Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Nina


__ADS_3

Abang menoleh padaku dan menarik nafas dalam. Aku menggelengkan kepalaku padanya


"Apa akan selamanya kita mengurung Nina?"


Bu Mira dan Laras terdiam.


Adam yang melihat Laras menunjuk kearah bundanya spontan berdiri.


Suara deheman pak Abraham membuat mereka refleks menoleh dan buru-buru membuang wajah


"Andi, usahakan suasana kondusif, kalau tidak kamu yang akan kami hajar!"


Andi menelan ludahnya mendengar ucapan pak Binsar. Sedangkan Naura menatap tajam kearah pak Binsar begitu mendengar pria besar itu mengancam ayahnya


"Untuk apa dia melihat Nina. Dia bukan siapa-siapa kita lagi. Kamu saja yang sok-sokan mengundangnya kemari"


Aku tersenyum mendengar ucapan bu Mira.


Andi segera berdiri dan menarik tangan ibunya.


"Sudah bu, jangan buat keributan, malu. Apalagi ini hari H tempat mbak Ningsih"


"Perempuan itu yang sudah. Ngapain dia datang kesini dan sok-sokan mau nemuin Nina?"


Adam yang mendengar mbah nya berkata seperti itu langsung berdiri di depan mbahnya


"Mbah jangan lupa ya, sebulan yang lalu kalian bertiga mengemis-ngemis mau numpang istirahat di rumah kami, mbah ingatkan bagaimana sikap bunda saya?, jika saja mbah saat itu tidak pingsan, aku juga tak sudi kalian masuk ke rumah kami"


"Ayah menghormati ibu, ayah kan?, saya juga. Alhamdulillah kakak tidak mendengar mbah dan bu Las membentak bunda, jika kakak mendengar saya yakin kumur-kumur darah kalian"


Wajah Andi terkesiap.


"Ada apa ini?" Dimas yang masuk bersama istrinya langsung bertanya demi dilihatnya jika Adam berdiri menatap tajam kearah mbahnya


"Saya yang ngasih tahu tante jika bulek sakit. Apa kalian lupa, bulek sering manggil nama tante?"


Mereka semua terdiam, hingga aku makin penasaran


"Dan saya yakin kalian tidak mau kan mengeluarkan bulek, padahal yang merawat bulek sekarang ibu saya"


Dimas menyuruh istrinya masuk kedalam kamar, lalu setelahnya dia mengambil kunci yang sedang dipegang oleh ibunya


"Tante ikut saya, saya yang akan bawa tante bertemu bulek"


Aku segera berdiri. Aku tak memperdulikan wajah gelisah dari Laras dan ibunya, saat ini yang aku inginkan adalah mengetahui kondisi Nina


Mbak Ningsih mengekor di belakangku, dengan cepat kami berjalan kearah kamar belakang. Dadaku berdegup kencang saat Dimas membuka pintu kamar


Suasana di dalam tenda yang hingar bingar dengan musik dari orgen tunggal mengalahkan kencangnya degup jantungku


"Assalamualaikum..." lirih Dimas


Tak ada sahutan, aku segera melangkah masuk dengan pelan kedalam kamar yang jendelanya tertutup


Dimas menghidupkan saklar lampu hingga ruangan ini terang


Aku membekap mulutku saat kulihat seorang perempuan dengan rambut menutupi wajahnya duduk lemah di sudut kamar sambil meletakkan kepalanya ke tembok


"Bulek..."


Masih tak ada sahutan. Air mataku telah mengalir deras, mbak Ningsih yang berdiri di belakangku juga terdengar terisak.


"Bulek, ini ada tante Indah. Katanya Bulek mau ketemu tante, ini tante datang nemuin bulek"


Masih tak ada jawaban. Lemas rasanya kakiku melihat keadaan Nina sekarang.


Gadis cantik yang periang, yang pintar, yang baik hati dan sangat sayang pada Naura kini seperti orang tak waras


Dimas menoleh ke arahku, aku memberi kode dengan sedikit mendongakkan kepalaku padanya


Dimas menganggukkan kepalanya. Dengan pelan aku berjalan menghampiri Nina yang sejak tadi diam


Aku berjongkok di depannya, dengan pelan aku memegang bahunya.


Nina cepat menggerakkan bahunya sehingga tanganku yang tadi menyentuhnya refleks ku tarik


"Nina..."

__ADS_1


Sepi, tak ada sahutan. Yang ada hanya suara tarikan nafas panjang mbak Ningsih dan Dimas


Aku menoleh kearah pintu begitu terdengar banyak langkah kaki. Di sana berdiri Andi, bu Mira dan Laras


Mereka menatap ke arahku dengan dingin


Lamat-lamat ku dengar suara Nina seperti bersenandung


"Nina..." ulangku


Dimas ikut berjongkok


"Bulek, ini tante Indah"


"Nin, ini mbak Indah. Nina ingat kan sama mbak?"


Masih tak ada jawaban


"Sudah kubilang, perempuan ini tak kan bisa mengembalikan kewarasan Nina!" bentak Laras


Aku tak menggubris ucapan Laras aku terus berusaha mencoba berkomunikasi dengan Nina


"Sudahlah, kamu keluar saja dari ruangan ini. Kamu itu sudah ganggu istirahat anak saya!"


Aku mendecak kesal mendengar ucapan bu Mira


"Nina, Nina lihat mbak Nin, ini mbak. Mbak Indah" ucapku menarik bahunya agar menghadap ke arahku


Wajahnya sedikit terlihat, dia mengerling dengan tatapan tajam ke arahku.


Aku yang berurai air mata mengangguk kearahnya. Aku sibakkan rambutnya dan mengelusnya pelan


Isakan tangis mbak Ningsih masih terdengar.


"Ini mbak Indah..mbak Indah.."


Nina menatap kosong padaku.


"Nina... Nina ingat mbak kan?"


Aku segera menoleh pada Dimas sambil tersenyum walau saat itu air mataku terus mengalir


"Iya, ini mbak Indah. Mbak kamu..."


Refleks Nina memelukku erat sambil meraung.


Melihat anaknya menangis meraung, bu Mira segera masuk hendak menarik Indah


Tangannya dengan cepat ditepis Dimas


"Biarkan bulek mengeluarkan emosi yang selama ini dipendamnya. Mbah nurut saja!!!" bentaknya


Aku memeluk erat Nina yang tengah memelukku. Tangisnya masih kuat, sambil berurai air mata aku mengelus bahunya


Mbak Ningsih yang sejak tadi menangis sesenggukan makin menangis pilu melihat Nina meraung


Nina melepas pelukannya padaku, dia segera menangkup wajahku


"Mbak Indah?, iya??!"


Aku mengangguk


Kembali dia menangis. Kali ini seperti anak kecil. Aku kembali memeluknya


"Mbak Indah... mbak Indah...." lirihnya


Aku terus mendekapnya mengelus-elus pundaknya. Suasana kamar begitu hening, yang terdengar hanya isakan kami


Lama kudengar Nina tak terdengar terisak lagi, hanya bahunya yang terkadang berguncang sisa sedu sedan tangisnya


"Bereskan ranjang, Nina tidur" lirihku


Dengan sigap mbak Ningsih dan Dimas membereskan tempat tidur lalu meletakkan bantal.


Sementara Andi dan Laras hanya berdiri terpaku, begitu pula dengan bu Mira, mereka bertiga hanya melihat saja


Dengan sekuat tenaga, Dimas mengangkat tubuh Nina, meletakkannya dengan pelan di atas ranjang

__ADS_1


Aku duduk di tepi ranjang, merapihkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya


Nafas Nina tampak teratur, aku terus memandanginya dengan iba


"Apa yang terjadi pada Nina mbak?"


Semuanya diam. Aku menoleh pada mbak Ningsih yang menundukkan kepalanya


"Mbak?"


Mbak Ningsih hanya menarik nafas panjang


"Bulek korban kdrt suaminya te"


Aku menoleh pada Dimas setelah sekian detik tak ada jawaban


"KDRT?"


Dimas menganggukkan kepalanya


"Dimas, jangan ceritakan apapun sama orang luar!!" bentak Laras


Mendengar Laras membentak, Adam yang sejak tadi ingin menyusul kedalam tak dapat dicegah lagi


Dia berdiri tepat di sebelah Laras sambil menatapnya tajam


"Aku akan mengatakan semuanya pada tante, karena kata ibu, kisah bulek sama persis seperti tante!"


Wajah Andi menegang. Aku terus memandang kearah Dimas berharap dia segera menceritakan semuanya


"Sama seperti kisah tante?"


Dimas mengangguk. Adam masuk dan duduk di lantai, dekat kaki bundanya. Menatap iba pada wajah Nina yang pucat


"Bulek diselingkuhi, suaminya ringan tangan, dan bulek sering dipukuli. Dulu sewaktu kami menjemputnya, kondisi bulek sangat mengenaskan, banyak luka lebam di tubuhnya"


Air mataku kembali deras mengalir. Aku memandang tajam kearah Andi. Benci di hatiku kian menggunung padanya


"Dua anak bulek diambil suaminya, alasan mereka bulek tidak akan bisa menghidupi mereka, jadi saat ini anak-anak bulek ikut ibu tiri mereka"


"Akibat seringnya disiksa dan tak kuat menahan beban hidup, lama kelamaan bulek stress sampai sempat di pasung"


Aku kembali mendekap Nina yang terlelap


"Kamu tidak pantas mendapatkan ini Nin..."


"Dulu bulek sempat bilang, jika ini adalah karma untuknya. Karena dulu mbah jahat sama tante, akhirnya Bulek dijahatin pula dengan mertuanya, dulu oom Andi selingkuh akhirnya dia menerima karma diselingkuhi suaminya, dulu oom menyiksa tante, akhirnya bulek disiksa juga oleh suaminya. Sampai sekarang oom tidak memberi nafkah kepada anak-anak oom, akhirnya anak-anak bulek diambil sama keluarga mantan suaminya"


Kembali aku memandang tajam kearah Andi dan bu Mira


"Aku tidak pernah mendoakan atau menyumpahi keluarga ini agar terkena karma atas perbuatan Andi. Karena aku takut, aku punya anak perempuan. Tapi aku tidak menyangka jika segala perbuatan buruk kalian akan menimpa pada Nina"


"Benar kata orang akan ada karma dari setiap perbuatan jahat, tapi mengapa harus karma itu menimpa Nina..." lanjutku sambil tergugu


"Harusnya karma ini menimpa kalian, karena kalian yang jahat, bukan Nina!!!"


Andi dan bu Mira menundukkan kepalanya.


"Kamu lihat kan Andi akibat perbuatanmu dulu padaku, Nina yang harus menanggungnya"


"Dan anda bu Mira, saat anda menjahati dan membenciku, anda lupa jika anda punya anak perempuan, anda tak percaya karma, tapi lihat sekarang, masih anda tak sadar dengan balasan Alloh?"


"Ya Alloh Nin, mengapa kamu tidak kuat Nin. Harusnya kamu kuat, kamu tegar jangan hancur begini" lirihku sambil kembali terisak


"Bagaimana perasaan kamu Andi saat kamu melihat lebam di tubuh Nina?, sakit hati kah kamu? atau kamu malah senang?"


Andi masih diam tertunduk


"Jika kau sakit hati, begitu jugalah yang dirasakan kedua kakakku saat mereka melihat video dan fotoku yang lebam habis kau siksa dulu!"


"Ayah!!!, jadi foto yang aunty Jen perlihatkan jika tubuh bunda lebam itu benar akibat siksaan ayah??!"


Kami menoleh cepat kearah Naura yang tahu-tahu telah berdiri di belakang Andi


Andi tergagap dan bingung harus menjawab apa


"Ayah memang tidak pantas menjadi ayah kami, ayah keterlaluan!!!"

__ADS_1


__ADS_2