Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Suamiku Cemburu


__ADS_3

Selesai dengan acara makan di rumah umakku, aku dan abang mengajak keluarga besar kami ke rumah.


Sampai di rumah, kami mengobrol sambil makan-makan lagi, sedangkan anak-anak naik semua kelantai atas.


Rumahku nyaris tak pernah sepi, selalu banyak yang datang bertamu. Dengan senang hati kami sekeluarga besar menyambut dan aku memberikan mereka THR.


Setelah sore barulah aku dan abang bisa istirahat. Berdua kami tidur-tiduran. Aku yang memang selalu manja sama abang memanfaatkan momen ini dengan bermanja padanya, mumpung Defne di kamar Naura.


Jika dia melihat, bisa habis aku diamuknya🤭


"Seru ya lebaran di sini"


Aku tersenyum, abang memang belum pernah merasakan bagaimana ramainya momen lebaran. Dari malam takbiran hingga hari ini selalu ramai


Besoknya kami open house, aku sengaja melakukan itu agar semua tetanggaku bisa hadir ke rumahku. Ternyata semuanya diluar prediksiku, halaman kami yang luas penuh terisi dengan para tamu. Serkan dan Defne saja sampai keheranan


"What are they doing in here Ma?"


"Silaturrahim" jawabku


Mereka berdua dengan antusias ikut pula membagikan amplop kepada para tamu ketika mereka berpamitan pulang


Bahkan suami dan keempat anakku laris manis jadi artis dadakan. Semuanya sibuk mengajak berfoto


Selesai dengan acara open house, mbak Dian dan ayuk-ayukku adalah orang yang sangat repot, mereka membersihkan seluruh sisa makanan dan piring kotor. Aku yang dibantu Naura dan Adam membersihkan halaman, abang yang dibantu Serkan dan Defne menyapu rumah.


Malamnya saat kami semua santai di ruang keluarga handphoneku berdering


Ummi


"Astaghfirullah!!" pekikku tertahan yang membuat abang langsung menoleh dan menatapku panik


"Ada apa sayang?"


Aku tak menjawab melainkan mengangkat handphone dan memamerkan pada abang


Abang menepuk keningnya juga


"Assalamualaikum Ummi"


"Waalaikumussalam, Barakallahu Minna Waminkum Indah"


Mataku langsung panas, wajah teduh ummi membuatku merasa bersalah karena lupa menelpon dan meminta maaf padanya.


"Maafkan Indah ummi...." hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan karena air mata telah menetes


Abang melakukan hal yang sama. Berdua kami sama-sama meminta maaf kepada ummi


Muncul wajah nona Alima, padanya aku juga meminta maaf.


"Mana Naura?"


Aku mengernyitkan keningku, kok tiba-tiba nona Alima menanyakan Naura


"Ada di atas nona"


Nona Alima tersenyum


"Tolong sampaikan padanya, angkatlah video call dari Emir, Emir sangat merindukannya"


Wajahku langsung bersemu malu


"Ya Rabb, nona Alima tahu? apa nanti pikirnya" batinku


"Mungkin Naura masih dengan Defne, Nona. Makanya video call tuan muda Emir tak diangkatnya"


"Sepertinya bisa akan berbesanan Ndah"


Aku hanya tertawa tak enak pada nona Alima, mana pantaslah anakku bersanding dengan tuan muda Emir, siapalah aku. Aku dulu hanyalah asisten ummi, masa mau berbesanan dengan crazy rich macam mereka


"Jika kau kembali ke Jeddah, ajaklah Naura. Aku tak ingin putra sulungku itu mati menahan rindu pada anakmu"


Aku dan abang hanya bisa tertawa

__ADS_1


...****************...


Lebaran ketiga


Sesuai janji abang, pagi ini kami telah siap berangkat ke Jawa. Semalam abang telah menelpon pilot jet pribadi kami di Jeddah untuk segera terbang ke Indonesia.


Aku membawa banyak kue kering dan juga makanan lain untuk Mikail. Bahkan aku juga telah membawakannya rendang.


Jam 10.00 kami berangkat ke bandara dengan diantar oleh kak Andri. Umak bapakku ku ajak turut serta karena mereka juga rindu pada Mikail


Tak butuh waktu lama kami sampai di Jakarta. Setelah kami turun dari dalam pesawat, lagi-lagi aku diberi kejutan oleh abang


Ada pak Abraham, pak Tomo dan pak Binsar yang telah menunggu kami di luar pintu vvip. Melihat pak Abraham, twins langsung berlari


"Uncle..." teriak mereka


Dengan sigap pak Abraham mengangkat keduanya. Defne sampai terkekeh dan memukul-mukul otot besar pak Abraham


"Your muscle so big, I like that" ucapnya


Pak Abraham hanya tersenyum. Sedangkan pak Binsar dan pak Tomo segera mengambil alih koper yang ditarik Naura dan umakku


Abang tetap dengan wajah dinginnya jika sudah bertemu dengan tiga bodyguard ini. Aku tak tahu mengapa, aku juga heran. Tiap ada mereka bertiga maka wajah suamiku berubah datar


Apa karena suamiku ingin menjaga image nya di depan mereka? entahlah.


Tapi yang pastinya ketiganya sangat takut dengan suamiku, padahal jika mereka tahu bagaimana manisnya sikap suamiku padaku dan anak-anak kami mereka pasti tak akan menyangka.


Kami naik kedalam dua mobil yang telah tersedia. Kami naik mobil yang dikemudikan pak Abraham, orang tuaku, Naura dan Adam naik mobil bersama pak Tomo dan pak Binsar


Tujuan kami langsung ketempat Mikail. Di jalan aku telah memberi tahunya jika kami sudah di jalan menuju tempatnya berdinas.


Tak butuh waktu terlalu lama akhirnya kami sampai di tempatnya berdinas, tak mudah untuk kami bisa bertemu dengannya. Kami harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu.


Padahal saat itu aku sudah melihat Mikail, tapi karena aturan kami harus mematuhinya.


Setelah selesai serangkaian pemeriksaan akhirnya kami bisa menemui Mikail


Kupeluk erat anak kesayanganku itu. Air mataku tak berhenti mengalir. Mikail terus tersenyum saat aku memeluknya, Naura dan Adam memeluknya juga. Ketiganya tertawa dan saling berangkulan.


"Ayo, kakak mau dengar bahasa Palembang nya?" ucapnya pada Serkan yang disambut kami dengan tawa berderai


Melihat kami berkumpul, beberapa TNI yang lain mendekat dan dengan santunnya mereka menyalami kami


Kami duduk bersama, makan bareng. Semua makanan yang ku bawa dari rumah aku hidangkan.


Saat kami makan, beberapa senior Mikail yang juga turut bergabung bersama kami curi-curi pandang pada Naura


Naura bersikap biasa saja, walau dihatinya ada rasa tak nyaman karena jadi pusat perhatian


"Maaf pak, kakaknya Mikail sudah punya calon belum?"


Abang langsung menatap TNI yang tadi bertanya sambil tersenyum. Tubuhnya tegap berisi, khas tentara sekali, gagah dan berkharisma.


"Tanya saja sama yang bersangkutan" godaku sambil tersenyum pada Naura


Naura yang wajahnya langsung merah hanya bisa memonyongkan bibirnya ke arahku


"Ini nomor WA saya jika kamu berkenan menyimpannya" lanjut TNI tersebut sambil menyerahkan secarik kertas pada Naura


Adam langsung mengambilnya dan menatap TNI tersebut dengan tajam


"Apa kelebihan bapak hingga saya dan kakak saya Mikail bersedia melepas kakak perempuan satu-satunya kami untuk jadi pendamping bapak?"


TNI tersebut terkesiap, aku memandang kearah Adam, memuji keberaniannya


"Adek!!" sergah Mikail


"Ibu, saudara perempuan, itu adalah tanggung jawab kita sebagai saudara laki-laki kak, jadi sudah sewajarnya jika adek bertanya pada bapak ini"


TNI tersebut tersenyum


"Kamu memang sangat amanah"

__ADS_1


Adam diam.


"Kamu manis sekali sihhhh..." ucap Naura segera merangkul pundak adiknya


Mikail tersenyum tak enak pada seniornya


"Jangan apa-apakan adik saya, ya?" ucap Naura sambil menatap kearah Mikail


TNI tersebut kembali tersenyum


"Tidaklah, saya profesional"


"Jangkung banyak sekali ya fans nya, semalam bahkan Ummi Afsha dan Alima ingin bertemu, sekarang bapak TNI ini, terus si Akmar apa kabarnya?" goda abang


Wajah Naura seketika kembali merah. Dengan cepat dia menoleh kearah papanya, cemberut.


...****************...


Dua hari kami di Jawa, berkumpul di kontrakannya Mikail. Abang secara langsung memberikan kunci apartemen miliknya untuk ditinggali oleh Mikail.


"Tinggallah di apartemen papa, sekarang apartemen itu jadi milik kamu, sebagai hadiah dari papa"


Mikail tampak malu saat menerima kunci apartemen yang diberikan abang.


Saat kami pulang, Mikail tak bisa mengantarkan karena dia harus dinas. Aku memeluknya erat sambil terus menciumi wajahnya ketika dia berpamitan tugas padaku.


Jam sepuluh pagi dengan dikawal pak Abraham cs kami berangkat ke bandara.


"Daddy, are they follow us?" tanya Serkan saat ketiga bodyguard suamiku itu mengikuti kami naik pesawat


"Yes, they follow us"


Serkan dan Defne langsung bersorak, dengan santainya mereka berdua melompat-lompat di depan pak Abraham


"Defne, no sweety" ucapku saat Defne sudah minta digendong dengan pak Abraham


Abang mengulurkan tangannya dan Defne segera melompat ke pelukan daddynya


Serkan yang mengambil alih, dia segera melompat, dan dengan sigap pak Abraham menangkapnya


Aku dan umak bapakku hanya tersenyum melihat mereka berdua


Dua jam berikutnya kami sudah di dalam rumah.


Pak Abraham cs yang begitu sampai rumah langsung segera berjaga. Aku hanya menggelengkan kepala melihat sikap professional mereka


"Kasihan mereka sayang jika harus berjaga di rumah ini"


"Abang sengaja meminta mereka kesini karena lusa kan kita mau ke rumah saudaramu yang akan menikahkan anaknya itu kan?"


"Maksud abang Dimas?"


Abang mengangguk.


"Kan ada Adam sama abang, jadi kita sudah aman, kan?"


"Di sana ada mantan suami kamu, abang tak ingin dia mencuri pandang sama kamu" jawab abang sambil melengos


Aku terkekeh, dengan segera aku menubruk dadanya dan mengusel-usel wajahku di sana.


Ahhh, ternyata suamiku cemburu, manisnya...


Abang yang melihatku memeluknya, mengusap bahuku dengan lembut


"Jika Andi macam-macam sama kamu dan anak-anak kita, ada Abraham yang akan mematahkan tangannya lagi"


"Lagi?"


Aku melepas dekapanku pada abang, menatapnya serius


"Iya, dulu abang yang memerintahkan mereka memberi pelajaran pada Andi karena berani menyakitimu"


"Hanya lelaki pengecut yang berani memukul seorang wanita"

__ADS_1


Aku kembali memeluknya, baru aku menyadari jika dari Pekanbaru abang sudah menjagaku


"Terima kasih ya sayang" lirihku sambil mendekapnya erat


__ADS_2