Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kok Adam Hitam?


__ADS_3

25 Oktober 2006 Siang


Sepeninggalnya Mbak Laras dan Maria dari rumah mbak Ningsih, aku masih duduk menangis.


Mbak Ningsih pun tak bisa berbuat banyak. Dengan raut iba, dia hanya bisa menepuk-nepuk pundakku.


"Assalamualaikum" suara salam dari luar yang membuatku refleks mengusap kasar wajahku untuk menghapus sisa air mata.


Mbak Ningsih segera berjalan ke depan. Jika tadi ada mas Indra di teras luar dengan Adam, entah sekarang kemana mereka.


"Waalaikumsalam" mbak Ningsih menyambut tamunya dengan ramah. Ternyata itu adalah saudara angkatnya dari SP 1. Mereka datang satu rombongan.


Akupun menemui mereka dan menyalami mereka satu-satu.


"Ini Indah istrinya Andi kan?" tebak salah satu dari mereka


"Iya mbak" jawabku mengangguk sambil tersenyum kearahnya.


Dia lalu tertawa, tanpa ada yang lucu menurutku. Aku segera mengerutkan keningku melihatnya tertawa.


"Ups, sorry sorry, I only remember the last when we are in Malaysia" ucapnya.


"There is funny memory or something, maybe?" tanyaku


"You can speak english?" ucapnya seakan terkejut


"Halah, ngomong opo cah loro ki" Salah satu ibu-ibu paruh baya yang ku ketahui adalah ibu angkatnya mas Indra berkata sambil diikuti tawa oleh yang lain.


"*Not much, small talk"


"How Andi?"


"Fine"


"I means, where is he?


"In his parents home, you can met him later*"


Kembali dia tertawa. Aku mencium aroma tidak mengenakkan saat dia terus tertawa. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.


"Be careful, Andi a playboy, in Malay he famous with it. Much girls broken heart by him, there was a girl who had abortion by him"


Aku menutup mulutku. Ya Rabb, betulkah? betulkah suami yang ku kenal baik, sholeh diawal-awal ternyata seorang pezina?


"Ngapa te? mbak Ningsih bertanya penuh selidik.


"Nggak papa mbak, mbak ini... maaf siapa namanya?" tanyaku


"Mia" jawabnya


"Mbak Mia ini cerita yang mengerikan makanya aku kaget" elakku.


Mbak Ningsih ber O panjang.


"Yuk mbak, saya masuk dulu, mau lihat anak-anak" pamit saya

__ADS_1


"Waiting for me Indah, there is much story about your husband, you must know it"


Aku menoleh dan menganggukkan kepala.


...****************...


Hari ini aku benar-benar tidak menginjakkan kakiku kerumah mertuaku. Dan Andi sampai detik ini belum juga kerumah mbak Ningsih untuk menemui kami. Aku pasrah saja, terserah apa mau dia. Toh sejak malam takbiran sampe siang tadi sudah begitu banyak kebobrokan dia terbongkar. Entah itu benar atau tidak, tapi itu sudah cukup membuatku shock.


"Ayok te, kita buat model, ada bahannya di kulkas, perpekan tadi mas mu nggiling model ke pasar, tapi belum mbak buat. Tau sendiri kamu, mbak mabuk"


Dengan semangat aku menganggukkan kepalaku. Jadilah siang menjelang sore hari ini kami berjibaku di dapur membuat model.


"Harum banget, masak apa bun?" sebuah suara muncul dari pintu belakang.


Aku menoleh, Andi. Aku tersenyum samar padanya. Aku harus sebisa mungkin memasang wajah manis, aku tidak ingin mbak Ningsih mengetahui kemarahanku, walau sebenarnya dia tahu kalau aku sangat marah.


"Kok baru kesini oom, kemana saja?" mbak Ningsih bertanya tanpa menoleh dari panci rebusan model.


"Maen ketangga yuk"


"Kok nggak ngajak tante?"


Andi diam. Aku pun diam tak bereaksi. Biarlah, mungkin Andi memang lebih nyaman silaturahmi sendiri ketimbang ngajak kami.


"Anak-anak mana bun?"


"Kalau tadi Naura sama kakak Mikail di kamar sama kakak Dimas"


Andi segera berjalan menuju kamar Dimas. Mungkin untuk menghindari kami, atau memang dia ingin melihat anak-anaknya setelah dari semalam tidak bertemu.


Selesai ba'da Ashar rutinitas kami selesai. Kami segera menaruhnya di prasmanan.


Andi muncul dari ruang tengah.


"Apa yuk?"


"Panggil mamak bapak sama yang lain, kita makan model sama-sama"


Andi segera keluar dan berjalan menuju rumah mertuaku. Tak lama telah muncul rombongan. Bukan hanya rombongan mertuaku, tapi ada juga sepupu-sepupunya.


"Ah, tante ni, ditungguin tempat wawak kok malah di sini" mbak Lusi berseloroh.


Segera aku menyalami mereka, ada mbak Lusi dan suaminya mas Mijo, mbak Esi sama mas Sandi, mbak Pariyah dan mas Parjo, mbak Karti dan mas Bandi, dan ada beberapa anak, mungkin anak-anak mereka.


Jadilah rumah mbak Ningsih penuh. Aku dan Nina sibuk melayani mereka. Kami berdua menyiapkan mangkuk, menaruh model beserta kuahnya, dan meletakkan setermos besar es campur.


Jadilah sore itu kami acara makan model dengan penuh kekeluargaan sambil diselingi tawa kecil.


Selagi kami makan, mas Indra pulang sambil menggendong Adam.


"Wahh rame yaa, makan nggak ngajak-ngajak" candanya sambil ikutan duduk.


"Loh oom, ini anak siapa?" tanya mbak Esi.


"Anak kami mbak" jawabku

__ADS_1


"Sudah tiga te anaknya?" tanyanya kaget


Aku mengangguk sambil tersenyum bangga.


"Hah, anak banyak bangga" mbak Laras menimpali dengan sinis sambil disambut cekikikan oleh Maria.


Senyum bangga yang tadi tersungging di bibirku sirna seketika.


Seluruh mata langsung menatap mereka berdua. Sadar jadi perhatian, bukannya minta maaf mbak Laras makin menjadi.


"Loh, kenyataan kan, anak dia banyak, kenapa kalian liatnya kaya gitu?"


"Mbak" bentak Nina sambil melotot.


"Sudah-sudah, makan, jangan ribut" mas Indra melerai.


Kami kembali melanjutkan makan kami. Tapi seleraku sudah tak ada, sudah kenyang rasanya mendengar omongan mbak Laras tadi.


"Bunda makan" tiba-tiba Mikail dan Naura muncul


"Sini sayang" lambaiku pada mereka.


"Loh, yang dua ini putih-putih, kok yang kecil itu hitam?" tanpa sadar mbak Lusi berucap


Refleks Maria dan mbak Laras terbahak. Dan lagi hal itu membuatku tersinggung.


"Kalau yang dua ini mirip ayahnya mbak, yang kecil mirip aku" jawabku.


"Tapi tante kan nggak item" lanjutnya


"Sekarang saja, tapi dulu waktu aku kecil item mbak, sekarang saja masih item kok"


"Tapi kan nggak item banget, tante itu kuning langsat" sambung mbak Pariyah.


"Bukan anak Andi kali" dengan santainya ibu mertuaku menjawab.


Secepat kilat aku menoleh dan menatap tak percaya pada ibu mertuaku.


Dia seolah tak melihatku, melainkan terus menyendokkan model kedalam mulutnya.


"Astaghfirullah" ucapku.


"Maksudnya apa ya oma, kok kami nggak faham" Maria seakan memancing di air keruh.


Ya Rabb, beri aku kesabaran, bathinku.


"Ini kita lagi makan, malah bahas apa ini, ayo makan makan" mbak Ningsih seolah menangkap ketidak nyamananku.


Sekuat tenaga aku terus duduk di sana sambil menyuapi kedua anakku, kakak dan Adam. Sedangkan Naura makan sendiri.


Dan lagi-lagi aku kecewa terhadap sikap Andi yang hanya diam saja tatkala aku dipojokkan oleh keluarganya.


Sebelum maghrib akhirnya para sepupu suamiku itu berpamitan, lalu aku dan Nina membereskan dan mencuci piring gelas yang kotor.


"Jangan diambil hati ya mbak" ucap Nina saat kami berdua mencuci piring.

__ADS_1


"Mbak nggak papa kok Nin" bohongku.


Andai kau tahu Nin, hatiku hancur dan saat ini seakan aku tidak ada harganya, batinku.


__ADS_2