
Selesai sarapan, Naura kembali masuk keruang ICU.
"Ayah..." lirihnya ketika dilihatnya mata Andi terbuka
Kembali mata Andi seperti mencari sesuatu
"Adek?" tanya Naura
"Heeemmm, heeemmmm..." terdengar suara Andi bergumam tak jelas dengan tangan yang kembali mengejang
Naura segera keluar dan memanggil Adam. Adam masuk dan segera duduk di dekat ayahnya
"Aku disini ayah" ucapnya
Kembali mata Andi seperti nanar mencari sesuatu. Adam berdiri sambil menggenggam tangan Andi yang kejang. Kembali Andi menggumam tak jelas begitu matanya melihat wajah Adam
Tanpa disuruh Adam mengangkat kedua tangannya
Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’si Isyfi Antas syafi Laa syafiya illa anta syifa’an laa yughadiru saqaman.
Yang artinya:
"Yaa Allah, Tuhan segala manusia, hilangkan lah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh. Tak ada penawar selain dari penawar-Mu, penawar yang menghabiskan sakit dan penyakit."
Naura ikut mengangkat tangannya dan mengaminkan doa Adam. Lalu Adam kembali melanjutkan membaca doa sebanyak 7 kali secara berulang-ulang
As’alu allahal adzhiima rabbal ‘arsyil ‘adzhiimi an yassfiyaka.
Yang artinya:
“ Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkan mu."
Tetapi Andi masih belum tenang, masih kejang-kejang. Adam lalu menoleh pada Naura
"Panggil dokter saja yuk"
Naura mengangguk, dan segera menelpon dokter Malkan yang ternyata masih diperjalanan menuju rumah sakit
Naura mengambil kursi lalu duduk di sebelah Adam, dia segera meraih tangan ayahnya, dan menggenggamnya erat
"Tolong membaik lah ayah, ayuk belum sanggup jika harus ditinggalkan ayah" lirihnya mulai terisak
Adam menarik nafas dalam mendengar ucapan Naura
"Panggil buk Ning, dek"
Adam keluar dan segera mbak Ningsih dan Nina masuk
Keduanya begitu melihat Andi kejang langsung menangis histeris
"Tolong minggir sebentar" ucap dokter Malkan
Naura dan yang lain langsung minggir. Kembali dokter Malkan yang dibantu dua orang dokter dan juga dua perawat sibuk memeriksa Andi
Naura menoleh kearah layar detak jantung ayahnya yang turun naik tak stabil
"Bunda..." lirihnya yang langsung berlari keluar
Segera dia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, dan sedikit kaget begitu melihat banyak sekali panggilan dari Akmar yang terabaikan
Naura tidak membaca satupun pesan yang dikirimkan Akmar, dia segera menelpon bundanya
Aku terbangun karena handphoneku berdering, segera aku turun dari ranjang dan berjalan kearah meja rias
"Naura?" ucapku kaget karena tak biasanya dia meneleponku pagi buta begini
"Ya nak?"
Langsung terdengar suara tangisan Naura begitu panggilan tersambung
__ADS_1
"Ayah bun.... ayah" isaknya
Aku segera duduk, menanti kelanjutan kalimatnya
"Ayah kembali kolaps.." ucapnya
Aku menarik nafas panjang
Lalu aku mendengarkan semua cerita Naura tentang bagaimana Andi yang sudah sadar dan bisa menggerakkan mata dan jari tangannya, bagaimana Andi yang kembali tenang ketika dibacakan Al-Qur'an oleh Adam, hingga kejadian pagi ini, Andi kembali kolaps dan kejang-kejang
"Kami harus bagaimana lagi bunda?" isak Naura
Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab
"Berdoa nak, serahkan semuanya sama Alloh, jika memang Alloh memberi kesehatan, ayah kalian pasti akan sehat lagi, jika Alloh berkehendak lain, ya kalian harus ikhlas"
Naura kembali terisak mendengar jawaban bundanya
"Bunda... maukah bunda memaafkan kesalahan ayah?"
Aku diam, lama aku diam mendengar pertanyaan Naura
Pertanyaan yang sudah berulang-ulang kali dia ucapkan padaku
"Sepertinya ayah lama sakaratul mautnya akibat belum mendapat maaf dari bunda" lirihnya lagi
Kembali aku harus menarik nafas panjang
"Hubungi lah orang-orang yang ayahmu zalimi selain bunda nak, suruh ayahmu meminta maaf sama mereka, karena bukan hanya bunda yang ayahmu sakiti, tapi banyak"
Air mata Naura kembali mengalir deras. Dia ingat bagaimana marahnya Lena sama ayahnya, bagaimana dulu Lena sampai mengancam dan menyumpahinya akibat perlakuan ayahnya dulu
"Jika mereka mau memaafkan bunda, apakah bunda juga mau memaafkan ayah?"
"Tolong jangan tanyakan itu lagi nak, sekarang yang paling penting adalah kamu hubungi orang-orang yang sakit hati sama ayahmu"
"Yang pastinya salah satu dari mereka ada adek. Adek adalah orang yang termasuk ayahmu zalimi"
"Suruh lah ayahmu meminta maaf dengan Adek, mungkin dengan adek memaafkan ayahmu, dia bisa tenang, juga jangan lupa hubungi kakak, karena ayah kalian juga berdosa sama kakak. Sebenarnya ayahmu itu berdosa pada kalian bertiga, karena sejak kami cerai, ayahmu tidak memberi nafkah pada kalian, bahkan ayah kalian mengatakan jika kalian bukan anaknya lagi, jadi bukan tanggung jawabnya"
"Hubungi lah Lena, rayu dia agar mau memaafkan ayahmu, karena bunda tidak yakin jika hal itu mudah kamu lakukan"
"Yuk..?
Naura segera menoleh ketika Nina memanggilnya
"Bunda... ayah..." hanya itu yang dapat diucapkannya karena telah habis oleh isak tangisnya
"Sabar nak.."
Naura segera berlari masuk, dilihatnya ayahnya lebih parah dari tadi
Adam sedang membacakan surah Yasiin saat Naura masuk, tiga orang dokter sibuk memeriksa Andi, Nina dan mbak Ningsih sudah terisak
Gemetar kaki Naura saat mendekati ayahnya, hancur rasanya hatinya melihat ayahnya kejang, bergumam tak karuan dengan mata yang melotot nyaris keluar seperti menahan sakit yang teramat dalam
Naura segera menjatuhkan tubuhnya di lantai, menangis sejadi-jadinya melihat ayahnya yang sedang sakaratul maut
Tangannya hanya mampu menggapai kaki ayahnya yang mulai terasa dingin
"Ayuk mohon bertahanlah ayah...." pekik Naura
Adam tak menggubris teriakan ayuknya, dia terus saja membaca surah Yasiin diikuti surah Al-Ra'd berulang-ulang kali dia membacanya
"Dek... tolong ampuni segala dosa dan kesalahan ayah" ucap Naura sambil mendekap Adam yang masih terus membaca surah Yasiin tanpa henti
"Ampuni ayah dek, karena ayah telah berlaku zalim sama adek" lanjutnya
Adam menoleh pada Naura sambil tidak menghentikan bacaannya
__ADS_1
"Bunda yang meminta..." lanjut Naura sambil menatap Adam
Adam mengusap wajahnya ketika selesai membaca surah Yasiin, lalu kembali menatap Naura yang segera menelpon bundanya
"Bunda, bicara sendiri sama adek, biar adek percaya jika memang bunda meminta adek mengampuni dosa ayah"
Aku menarik nafas dalam mendengar tangisnya
"Dek...?"
"Iya bunda"
"Maafkanlah ayahmu ya Nak, ikhlaskan kesalahan dan dosanya yang meragukan dan mengabaikan kamu"
Adam langsung terisak dan menangis sesenggukan
"Sakit bunda rasanya diragukan oleh ayah kandung sendiri itu"
Ketiga dokter dan perawat langsung saling toleh dan menatap Adam yang menangis sesenggukan
"Hanya karena aku tidak putih seperti kakak dan ayuk, ayah sampai tidak mau mengakui ku sebagai anaknya" tambahnya
Dokter Malkan langsung mendekat dan menepuk-nepuk bahu Adam yang berguncang hebat
Naura langsung memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu, begitu pun dengan mbak Ningsih dan Nina, keduanya juga ikut memeluk Adam
"Adek memang tidak mengenal sosok ayah dan sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayangnya" tambah Adam yang makin membuat hatiku hancur
"Adek hanya mengenal uwak dan nek nang, ketika adek sudah tahu bahwa adek ada ayah, malah adek mendapati jika ayah tidak mengakui adek anaknya"
Aku yang mendengar langsung menangis sejadi-jadinya.
Ozkan yang telah siap berangkat kekantor jadi mengurungkan langkah kakinya untuk berpamitan ketika melihat istrinya menangis histeris
Serkan dan Defne saling pandang dan menggenggam tangan Daddy nya dengan takut
"Murat, iki çocuğumu arabaya götür!" (Murat, bawa kedua anakku ke mobil!)
Seorang bodyguard bergegas mendekat begitu mendengar Ozkan berteriak memanggilnya
Aku langsung menghapus kasar wajahku demi mendengar suara abang. Menoleh pada kedua anak kembarku yang menatapku dengan tatapan heran bercampur bingung
Kemudian aku langsung berlari naik tangga meninggalkan mereka yang hanya bisa menatap bengong padaku
"Terserah adek mau memaafkan ayah kalian atau tidak, tapi selama yang bunda dengar dan bunda ketahui, adek telah menjadi anak yang berbakti dan baik pada ayah. Itu akan menjadi pahalamu nak"
"Adek sudah memaafkan ayah, bunda. Tapi kecewa ini masih ada" sambungnya
Naura tak melepaskan tangannya yang mendekap adiknya. Keduanya menangis sesenggukan
"Letakkan handphone ke telinga ayah kalian nak!" ucapku
Adam diam, bengong
"Bunda mau ngomong sama ayah kalian"
Adam menarik pelan tangan Naura yang menggantung di bahunya, berdiri dan berjalan kearah ayahnya yang masih kejang
"Ini bunda, bicaralah sama ayah" ucap Adam yang menloudspeaker handphone dan mendekatkannya kearah Andi
Sambil menangis meraung-raung aku memaki Andi habis-habisan
"Andi... kau dengarkan bagaimana sakit dan hancurnya Adam karena kau meragukannya??"
"Demi Alloh Andi aku tidak akan memaafkan tiap tetes air matanya yang menangis dan terluka karena perlakuanmu!!!!
"Aku tidak pernah mendoakan mu yang buruk atau menyumpahi mu karena kejahatan mu pada kami Andi, tapi kau lihat sendiri, karma mulai berjalan untukmu diakhir hayat mu Andi!!!
"Karma yang kau anggap remeh mulai bekerja sekarang!, aku tidak akan pernah memaafkan mu Andi....!!!
__ADS_1
Ozkan yang masuk segera menarik Indah, mendekapnya dengan erat sambil terus mengusap-usap punggungnya
Naura makin terduduk lemas dilantai mendengar suara bundanya yang menangis histeris