Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sakaratul Maut


__ADS_3

Pak Hermawan yang sejak empat hari lalu mengabari anaknya jika ibu mereka kritis masih menunggu kedatangan anak-anaknya


Padahal ketika ditelpon dini hari itu, mereka mengatakan akan segera datang, hingga detik ini belum juga sampai. Sementara bu Mira masih kritis tak sadarkan diri.


Pagi ini ketika dokter masuk ICU, keadaan bu Mira makin drop, dan detak jantungnya kian lemah


"Apakah keluarga tidak ada selain bapak?" tanya dokter ketika keluar dari ruang ICU


"Anak saya masih di rumah pak, belum kesini, padahal waktu saya telpon mereka bilang sudah mau berangkat"


Dokter tampak menganggukkan kepalanya


"Lebih baik bapak hubungi lagi keluarga bapak"


"Iya dokter"


Lalu dokter meninggalkan pak Hermawan yang termangu sendiri di depan ruang ICU


Dengan pelan, pak Hermawan merogoh handphone di saku bajunya, mendial nomor Andi. Tidak aktif, mendial nomor Laras, kembali tak aktif


"Kemana mereka ini?" keluhnya


Kembali dia mencoba mendial nomor Andi tapi kembali tak aktif atau berada diluar jangkauan.


Pilihan terakhir dia menghubungi mas Indra yang saat itu sedang berada di ruang perawatan memberitahu istri dan anaknya, Dimas, jika Laras tewas dalam kecelakaan yang menimpa mereka kemarin


Mbak Ningsih menangis tergugu, begitupun dengan Dimas.


"Andi bagaimana yah?" tanya mbak Ningsih serak


"Andi koma, sekarang di ICU, Adam dan Naura yang setiap hari menungguinya"


Kembali mbak Ningsih terisak.


"Terus pemakaman Laras bagaimana?"


"Semuanya telah beres buk, sampai tiga hari kemarin Adam yang memimpin tahlilan"


Kembali air mata mbak Ningsih mengalir deras, teringat semua di kepalanya bagaimana jahatnya Laras dengan Adam, bahkan ketika Adam kecil sekalipun


"Anak ini bukan anak Andi, lihat saja, kulitnya sangat hitam" terngiang di telinga mbak Ningsih bagaimana Laras menghina Adam


Kejahatan-kejahatannya yang lain juga melintas, terlebih caci makinya pada Indah


"Ya Alloh, semoga Alloh mengampuni segala dosa dan kesalahan Laras" lirih mbak Ningsih yang diaminkan mas Indra dan istri Dimas


"Bulek sama sekali belum meminta maaf pada tante Indah, padahal semasa hidupnya bulek punya kesempatan banyak untuk melakukan itu, tapi hati bulek terlalu hitam dan dia terlalu gengsi untuk mengucap kata maaf"


"Hingga akhirnya maut menjemput, tanpa meminta maaf terlebih dahulu sama tante, aku yakin buk, azab bulek sangatlah pedih"


"Fitnah dan caciannya pada tante, aku yakin tidak semudah itu tante melupakan semuanya"


Kembali air mata mbak Ningsih jatuh, semua yang dikatakan Dimas benar, semasa hidupnya mulut Laras sangat tajam melebihi tajamnya belati yang diasah ribuan kali


"Biarlah semuanya kita serahkan sama yang Di Atas nak, setiap perbuatan jahat, sekecil apapun pasti akan mendapatkan balasan"


Dimas mengangguk mendengar jawaban ayahnya


"Terus ibuk kabarnya gimana, Yah?"


Mas Indra menggeleng disaat handphone miliknya berdering


"Bapak yang nelpon buk"


"Cepat angkat yah, di loudspeaker"


Dengan cepat mas Indra menekan tombol hijau menerima panggilan dari bapak mertuanya


"Ya pak?"


"Mengapa nomor hp tidak ada yang aktif, kalian dimana?, ibu kalian kritis ini"


Semua yang ada dalam ruang perawatan saling pandang dengan wajah tegang


"Andi juga, bilangnya langsung berangkat begitu bapak nelpon kemarin, lah sampai hari ini nggak nongol juga, keterlaluan"


"Mana Ningsih, bapak mau bicara sama dia"


Dengan segera mas Indra menyodorkan handphone kearah istrinya agar istrinya mudah berbicara dengan ayahnya


"Ya pak?"


"Ningsih, ibumu ini sekarat, apa kalian tidak akan ke rumah sakit untuk menungguinya. Kalian tega ya, bapak berbulan-bulan nungguin sendiri, kalian jarang sekali menengok"


"Iya pak maaf..."


"Maaf gundul mu, cepat kesini sekarang!, ibu mu kritis, bapak nggak tahu apa nanti kalian bisa melihat ibumu lagi atau tidak"


Tesss...


Air mata kembali menetes di pipi Mbak Ningsih mendengar suara pasrah bapaknya


"Pinjam lah uang entah dari mana, ibumu harus kita operasi, siapa tahu dengan dioperasi ibumu bisa pulih"


"Susah pak, mau minjam uang kemana?, mobil dan rumah bapak belum laku"


Terdengar suara tarikan nafas panjang dari seberang, Ningsih yakin bapaknya saat ini sangat bingung


"Ya sudahlah, yang penting kalian semua kesini dulu, ajak juga Nina, siapa tahu dengan anaknya seluruhnya kesini, ibumu cepat sadar, atau jika memang Tuhan menghendaki, setidaknya kalian semua sudah meminta maaf pada ibu kalian"

__ADS_1


"Iya pak, kami berangkat sekarang"


Panggilan berakhir. Kembali semuanya saling toleh kebingungan


"Biar aku yang ke Palembang" ucap mas Indra akhirnya sambil menarik nafas panjang


"Aku ikut Pakde, kita berdua"


Semuanya langsung menoleh kearah pintu dimana Adam telah berdiri.


Mas Indra mengangguk, kembali air mata menggenang di pelupuk mata mbak Ningsih


Adam segera masuk, dan mengusap pundak mbak Ningsih


"Buk Ning jangan nangis, In Syaa Alloh semuanya akan baik-baik saja"


"Maafin buk Las ya le, buk Las telah banyak salah sama kalian..."


Adam mengangguk sambil tersenyum


"Buk Ning ngucapin terima kasih karena kamu yang sudah mengurusi seluruh pemakaman buk Las sampai selesai"


Kembali Adam hanya mengangguk


"Ayo Dam kita nggak punya banyak waktu, perjalanan kita jauh"


Adam segera mencium punggung tangan mbak Ningsih


"Doakan semoga kami selamat sampai tujuan ya buk"


"Iya le, tentu. Yang penting kamu jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya"


Adam mengangguk, lalu menyalami Dimas yang mengelus kepalanya


"Terima kasih ya Dek..."


Adam tersenyum, lalu bersama mas Indra dia keluar dari ruangan perawatan, berjalan kearah ruang ICU menemui Naura untuk berpamitan


"Nggak boleh!"


"Loh kok nggak boleh sih yuk?, mbah sekarat sekarang yuk"


"Adek boleh ke Palembang, tapi nggak boleh bawa mobil sendiri"


Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Lah terus?"


"Naik travel atau naik kereta saja"


Mas Indra melihat jam di tangannya


"Naik travel aja kalau gitu, nggak boleh kalau Adam bawa mobil sendiri, aku nggak mau adek mengalami celaka juga kaya ayah"


Adam menarik nafas panjang lalu mengangguk.


Naura segera membuka handphonenya, menghubungi temannya


"Assalamu'alaikum Ma, Kamu ada nomor travel ke Palembang nggak?"


"Kirim ke aku sekarang, makasih ya"


Lalu Naura mendongak kearah Adam


"Ayuk akan telpon travel, adek bawa atm ayuk, ayuk yakin ini nanti akan sangat membantu"


Adam mengambil atm yang diberikan Naura, meletakkan di dalam dompetnya, sementara Naura segera menelepon travel


"Iya, di rumah sakit ARB, segera jemput kesini secepatnya ya oom"


Adam segera mencium tangan Naura berpamitan untuk menunggu travel di luar


"Hati-hati ya dek, kabari ayuk kalo sudah sampai"


...****************...


Tujuh jam berikutnya, Adam dan mas Indra sudah sampai di rumah sakit, berjalan cepat kearah ruang ICU sesuai dengan petunjuk yang ada di rumah sakit tersebut


Tak lama mereka telah melihat pak Hermawan yang duduk merenung sendiri


"Pak..." sapa mas Indra sambil mencium punggung tangan mertuanya, diikuti oleh Adam


"Loh, kok malah kalian berdua yang kesini?, anak-anakku mana?"


"Mereka nggak bisa ikut pak, ada urusan yang nggak bisa ditinggal"


Pak Hermawan membuang wajahnya dengan kesal. Di tatapnya mas Indra dan Adam dengan wajah tak suka


Mas Indra dan Adam tak memperdulikan kesal di wajah pak Hermawan, keduanya segera mengintip melalui kaca jendela, dimana di dalam bu Mira terbaring dengan tubuh yang kian kurus


"Dokter sudah meriksa pak?"


"Belum, sebentar lagi" jawab pak Hermawan ketus


"Ini mbah, aku bawakan makanan mbah makanlah dulu"


Pak Hermawan bergeming saat Adam meletakkan sebuah kotak berbungkus kantong kresek putih di kursi di sebelahnya


"Indra, duduk sini kamu!"

__ADS_1


Mas Indra segera menoleh dan segera duduk di sebelah mertuanya


"Urusan apa sampai semua anakku nggak bisa kesini, apa masalah mereka jauh lebih penting ketimbang nyawa ibunya?"


"Malah kalian yang kesini, dan ini. Mengapa pula membawa bocah ini kesini, tahu ibumu sangat membenci semua anak Indah, ehhh malah kamu ngajak dia"


Mas Indra melirik kearah Adam yang membuang wajahnya


"Pak, nggak boleh ngomong gitu, bapak harusnya bersyukur Adam mau kesini"


"Bersyukur opo?, benci aku"


Mas Indra menggeleng-gelengkan kepalanya. Adam pura-pura tidak mendengar


"Sana telpon Andi, suruh dia kesini dengan saudaranya yang lain"


"Nggak bisa pak, mereka nggak bisa"


"*Nggak iso ngopo? sibuk opo toh jane?"


"Bapak ki kepengen e anak bapak sing teko, uduk kowe karo cah kae*"


"Bapak, Andi koma sekarang, Ningsih dengan Dimas luka berat, dan Laras mati!!!"


"Bapak tahu?, mereka mengalami kecelakaan saat mau kesini!!"


"Bapak nggak bersyukur ya, kami sudah jauh-jauh datang, capek-capek, malah dimaki dan dimarah-marah"


"Jika bukan karena kemanusiaan kami juga nggak mau pak kesini!"


Mata pak Hermawan terbelalak, degup jantungnya berdetak kencang, air matanya jatuh tanpa dia sadari


"Laras mati, Ndra?"


"Iya, empat hari yang lalu"


Mas Indra membuang muka, dia juga terpancing emosinya melihat tingkah bapak mertuanya yang tak tahu terima kasih


"Kenapa dia bisa mati Ndra?"


"Sudah ajalnya, ya mati..."


Adam menahan senyum melihat wajah pakdenya yang sekarang berganti kesal


Dengan pelan sambil berlinang air mata, pak Hermawan berdiri di pinggir kaca, melihat istrinya yang terus saja memejamkan matanya


"Buk, Laras... buk..." isaknya


Tubuh bu Mira yang semula diam, mulai berguncang, Adam dan pak Hermawan yang melihat terlonjak kaget


"Dokter...." teriak pak Hermawan panik


Adam langsung berlari keruangan dokter yang tak jauh dari ruang ICU


Seorang dokter keluar diiringi dua perawat, segera mereka masuk, dengan cepat dokter memeriksa bu Mira yang pundaknya kian berguncang


"Keluarga harap masuk sekarang!" seorang perawat memanggil


Tanpa pikir panjang ketiganya masuk. Pak Hermawan langsung menghambur ke dekat istrinya, menggenggam tangan istrinya yang terus saja bergerak seperti orang kejang


Adam menoleh pada mas Indra, mereka sama-sama melihat ke layar monitor dimana angka gerakan jantung bu Mira naik turun


Adam mendekat, membisikkan kalimat syahadat ke telinga mbahnya, sementara Pak Hermawan terus menangis


"La ilaha illa Allah" bisik Adam


Tubuh bu Mira masih saja terus kejang, dengan pelan Adam membaca surah Yasiin tepat di atas kepalanya.


Dokter yang sepertinya menyadari jika bu Mira sedang sakaratul maut, hanya memandang iba pada pak Hermawan yang terus tersedu


Sementara mas Indra langsung melakukan video call pada Dimas yang diangkat langsung oleh istri Dimas


"Mintalah maaf pada mbah Nak.." ucapnya


Dengan terbata-bata Dimas mengucapkan permintaan maafnya pada sang embah, diikuti oleh mbak Ningsih yang tersedu-sedu.


Mbak Ningsih dan Dimas terus melafazkan Syahadat untuk membimbing bu Mira, sementara Adam terus dengan bacaan Yasin nya.


"Yah, hubungkan dengan dengan adek Ula dan adek Mikail, aku yakin bacaan Al-Qur'an dari mereka bertiga akan makin mempermudah jalan Mbah..."


Mas Indra menurut, dia segera menambahkan panggilan video pada Naura dan Mikail


Naura yang sedang melantunkan ayat Al-Qur'an di sebelah Andi langsung berhenti dan mengambil handphone di dalam tasnya


Segera dia bergabung ke panggilan video dari pakdenya


Di sana terlihat olehnya ada wajah Dimas dan mbak Ningsih dan basah, juga ada gambar mbah wedoknya yang kejang, dan dia juga mendengar ada lantunan surah Yasin, dia yakin itu suara Adam


"Mbahmu sekarat Ra, tolong bacakan Yasin ya, tapi nanti kita nunggu Mikail dulu"


Mikail yang sedang bersantai di apartemen bersama keempatnya temannya, dimana Brendi sedang bermain gitar diiringi suara mereka yang bernyanyi segera mengambil handphonenya yang berdering


Dia kaget ketika dilayar ada ayuknya bergabung


Dengan cepat dia menyentuh layar biru keatas


"Kak, kita langsung baca Yasiin, adek sudah di Palembang, mbah wedok sakaratul maut sekarang"


Tanpa pikir panjang Mikail segera mengucap Basmallah, dan langsung melantunkan surah Yasiin. Mendengar Mikail ngaji, seluruh temannya terdiam

__ADS_1


Berdua dengan Naura dia membacakan surah Yasiin, sementara Adam telah selesai dan sekarang sedang membaca surah Ar-Ra'd


__ADS_2