
"Waalaikumussalam" jawab kami
Naura yang matanya telah redup ikut membesar begitu mendengar suara salam
Serasa mimpi ketika dia mendengar suara yang tak asing baginya
"Akmar....???" ucapnya tercekat
Aku memutar kepalaku menoleh kearahnya yang duduk di sebelahku dengan mata terbelalak
"Ayo masuk nak..." sambut bapakku yang menyambut Akmar langsung
Akmar langsung membungkuk sambil mencium tangan bapakku, dan ikut masuk. Lalu secara bergantian menyalami seluruh lelaki yang ada di ruangan besar ini
Aku menyikut tangan Naura yang masih bergeming tak berkedip menatap Akmar
Naura tergagap dan segera mengusap kasar wajahnya
Pada kami yang perempuan, Akmar menangkupkan tangannya lalu duduk didekat Bapakku
"Wah, pintar dia nyari posisi" batinku menahan tawa
"Maaf nek nang, semuanya, saya terlambat datangnya, saya turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya, semoga almarhum husnul khatimah" ucap Akmar sopan
Adam yang juga duduk di sebelahku menyikut lenganku memberi kode agar aku menengok kearah Naura yang masih menatap tajam Akmar, sikutan Adam hanya kubalas dengan senyuman
"Kamu dapat kabar dari mana jika ayah kami meninggal?" jawab Adam
"Sosial media dan juga grup sekolah"
Naura yang sejak beberapa hari ini memang tidak memperdulikan hpnya tidak mengetahui jika begitu banyak ucapan bela sungkawa dari teman-temannya
"Maaf Akmar, Naura beberapa hari ini tidak mengurusi handphonenya, jadi tolong sampaikan ke teman-teman kalian permintaan maaf dari bunda mewakili Naura"
Akmar mengangguk
"Kami maklum kok bunda" jawabnya
"Loh, tadi katanya ngantuk nak, kok sekarang matanya kembali besar?" goda abang pada Naura
Naura langsung tergagap dan mencibir kearah abang, sedangkan kami tersenyum dikulum
"hal ant bikhayr Naura?" tanya Akmar yang membuat aku dan abang langsung saling tatap
"Alhamdulilah 'ana bikhayr" jawab Naura pelan
"'Iinah lays bikhayr 'Akmar , 'iinah mudamirun. Lakin aml wujuduk huna , yumkin 'an takun nawiran 'akthar hdw'an" selaku (Dia tidak sedang baik-baik saja Akmar, dia sangat terpukul. Tapi semoga dengan adanya kamu disini, Naura bisa lebih tenang)
Kulihat wajah Naura menyemburat merah sedangkan wajah Akmar berubah cerah
"Kalian ngomong apa sih?" protes kak Andri yang disambut kami dengan tawa
"Kode wak, sengaja biar kalian nggak ngerti" jawab Adam yang makin membuat wajah Naura merah
"Ayo, bunda kita naik" tariknya pada lenganku
Kelakuan Naura makin membuat semuanya tergelak
"Nina, ajak mbak Ningsih istirahat di kamar kamu ya?"
Nina mengangguk, sedangkan Maria hanya menatapku dengan takut-takut
"Kamu dan Joni di kamar tamu" ucapku datar
"Adek, nanti kalo istirahat ajak Akmar ya, kalian sekamar"
__ADS_1
"Umak dan bapak istirahat saja di kamar kosong di sebelah kamar Mikail"
"Tidak nak, kami pulang ke rumah saja" jawab umakku yang ku jawab dengan anggukan kepala
"Kalau begitu Dimas sama istrinya saja yang disana" sambungku
"Kalau begitu pak Hermawan yang di kamar Mikail" ucap bapakku
"Bapak!!" decakku menahan kesal
"Itu kamar Mikail, tidak boleh ada satupun orang yang boleh tidur di sana" jawabku
"Sudahlah pak, jangan paksa Indah. Itu yang berbicara bukan logikanya tapi hatinya" bela Abang
"Istri Dimas sama kami saja mbak, biar bapak sama Dimas dan mas Indra saja" ucap Nina takut-takut ke arahku
"Terserah, tapi bukan di kamar Mikail"
Umakku menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihatku yang segera naik tangga sambil ditarik Naura karena menahan malu
"Tolong fahami Indah mak, umak jauh lebih mengenal Indah dibanding aku" jawab Ozkan
"Justru kamulah yang lebih memahami Indah, Ozkan, bukan kami" jawab bapakku
"Tapi untuk dendam dan kemarahannya, kami jauh lebih memahami itu" tambah kak Andri sambil menoleh kearah kak Angga yang mengangguk setuju
Wajah Maria dan pak Hermawan kembali terkesiap dan keduanya menundukkan kepala mereka
...****************...
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, ketika lamat-lamat aku mendengar suara adzan dari lantai dua, tepatnya di mushalla
"Akmar?" gumamku sambil duduk
Lalu aku menggoyangkan tubuh abang, mengajaknya turun untuk shalat Subuh berjamaah
"Akmar" jawabku
Segera kami berdua turun, ternyata telah ada keempat anakku di sana. Melihat kami berdua masuk, Defne langsung berpindah duduk dipangkuan Daddy nya
Mungkin jika boleh shalat di sebelah Daddy nya, maka Defne bisa aku pastikan akan berdiri di sebelah abang
Dimas, mas Indra dan pak Hermawan diikuti Nina dan mbak Ningsih juga terlihat masuk
Dimas Iqamah, lalu Adam maju sebagai imam, setelah abang menolak untuk menjadi imam
Selesai shalat, secara mengejutkan Akmar berinisiatif memberikan sedikit tausiah
Aku lagi-lagi melirik kearah Naura yang mencuri-curi pandang menatap Akmar
"Assalamualaikum tuan Ozkan dan bunda, serta bapak ibu yang saya hormati, mohon sedikit waktunya untuk saya menyampaikan sedikit pengetahuan yang pernah saya tempuh di bangku sekolah"
"Mungkin bapak ibu jauh lebih berpengalaman dan jauh lebih berwawasan dari pada saya, tapi tidak ada salahnya jika saya yang fakir ilmu ini berbagi sedikit pengetahuan"
Akmar melirik sebentar kearah Naura lalu memulai tausiyahnya
"Tausiyah singkat saya ini berisi tentang rasa yang sedang kita semua alami, yaitu rasa sedih"
Kembali Akmar menarik nafas dalam sebelum menyampaikan tausiyahnya
"Rasa sedih merupakan hal yang wajar ada pada diri manusia. Ini merupakan hal yang manusiawi. Karena, sesungguhnya, selama seseorang masih dalam kehidupan di dunia, maka tidak akan pernah bebas dari kesedihan.
Imam Al-Ghazali menyebut bahwa kesedihan pada diri seseorang biasanya karena tiga hal. Pertama, karena menginginkan sesuatu yang tidak tercapai. Kedua, karena kehilangan sesuatu. Dan ketiga, karena takut akan masa depan.
Melalui ayat Al-Qur'an, Allah SWT tegas melarang manusia untuk larut dalam kesedihan. Karena, rasa sedih hanya akan membuat seseorang terus menerus down dan tidak semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
__ADS_1
Adapun ayat tentang larangan bersedih dalam Al-Quran adalah sebagai berikut,
Pertama, surah Ali Imran [3]: 139,
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: “Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Kedua, surah An-Nahl [16]: 127,
وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
Artinya: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Ketiga, surah At-Taubah [9]: 40,
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”.
Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur’an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Sebagai orang yang beriman, hendaknya kita tidak larut dalam rasa sedih, baik saat kehilangan sesuatu atau merasa takut dengan masa depan. Percayalah bahwa Allah akan selalu menolong hamba-hambaNya.
Itulah ayat-ayat Al-Qur'an yang melarang manusia untuk larut dalam kesedihan. Percayalah bahwa bila kita bersabar sembari berdoa dengan khusyu, maka kita akan terbebas dari kesedihan dan kekecewaan. Aamiin..."
"Demikianlah yang dapat sampaikan, lebih kurangnya saya mohon maaf, kepada Alloh Subhanahu Wata'ala saya mohon ampun, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu"
Kami semua menjawab salam Akmar, dan Naura memandang dalam pada Akmar yang sesekali mengerling kearahnya
"Terima kasih untuk nasihatnya Akmar" lirih Naura nyaris tak terdengar
...****************...
Mbak Dian dan yang lainnya sibuk mengangkat masuk nasi kotak dan kotak kue yang sengaja aku pesan di jasa catering untuk acara malam nanti
Kebetulan malam nanti adalah acara tiga malam untuk Andi, dan itu artinya ini adalah malam ketiga untuk Akmar berada di rumah kami
Sejak siang tadi, Adam mengajak Naura, si kembar dan Akmar jalan-jalan
Adam berjanji, sebelum maghrib mereka akan segera tiba di rumah. Dan benar saja, sebelum maghrib mereka berlima telah berada di rumah
Kulihat wajah Naura tampak berseri-seri, dan wajahnya sedikit merah seperti bekas terbakar matahari
"Adek ajak main ke Taman Beregam" ucap Adam ketika aku heran melihat wajah Naura yang merah
"Ternyata Ayuk jago juga panjat tebing" puji Adam
Aku tersenyum melihat perhatian Adam pada Naura dan caranya membuat Naura melupakan sedihnya
"Ini semua berkat bantuan Akmar" bisik Adam
Aku terperangah, sedangkan mereka langsung masuk dan segera bersiap shalat, karena acara tahlilan akan diadakan setelah Isya
Sebelum Isya para tamu undangan telah memadati rumah dan juga tenda.
Kembali kulihat ada Afdal dan Rian. Tapi kali ini mereka datang berombongan dan kesemuanya langsung menyalami abang dengan takzim
Kiyai dari pesantren tempat ketiga anakku dulu sekolah juga telah datang, begitu juga dengan para anak panti dan kepala yayasan juga telah datang
Mereka adalah tamu undangan yang paling kami tunggu. Setelah semuanya siap pak RT mulai memegang mic dan siap memulai membacakan susunan acara ketika terdengar suara agak gaduh di luar
Semua tamu undangan di dalam tenda hampir berdiri semua, aku yang di dalam ikut penasaran dan ikut berdiri juga
Bahkan saking penasarannya aku sampai berdiri di depan pintu
__ADS_1
Air mataku langsung mengalir ketika aku melihat siapa yang datang dan membuat kegaduhan