
"Siapa pak?" ulangku
"Andi Wijaya anaknya pak Hermawan, orang kampung sebelah" jawab pak Haryo
Aku langsung meletakkan map tersebut dan menoleh kearah kedua kakakku
Kedua kakakku diam tak bereaksi
"Sejak kapan dia jadi mandor di sini pak?" tanyaku
Bu Kades yang menangkap perubahan wajah Indah tampak menegang
"Maaf bunda, kami minta maaf jika lancang mempekerjakan orang" jawab bu kades cepat dengan nada khawatir
Aku menoleh padanya dan menatapnya
"Sudah hampir tiga tahun ini bunda" jawab pak kades
"Kakak berdua tahu jika Andi bekerja di kebun sawit saya?" tanyaku dingin pada kedua kakakku yang dari tadi diam
"Tidak sat, kami tidak tahu. Yang kami tahu adalah jadwal panen, jumlah panen dan uangnya, itu saja" jawab kakakku
Pak Kades yang juga menangkap perubahan mood Indah menjadi ikut khawatir juga
"Bukankah Andi itu kerja di cabang Salam Group, kenapa bisa kerja di kebun?" tanyaku lagi
"Diakan dipecat, terus dipenjara bunda, karena tidak bisa lagi kerja di kota, dia pulang kampung, dan melamar jadi mandor pada bapak" jawab bu kades
Kembali aku menoleh pada kedua kakakku.
"Tidak pentingkan sat kami memberitahumu jika Andi dipenjara?" ucap kak Andri
Aku melengos, dan segera menyeruput teh karena tiba-tiba dadaku dipenuhi amarah.
"Bunda kenal sama Andi?" tanya bu kades pelan
Aku tertawa basi sambil menggeleng
"Tidak bu, saya tidak mengenalnya" jawabku cepat
"Ayo berangkat kita, nanti keburu sore" lanjutku sambil berdiri
"Mobilnya tinggal disini saja bos, kita keperkebunan pakai mobil saya saja" ucap pak kades pada kedua kakakku
Kami menurut dan segera keluar dari dalam rumah besar itu
"Ibu sekalian ikut saja, untuk teman saya" ucapku pada bu kades
Tanpa menunggu lama bu kades segera masuk kedalam rumah dan berkemas. Tak lama muncul dengan membawa dua buah tas untuk belanja kepasar yang sudah penuh dengan makanan
"Untuk kita makan siang" ucapnya yang seperti faham dengan keherananku
Aku tersenyum kearah bu kades, lalu kami naik kemobil Strada yang telah disiapkan oleh pak kades.
Aku dan bu kades duduk di depan, sedangkan kedua kakakku duduk di belakang.
Jalan menuju kebun sangat jelek dan berlumpur, berkali-kali mobil yang kami tumpangi kesulitan bergerak
Aku memvideokan setiap mobil kami yang tak bisa bergerak, untuk aku kirim dengan abang. Biar abang tahu petualanganku.
"Kebunnya mulai dari mana pak?" tanyaku saat mobil kembali berjalan normal
"Ini semuanya bunda. Dari pinggir desa tadi sampai ujung sana, masih jauh bunda" jawab pak kades yang terus fokus menyetir
"Kanan kiri?" tanyaku
Beliau kembali mengangguk. Berkali-kali beliau mengklakson ketika berpapasan dengan pekerja kebun yang sedang mengangkut sawit atau yang kebetulan sedang mendodos sawit.
__ADS_1
"Itu sawit saya pak yang mereka panen?" tanyaku
"Iya bunda, sebentar lagi kita sampai di tempat loading" jawabnya
Aku menganggukkan kepalaku dan kembali fokus melihat kanan kiri jalan melihat kekebun sawitku
"Ini dulu lahan kosong kan pak?" tanyaku lagi.
"Iya bunda, jadi ini semua kebun muda, kebun yang masih sangat produktif. Kebun ini akan terus menghasilkan sampai 25 tahun kedepan" jawabnya
Aku mengembangkan senyumku mendengar jawaban beliau. Untuk kalian semua ini nak, batinku
Dari jauh kami sudah melihat barisan mobil truk.
"Sudah mulai loading" ucap beliau yang semakin mempercepat laju mobil.
Mobil berhenti di dekat barisan truk. Melihat pak kades turun, semua pekerja yang jumlahnya puluhan segera mendekat
"Tumben turun langsung pak kades" ucap mereka
Kedua kakakku segera meloncat dari bak belakang begitu juga dengan aku dan bu kades, kami turun dan berdiri di sebelah pak kades
"Hari ini kami sidak" jawab beliau
Aku mengedarkan pandanganku kepada seluruh pekerja yang tampak bermandikan peluh itu.
Pandanganku berhenti pada satu pria tua yang juga menatap kearah kami. Aku berbisik kepada kedua kakakku, langsung mereka juga menoleh kearah yang kubisikkan.
"Kita istirahat dulu, sudah jam 12, saatnya makan siang" ucap pak kades.
Bu kades lalu menggelar tikar yang tadi dibawanya. Lalu kami semua makan bersama, para pekerja yang memang membawa bekal dari rumah juga makan sambil duduk di rumput.
Aku melirik melalui ekor mataku dan seolah tak melihat jika pria tua itu sejak tadi memperhatikanku
...****************...
"Nah, itu pak Hermawan!" tunjuk pak kades ketika kami sudah selesai makan
Aku segera melirik kearah kedua kakakku.
Tampak olehku pak Hermawan berjalan ragu kearah kami
"Nah, ini bunda pak Hermawan yang saya ceritakan tadi, anak beliau ini yang bernama Andi"
Aku tersenyum sinis kearah bekas mertuaku
"Mereka mau ngapain ya pak kades kesini?, apa mereka mau kerja di kebun juga?" tanya pak Hermawan yang juga ikut bernada sinis
Aku tersenyum mengejek kearahnya
"Sembarangan bapak ini!" jawab pak kades cepat
"Iya, kami ingin kerja juga di kebun sawit ini, kami ingin ikut mbrondol, ikut loading, ikut ndodos" jawab kak Angga
Pak Hermawan terkekeh mendengar jawaban kak Angga. Aku langsung memasang wajah murka menatapnya
"Hah, ternyata kalian tetap kere, ujung-ujungnya turun kekebun juga" ejeknya
Bu kades dan pak kades yang siap menjawab aku beri kode untuk diam
"Tenang saja kalau masalah itu, kalian bisa jadi anak buah kami, nanti Andi yang akan menunjukkan dimana lokasi kalian harus memanen" sambung pak Hermawan
"Hah, jauh-jauh jadi tkw ujung-ujungnya tetap kere, memalukan" ucap pak Hermawan memandang remeh kearahku
"Ehm, pak kades, bapak tua ini sebagai apa ya di kebun ini?" tanyaku saking sudah kesalnya mendengar ejekannya
"Aku supir disini, tuh mobil yang kubawa" tunjuknya bangga kearah sebuah truk yang sedang diisi oleh pekerja loading
__ADS_1
Aku mengikuti arah tunjuknya. Lalu aku berjalan kearah pekerja yang sedang sibuk mengisi bak truk tersebut
"Stop!, jangan isi lagi mobil ini. Seluruh sawit yang sudah bapak-bapak isi turunkan kembali, pindahkan kemobil lain!" ucapku lantang
Pak Hermawan segera berlari kearahku yang tadi memerintahkan para pekerja untuk menurunkan muatan
Melihat itu kedua kakakku dan pak kades berjalan cepat kearah kami
"Apa hak kamu menyuruh mereka memindahkan isi mobilku, hah!" bentaknya
Seluruh pekerja, baik yang sedang mengangkut sawit maupun yang sedang loading menghentikan aktifitas mereka dan menatap heran kearahku
"Anda tanya apa hak saya?, iya?!" bentakku
Kak Angga memegang pundakku
"Seluruh kebun sawit ini milik saya! kamu dengar? milik saya!! teriakku meletup-letup
Seluruh pekerja yang ada di sana diam terpaku. Termasuk pak Hermawan yang langsung pucat pasi
"Anda tidak percaya?, pak kades, jelaskan semuanya siapa saya. Biar lelaki tua ini tahu diri dan tidak bicara seenaknya pada saya!" lanjutku masih dengan emosi
"Ini bunda, jika selama ini kita hanya bisa menyebutnya saja. Maka hari ini beliau datang langsung kekebun beliau yang kita urus. Kebun beliau di daerah kita ada dua puluh paket yang kita urus ini, dan ada tiga puluh paket lagi dilahan sebelah" jelas pak kades
Kembali semua pekerja diam terpaku
"Dan untuk dia pak kades, saya tidak ingin dia bekerja diperkebunan saya lagi, termasuk anaknya yang mandor itu, pecat semua mereka!"
"Tapi bunda?" potong pak kades
"Kenapa?" jawabku membentak pak kades
"Kita kekurangan sopir bunda, makanya dia kami pekerjakan!" jawab pak kades ragu
"Disini, siapa yang bisa nyetir?" tanyaku lantang
Seorang anak muda seumuran Albert menunjuk tangan.
"Sini kamu!" panggilku
Anak muda itu mendekat dan berdiri sambil sedikit menunduk kearahku
"Mulai sekarang kamu yang bawa mobil ini!" ucapku
Pemuda itu menganggukkan kepalanya kearahku
"Ini mobil siapa pak kades?" tanyaku
"Mobil saya bu" jawab seorang lelaki yang juga paruh baya, maju
"Oh, jadi kami sewa mobil bapak atau gimana ini?" tanyaku
"Benar bu, dihitung tiap trip" jawabnya pelan
"Nah pak, jika bapak masih ingin mobil bapak kami sewa, maka mulai hari ini biar mas ini yang bawa mobil bapak!" jawabku
Bapak itu menganggukkan kepalanya. Dan kulihat pak Hermawan tertunduk malu
"Ingat bagaimana dulu kalian menghina dan merendahkan saya?, naahh itulah rasanya, sekarang anda merasakan apa yang dulu pernah saya rasakan!" ucapku kearah pak Hermawan
Semua pekerja termasuk pak kades dan bu kades menatap heran kearahku
"Ayo, kerja lagi. Saya masih ingin melihat lokasi yang lain. Dua minggu lagi saya datang lagi kesini. Dan saya harapkan bapak semua berkumpul di rumah pak kades, bawa anak istrinya, saya mau kenalan sama mereka. Dan khusus untuk hari ini, kalian akan mendapatkan bonus dari saya" jawabku yang disambut mereka semua dengan eluan bahagia.
"Ayo kita pergi pak kades, masih jauh tidak kebun saya yang lain?" ucapku nyelonong pergi meninggalkan pak Hermawan yang shock
Aku tersenyum puas dalam hati melihatnya hancur dan malu. Bu kades yang sejak tadi ingin tahu kebenarannya semakin penasaran.
__ADS_1
Dengan pelan mobil Strada yang kami tumpangi berjalan meninggalkan lokasi loading, seluruh pekerja melambaikan tangan kearah kami dan mereka tampak membungkukkan kepala mereka kearahku
"Hemmm, baru awal ini pak Hermawan, tunggu balasanku selanjutnya!" batinku dengan mata berkilat