
3 Tahun Kemudian
Naura sudah akan lulus SMA, oh iya Naura tidak sekolah di Lubuklinggau lagi, dia kami kirim ke pesantren yang ada di Pekanbaru.
Bukan tanpa alasan mengapa aku memilih Pekanbaru, selain karena kota itu memiliki sejarah tentang hidupku, juga karena kota itu terkenal dengan religiusnya.
Karena Naura di Pekanbaru, jadi aku sering menyuruh kak Jen untuk menengoknya.
Bahkan terkadang bukan sekedar menengok Naura, tapi Kak Jen juga bertindak sebagai orang tua Naura apabila ada pertemuan
Adam dan Mikail sekarang berada di pondok yang sama, dan dalam beberapa bulan lagi, Mikail akan tamat SMP dan dia sudah memberitahuku jika dia ingin melanjutkan SMA di Pulau Jawa.
Aku dan abang sebagai orang tua mereka selalu mendukung apapun keputusan ketiga anak kami.
Bagaimana dengan status Naura sebagai atlit renang?, itu masih terus dijalaninya. Pihak pesantren ketika Naura smp memberi kelonggaran sebulan sekali untuk Naura berlatih, terlebih ketika akan ada POPDA atau PON, maka Naura diberikan waktu lebih untuk berlatih, tapi Tahfiz nya harus tetap jalan, jika tidak maka pihak pesantren akan mencabut izin berlatihnya
Saat Naura wisuda SMP, aku hanya bisa melihat video yang dikirim oleh kak Andri. Jangan tanya bagaimana sedih dan bangganya aku ketika Naura memasangkan mahkota Tahfiz ke kepala umakku.
Umak memang pantas mendapatkan mahkota itu, karena selama ini umakku lah yang merawat Naura, bukan aku
Bahkan saat sambutan dari kakak kelas, pihak sekolah meminta Naura untuk memberikan sambutan
Saat dia menyebut tentangku, air mataku kian deras mengalir.
"Semua aku persembahkan untuk Bundaku yang saat ini hanya bisa melihatku lewat hp" katanya
Aku sesenggukan mendengar kalimatnya.
Begitu juga saat Mikail tamat smp, mahkota tahfiz diberikannya pada bapakku.
Dan sekarang Naura akan tamat SMA, besar sekali niat di hatiku untuk terbang ke Pekanbaru. Dan Alhamdulillahnya abang mengizinkan bahkan abang sendiri ingin ikut juga.
bunda sama papa dan adik kembar akan ke Pekanbaru yuk
Isi What's app ku pada Naura siang ini.
Benar bun? nggak bohong kan?
Nggak yuk, ini bunda sedang siap-siap. Kata papa, pesawat jetnya sudah siap
Alhamdulillah bun, nenek sama uwo dan uwak juga sudah sampai di sini. Ini ayuk sedang sama mereka
Mengetahui jika keluarga besar ku ada bersama Naura, aku segera melakukan video call
"Mana nenek?"
Umakku langsung nongol, dan melambaikan tangannya
Melihatku melakukan video call, Defne mendekat
"Say hello with babane" ucapku padanya
Naura melambaikan tangannya pada umakku
"Hello, assalamualaikum babane"
Umakku tersenyum. Lalu muncul wajah yuk Yana.
"Kata Naura kamu mau kesini sat?"
"Iya yuk, ini sedang siap-siap"
"Lah kapan nyampenya?"
Aku lihat jam di handphone
"Kurang lebih 15 jam lagi aku sampe sana yuk"
"Pagi besok dong?"
"Iya"
"Semoga selamat sampai sini ya sat"
Aku mengangguk. Lalu Serkan mendekat
"Who is she, Ma?" tanyanya melihat heran kearah handphone
Defne pindah duduk naik ke pangkuanku. Serkan duduk di sebelahku
"Say hello with her, she is mama's sister"
Serkan melambaikan tangannya
"I want to see sister" ucapnya
"Yuk Naura tadi mana?"
Handphone pindah kembali layarnya. Naura melambaikan tangan kearah kami
"Hello sister, how are you?, do you missing me?"
Naura tersenyum
"Really missing you my handsome brothers"
__ADS_1
"Selesai sayang?"
Aku segera menoleh kearah abang yang masuk ke kamar
"Sudah ya nak, papa sudah datang"
Ozkan segera menoleh kearah handphone dan melambaikan tangannya
"Hai jangkung...." sapanya
Naura terkekeh
"Papaaa...."
Abang ikut terkekeh
"Mau hadiah apa nak dari papa untuk kelulusan kamu ini?"
"Nggak mau hadiah apa-apa, Naura cuma mau ada papa sama bunda dan adik kembar di sini"
Abang mengangkat alisnya dan sedikit menarik bibirnya
"Ya sudah, papa sama bunda siap-siap dulu nak ya, doakan semoga kami selamat sampai sana"
"Pasti pa"
Lalu abang melambaikan tangannya dan aku juga menutup obrolan dengan mengucap salam
Lalu aku meletakkan handphone dan berdiri memeluk abang. Melihatku memeluk daddynya, Serkan dan Defne melompat di kanan kiri abang, berusaha meraih pundak abang
Aku dan abang menggoda mereka dengan terus berpelukan dan menghindari mereka
Derai tawa kami memenuhi kamar, hingga akhirnya aku mengalah dan membiarkan twins mengambil alih abang dariku
Selagi abang berguling-gulingan dengan twins, aku membawa turun koper kami, memberikannya pada pelayan yang akan memasukkannya ke dalam mobil
Lalu aku naik ke kamar, ternyata abang dan anak kembar kami masih bercanda. Bahkan Serkan sampai berada di atas dada abang sedangkan Defne sibuk menarik Serkan turun, karena dia ingin di sana juga
"Bagaimana ini?, mau berangkat tidak?"
Ketiganya menoleh ke arahku
"Siap nyonya" jawab abang sambil bangun dan menggendong Serkan dan Defne dengan kedua tangan berototnya
Aku segera mengambil tasku lalu ikut turun.
"Nanti kita transit di Jakarta" kata abang
Aku menoleh menatapnya
Aku menganggukkan kepalaku
"Iya ya bang. Biar mereka bertemu lagi dengan kak Jen"
Abang dan aku terkekeh.
"Apakah kita perlu mengajak Emir?"
Aku menatap abang dengan bengong
"Maksudnya apa ini?"
Abang tersenyum
"Abang pikir mereka saling menyukai"
"Ngarang bebas deh" jawabku melengos
"Tidak salah kan jika mengajaknya, abang yakin Emir pasti senang bisa ke Indonesia"
Aku menggeleng, sementara abang mengeluarkan handphonenya
"Kami sudah diperjalanan mau ke bandara"
"Ya uncle?"
"Kami mau ke Indonesia, besok Naura wisuda sekolah menengah atasnya, kamu mau ikut?"
Aku mencubit kecil paha abang. Abang mengelus bekas cubitanku sambil tersenyum nakal
"Mau uncle, saya berangkat sekarang"
"Baiklah, jangan lama"
"Okay uncle"
Lalu abang tersenyum penuh arti menatapku yang cemberut
"What's wrong mama, are you okay?"
Aku menoleh kearah Defne yang duduk di pangkuan abang, tersenyum padanya
Saat kami sampai di Bandara, jet pribadi milik kami sebagai hadiah ulang tahun pertama Serkan dan Defne dari baba sudah berputar-putar di bandara.
Kembali Ozkan mengambil handphone dalam saku jasnya
__ADS_1
"Where are you man?"
"Sebentar lagi sampai uncle, wait me"
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku lalu menggandeng tangan twins naik keatas jet
Dua orang bodyguard membawa koper kami masuk lalu setelahnya mereka turun kembali.
Dari balik kaca jendela pesawat jet aku lihat tuan muda Emir berlari kearah abang yang masih setia menunggunya
"Macam-macam saja papa kalian ini"
Serkan mendongak menatapku
"Why mama, what has daddy done?"
"Nothing my love" jawabku sambil membelai wajahnya
Tak lama muncul abang beserta tuan muda Emir, tuan muda Emir langsung memelukku dan berpindah memeluk dan menciumi pipi Serkan dan Defne
"Bunda tidak keberatan kan jika aku ikut?"
Aku tersenyum lalu menggeleng kearah tuan muda Emir. Sementara aku lihat abang tampak mengulum senyum
...****************...
Kurang sepuluh menit jam delapan pagi kami sampai di Jatra hotel.
Kami langsung menuju kamar kami yang sudah di reservasi kemarin oleh Naura.
Setelah meletakkan koper pakaian kami, aku segera menelpon Naura
"Dimana nak?"
Terdengar bising sekali. Lalu panggilan putus. Kulihat Naura sedang mengetik pesan
Ayuk sudah di dalam aula pertemuan bun, bunda bareng sama nenek saja
Aku segera menelepon nomor yuk Yana
"Dimana yuk?"
"Masih di hias sama Jennifer, Kamu dimana?"
"Aku sudah di hotel ini. Nelpon Naura katanya dia sudah di aula hotel"
"Kamu sini aja, sekalian di dandani"
"Lantai berapa yuk?"
Terdengar yuk Yana nanya sama kak Jen
"Kita di lantai sembilan cin, nomor 415, yeay kesini aja"
Langsung aku matikan panggilan, langsung melesat menuju lift, menekan angka 9.
Tak lama aku sudah berdiri di depan kamar 415. Tanpa mengetuk aku segera masuk
Aku segera menghambur ke pelukan umakku, langsung kami bertangisan. Yuk Yana yang sedang di make up oleh Kak Jen melihatku datang langsung berdiri dan ikut merangkulku, ikut pula menangis
Lalu aku pindah memeluk bapakku dan pindah memeluk istri kak Andri dan yuk Diana.
Baru terakhir aku memeluk Kak Jen. Cukup lama kami berpelukan, sampai aku melihat kak Jen menangis juga
"Kangen tauuuu"
Aku tersenyum lalu kembali memeluknya
"Loh anak kamu mana, Ndah?"
"Ku tinggal mereka mak, aku langsung kesini"
"Uhhh dasar emak kurang ajar, anak sendiri main ditinggal" kak Jen berkata sambil menoyor keningku
Sambil tertawa aku segera menelpon abang
"Abang, turun kelantai 9 ya, aku disini sama semuanya, maaf tadi lupa pamit"
Aku dengar suara anakku berteriak
"Mereka ngamuk" jawab abang
"Aduh maaf bang, ya sudah abang ajak mereka kesini, ya"
"He em"
"Ya sudah aku tunggu"
Umak menggelengkan kepalanya ke arahku
"Mau kemana saja itu pamit sama suami"
"Tadi itu mau pamit mak, tapi abang masuk toilet" alasanku
"Papa tidak akan marah kan bun?"
__ADS_1
Aku menggeleng, dan kembali memeluk Adam, membawanya duduk di pangkuanku