
"Bagaimana askim?" nyonya Aylin langsung bertanya begitu Ozkan keluar dari dalam ruang sidang
Ozkan memamerkan senyum lega pada annenya. Canan langsung memeluk Ozkan begitu Ozkan memberikan surat keputusan cerai ketangannya.
"I am happy for you abi" ucapnya
Ozkan mengelus rambut panjang adiknya.
Bergantian dengan Canan, nyonya Aylin juga memeluk erat anak sulungnya tersebut.
"Kita pulang, babamu pasti senang bila kita beritahu kabar bahagia ini" ucap nyonya Aylin
Ketiganya lalu keluar dari dalam gedung
Bodyguard yang mengawal mereka segera membuka pintu begitu melihat tuannya keluar dari dalam gedung pengadilan.
Ketiganya masuk mobil, Canan dan Nyonya Aylin di belakang, Ozkan duduk di sebelah bodyguard yang bertugas menjadi supir mereka hari ini, lalu bodyguard tersebut melajukan mobil menuju kantor tuan Yilmaz
"Abraham, kita bersiap, sore ini kita menyusul Indah" ucap Ozkan melalui panggilan handphone
Canan menoleh pada Ozkan
"Abi bicara apa, sama siapa?"
Ozkan tersenyum kearah adik tercantiknya itu
"Kepada bodyguard abi, abi meminta mereka bersiap karena abi akan mengajak mereka pergi"
Wajah Canan dan nyonya Aylin berubah sedih mendengar jawaban Ozkan
"Abi mau pulang ke Indonesia?" tanya Canan murung
Lagi Ozkan tersenyum sambil menggeleng
"Terus?"
"Abi mau menjemput Indah, dia ada di Jeddah sekarang"
"Jeddah?" kening nyonya Aylin berkerut bingung
Ozkan menoleh pada Nyonya Aylin
"Ceritanya panjang anne, suatu saat Ozkan akan ceritakan apa yang terjadi pada Indah"
"Apakah kau sangat mencintainya Ozkan?" tanya nyonya Aylin lagi
Ozkan menganggukkan kepalanya dengan tegas
"Sangat anne, pertama melihatnya Ozkan langsung jatuh hati sama dia" jawab Ozkan menerawang sambil tersipu
Nyonya Aylin dan Canan tersenyum simpul melihat wajah Ozkan yang memerah
"Bisa kami lihat fotonya?" lanjut Canan
Ozkan segera mengeluarkan handphone di saku jasnya, lalu memberikan pada Canan
Canan segera mengambil handphone yang diulurkan Ozkan dengan secepat kilat
Segera dia membuka menu galeri handphone Ozkan
"Hmmm, lumayan" komentarnya begitu dia melihat beberapa foto Indah
"Dia berhijab, mungkin itulah yang kurang menarik perhatianmu" jawab Ozkan
"No Abi, no. Bukan itu maksud Canan" Canan menjawab cepat dengan tidak enak hati
"Dia memang tidak pandai bermake up, tapi wajah alaminyalah yang membuat dia semakin cantik di mata abi"
"Dia tampil apa adanya, sangat bersahaja. Bahkan sewaktu abi membelikannya baju yang mahal dia kaget karena harganya yang selangit".
Canan langsung terkekeh
"Memang di Indonesia perempuannya tidak mengenal fashion?"
Ozkan menggeleng
__ADS_1
"Fashion sangat berkembang pesat disana, tapi Indah tidak termakan fashion, dia tetap dengan gamis dan hijab panjangnya. Apalagi sekarang dia di Jeddah, abi khawatir dia akan menutupi seluruh wajahnya hingga hanya matanya yang saja terlihat"
Mulut Canan ternganga.
Kembali dia melihat foto Indah yang lain
"Yang ini kok dia tampil All out abi? tunjuk Canan pada sebuah foto yang menampilkan ketika malam pergantian tahun, saat itu Indah menggunakan gaun yang sangat indah
"Ohh, itu malam tahun baru kemarin, saat itu dia didapuk perusahaan menjadi guest MC, dan itu dia didandani oleh temannya. Kamu sadarkan sekarang, jika Indah didandani dia tidak jauh berbeda dengan kamu"
Canan tersenyum
"Abi benar, seluruh perempuan di dunia ini apabila berdandan pasti cantik"
"Tapi yang abi lihat dari dia bukan kecantikannya. Dia cantik karena abi mencintainya, bukan karena dia cantik lalu abi mencintainya"
Nyonya Aylin memandang takjub kearah Ozkan
"Apa yang sudah perempuan itu lakukan sehingga kamu begitu berubah Ozkan?"
"Maksud anne?" tanya Ozkan bingung
"Dulu kamu sangat anti dengan perempuan, mau dia secantik dan sekaya apapun tidak ada yang menarik perhatianmu, tapi mengapa dengan perempuan sederhana ini keangkuhanmu seakan tiada artinya"
Ozkan tersenyum
"Jangan tanyakan itu anne, karena aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu adalah, rasa sayang padanya muncul begitu saja"
Canan terkekeh
"Untung tidak ada abi Ozlem, kalau dia ada, habis kamu abi, digodanya" ucap Canan sambil terus tergelak
"Hah, adikku satu itu, kemarin saja di depan baba dan beberapa bodyguard dia habis meledek abi"
"Betulkah?" tanya Canan lalu kembali tergelak
...****************...
"Sudah siap semuakan?" tanya nona Alima pagi ini ketika kami berkumpul di ruang depan
"Kalau jaketnya kurang, kita tinggal beli di sana saja" lanjutnya
Aku diam saja, karena saat itu aku tegang.
Tuan Muda Fahd dan Tuan Muda Khaled juga sudah siap. Mereka bertiga semakin tampan dengan balutan pakaian santai yang dipadukan dengan jeans.
Begitu juga dengan tuan Ghafi Shahzaib, suami nona Alima, kali ini beliau juga memakai jeans.
"Ayo kita berangkat" ucap ummi
Lalu kami naik kedalam mobil dan segera menuju bandara, dimana jet pribadi keluarga kaya raya ini terparkir.
Tak butuh waktu lama akhirnya kami tiba di bandara, dan kami langsung disambut dengan beberapa petugas yang membawa kami langsung menuju jet pribadi
Saat itu kami berjumlah dua belas orang dengan lima orang bodyguard.
Sewaktu kami tiba, ternyata pilot sudah menghidupkan mesin pesawat dan kami segera masuk kedalam badan pesawat.
Ruangan di dalam jet pribadi itu sangatlah mencengangkan. Benar-benar mewah. Dua orang bodyguard langsung menaruh koper pakaian nona Alima kedalam kamar, begitupun yang lain. Mereka membawa koper ummi Afsha dan koper pakaian tiga tuan muda.
"Kamu di dekat kamar ummi saja Ndah" ucap ummi
Aku menurut, lalu aku mengikuti seorang bodyguard yang membawa koper ummi. Saat bodyguard itu masuk kekamar tempat ummi, aku masuk kekamar di sebelahnya.
Selesai dengan tugas tersebut, kami duduk di kursi yang lebih menyerupai ruangan hotel.
Benar-benar mewah. Ummi melambaikan tangannya kearahku dan memintaku duduk di sebelahnya.
Aku menurut, aku segera duduk di sebelah ummi. Kelima bodyguard duduk agak jauh tapi tetap pada posisi siaga mereka.
Tak lama jet tersebut mulai bergerak dan wajahku mulai menegang.
Ummi Afsha menangkap ketegangan di wajah Indah. Dia segera menggenggam tangan Indah
Aku segera menoleh pada ummi ketika kurasakan tangannya menggenggam tanganku
__ADS_1
"Bismillah" ucapnya tenang kearahku
Aku mengangguk dan mengucapkan basmallah dan doa dalam hati. Aku menggigit bibirku ketika pesawat mulai merangkak naik.
Bila aku ketakutan setengah mati, berbeda terbalik dengan ketiga tuan muda, mereka malah berlarian dalam pesawat ini. Seolah tidak merasakan apa-apa.
Mungkin karena mereka sudah terbiasa, batinku
...****************...
"Bagaimana jika saya saja yang ke Arab, bos" ucap Abraham ketika Ozkan menemui mereka bertiga di apartemen siang ini
Wajah Ozkan langsung berubah dingin demi mendengar ucapan Abraham
"Maksud kamu apa, hem?" jawabnya dingin
Abraham yang sudah menduga bakal mendapat jawaban seperti itu bersikap santai
"Maksud saya, saya saja yang ke Arab, baru setelah itu..." ucapannya terputus ketika melihat Ozkan yang langsung berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekatinya
Binsar dan Tomo yang berdiri di sebelah Abraham langsung panik. Bisa mereka lihat jika mata bos mereka sudah berkilat marah
"Maksud kamu apa?!" bentak Ozkan sambil menarik kerah baju Abraham
Abraham memalingkan mukanya karena Ozkan berteriak tepat di wajahnya
"Saya tidak bermaksud apa-apa bos" jawab Abraham gugup
Mata Ozkan kian berkilat marah
"Jangan karena kamu pernah menjaga Indah berbulan-bulan lantas kamu beranggapan bahwa kali ini kamu juga yang akan membawanya?" lanjutnya Ozkan dengan dingin
"Bukan begitu bos" jawab Abraham
Ozkan langsung menghentakkan kerah baju Abraham dan Abraham segera membetulkan kerah bajunya sambil menarik nafas dalam
"Kenapa kamu ingin hanya kamu yang menemui Indah, hemm?" lanjut Ozkan masih dengan nada dingin
Abraham menelan ludahnya. Dia harus menyusun kalimat dengan benar agar tidak menimbulkan kesalahfahaman lagi pada bos nya.
"Karena kitakan belum tahu mbak Indah tinggalnya dimana bos, kalau kita pergi semua kesana sekarang, kita mau menemuinya dimana?, maksud saya, jika saya yang pergi kesana, saya akan mencari tahu keberadaan mbak Indah, dia ada dimana, kerja sama siapa, nanti setelah dapat informasi, baru saya akan melaporkan semuanya pada bos. Baru setelah itu bos menyusul"
Ozkan diam mendengar penjelasan Abraham. Dipikirnya ada benarnya juga saran dari bodyguardnya itu. Tapi dia tidak mau jatuh gengsi, dia masih bersikap dingin.
"Kamu tidak sedang menipu saya, kan?" ucapnya dingin
"Tidak bos, demi Tuhan" jawab Abraham cepat
"Kalau begitu baiklah, sore ini kamu berangkat ke Arab, besok kamu langsung cari Indah ke agensi tenaga kerja Indonesia, atau bila perlu kamu datangi KBRI di sana, cari Indah sampai dapat!"
"Baik bos" jawab Abraham
"Tomo, kamu ikut dengan Abraham. Dan kamu Binsar, kamu tetap di sini mengawalku"
"Siap bos" jawab mereka berbarengan
Baru setelah itu Ozkan keluar dari dalam apartemen, pulang menuju rumahnya.
Sepeninggal bosnya, ketiga bodyguard itu menarik nafas lega
"Hadehh nyari mati kami Ham" ucap Binsar
"Mana aku tahu jika bos akan semarah ini" jawab Abraham
"Itu bukan marah, tapi cemburu" jawab Tomo
Abraham melongo mendengar jawaban Tomo.
"Bahaya ini" jawabnya gugup
Kedua sahabatnya menganggukkan kepala
"Jaga sikap kamu makanya, kalau tidak ingin nyawa kamu melayang" lanjut Tomo
Abraham menelan ludah, tapi Binsar malah terkekeh
__ADS_1