
Akhirnya acara syukuran dan akikahan sampai juga. Jiran tetangga dan keluarga besarku datang semua, pun pihak keluarga suamiku yang ada di Merasi.
Rata-rata mereka kaget dengan kelahiran anak ketiga ku, terlebih lagi ketika mereka melihat momen dimana aku memberikan asi kepada kedua putraku secara berbarengan.
"hey, ojo, iki we i adine" (hai jangan, ini punya adiknya) ucap Bulik Pariyah ketika melihat anak keduaku juga ***** padaku
Aku tersenyum mendengar larangannya.
"De e wes gedi, mesakne adine Ndah nek de e melu *****", ( dia sudah besar Ndah, kasihan adiknya kalau dia ikutan minum asi)
"Asiku itu banyak bik, makanya si kakak ikut asi juga. Kan mubazir jika terbuang" jawabku.
Memang benar, aku dianugerahi asi yang melimpah. Dulu waktu Naura masih kecil aku bahkan berniat menyumbangkan asiku pada balita yang tidak dapat asi dari ibunya.
"Koyo kembar wae" tambahnya
Bulik dan Bukde ku tertawa dan mengiyakan melihat kelakuan kedua putraku.
"Ini bakal jadi cerita ketika mereka dewasa nanti Ndah, nanti kami bakal cerita ke mereka bagaimana mereka dulu ***** bareng" ucap Bibiku, adik ibuku.
Aku tersenyum.
...++++++++++...
Sore hari sekitar pukul empat, teman-teman mengajarku di dua sekolah mulai berdatangan.
Mereka begitu antusias melihat anak ketiga ku. Terlebih lagi bu Ani yang begitu datang langsung menggendong Adam.
"Doain ya mbak, aku segera menyusul" ucapnya
"Insha Alloh buk, pasti, pasti ibu juga bakal nyusul" ucapku
"Aamiinn" jawabnya
"Benar sekali kan pak Herman apa kata kita, mbak Indah dilempar ****** saja bunting dia" seloroh pak Agus yang disambut gelak tawa yang lainnya.
Aku pun ikut tertawa juga mendengar candaannya.
"Bagi resepnya Mas Andi" goda pak Herman pada suamiku yang disambut tawa saja olehnya.
Selesai dengan memakan cemilan, rombongan teman-temanku itu lalu makan sore.
"Jangan makan daging kambing pak Bos, nanti koleps" kembali pak Agus membuat candaan pada pak Joko kepala sekolah kami.
Yang lain terkekeh mendengarnya.
"Ngga sopan" timpal bu Murni
Pak Agus mencebik kearah bu Murni.
Karena dua sekolah kami itu satu nanungan yayasan, jadi otomatis kedua bos ku saling mengenal. Pak Joko dan pak Suparno mengobrol sambil makan dan guru-guru yang lain juga saling menyapa satu sama lainnya.
"Tambo ciek lai mbak Indah" gurau pak Agus lagi saat dia berpamitan pulang.
"Oh no" jawabku sambil terkekeh.
"Kalau kaki meja tiga itu nggak imbang mbak, empat yang pas" jawab pak Suparno
"Cukuplah pak" jawabku
Yang lain tertawa mendengar jawabanku.
"Cukup, cukup, nanti tahu-tahu mlendung lagiii" kembali pak Agus menggodaku
__ADS_1
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal menghadapi ucapan absurdnya.
Selesai itu, mereka semua pulang setelah sebelumnya memberikan doa selamat buat kedua putraku.
...++++++++...
Malam harinya, ba'da maghrib, bapak-bapak tetangga kami mulai berdatangan. Karena acara syukurannya diadakan malam hari. Teman-teman sekantor suamiku pun terlihat datang, itu aku ketahui ketika mereka datang suamiku langsung berdiri dan menyambut mereka dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah dulu sebelum bergabung dengan tamu undangan yang lainnya yang sudah ada dalam tenda.
Kulihat tak kurang dari orang dua puluh jumlah mereka. Ruangan depan rumah kami penuh oleh mereka.
Karena acara belum mulai, jadi mereka berbincang ringan sambil menikmati aneka kue dan teh hangat yang tadi dihidangkan oleh mbak Dian.
Tak lama acarapun akan dimulai, teman sekantor suamiku dan suamiku duduk bergabung dengan yang lainnya dalam tenda.
Acara albarzanzi pun dimulai setelah kata sambutan dari pihak keluarga yang diwakili oleh Wak Yurhan, sahabat ayahku yang telah kami anggap keluarga sendiri.
Ketika lantunan albarzanzi tengah berlangsung, rombongan mertuaku datang. Sebagian tamu undangan menoleh pada rombongan mereka. Bapak mertuaku beserta mas Rudi dan mas Indra segera bergabung dengan tamu di dalam tenda, sedangkan ibu mertuaku dan kakak iparku masuk kedalam rumah.
Saat mereka masuk, aku tengah duduk di ruang depan dengan keluarga besar dan para ibu-ibu tetanggaku.
Sementara Adam sedang di gendong oleh kak Angga di dalam tenda, buat diajak berkeliling saat proses albarzanzi dibacakan. Dan Mikail dan Naura sedang bermain dengan keponakan-keponakanku di kamar depan.
Mbak Ningsih langsung memeluk ku. Aku membalas pelukan hangatnya. Kucium punggung tangan kedua iparku dan mertuaku. Secara bergantian mereka juga menyalami semua ibu-ibu yang ada di sana.
"Maaf bu besan, kami baru datang" ucap ibu mertuaku pada ibuku
"Tidak apa-apa, bu besan pasti sibuk, makanya baru datang" jawab ibuku
"Benar bu besan, sawit kami itu kan berpaket-paket, jadi panen terus tiap hari" sambungnya
Kak Yana melirik begitu mendengar jawaban ibu mertuaku. Aku yang duduk tepat di sebelahnya langsung mencolek pahanya diam-diam.
Kami berdua lalu tersenyum dikulum.
Bendera yang telah dipasangi uang jadi rebutan bapak-bapak dan anak-anak. Kami sengaja membuat tiga buah kelapa yang dipasangi bendera dan diselipi uang untuk dibawa berkeliling pas albarzanzi dibacakan. Memang itu sudah menjadi tradisi di Merasi, bila ada acara akikahan dan marhabanan pasti ada bendera yang berisikan uang.
Dan suamiku telah menyiapkan uang lembaran sepuluh ribuan pada tiap bendera. Tiga kelapa, berjumlah seratus lima puluh bendera.
Dua kelapa khusus untuk bapak-bapak diluar, dan satunya dibawa masuk kedalam rumah untuk para ibu-ibu dan keponakan-keponakan ku. Mikail dan Naura beserta anak kakak-kakakku ikut berebut bendera itu.
Dimas dan Raffa pun masing-masing dapat satu bendera.
Selesai acara semua tamu undangan makan malam dan setelah itu mereka mulai berpamitan pulang setelah masing-masing dari mereka membawa nasi berkat yang telah kami siapkan.
"Kami ngga nginep ya Ndi" ucap bapak mertuaku saat kami semua telah santai.
"Ngga papa pak, bapak datang saja kami sudah berterima kasih" jawab suamiku.
Mbak Ningsih yang sedari tadi menggendong Adam seperti tak menghiraukan obrolan mereka berdua. Ayah ibuku dan kakak-kakakku pun sudah pulang ke rumah orang tua kami. Mereka menginap di sana.
"Istri kamu itu mbok yo suruh KB Ndi, biar nggak mbayen terus" ucap ibu mertuaku.
Aku melirik kearahnya.
"Tiap tahun kok mbayen" sungutnya.
"Saya juga nggak tahu buk kalau hamil" jawabku
"Halahhh,, bunting kok nggak tahu, alesan kamu" jawabnya lagi
"Kami saja masih satu Te, tante kok sudah tiga" ucap Mbak Laras
"Makanya mbak, jangan ditunda-tunda, mumpung masih muda" jawabku
__ADS_1
"Kamu itu kok ngga mikir, anak masih kecil kok yo mbayen terus. Naura masih kecil sudah punya dua adik,l ihat tu Dimas sudah kelas tiga SD tapi mbak mu belum juga nambah, Raffa juga sudah TK, tapi mbak mu juga belum kefikiran buat nambah anak lagi, lah kamu, anak belum empat tahun sing mbarep, sudah mbayen aja"
"Namanya juga rezeki buk" jawab suamiku
"Itu sih bukan rezeki Ndi namanya, tapi memang disengaja. Istri kamu itu memang sengaja mau habisin duit kamu"
"Kok gitu buk?" jawabku tak senang
"Kamu pikir, anak ku itu pesugihan kamu, yang kamu suruh cari uang terus uangnya kamu habisin? kamu fikir anak ku itu babu kamu yang kamu suruh biayain hidup kamu. Saya tahu, lahir dikota biayanya mahal. Bangkrut anak saya kalau tiap tahun biayain kamu melahirkan" ucap ibu mertuaku sengit.
"Buk, tanya ayah Naura, berapa uang dia habis buat biayain saya tiga kali melahirkan?, apa banyak sampai berjuta-juta uang dia habis. Seluruh biaya persinan saya itu dibiayain oleh perusahaan tempat ayah Naura kerja buk, bahkan pembalut saya dari klinik saja perusahaan yang biayain, sepeserpun ayah Naura tidak keluar biaya" jawabku mulai emosi.
"Halah pret" jawab mertuaku
"Terserah ibuk mau apa" jawabku merengut
"Sudah-sudah, kok kalian malah ribut" sergah bapak mertuaku.
"Menantumu itu pak, kurang ajar dia" jawab ibu mertuaku dengan wajah masam.
"Ibuk yang mancing saya" jawabku
"Ndi, begitu cara istri kamu pada kami, hebat ya" cibir mbak Laras
Aku menoleh kearahnya, dan tersenyum menyeringai.
"Kasihan kamu Ndi, tiap pagi harus cuci baju anak istri kamu" kembali ibu mertuaku memasang wajah memelas kearah suamiku
"Ada mbak Dian yang membantu kami di rumah buk, jadi saya tidak repot untuk mencuci dan membereskan rumah" jawab suamiku
"Ohh,, hebat yaa. Jadi istri kamu ini benar-benar jadi nyonya besar ya di rumah. Kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki, nyantai. Enak sekali hidup kamu yaa" kembali ibu mertuaku menatap sinis padaku.
"Terserah ibuk" jawabku
"Kamu itu racun buat anakku, kamu itu parasit. Hidup kamu itu enak sejak nikah sama anak aku, kamu itu morotin anak aku, kamu itu tidak tahu diuntung ya" dengen emosi ibu mertuaku memakiku.
Dadaku bergemuruh mendengar ucapannya. Mataku tajam menatap kearahnya. Rasanya ingin sekali aku meremas mulut lancangnya itu.
Berkali-kali aku mengelus dadaku sambil beristigfar. Mbak Ningsih segera membawa Adam kekamar karena merasa bahwa suasana sudah tidak kondusif lagi
"Ibuk apaan sih?" sergah suamiku
"Bela terus istri kamu itu" bentaknya
"Perempuan kok bisanya cuma mbayen" cibirnya
"Walau aku berkali-kali mbayen, ada nggak aku ngerepotin ibuk? ada nggak sekali saja ibuk nungguin aku lahiran? ada nggak ibuk sekali saja nyuciin popok anakku? tidak kan? jadi jangan sok-sokan lah buk, ibuk itu cuma ngomong aja, ibuk nggak pernah mikirin gimana perasaan aku ya, aku terus yang ibuk salahin" jawab ku sambil berlalu dari mereka dan segera masuk menyusul mbak Ningsih.
"Kurang ajar kamu" teriak ibu mertuaku.
Aku tidak perduli, aku terus masuk ke dalam kamar, dan disana aku menumpahkan kekesalan ku dengan menangis.
Mbak Ningsih mengelus pundakku saat melihat aku menangis
"Aku salah ya mbak, aku tahu aku salah melawan ibuk, tapi ibuk juga keterlaluan mbak" ucapku disela tangisku.
"Kamu yang sabar, kaya ga tahu ibuk saja" jawab mbak Ningsih.
Terdengar teriakan ibu mertuaku memanggil mbak Ningsih untuk diajak pulang. Mbak Ningsih segera beranjak dan memelukku lalu mencium pipi ketiga anakku, lalu dia keluar kamar.
Naura dan Mikail ikut keluar bersama bukdenya. Naura memeluk Dimas dan Raffa saat mereka akan berpamitan pulang. Secara bersamaan kedua anakku mencium punggung tangan embahnya dan bukde pakdenya saat mereka berpamitan.
Setelah mobil menjauh, suamiku segera mengunci pintu dan membawa kedua anak kami kekamar depan untuk ditidurkan disana.
__ADS_1