Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Tanda Merah


__ADS_3

Aku memeluk lututku sambil berurai airmata. Entah sudah berapa lama ini kulakukan.


Aku tahu saat ini suamiku pasti sedang bercinta dengan selingkuhannya. Aku tahu saat ini mereka pasti sedang bahagia dan mereguk kenikmatan dunia yang penuh dengan dosa.


Sedang aku? aku disini, menangis pilu sendiri. Merutuki ketidak beruntunganku dan kebodohanku yang entah sampai kapan aku sembunyikan. Aku tidak tahu kedepannya, apakah aku bisa bertahan atau aku menyerah.


Wajahku sudah kusut begitu juga dengan rambutku. Aku benar-benar stress saat ini.


Sejak suamiku pergi, sekalipun dia tidak menelpon atau hanya sekedar mengirimiku sms. Terlalu bahagiakah dia dengan perempuan itu sampai mengabaikan kami yang ada di rumah?


Andi, aku benar-benar tidak menyangka kamu bisa melakukan semua ini padaku. Aku tidak menyangka sikap baikmu hanyalah sebuah kamuflase belaka.


Adam menangis, segera kuhapus airmataku dan naik kembali ke ranjang dan mengambilnya.


Aku tahu, anakku tahu jika bundanya sedang bersedih. Seorang bayi itu lebih sensitif dari pada orang dewasa, jadi dia tahu bagaimana keadaan ku saat ini. Sepanjang hari ini dia terus rewel dan menangis.


Asiku pun tidak lancar karena aku stress, tadi siang aku meminta Mbak Dian buat ke apotek Mutiara untuk membelikan susu formula khusus untuk bayi.


Aku beri Adam susu formula agar dia tidak kehausan lagi, padahal dulu kedua saudaranya sama sekali tidak aku beri susu formula, benar-benar asi ekskusif.


Adam masih menangis, mungkin karena asiku tidak banyak. Akhirnya dia kuletakkan kembali dan aku kedapur untuk membuatkannya susu formula.


Tak lama, aku segera kembali dengan dot di tanganku. Segera dia kugendong dan memberinya dot. Adam begitu menikmati susu formulanya, diteguknya hingga habis dan tertidur kembali.


Aku menghela nafas dalam saat melihat ketiga anakku pulas. Wajah polos mereka begitu tenang. Ya Rabb betapa egoisnya aku mengabaikan mereka. Terutama Adam, dia masih sangat kecil, dia masih sangat butuh aku, tidak seharusnya aku mengabaikannya. Kubelai kepalanya dengan sayang. Kukecup keningnya, lalu merebahkan badanku disebelahnya. Kupeluk Adam, aku berusaha tegar walau sebenarnya aku benar-benar hancur.


...++++++++++...


Sementara di tempat lain. Andi dan Tina sedang makan malam di sebuah restoran yang tidak jauh dari pantai. Suasana yang romantis menambah kebahagiaan dua insan yang dimabuk asmara itu.


Tina yang malam itu mengenakan dress maroon berbentuk neck v begitu mengeksplor dadanya. Jakun Andi sudah naik turun saat melirik belahan yang begitu rendah.


Makan malam itu berjalan dengan tenang, sesekali mereka saling menyuapi sesekali dan mengelap bibir satu sama lain.


Selesai dengan makan malam, Andi mengajak Tina untuk berjalan-jalan di bibir pantai. Sesekali mereka saling bergenggaman tangan. Wajah Tina dipenuhi dengan senyuman. Andi benar-benar memanjakannya.


Hembusan angin malam menyibak rambut Tina yang tergerai. Andi melepaskan jaketnya dan memasangkannya di badan Tina agar gadis itu merasa hangat.


Begitu Andi selesai memasangkan jaket ditubuh Tina, Tina langsung menarik tangan Andi dan dengan cepat dia memutar badannya, meraih tengkuk Andi dan ******* bibir Andi.

__ADS_1


Mendapat serangan yang tiba-tiba dari Tina membuat Andi kehilangan keseimbangan.


Tubuhnya langsung terjengkang jatuh diatas pasir disusul oleh Tina yang jatuh di atasnya.


Andi segera memeluk tubuh gadis itu, ******* bibirnya. Mereka berciuman di atas pasir, saling menyesap dan saling memilin.


Tina bisa merasakan jika ada yang mengeras pada bagian tubuh Andi.


"Tidak disini" ucapnya menyerah.


Dia segera mengajak Tina untuk pulang kehotel. Mereka berjalan cepat menuju hotel tempat mereka menginap yang memang tidak jauh dari pantai.


Sesampai di kamar hotel, kembali mereka melanjutkan adegan yang terhenti tadi. Mereka kembali melakukan hubungan terlarang mereka. Tidak peduli dengan status mereka dan tidak peduli dengan dosa. Yang ada di benak mereka saat itu adalah sampai menuju puncak kesenangan.


...+++++++++++...


Minggu siang, Andi dan Tina berbelanja di mall yang ada di kota Bengkulu, Andi memberikan keleluasaan pada kekasihnya untuk membeli barang apapun yang dia suka.


Sehabis berbelanja mereka lalu makan siang dan setelahnya mereka kembali lagi ke hotel untuk check out.


Jam 14.00 mereka check out dari hotel. Andi segera menuju basement untuk mengambil mobilnya dan Tina menunggunya di loby.


Tak lama Andi muncul dengan mobilnya, lalu Tina dengan langkah anggun masuk kedalam mobil itu.


Kurang lebih dua jam perjalan akhirnya mereka tiba di kota dingin. Andi menghentikan mobilnya ketika mereka sampai di dekat Danau Mas. Setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, akhirnya mereka turun dan menikmati pemandangan danau yang indah.


"Mas, kapan kita kesana lagi?" tunjuk Tina pada Villa Hijau yang kelihatan dari tempat mereka duduk.


Villa Hijau terletak tak jauh dari Danau Mas, letaknya sedikit lebih kepuncak.


Mereka memang ada beberapa kali menginap disana, tempatnya memang bagus sekali dengan view yang sangat indah. Wajar jika Tina selalu ingin kesana karena tempatnya memang sangatlah indah.


"Nanti ya, tidak sekarang, kalau sekarang tidak bisa. Mas sudah ngomong dengan istri mas kalau mas malam ini pulang"


Wajah Tina langsung berubah tidak senang. Tiap kali Andi menyinggung soal keluarganya Tina akan cemburu.


"Cemburu, hemm?" goda Andi


Tina melengos. Andi segera merengkuh pundaknya.

__ADS_1


"Mas itu sayang sama kamu, jadi kamu jangan cemburu. Istri mas itu hanyalah ibu dari anak-anak mas saja. Mas sudah tidak mencintainya" ucapnya menenangkan hati gadis itu.


Perlahan Tina mengembangkan senyumnya. Dia senang mendengar ucapan kekasihnya itu. Dia senang, jika dia lebih dicintai ketimbangan istri sahnya.


Setengah jam berikutnya mereka melanjutkan perjalan mereka menuju Lubuklinggau. Suasana kota dingin dan malam telah turun, Tina tertidur. Dan terbangun ketika mobil yang dikendarai Andi berhenti di depan kontrakannya.


Selesai mengantar Tina, Andi segera melajukan mobilnya menuju rumah. Tak lupa dia mampir ke mall Ceria, di sana dia mengambil beberapa cemilan dan buah untuk oleh-oleh buah hati dan istrinya.


Ketika melintasi barisan baju, tak sengaja mata Andi melihat ada sebuah gamis yang cantik. Tanpa pikir panjang, dia segera mengambil gamis tersebut dan membawa semua belanjaannya kekasir.


Setelah selesai membayar semua belanjaan, Andi keluar dari mall dan melajukan mobil menuju rumahnya.


Jam delapan malam lewat, mobil Andi masuk ke dalam garasi. Dia segera mengambil belanjaannya dan mengetuk pintu.


Mendengar ada suara mobil berhenti, Naura langsung berlari.


"Ayah ayah" ucapnya sambil melompat kegirangan


Aku segera membukakan pintu untuk suamiku masuk. Segera aku cium punggung tangannya. Naura langsung memeluk ayahnya sedangkan Mikail mendongak kearah ayahnya.


Andi segera memberikan bungkusan yang dibawanya padaku. Aku menerimanya lalu membawa koper serta kantong itu masuk.


Melihat Mikail mendongak, suamiku langsung berjongkok dan menggendongnya. Lalu mereka masuk menyusulku ke dapur.


Di dapur aku segera meletakkan kantong belanjaan yang tadi dibawa suamiku, lalu membawa koper pakaiannya menuju mesin cuci.


Suamiku segera membuka kulkas dan mengambil air dingin di sana, sementara Naura dan Mikail sedang mengunyah snack yang tadi dibukakan oleh ayahnya. Mereka duduk di lantai dengan begitu banyak cemilan di sekeliling mereka.


Kerongkonganku tercekat saat aku mulai memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Dengan gemetar aku meraih bungkusan plastik yang terletak di bagian paling bawah pakaian kotor itu. Dari bungkusnya tertulis su**a. Aku terhenyak, tiba-tiba mataku panas. Lalu mengalir lagilah airmataku.


"Bun, aku mau mandi" ucap suamiku yang tiba-tiba muncul di belakangku. Dengan cepat aku menghapus airmataku, agar dia tidak melihat kalau aku sedang menangis.


Tanpa ragu segera dibukanya baju yang dikenakannya dan melemparkannya ke dalam mesin cuci.


Aku kembali tercekat saat aku melihat ada tanda merah di dada dan selangka suamiku.


Ya Rabb, apakah dia sengaja mau pamer dengan ku?


"Silahkan" jawabku sambil segera berlalu meninggalkannya.

__ADS_1


Aku segera berlari kekamar mandi depan. Di sana aku terduduk di lantai, menutup wajahku yang kembali menangis.


Andi, kenapa harus ada tanda merah itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? rutukku sambil berurai airmata.


__ADS_2