Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Adu Argumen


__ADS_3

Setelah anak-anak tertidur, suamiku masuk ke kamar kami.


"Tidak seharusnya bunda bersikap seperti tadi sama ibuk" ucap suamiku sambil duduk di tepi ranjang.


Aku memiringkan tubuhku membelakanginya. Aku pura-pura memejamkan mataku.


"Bagaimanapun dia ibuku, aku sangat menyayanginya" tambahnya lagi


"Aku bukan membela siapa-siapa di sini, tapi aku tidak suka kamu menjawab omongan ibuku. Apa salahnya kalau kamu diam saat ibuku ngata-ngatain kamu, toh tidak sulitkan untuk diam?" lanjutnya


Aku masih diam tak bergeming.


"Aku tahu bunda belum tidur, jadi tolong lain kali kalau berhadapan dengan ibuku jagalah sikapmu" ucapnya lagi.


Lama-lama aku tak tahan juga makin dipojokkan olehnya. Segera aku duduk dan menjawab ucapannya.


"Oh, jadi menurutmu aku salah menjawab omongan ibuk kamu, aku salah karena melawan?, oke well aku tahu aku salah karena aku telah menjawab omongan ibu kamu. Tapi kamu pernah nggak ngerasain sakitnya hati aku saat ibu kamu dengan ringannya memaki aku. Bukan sekali ini saja ibu kamu bersikap seperti itu sama aku, dari awal, dari pertama ketemu ibu kamu itu sudah tidak suka sama aku" ucapku panjang lebar


Suamiku terdiam sambil menundukkan kepalanya. Jam telah menunjukkan hampir pukul dua belas malam.Tapi kami terus beradu argumen.


"Tapi jangan bersikap seperti itu sama ibu aku" jawabnya


"Kamu ingat ngga yah, berapa kali aku diam saat ibu kamu memaki aku, saat ibu kamu ngata-ngatain aku, saat ibu kamu merendahkan aku" suara ku mulai meninggi


"Kamu jangan berlebihan lah bun, ibuku tidak seperti itu" bela suamiku


Aku tersenyum melengos mendengar jawabannya.


"Aku tahu, gimanapun itu ibu kamu, sudah pasti kamu bakal bela ibu kamu" jawabku sinis

__ADS_1


"Aku tidak bela siapa-siapa. Kamu istri aku, dia ibu aku, kalian adalah perempuan yang aku sayangi. Tidak mungkin aku akan bersikap tidak adil sama kalian berdua" kilahnya


"Adil?" ucapku sambil menarik pundaknya untuk mengarah kearah ku


"Adil dari mana hah? adil dari mana? coba katakan sikap adil kamu antara aku sama ibu kamu itu dimana?" suaraku makin terbakar emosi


Suamiku diam melihat reaksi marahku.


"Kamu ingat, tiap bulan gaji kamu sepuluh juta. Dari awal menikah sampai punya anak tiga, cuma enam ratus ribu yang kamu berikan sama aku buat uang belanja, sedang buat ibu kamu? dua juta tiap bulan kamu kirimkan buat dia Yah, dua juta" suaraku makin meninggi.


Aku tidak perduli padahal saat itu telah larut malam.


Adam bergerak, mungkin dia terganggu dengan suaraku tadi. Aku segera menepuk-nepuk tubuhnya agar tertidur lagi.


Andi tepekur mendengar ucapan terakhirku.


"Dia itu surgaku Bun, jadi aku harus berbakti sama dia" ucapnya lirih.


"Aku tahu kalau ayah itu milik ibuknya ayah. tapi mbok yo adil antara aku sama ibumu, aku tidak masalah uang gaji kamu, kamu berikan ke ibu kamu, tapi apakah cukup adil antara enam ratus ribu dengan dua juta?, Ah sudah lah, ujung-ujungnya tiap bahas ibuk kita pasti ribut. Sekarang silahkan ayah pikir sendiri, jika aku salah monggo salahkan aku, jika aku benar koreksi kesalahan ibuk, dan koreksi juga sikap ayah terhadap aku dan ibuk" ucapku sambil merebahkan diri membelakanginya.


"Ibuk itu kewajibanku bun" lanjutnya.


Ternyata dia masih belum lega dengan ucapanku dan masih memancing jawabanku


"Orangtua mu itu kaya Yah, sawitnya berpaket-paket, mobil dua, tiap bulan puluhan juta mereka dapat uang dari hasil sawit, jadi saya rasa ayah tidak usah merasa kalau ibu itu tanggung jawab ayah. Toh bapak masih ada" jawabku malas


"Jadi kamu nyumpahin bapak aku mati" jawabnya meninggi


"Astaghfirullahal adzim" jawabku langsung duduk.

__ADS_1


"Ayah benar-benar ngajak ribut ya. Oke, mau ribut model apa aku jabani, hayo, ribut kita. Bela terus ibu kamu, bela terus. Kasih semua uang kamu sama dia, biar aku dan anak-anak kamu kelaparan" emosiku tersulut kembali.


"Tanya dengan ustadz, tanya orang alim, bagaimana seharusnya sikap laki-laki jika dia telah menikah terhadap ibunya. Mana yang harus di dahulukan, ibunya atau keluarganya. Memang derajat ibu itu tiga kali lwbih tinggi jadi sudah kewajiban anak-anaknya untuk memuliakannya, tapi bukan berarti menelantarkan keluarganya yah" emosiku makin meledak.


" Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan Muslim "cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika ia menahan makanan dari orang yang menjadi tanggungannya"


"Apakah ayah tahu maksud hadits tadi? ahh saya rasa tidak akan faham, orang ayah lebih mementingkan ibunya dari pada kami" jawabku sambil merebahkan tubuh


"Ributnya sambung besok lagi ya, sudah lewat pukul satu, saya ngantuk" ucapku menutup tubuhku dengan selimut dan memejamkan mata dengan penuh rasa kesal.


...++++++++...


Sejatinya seorang istri memang harus sabar jika mengetahui bahwa suaminya lebih mementingkan keluarganya dibanding istrinya. Tetapi kebanyakan para suami itu lupa, mana yang harus di dahulukan, keluarga kecilnya atau orang tuanya.


Seorang suami itu wajib menafkahi istrinya terlebih dahulu dibandingkan menafkahi orang tuanya (Jangan lupa kewajiban kepada istri dan tidak melalaikan bakti kepada orang tua).


Seorang suami memiliki kewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya, dan dia juga berkewajiban menafkahi orang tua yang tidak punya harta dan pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya.


Dalam islam hukum mendahulukan ibu dari pada istri dalam hal menafkahi tidaklah wajib bagi anak, kecuali dengan dua syarat:



Orang tua yang miskin dan membutuhkan bantuan


Anak yang kaya dan memiliki kelebihan nafkah setelah nafkah yang bisa ia berikan kepada istri dan anaknya



Mulailah dengan menyedekahi dirimu sendiri. Jika ada sisa sedekahilah keluargamu, dan jika masih ada sisa lagi berikanlah kepada kerabatmu.

__ADS_1


(Hadits riwayat Muslim, no 997)


__ADS_2