Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Adam Lagi


__ADS_3

Naura kebingungan begitu mendengar ucapan dokter Malkan. Tak mungkin aku pergi sekarang, ada dua pasien yang sangat membutuhkanku, batinnya


"Apakah begitu berbahaya dokter?"


Sebenarnya tanpa dokter menjawab pun Naura sudah tahu jawabannya, itu artinya kondisi ayahnya kembali memburuk


"Buk?" panggil perawat karena pasien mulai ngeden


"Maaf dokter saya lagi ngurusi pasien yang mau lahiran, dokter telepon adik saya saja"


Naura langsung memutuskan panggilan dan langsung menangani pasien yang sudah mulai ngeden


Jika yang tadi Naura menghabiskan waktu yang tidak terlalu lama untuk pasien melahirkan, tapi yang kali ini lumayan lama


Pikiran Naura terbagi, antara memikirkan kondisi ayahnya dan juga pasien


Tapi Naura tetap terus profesional. Dia harus menolong ibu yang mau melahirkan, untuk urusan ayahnya telah ada Nina dan juga mbak Ningsih yang menunggu di rumah sakit


Satu jam setelahnya barulah bayinya lahir, dengan menarik nafas lega dan mengelap peluh yang menetes Naura mengucapkan syukur atas pertolongan Alloh


"Tolong kamu cek, pasien dibawah, apakah sudah ada tanda-tanda mau ngeden juga?" ucap Naura pada satu perawat yang langsung bergegas turun


"Maa Syaa Alloh alangkah gembulnya..." ucap Naura ketika perawat meletakkan bayi di atas dada ibunya


Pasien yang tadi sempat marah-marah pada Naura terlihat menitikkan air mata ketika melihat bayinya sedang berusaha mencari IMD


"Maafkan sikap saya tadi ya buk..." lirihnya


Naura yang sedang membersihkan sisa darah di jalan lahir wanita itu tersenyum


"Nggak papa bu, saya memaklumi kok"


Lalu Naura kembali fokus membersihkan sisa darah, mengambil jarum dan mulai menyuntikkan bius untuknya menjahit jalan lahir yang robek


Perawat yang tadi disuruh Naura turun, telah naik


"Masih seperti tadi bu, belum ada perubahan"


"Alhamdulillah, itu artinya saya bisa fokus menyelesaikan ibu ini" jawab Naura yang telah siap memegang jarum jahit yang telah terpasang benang


"Mbak, jika IMD nya selesai, tolong bayinya dibersihkan dan di bedong, setelah itu timbang dan ukur baru setelahnya kasih sama ayahnya untuk diadzani"


Perawat yang tadi masuk segera mengambil bayi yang tengkurap di atas dada ibunya, membawanya keruang sebelah untuk dibersihkan


Saat Naura menjahit, kembali handphonenya berdering


"Maaf ya bu, aku tinggal angkat telepon sebentar" ucap Naura yang meletakkan jarum dan langsung mengangkat panggilan


"Ya buk?" ucapnya begitu melihat siapa yang menelpon


"Ula bisa kesini nggak?"


"Maaf buk, Ula masih ada dua pasien yang harus Ula tangani, telpon adek saja"


Terdengar suara mbak Ningsih seperti terisak yang membuat pikiran Naura kembali terbagi


"Nanti begitu selesai, Ula langsung ke rumah sakit" tutupnya


Dan Naura kembali fokus menjahit sementara agak jauh darinya, ayah sang bayi sedang mengumandangkan adzan


Setelah selesai menjahit, Naura langsung memakaikan pembalut dan mengganti baju pasien, lalu meminta pada pasien untuk tidak tidur selama dua jam ke depan dan juga tidak boleh bergerak


"Sekali lagi selamat ya bu, semoga anaknya jadi anak shalihah" ucapnya sambil kembali mengelus kepala pasien


Naura turun kelantai bawah, menuju pasien yang pertama kali ditengoknya tadi


"Bagaimana?, masih kuatkan untuk jalannya?" ucapnya begitu dilihatnya pasien masih berjalan mondar mandir di dalam ruangan sambil sesekali meringis


"Kalau dirasa tidak kuat lagi, yuk berbaring, biar saya pijit pinggangnya" sambung Naura


"Nanti saja bu, masih mau jongkok biar bukaannya cepat nambah" jawab pasien


Naura menurut, dia segera keluar ruangan mengambil handphonenya yang saat itu telah menunjukkan angka 11 malam lewat


Segera dia mendial nomor Adam

__ADS_1


"Ya yuk?"


"Dapat telepon dari dokter Malkan?"


"Iya"


"Terus adek dimana sekarang?"


"Rumah"


"Astaghfirullah Hal Adzim adek!!, ayah itu kembali drop!" geram Naura


"Lah terus mau diapain yuk?" jawab Adam santai yang membuat Naura emosi


"Pergi ke rumah sakit sekarang, tungguin ayah!!" bentak Naura


Adam mendecak


"Ayuk masih ada satu pasien lagi, makanya nggak bisa kesana, adek kan nggak ada kerja, adek yang kesana, cepat!!"


"Udah malam yuk, besok aja kenapa?"


Kembali Naura beristighfar


"Adek!!!" bentaknya


"Iya iya iya, ahhhh bawel" gerutu Adam yang langsung bangkit dan keluar dari dalam kamarnya


"Iya ini udah di mobil, dengarkan suara mesin mobil hidup" ucap Adam


"Segera kabari ayuk kalau sudah sampai rumah sakit"


"Iya siap"


Naura menatap handphone yang ada di tangannya sambil menggeleng dan menggerutu


...****************...


Adam duduk di sebelah ayahnya yang matanya tampak melotot seperti mau keluar, sementara Nina dan mbak Ningsih terus terisak


Andi masih seperti tadi, malah terdengar giginya seperti gemeletuk


Adam mengangkat kedua tangannya, mulutnya lirih membaca doa


اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا


Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba'sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā'an lā yughādiru saqaman.


Artinya: Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkan lah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.


Tapi kondisi Andi tetap tak berubah. Adam setengah berdiri dan membacakan surah Al-Waqi'ah di atas kepala ayahnya, dilanjutkan dengan surah Ar-Rahman dan diakhiri surah Yasiin


Selesai Adam membaca tiga surah tersebut, perlahan mata Adi meredup dan terpejam


Layar yang menunjukkan detak jantungnya kembali normal, dan mbak Ningsih langsung memeluk erat Adam


"Terima kasih le"


Adam membalas dengan mengelus lengan budenya seraya tersenyum


Dokter Malkan kembali memeriksa Andi secara keseluruhan dan menatap tak percaya pada Adam


"Sepertinya bapak Andi memang menunggumu nak" ucapnya


Adam hanya tersenyum sekilas. Lalu setelah itu Adam keluar dari ruang ICU, duduk di kursi tunggu sambil menyandarkan kepalanya dan mencoba memejamkan matanya


Naura yang berlari kearah ruang ICU langsung merasa tercekat begitu melihat Adam tidur melungker di kursi


Di sebelahnya ada mbak Ningsih dan mbak Nina yang juga tidur sambil menyandar di kursi


Naura langsung masuk ruangan dimana dokter Malkan masih ada di dalam, menunggunya


"Bagaimana ayah saya dokter?" tanya Naura cepat sambil segera menggenggam tangan ayahnya


"Kembali normal setelah adikmu membacakan Al-Qur'an di atas kepalanya"

__ADS_1


Naura menoleh kearah luar dengan mata berkaca-kaca


"Usahakan pasien jangan ditinggal, karena dikhawatirkan pasien kejang kembali"


Naura mengangguk. Lalu dokter Malkan keluar dari ruangan diikuti Naura


Naura langsung menyelimuti Adam dengan selimut yang dibawanya dari rumah dan mengangkat kepala adiknya, diletakkannya di atas pahanya


Dengan sayang Naura mengusap kepala adiknya


"Sekali lagi kamu membuktikan dek, jika kamulah anak sejati ayah" lirihnya sambil meneteskan air mata


Naura lalu ikut memejamkan matanya dan tak menyadari jika handphone di dalam tasnya menyala sejak tadi


...****************...


Adam membuka matanya dan hampir terjatuh ketika dengan cepat Naura menarik bahunya


Adam berbalik dan menyadari jika dia tidur di pangkuan ayuknya


"Yuk...?"


Naura tersenyum


"Maafkan ayuk ya, karena sudah beberapa hari ini memarahi adek terus"


Adam duduk, meregangkan ototnya


"Biasa, bukan dua beradik kalau tidak ribut" jawabnya santai yang membuat Naura langsung menarik pundaknya kembali dan memeluknya


"Terima kasih ya dek, karena adek ayah kembali normal"


Adam diam dan dia hanya mengelus lengan Naura


"Subuh, yok kita ke masjid di seberang"


Naura mengangguk. Dengan sayang, digandengnya tangan sang adik, lalu mereka turun kebawah, menyebarang jalan raya dan masuk ke masjid raya di Kota Lubuklinggau


Selesai shalat, keduanya kembali berjalan mencari sarapan yang banyak dijajakan di pinggir jalan.


Naura membeli nasi uduk dan juga gorengan, kembali sambil menggandeng tangan adiknya dia berjalan kembali ke rumah sakit


Banyak pasang mata melihat Naura menggandeng Adam, tapi dia cuek saja.


Hingga akhirnya ada yang menyeletuk


"Serius itu pacarnya dek?"


Naura berhenti dan menoleh pada seorang pemuda yang duduk di atas motor besar


"Memangnya kenapa?"


"Nggak pantes saja"


Naura langsung menatap wajah lelaki itu dengan tatapan tajam


"Pantas atau tidak pantas, dia adik saya. Adik kandung saya. Jika sekali lagi kita bertemu, dan anda kembali menghina adik saya, saya pastikan anda akan menyesal"


Pemuda itu tertawa mengejek, Naura dan Adam tak memperdulikan, mereka masih terus berjalan.


Tetapi sepertinya pemuda masih saja iseng. Refleks Adam berbalik dan segera melayangkan tinju kearah wajah lelaki itu


"Selama saya latihan taekwondo, saya belum pernah menggunakannya untuk berkelahi, ayo bangun!" ucapnya santai


Pemuda itu segera bangun dan langsung naik ke motornya, dan segera mengegas motornya dengan kencang


Naura yang melihat tersenyum


"Kenapa ayuk senyum?"


"Adek hebat" puji Naura


Adam terkekeh


"Tugas adek itu menjaga ayuk, kan kakak sendiri yang bilang, selama dia dinas maka tugas menjaga dan melindungi ayuk menjadi tugas adek"

__ADS_1


Naura kembali tersenyum bangga. Dan lagi-lagi Adam, batinnya


__ADS_2