
Kami sampai di kantor. Saat aku akan turun, ummi mencegah
"Kamu hari ini kebank, urus buku tabungan kamu, agar ummi mudah transfer gaji kamu. Sama satu lagi, jangan lupa kartu selular kamu"
Aku mengangguk lalu kembali membetulkan posisi dudukku.
Setelah ummi turun dan masuk kedalam kantor, pak Farhad mengantarku ke toko selular. Hanya beliau yang turun, aku disuruhnya menunggu di dalam mobil, tak lama beliau telah kembali dengan sebuah kartu di tangannya
Segera kartu itu diberikannya ketanganku dan aku segera memasukkan kedalam handphone yang telah aku bawa dari rumah.
Setelah itu beliau membawaku sebuah bank. Kali ini aku masuk ditemani oleh beliau. Segala administrasi pak Farhad yang mengurusi, aku hanya memberi kartu identitas ketika beliau memintanya.
Tak lama, sekitar satu jam semuanya beres, beliau lalu kembali membawaku ke Al Mursalat Ibrahim Holding.
Aku segera turun ketika mobil berhenti. Tanpa ragu aku masuk kedalam kantor.
Setiap karyawan yang berpapasan denganku tampak menganggukkan kepala mereka kearahku yang kubalas dengan senyuman ramah
Aku masuk ke lift, menuju lantai atas tempat Ummi.
Tak lama, pintu lift terbuka dan aku keluar lalu berjalan menuju ruangan ummi.
Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam aku masuk. Kulihat ummi sudah sibuk dengan setumpuk laporan di depannya.
"Sudah?" tanya ummi tanpa mengalihkan perhatiannya pada kertas laporan yang sedang dibacanya
"Sudah, um" jawabku sambil menghampiri beliau
Aku segera mengambil setumpuk laporan itu, lalu membawanya kemejaku.
Aku mulai menghidupkan komputer kantor dan mulai berkutat dengan pekerjaanku
"Teleponlah dulu anak-anakmu" ucap ummi ketika melihatku mulai serius menatap layar komputer
"Nanti saja Ummi" jawabku
"Apa kamu tidak merindukan mereka, hem?" ucap ummi sambil menaikkan kacamatanya
Aku menarik nafas dalam
"Sangat ummi" jawabku
"Kalau begitu, telpon mereka sekarang!" ucap beliau sambil melipat tangan di atas perutnya dan bersandar di kursi kerja
Aku tidak membantah. Aku segera mendial nomor umakku. Saat itu jam setengah sepuluh, itu artinya pukul setengah dua siang waktu Indonesia barat
Tersambung. Terdengar suara umakku mengucap salam
Airmataku langsung pecah saat aku mendengar suaranya.
Dengan terbata aku menjawab salam umakku.
Aku menanyakan kabarnya dan juga kabar bapak dan kak Andri
Terdengar teriakan. Suara kakak Mikail
"Bundaaaa..." teriak anak keduaku itu
Air makin sesenggukan menangis. Dapat kudengar jika dia juga menangis
"Kangen sama bunda" ucap anakku
Dadaku serasa ditusuk pisau saat mendengar ucapan rindunya.
"Loudspeaker kak, bunda mau dengar suara ayuk dan adek. Biar kalian tidak rebutan hp nenek" ucapnya
Kembali aku mendengar teriakan Naura dan Adam. Aku kembali menekan dadaku yang kembali nyeri.
"Doakan bunda ya nak" tutupku ketika obrolan kurasa cukup
Kembali terdengar teriakan gaduh ketiga anakku ketika aku menutup dengan mengucap salam.
Dengan menarik nafas dalam aku meletakkan handphone di atas meja, lalu mengambil tissue dan menyusut airmataku
Ummi menatapku, aku tersenyum malu kearahnya
"Ummi bisa merasakan kerinduanmu Ndah" ucapnya lirih
Aku kembali menyusut airmata yang kembali mengalir.
__ADS_1
"Gaji kamu sudah ummi transfer, cek saja" ucapnya sambil kembali fokus menatap layar laptop
"Tapikan aku belum sebulan kerja sama ummi" jawabku
Karena aku baru tiga minggu lebih kerja dengan beliau, kurang 4 hari lagi mau sebulan
"Hari ini seluruh karyawan gajian, jadi walau kamu belum sebulan tapi ummi sudah memberikan gaji kamu"
"Terima kasih ummi" jawabku
"Tapi khusus kamu, ummi langsung yang gaji, karena kamu kerja dengan ummi, tapi karyawan kantor yang lain, pihak keuangan yang mentransfernya
Aku menganggukkan kepalaku
"Apa kamu tidak ingin mengganti model handphone kamu dengan keluaran model terbaru?" kembali ummi bertanya
"Tidak ummi" jawabku
"Kenapa?" tanyanya
"Handphone masih baru ummi, sayang kalau diganti, lagian uang saya seluruhnya mau saya kirim untuk anak saya" jawabku
"Farhad yang ummi suruh beli, kalau kamu mau"
"Jangan ummi" cegahku
"Oke, terserah kamu kalau begitu. Mana nomor kamu, mau ummi save"
Aku segera menyebutkan nomorku, lalu ummi misscalled
"Itu nomor ummi, save"
Aku segera membuka handphone lalu menyimpan nomor ummi
...****************...
Saat ini Abraham cs sedang di dalam mobil yang dikemudikan Onur. Mata ketiganya memandang takjub saat melewati Bosphorus Bridge yang menghubungkan dua benua, benua Asia dan Benua Eropa itu.
"Sepertinya kita butuh jalan-jalan" ucap Tomo
Kedua temannya tersenyum
Tomo tersenyum kecut
Akhirnya Onur menghentikan mobil disebuah gedung tinggi. Keempatnya lalu turun, sedangkan mobil dibawa seseorang ke basemen.
Saat keempatnya masuk, mata karyawan yang kebetulan melihat mereka saling toleh.
Onur membawa mereka masuk lift. Dan setelah keluar lift, mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang bertuliskan CEO ROOM, di depan ruangan tersebut berdiri empat orang bodyguard
Onur segera mengetuk pintu, lalu keempatnya masuk
Di dalam ruangan telah ada Ozkan, Tuan Yusuf Yilmaz dan Ozlem.
"Ini bodyguard saya ketika saya di Indonesia, baba" ucap Ozkan memakai bahasa Turki
Tuan Yilmaz memandang Abraham cs dari atas hingga kaki, begitu juga dengan Ozlem
"Wow, body mereka jauh lebih besar ketimbang bodyguard yang kita miliki baba" jawab Ozlem sambil terkekeh
Abraham cs yang tidak mengerti apa yang ketiga orang itu bicarakan hanya diam saja dalam posisi tegap
"Abi kan sudah bilang, kalau kamu pasti menyukai mereka" jawab Ozkan
"Kalau ada sepuluh orang seperti mereka, aku yakin tidak sulit untuk kita meringkus tuan Kaderimin itu" ucap Tuan Yilmaz
"Mereka bertiga saja sudah cukup baba" jawab Ozkan
Tuan Yilmaz tersenyum mendengar jawaban putranya
"Bisa pensiun dini bodyguard kita, baba" sambung Ozlem
Lalu ketiganya terkekeh
"Oh iya, Abraham, Tomo dan kamu Binsar, perkenalkan ini ayah saya, Tuan Yusuf Yilmaz" ucap Ozkan
Abraham cs langsung membungkukkan badan mereka kearah tuan Yilmaz, yang dibalas tuan Yilmaz dengan senyuman
"Dan ini adik tertampan saya, Ozlem Yilmaz"
__ADS_1
Kembali ketiganya membungkukkan badan kearah Ozlem, lelaki tampan bermata biru terang
Ozlem yang penasaran segera bertanya pada Ozkan
"Tadi abi, bilang apa tentang saya sama mereka"
"Abi bilang, kalau kamu adik tertampan abi" jawab Ozkan
Ozlem tersenyum senang mendengar jawaban Ozkan. Dia yang saat itu menggunakan hoody merah yang dibalut jaket hitam langsung memasang wajah dingin untuk menunjukkan kharismanya di depan ketiga bodyguard kakaknya itu
Ozkan langsung tersenyum melihat perubahan wajah sang adik
"Saya akan menjelaskan kerja kepada kalian bertiga" lanjut Ozkan
"Ayo, kalian duduk disini bersama kami" ajak Ozkan
Abraham cs langsung maju dan duduk di depan meja panjang, berhadap-hadapan dengan Tuan Yilmaz dan Ozlem
Ozkan langsung memulai arahannya ketika infocus menyala
Di layar langsung tampil gambar Hatice. Abraham terkesiap. Dia ingat perempuan itu pernah bertabrakan dengannya ketika dia mengawal Tuan Ozkan dan Indah dinner
Ozkan menangkap kekagetan Abraham
"Apa kamu pernah bertemu perempuan ini?" tanyanya
Yang lain langsung menatap kearah Abraham, terutama Binsar dan Tomo
"Iya bos, saat saya mengawal bos dan Mbak Indah dinner" jawab Abraham
Gigi Ozkan langsung gemeletuk marah.
"Ternyata memang dia memata-mataiku" ucapnya geram
"Mengapa kamu tidak memberitahu saya!" bentaknya
Wajah Abraham cs langsung menegang. Sedangkan wajah tuan Yilmaz dan Ozlem memandang bingung, karena mereka tidak faham apa yang sedang mereka bicarakan, yang mereka tahu dari mata dan suara Ozkan mereka faham jika saat itu Ozkan emosi
"Dia perempuan jahat" lirih Ozkan
"Apa perempuan ini bos yang membuat Indah pergi?" celetuk Tomo
Abraham langsung melototkan matanya kearah Tomo. Tomo yang sadar seketika wajahnya menegang
"Maaf bos, maaf" ucapnya takut
Ozkan mendengus kesal
"Tugas kalian bertiga nanti membantu bodyguard kami mengungkap kebusukan perempuan jahat ini. Nanti bodyguard keluarga kami akan memberitahu cara kerja pada kalian" lanjutnya
Lalu Ozkan bertanya apa saja yang sudah dilakukan oleh anak buah Ozlem. Dengan lugas Ozlem menjelaskan seluruh kinerja anak buahnya.
Lalu slide berpindah kegambar seorang lelaki muda yang tak jauh umurnya dengan Ozkan.
"Ini adalah tugas penting kalian. Kalian culik lelaki ini, bawa dia kehadapanku!"
"Namanya Murat Erdem, dia adalah ayah biologis dari Kiral anaknya Hatice, dia juga lelaki licik, dia merelakan Hatice untuk menikah denganku asalkan Hatice dan tuan Kaderimin mau membayar mahal dirinya"
Lalu slide berpindah lagi kegambar tuan Kaderimin.
"Ini adalah tuan Mihriban Kaderimin, ayahnya Hatice Kaderimin, kolega ayah saya. Kabarnya dia terlilit hutang, makanya dia menjual anaknya pada keluarga kami"
Abraham cs tampak manggut-manggut.
"Sekarang kalian saya tugaskan bergabung dengan anak buah kami yang lain untuk mencaritahu keberadaan Murat, sepertinya Hatice sudah menyuruhnya pergi jauh" lanjut Ozkan geram
Matanya berkilat merah.
Lalu dia meletakkan alat yang dipakainya untuk membuka slide tadi, tapi Ozlem segera mengambil alat itu dan menekan tombol next
Di infocus segera tampil gambar Ozkan yang sedang memeluk Indah dari belakang.
Abraham cs langsung tersenyum simpul. Begitupun dengan tuan Yusuf Yilmaz, tapi berbeda halnya dengan Ozlem, dia langsung terbahak
"Ini perempuan istimewa itu baba, perempuan yang buat abi hampir gila" lanjutnya
Ozkan yang tidak menyadari kejahilan sang adik segera menoleh menatap layar infocus, matanya berubah sendu ketika melihat gambar itu
__ADS_1
"Indah... Askim" lirihnya