
Setelah kejadian malam itu, Andi mulai berubah. Yang awalnya dia selalu pulang malam, maka sekarang dia kembali ke awal, jam lima sore sudah ada di rumah.
Waktunya sekarang lebih banyak dengan keluarganya. Naura yang begitu manja dengannya pun sejak ayahnya selalu di rumah, tantrumnya mulai berkurang.
Indah pun menjadi sedikit lega sekarang, setidaknya kekhawatirannya akan kehancuran keluarga kecilnya sudah berkurang.
...****************...
Tak terasa si bungsu sudah berumur hampir dua tahun. Dan itu artinya lebaran tahun ini, dia bisa kami ajak pulang kekampung halaman ayahnya.
Naura pun sudah berumur enam tahun lebih dan dia sekarang sudah sekolah di taman kanak-kanak.
Mbak Dian pun masih tetap bekerja dengan kami. Masih seperti dulu, setiap pagi dia akan datang dan akan pulang kerumahnya setelah aku pulang dari sekolah.
Harapanku cuma satu, aku berharap kebahagiaan ini akan terus seperti ini, tidak ada lagi kerikil-kerikil seperti kemarin.
...****************...
Bulan puasa di tahun 2006
Aku terbangun ketika alarm di handphone ku berbunyi. Alhamdulillah aku diberi hadiah handphone baru oleh suamiku ketika anniversary kami yang ke enam bulan Januari tadi. Handphone daun kalau kata orang Merasi menyebut tipe handphone ku
Segera aku beranjak ke dapur, membuka rice cooker yang sebelum tidur telah aku isi beras, mengaduknya dan mengambil piring untuk mendinginkan nasi.
Membuka kulkas dan mengambil bahan makanan untuk aku olah menjadi lauk kami sahur.
Pukul empat pagi aku membangunkan suamiku dan Naura. Ini adalah puasa pertamanya Naura, kami mulai mengajarinya berpuasa walaupun setengah hari.
"Sayang bangun, sahur" ucapku di samping suamiku yang masih terlelap.
Belum ada jawaban. Memang butuh waktu untuk membangunkannya, karena suamiku sulit dibangunkan.
"Ayah..."
"Hmmm"
"Ayok sahur"
Suamiku membuka matanya, mengerjap-ngerjap lalu duduk. Melihatnya sudah duduk, aku berdiri meninggalkannya dan menuju kamar depan, tempat Naura tidur dengan Mikail.
"Ayuk, sahur yok nak" ucapku membelai rambut coklatnya yang panjang
Naura menggeliat, membelakangiku.
__ADS_1
"Ayok sayang kita sahur. Katanya mau puasa, besok kalo sekolah, pas ditanya Bu guru "ayo siapa yang puasa" nanti kawan-kawannya tunjuk tangan dan ayuk tidak, nanti ayuk dimarah sama bu gurunya"
Naura memutar badannya kearah ku.
"Sahur ya bun?"
Aku mengangguk. Lalu dia duduk mengucek-ucek matanya. Aku segera menggendongnya.
"Ya Alloh, anak gadis bunda berat sekali, sudah sama kaya bunda kakinya, sudah panjang" ucapku sambil membawanya kekamar mandi untuk mencuci mukanya.
Selesai dari sana kami menuju meja makan dimana telah ada suamiku yang duduk di sana.
Aku menyuapi Naura makan dulu, butuh perjuangan untuk menghabiskan nasi dipiringnya. Karena Naura memang susah sekali jika makan nasi. Setelah Naura selesai, baru aku makan sahur.
Suamiku segera memberikan segelas susu pada Naura. Tak sampai semenit gelas itu sudah tandas olehnya.
"Ayuk ngantuk yah" ucapnya pada ayahnya
Suamiku segera menggendong Naura dan membawanya kekamar menidurkannya kembali.
Selagi aku makan sahur, suamiku menyapu rumah. Setelah itu dia mulai membuka laptopnya mungkin memeriksa pekerjaannya.
Tak lama adzan Shubuh berkumandang, lalu kami berdua shalat berjamaah dalam kekhsyukan menghadap sang Ilahi Rabbi.
Aku segera beres-beres rumah. Biar nanti saat mbak Dian datang, dia cukup mengasuh kakak dan adik saja.
Pukul 07.00 pagi aku membangunkan ayuk karena dia harus sekolah. Dengan mata yang masih ngantuk dan malas-malasan dia diam saja saat aku membawanya ke kamar mandi.
Selesai memandikannya, lalu aku memakaikannya baju. Selagi aku menggantikan baju si ayuk, si kakak juga bangun.
Sudah menjadi kebiasaanku, tiap anak bangun selalu aku peluk. Dan Mikail begitu turun dari tempat tidur langsung memelukku.
"Ihhh, jangan ganggu bunda, bunda lagi nyisiri aku" si ayuk mendorong si kakak.
"Ayuk.." ucapku.
Naura langsung memasang wajah cemberut.
Selesai dengan menyisiri rambut dan memakaikan bedak my baby aku memasangkan hijab di kepalanya.
"Cantik ga bun?"
"Anak bunda paling cantik di dunia" jawabku sambil mencubit hidung mancung nya.
__ADS_1
Naura lalu menjulurkan lidah kearah adiknya.
"Weekkk aku anak kesayangan bunda, weekkk.... kamu tidak..ihh kasian deh lo" dia mulai mengejek adiknya
"Bunda..." Kakak mulai merengek
"Semuanya anak kesayangan bunda" jawabku sambil menuntun mereka keluar kamar.
Di depan ternyata suamiku telah menunggu. Sejak si ayuk sekolah, tugasnya lah yang mengantar si ayuk sekolah, tapi giliran pulang, si ayuk pulang sendiri karena jarak tidak begitu jauh. Terkadang dia akan dibonceng dengan ibu wali murid yang menunggui anak mereka sekolah.
"Yuk sayang, berangkat" ayahnya melambaikan tangan kearahnya.
Naura mencium punggung tanganku lalu berlari menuju ayahnya yang sudah siap mengantarkannya.
"Nanti di sekolah belajar yang pintar ya yuk, jangan nakal" kata ayahnya diperjalanan saat mengantarkan si ayuk.
Naura hanya menanggukkan kepalanya.
Tak lama, sekitar tiga menit motor yanh dikendarai Andi sampai di depan gerbang sekolah taman kanak-kanak tempat Naura sekolah.
Sebelum masuk ke gerbang, diciumnya kedua pipi anaknya tersebut, lalu Naura melambaikan tangannya.
"Dadahh ayaahh" teriaknya.
Andi membalas melambaikan tangan sambil tersenyum lalu memutar motor pulang kerumah.
Saat sampai di rumah, ternyata istrinya telah menyiapkan sepatu dan bekal di atas meja. Tak lupa tas kerja dan kunci mobilpun telah terletak di sana.
Andi hanya masuk sebentar ke rumah, mengecek anak bungsunya yang masih tidur dan mencium pipi Mikail yang telah wangi habis dimandikan bundanya.
Aku segera mencium punggung tangan suamiku saat dia hendak berangkat kerja.
"Mbak Dian kok belum datang bun?, bisa telat loh nanti bunda sekolahnya"
"Nggak papa yah, aku jam ketiga hari ini, masih ada waktu di rumah sambil nunggu mbak Dian datang"
"Ya sudah, ayah berangkat ya. Nanti kita buka bareng di rumah"
Aku menganggukkan kepalaku. Lalu suamiku masuk ke mobilnya dan sebelum berjalan jauh, dia melambaikan tangannya padaku.
...****************...
...****************...
__ADS_1