musaeadatuha ya rifaqu? (Bisakah kalian membantunya?)


Dua bodyguard yang ku panggil segera berjalan mendekat. Dan dengan mudahnya, ketiganya mengangkat pot bunga besar itu

__ADS_1


Setelah pot bunga bergeser, dengan percaya diri aku mencangkul kan cangkul ketanah


"Faqat daeni 'aftaqid" (Biar saya saja nyonya)" ucap salah satu dari tiga bodyguard yang terus berdiri di dekatku


Aku lalu memberikan cangkul yang kupegang padanya


Dengan segera bodyguard itu mencangkul tanah, aku yang berdiri di dekatnya terus memperhatikan sampai kantong plastik yang dulu aku kuburkan berhasil kena cangkul dan sedikit sobek


"Stop!" ucapku


Bodyguard tersebut menghentikan ayunan cangkulnya, dan aku segera memungut kantong plastik yang telah sobek sedikit tersebut, merobeknya lalu mengambil sebuah kunci yang selama ini aku pendam


"shukran jazilan sayidi" (Terima kasih pak)


Lalu aku segera memutar tubuhku berniat masuk kembali kedalam mansion


"Asf , 'iidha kunt la tumanie , yurjaa 'iieadat mawdie 'iina' alzuhur kama kan min qabl wayurjaa hifz almueazaqat maratan 'ukhraa" (Maaf, jika tidak keberatan, tolong kembalikan posisi pot bunga seperti tadi dan tolong cangkulnya kembali disimpan)


"Jahizat sayidati" (Siap nyonya)


Aku lalu tersenyum pada mereka kemudian berjalan bergegas masuk mansion dan segera kembali ke kamar, dimana suamiku telah menunggu


Begitu sampai di dekat suamiku, aku segera membuka gembok yang ada di luar kotak tersebut


Ozkan yang sejak dulu sangat penasaran dengan kotak tersebut merasa degup jantungnya sedikit berpacu cepat


Setelah gembok lepas, aku segera membuka kotak tersebut dan menumpahkan isinya


Ozkan mengernyitkan keningnya demi melihat isi kotak yang selama bertahun-tahun ini membuatnya penasaran


Dengan segera aku membeberkan isi kotak itu pada abang


"Ini adalah pakaian bekas yang dulu diberikan Laras padaku. Untuk ketiga anakku" ucapku bergetar menahan tangis dan marah


Ozkan kembali mengernyitkan keningnya tak faham maksud perkataan istrinya


"Ini adalah baju dan celana bekas anaknya Laras dan Maria. Sengaja mereka berikan untuk Naura dan kedua adiknya. Ku pikir baju bekas yang diucapkan Laras dan Maria adalah benar-benar baju bekas layak pakai, tapi ternyata baju bekas guntingan. Lebih tepatnya sengaja mereka gunting dan mereka sobek"


Ozkan menarik nafas panjang mendengar penjelasan istrinya


"Ini, abang baca isi surat yang mereka selipkan diantara tumpukan baju bekas ini" ucapku memberikan kertas putih yang warnanya telah agak kekuningan dimakan usia


"Selamat anda mendapatkan hadiah baju sisa. Hahaha. Baju sisa robek dan sisa lap"


Ozkan menarik nafas panjang dan menatap wajah istrinya dengan iba.


"Inilah bang yang membuatku sangat dendam pada mereka. Mereka benar-benar menghinaku, hingga akhirnya baju robek ini menjadi semangatku untuk mengumpulkan banyak harta dan membuat ketiga anakku tidak kekurangan seperti yang mereka cemooh kan"


"Aku belikan semua anakku baju mahal bahkan Andi melihat sendiri dimana ketiga anakku kalap memilih baju yang mereka senangi dan dengan santainya aku membayar semua baju itu"


"Keangkuhan dan kesombongan mereka aku bayar dengan keberhasilan dan uangku, ejekan mereka padaku dulu aku kembalikan pada mereka"


"Makanya sampai detik ini, ketika Laras dan ibunya sudah mati aku masih belum bisa memaafkan kesalahan mereka padaku"


"Jadi tolong, abang jangan memintaku untuk memaafkan mereka, karena hingga detik ini juga aku masih tidak bisa memaafkan mereka"


"Abang tidak melihat bagaimana antusiasnya ketiga anakku untuk membuka kantong kresek yang kami kira adalah baju ternyata baju sisa guntingan"

__ADS_1


"Wajah kecewa mereka, mimik muka sedih mereka, serasa masih terbayang bang di mataku"


Sambil mengatakan kalimat tersebut air mataku telah jatuh bercucuran.


"Terlalu bang mereka menghinaku, terlalu. Bahkan mereka mengatakan "jangan panggil kami mbah lagi, karena kami bukan mbah kalian, kalian tidak punya mbah"


"Tapi anak-anakku tidak ingat bagaimana dulu mbah mereka mengucapkan kalimat itu, mereka tidak ingat bagaimana Laras menghina mereka, mereka lupa bagaimana Andi membawa selingkuhannya pada mereka, bahkan mereka lupa bagaimana Andi dengan teganya meninggalkan Adam yang terus berlari mengejarnya"


Air mataku sudah tak terhitung lagi bagaimana derasnya, semua kenangan masa kelam dan masa sakit ku seakan berlomba-lomba bermunculan


Memporak porandakan hatiku yang kian sedih dan merasa terabaikan dengan sikap baik kedua anakku pada musuh-musuhku


Ozkan dengan perasaan tak menentu kembali mendekap istrinya dan menenggelamkan kepala Indah di dadanya


"Maafkan abang karena tidak pernah menyadari penderitaanmu Indah" lirihnya


Aku terus menangis dan menangis. Kenangan ketika dikontrakan kembali melintas di kepalaku, tawa ketiga anakku, celotehan ketiga anakku, tangis mereka, semuanya seakan melompat keluar dari memory otakku


"Mikail..." lirihku sambil mendorong pelan dada abang dan menyambar handphoneku


Segera aku membuka blokir Adam dan Naura sambil terus terisak. Dan Ozkan masih tetap di posisinya, memperhatikan gerak gerik istrinya yang terus terisak sambil menekan-nekan handphone


Aku segera meletakkan handphone di stik holder, menunggu ketiga anakku menerima panggilanku


Tak lama muncul wajah ketiga anakku, melihat wajah mereka aku langsung menangis meraung


Adam dan Naura yang merasa bersalah langsung ikut menangis, bahkan Adam sampai tersedu-sedu


Ozkan segera mendekati istrinya yang hanya terus menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun, mengusap pundaknya dan tersenyum kaku kearah Mikail yang bengong dengan wajah sedih


"Maafkan kami bunda..." lirih Adam setelah cukup lama dia terisak


Naura pun mengucapkan kalimat yang sama sambil terisak-isak


Aku hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjawab maaf ketiga anakku


"Beri waktu untuk bunda nak ya..." ucap abang mengambil alih


Mikail langsung meneteskan air matanya


"Jaga bunda ya Pa, saya mohon. Karena tugas menjaga bunda yang dulu saya serahkan sama papa sampai detik ini belum bisa saya ambil alih" ucapnya sambil menyusut air matanya


Mendengar kalimat kakaknya tersebut, membuat Adam kembali terisak


"Jangan sedih bunda, bunda sudah bahagia sekarang, kakak dan ayuk sudah mencapai mimpi dan cita-cita kami, dan In Syaa Alloh adek juga akan segera menyusul. Bunda sudah punya papa yang menyayangi bunda, sudah ada adek kembar juga, jadi apa yang membuat bunda nangis?"


Aku masih belum bisa menjawab pertanyaannya, aku terus tersedu-sedu


"Apa karena kesalahan kami bun?" tanya Naura terisak


Aku menggeleng


"Bunda sangat menyayangi kalian nak" ucapku sambil kembali menangis


Jawabanku ternyata membuat ketiga anakku langsung kembali terisak


Berempat kami sama-sama terisak, Ozkan yang melihat istri dan ketiga anaknya menangis tak urung menyusut air matanya juga, ikut terharu

__ADS_1


__ADS_2