
Aku terjaga karena rasa lapar di perutku. Aku membuka mata dan menoleh kekanan kiri. Dengan susah aku berusaha untuk duduk. Rasa sakit di belakang begitu nyeri aku rasakan. Aku meringis menahannya.
Aku langsung tersenyum ketika kudapati Jennifer tertidur dengan posisi pantat di kursi dan tubuh merebah di kasur. Nafasnya tampak teratur turun naik menandakan dia sangat lelap.
Dengan pelan aku turun dari tempat tidur, berjalan perlahan ke kamar mandi membasuh mukaku.
Lalu aku duduk di depan cermin, melihat pantulan wajahku di sana. Merah kebiru-biruan bekas tamparan Andi tampak sangat kentara di sana. Aku meringis ketika menyentuhnya.
Sudut bibirku juga sakit, ada sedikit luka di sana. Mungkin bibirku pecah terkena tangan besarnya saat dia menamparku.
Aku membuang nafas dalam ketika terlintas di kepalaku bagaimana Andi membabi buta memukuliku semalam.
Ku raih salep yang terletak di atas meja depan ku duduk. Membukanya dan mengoleskan di sudut bibirku.
Aku kembali menerawang, bagaimana aku ngomong dengan keluargaku jika mereka melihat biru lebam di tubuhku ketika aku pulang nanti?
Kakakku pasti akan mengamuk, bisa habis Andi dihajarnya jika mengetahui aku babak belur dipukul Andi.
Lalu terlintas ketiga anakku. Mikail, ahh anak keduaku selalu saja memenuhi otakku. Entah kenapa aku sangat merindukannya. Memang dari ketiga anakku, rasa sayangku lebih satu padanya. Jika yang lain bernilai seribu, maka pada Mikail akan bernilai seribu satu.
Aku segera mencari hp yang semalam entah aku letakkan dimana. Aku membuka laci meja, membuka tas tapi tak juga aku temukan.
Hpku kemana ya?? aku menggumam.
"Yeay cari ini?" Jennifer memegang hp yang sedari tadi aku cari
Aku menoleh cepat padanya.
"Kakak sudah bangun?" kataku yang berniat hendak bangkit
"Di sana saja. Nggak usah banyak gerak" Jennifer bangkit dari kursinya dan melangkah kearahku memberikan hp
"Kok ada sama kakak?" tanyaku
"Aku selamatkan, dari pada nanti di hancurkan oleh suami gila kamu" jawabnya bersungut-sungut
Aku memencet tombol di sana dan panggilan tersambung.
"Assalamualaikum Mak" ucapku setelah umakku menjawab panggilanku
"Waalaikumsalam Ndah. Kamu baik-baik saja nak?"
"Iya mak, aku sehat. Kakak mana mak?" tanyaku
"Syukurlah kalau kamu sehat. Soalnya semalam umak mimpi buruk tentang kamu" suara umakku terdengar khawatir
Deg!!! apakah ini yang dinamakan ikatan batin seorang ibu dan anaknya? batinku
"Kamu berteriak manggil umak minta tolong" sambung umakku
"Aku baik-baik saja Mak. Umak jangan khawatir. Mungkin itu hanya bunga tidur saja" bohongku
Jennifer yang mendengar percakapan kami membuang wajah dan mencebikkan bibirnya.
"Aku kangen kakak, Mak. Kakak ada?" sambungku
Terdengar umakku berteriak memanggil nama anak keduaku.
__ADS_1
"Bundaaaaa" Kakak langsung berteriak
"Iya sayang, kenapa? kakak sehat kan? sudah makan belum" tanyaku dengan pelan
"Bunda kapan pulang? kakak kangeennn" suaranya mulai parau
Aku membuang nafas berat. Aku faham betul, dibanding saudaranya yang lain Mikail memiliki hati yang sangat lembut. Dia mudah sekali tersentuh dan juga akan sangat pengalah.
"Insha Alloh lusa bunda pulang sayang, bunda juga kangen dengan kakak"
"Bundaaaa...." Naura berteriak
Aku mengobrol dengan anak dan umakku cukup lama. Aku tidak menyebut sama sekali kejadian malam tadi. Aku hanya bercerita bagaimana serunya aku selama di Pekanbaru.
Obrolan berakhir, aku menghela nafas panjang sambil tersenyum segaris pada Jennifer yang duduk melipat kaki kanannya keatas paha kiri.
Perutku berdendang. Aku melotot karena kaget, Jennifer spontan melirik keperutku dan terkekeh.
"Yeay laper?"
Aku mengangguk. Jennifer segera mengambil hpnya yang diletakkan dalam tas lalu memencet tombol di sana.
"Antar makan siang ke kamar 112 sekarang, GPL Ga Pake Lama!"
Sekitar sepuluh menit seorang pelayan mengetuk pintu dan mendorong meja troli yang berisi banyak menu makanan.
Tanpa babibu kami berdua langsung memindahkan seluruh makanan keatas meja. Aku berdiri dan mencuci tanganku lalu mengambil piring mengisi nasi beserta lauk pauknya lalu duduk di lantai.
"Yeay serius mau lesehan?"
Aku cuma mengangguk karena mulutku sudah penuh.
"Ikan ini bisa mempercepat pemulihan luka" sambungnya
Aku berhenti mengunyah dan menatap pelayan itu yang sibuk merapikan semua makanan di atas meja
"Siapa yang menyuruh mbak bawa salmon ini untuk saya?" tanyaku
Pelayan itu diam tidak menjawab. Wajahnya nampak kebingungan.
"Kan yang nelpon tadi eyke, ya jelas eyke lah. Bawel lu" Jennifer menjawab dan memberi kode dengan melototkan mata pada pelayan.
Aku tidak perduli lagi, karena lapar aku segera mencomot daging ikan panggang yang disajikan dengan begitu cantik yang ditambahkan salad kentang dan beberapa batang asparagus sebagai pelengkap.
"Dan ini juga sama, ada kerang balado yang juga bisa buat yeay cepat sehat" Jennifer menyodorkan kerang kehadapanku.
Berdua kami makan dengan lahap sambil lesehan. Jennifer geleng-geleng kepala melihat aku makan dengan rakusnya.
Sekitar satu jam kami berdua akhirnya selesai makan siang. Lalu kami membereskan bekas makan dan meletakkannya di atas meja. Tak lama pelayan tadi kembali datang dan membawa semua piring kotor keluar.
Aku dan Jennifer duduk di balkon. Mengobrol ringan tentang kegiatan kami masing-masing. Ternyata selain punya salon, Jennifer juga punya rumah singgah untuk anak-anak tidak mampu. Aku tidak menyangka, jika seorang Jennifer mempunyai hati yang mulia yang masih memikirkan nasib anak-anak terlantar.
Dan aku bercerita tentang kegiatan mengajarku, dan tak lupa dengan ketiga anakku.
"Kamu sudah pernah menemui selingkuhan suami kamu?" tanyanya yang membuat aku kaget
Aku menggeleng
__ADS_1
"Buat apa kak?, buat aku marah saja" jawabku lesu
"Yeay harus nemui dia, bilang langsung sama dia buat jauhin suami yeay"
"Semua itu ada di tangan suami aku kak, perempuan itu tidak akan datang jika suami aku tidak mengundang"
Jennifer diam menatapku
"Kalau nanti yeay dicerai sama laki yeay, gimana? ini misal loh ya" ucapnya khawatir
Aku tersenyum kearahnya.
"Berarti itu sudah nasib saya kak" jawabku
"Yeay masih cinta sama tu laki yang sudah buat yeay babak belur kaya gini?
Aku menggeleng
"Aku tidak tahu kak. Aku bertahan selama ini demi ketiga anakku"
"Adduuuuhh Indaahhh... hidup ini cuma sekali, kebahagiaan yeay yang tentukan bukan di tangan orang lain. Come on, realistis sajalah. Yeay mau menghabiskan sisa hidup yeay sama makhluk yang tidak pernah menghargai yeay??
Aku bingung. Jujur rasa di hati aku sudah makin berkurang pada Andi, apalagi dengan perlakuan kasarnya sekarang. Tapi aku kembali memikirkan bagaimana ketiga anakku. Mereka masih kecil dan sangat butuh sosok seorang ayah.
"Yeay masih muda, eyke yakin banyak lelaki baik di luar sana yang akan mencintai yeay sepenuh hati"
"Mungkin kak. Tapi apakah ada lelaki yang mencintai ketiga anakku seperti ayah kandung mereka?" tanyaku sedih
Jennifer terdiam.
"Belum ada ceritanya kak, ayah tiri itu mencintai anak tirinya dengan tulus. Apalagi aku ada anak perempuan" tambahku lagi
Jennifer menghela nafas dalam
"Eyke bingung kalau yeay sudah bawa-bawa anak. Karena eyke belum punya anak" jawabnya centil
Tak urung jawabannya membuat aku terkekeh.
"Doakan yang terbaik ya kak buat aku" pintaku
"Eyke doakan yeay cepat jendong terus yeay merid sama si bos dan eyke yang jadi muanya, aamiinn" ucapnya sambil menghapuskan kedua telapak tangannya kewajah.
Aku tertawa demi mendengar doa dan tingkahnya
"Kok doanya gitu kak, jahat banget" protesku
"SSG Suka Suka Gue" jawabnya sambil tertawa centil.
"Makasih ya kak sudah baik sama aku. Sudah rela nemanin aku dari tadi pagi sampai siang ini" ucapku melow
"Ihhh,,, kalau bukan karena yeay atm berjalan eyke, ogaahhh" jawabnya
Aku tertawa mendengar jawabannya
"Dasar ben***g matre" balasku
Kami berdua lalu tertawa. Dengan Jennifer aku melupakan sedikit sedih dan sakitku, bersamanya aku serasa mengobrol dengan teman satu frekuensi. Segala obrolan cepat nyambung.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, di seberang kamar mereka, ada sepasang mata yang juga ikut bahagia melihat Indah kembali tertawa dan ceria