
"Surah apa saja nak?"
"Heem?" jawab Naura sambil menoleh kearah bundanya yang terus menggandengnya
"Itu, yang tadi kakak bilang"
"Oohh, sembilan surah untuk mengurangi rasa sedih dan penenang hati? "
Aku mengangguk
"Surah Al-Fatihah, Surah Al-Baqarah ayat 250 dan 255, Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, surah An-Naas, surah Yasiin, Surah Al-Insyirah, surah Yusuf, dan surah Thaha"
Aku tersenyum bangga mendengar jawaban Naura. Dari masjid di seberang jalan raya kami mendengar suara adzan Subuh
"Shalat di sana apa di mushalla rumah sakit?" tanyaku
"Mushalla rumah sakit saja bunda"
Aku mengangguk, lalu aku dan Naura masuk kesebuah ruangan di lantai dua yang dijadikan Mushalla di rumah sakit ini
Cukup banyak jamaah yang shalat, dan ketika kami selesai shalat, kulihat Naura masih betah duduk di atas sajadahnya. Kulihat kembali bahunya berguncang
Aku yang melipat mukena hanya bisa menarik nafas panjang melihatnya yang kami menangis
...****************...
Jam 10.00 Wib, suasana rumah sakit sudah ramai, dan jenazah Andi telah siap untuk di bawa pulang ke rumah
Sebelum jenazah Andi dibawa naik ambulance, kembali seorang perawat mendekati kami
"Maaf bapak ibu, biaya administrasinya tolong diselesaikan dulu"
Aku bergeming. Aku mau melihat bagaimana reaksi seluruh keluarga Andi.
Mereka saling toleh dan Nina yang takut-takut mendekat kearah perawat tersebut
"Saya saja yang ikut sus, saya mau lihat dulu berapa total biayanya"
Aku masih duduk di posisiku, dan Adam yang duduk di sebelahku hanya bisa diam. Aku yakin kali ini dia tak akan berani lagi mengeluarkan uang, selain karena buku tabungannya sudah ada di tangan kak Andri, juga aku yakin dia takut jika aku akan marah
Tak lama Nina muncul dengan wajah pucat dan mata berair
"Gimana ini pak?" ucapnya langsung memegang tangan pak Hermawan
"Berapa Nin?"
"Nyaris dua ratus juta mbak"
Pak Hermawan mengusap wajahnya dengan frustasi. Kulihat Adam mulai tampak gelisah dan melirik takut ke arahku yang tetap tenang
Setelah cukup lama tak ada yang bereaksi, Adam berdiri dan masuk kembali keruang ICU, menemui Naura
Tak lama keduanya keluar. Menatap takut padaku yang menatap dingin pada mereka
"Bundaaaa...." lirih Naura
Aku masih bergeming. Suasana langsung mencekam. Kulihat mbak Ningsih dan Nina sudah makin terisak.
Pak Hermawan tertunduk dalam, mas Indra dan Dimas ikut menatap ke arahku seperti yang dilakukan Naura dan Mikail
Aku lalu berdiri meninggalkan mereka. Naura dan Adam hanya terpaku melihat bundanya meninggalkan mereka
"Terus bagaimana sekarang yuk?" ucap Adam tegang
Naura terduduk di kursi bekas bundanya tadi, terdiam tanpa bisa berkata apa-apa
Tak lama empat orang lelaki muda berpakaian serba putih berjalan kearah mereka, langsung masuk keruang ICU, dan tak lama telah mendorong brankar yang berisikan jasad Andi
Melihat itu, Naura dan yang lainnya langsung berdiri
__ADS_1
"Mau dibawa kemana ayah saya?" tanya Naura yang langsung memegang kuat brankar
"Lah, apa tidak akan dibawa pulang?" tanya mereka heran
Naura langsung melepaskan cengkeramannya pada besi brankar dan menatap ke ujung koridor dimana telah ada bundanya berdiri
"Bunda...." ucapnya tercekat sambil segera berlari ke arahku dan langsung memelukku erat sambil menangis
Pak Hermawan dan seluruh keluarganya hanya bisa menatap Indah sambil berurai air mata, perasaan mereka campur aduk ketika melihat Indah yang santai menatap kearah mereka
"Ayo kita pulang, kita harus segera memakamkan ayahmu"
Naura mengangguk. Segera aku dan Adam membimbingnya turun
Pak Hermawan bersama Dimas dan mas Indra naik mobil ambulance, sedangkan kami naik mobil Adam
Raungan sirine ambulance yang makin jelas terdengar membuat para pelayat yang memadati rumah besar Naura dan adik-adiknya segera berdiri
Dapat aku lihat jika banyak sekali papan bunga ucapan bela sungkawa dan juga banyak sekali kendaraan baik roda dua maupun roda empat terparkir sepanjang jalan menuju rumah kami
"Alangkah ramainya" desis Adam yang kesulitan memasukkan mobilnya di jalanan yang telah padat dengan kendaraan
Naura membuka kaca mobil dan melihat sekilas ke papan bunga yang jumlahnya nyaris ratusan
Mulai dari jalan masuk ke gang rumahnya sampai masuk lorong rumah hingga di depan rumahnya penuh dengan papan bunga
Mbak Ningsih kembali terisak menyaksikan itu semua
"Derajatmu di angkat Alloh lewat Indah dan ketiga anakmu Ndi"
Naura menarik nafas panjang mendengar ucapan mbak Ningsih
"Benar yang mbak katakan, ketika hidup siapa yang mengenal mas Andi, tidak ada. Tapi begitu dia meninggal dan orang mengetahui jika dia adalah ayah dari tiga orang hafidz dan hafidzah, lihatlah betapa banyak orang yang melayat" sambung Nina sambil terisak pula
"Coba kamu lihat Nin, itu papan bunga ada juga dari pemerintahan dan bahkan dari Kodim, itu artinya mereka juga mengenal Andi karena pekerjaan Naura dan Mikail" jawabku
Walau dengan susah payah, akhirnya mobil ambulance dan mobil kami bisa masuk, jika ambulance masuk ke halaman rumah, maka Adam memarkirkan mobilnya paling diujung setelah sebelumnya menurunkan kami terlebih dahulu
Naura yang turun langsung disambut dengan rombongan dokter Victor dan seluruh pegawai dan staff di kliniknya
Dokter Victor menjabat hangat tangan Naura sedangkan para bidan dan perawat perempuan memeluknya
Sedangkan aku langsung dikerubungi para tetanggaku yang berebut salaman sehingga Ozkan yang begitu melihat Indah turun langsung berdiri menjadi mundur lagi ketika melihat istrinya sibuk dikerubungi banyak perempuan
Sedangkan jenazah Andi yang diturunkan dari ambulance langsung disambut oleh para santri dan para tetangga
Aku tidak tahu mereka dari santri mana, tapi ketika aku melihat Adam membungkukkan badannya ketika mencium tangan seorang kiyai, paham lah aku jika itu dari pesantren Adam ketika dia SMP
Setelah aku bisa lepas dari para tetangga yang sibuk mengerubungi ku, aku segera mendekat kearah abang yang langsung memelukku
Melihat Indah dipeluk sayang dengan sang suami, para perempuan yang melayat memandang penuh rasa iri
"Ya ampun itu suami Indah, sudah ganteng, romantis pula" gumam mereka
Abang segera membawaku masuk dimana aku lihat Joni tampak memeluk jasad Andi
Sedangkan kulihat pak Hermawan menangis di pelukan bapakku sambil tak hentinya meminta maaf
"Maafkan kesalahan anak saya pak, saya mohon maafkan...."
Aku menatap sinis pada pak Hermawan yang terus menangis, sementara bapakku mengusap-usap punggungnya
Setelah memeluk jasad Andi, Joni berpindah memeluk bapaknya dan mereka berdua langsung menangis kencang
Kulihat juga ada Maria yang sedang memeluk Mbak Ningsih dan Nina. Tiba-tiba dadaku bergemuruh ketika aku melihat wajahnya
Ozkan yang tahu jika raut wajah istrinya berubah, langsung menggenggam jari Indah
"Kita naik, kamu istirahat dulu"
__ADS_1
Aku menggeleng, Ozkan menarik nafas panjang
"Calm down sayang, ada abang"
Aku mendecak dan memutar malas mataku mendengar ucapan abang
"Ayo, air untuk memandikan jenazah telah siap, mari kita mandikan jenazah sekarang" ucap seorang lelaki tua
Dengan cepat Adam berjongkok dibantu beberapa santri menggotong tubuh Andi
"Ayo pak sana, mandikan jenazah Andi" ucap Joni
Pak Hermawan menggeleng. Melihat mertuanya tak berdiri, mas Indra dan Dimas segera berdiri dan menyusul rombongan Adam
Tanpa ragu, Adam menggosok seluruh tubuh ayahnya hingga bersih, dan ketika selesai rombongan santri yang telah menunggu segera mengangkat tubuh Andi dan langsung meletakkannya di tempat semula untuk dikafani
Sementara ayahnya dikafani, Adam mandi dan setelah selesai mandi dia segera kembali turun sudah berpakaian rapih
Kulihat tampak Adam berbisik dengan kiyai yang tadi disalaminya. Lalu tak lama, melalui pengeras suara diumumkan jika akan dilaksanakan shalat jenazah
Lagi-lagi aku harus merasakan denyut jantungku terasa sakit ketika kulihat Adam berdiri paling depan sebagai imam
Barisan shaf yang menyolatkan Andi sangat banyak, sampai diluar rumah bahkan tenda yang semula tempat duduk para pelayat berganti menjadi shaf shalat
Ketika sambutan pelepasan jenazah, rupanya yang memberikan sambutan adalah kiyai yang tadi berbicara pada Adam
Selesai dengan sambutan pelepasan jenazah masuklah sebuah mobil pick up yang siap membawa jenazah Andi ke kuburan.
Naura bersikeras mau ikut, walau aku sudah melarangnya. Jadi dengan terpaksa Adam yang mengalah, dia yang semula ingin membawa mobil pick up yang akan membawa jenazah ayahnya, karena Naura ingin ikut terpaksa mengambil mobilnya.
Melihat Naura ikut, mau tak mau aku juga ikut, aku tak ingin sesuatu terjadi padanya ketika melihat ayahnya dimasukkan ke liang lahat
Nina dan mbak Ningsih juga ikut. Kembali, iring-iringan yang mengantar janazah Andi sangat banyak, ada yang naik mobil, motor bahkan ada yang berjalan kaki
Air mata Mbak Ningsih tak hentinya mengalir melihat bagaimana banyaknya orang yang ikut mengantarkan jenazah adiknya ke kuburan
Sampai di pelataran kuburan, mobil berhenti, dengan cepat Adam turun, dan dengan sigap dia langsung berdiri paling depan mengusung keranda dibantu Dimas dan dua bodyguard kami dari Jeddah
Ozkan yang turun dari mobil langsung dengan cepat meraih tangan istrinya, membimbingnya berjalan
Naura yang ada di sebelahku digandeng oleh Nina. Sedangkan mbak Ningsih menggandeng pak Hermawan
Dimas, Mas Indra dan Adam turun untuk menyambut jenazah Andi. Naura menatap kosong pada jasad ayahnya yang mulai dibaringkan di liang lahat, kembali air matanya bercucuran, terlebih ketika terdengar suara Adam adzan
"Andi... dulu kau mengadzankan Adam ketika dia lahir, dan sekarang Adam membalas jasa adzan mu itu dengan mengadzankanmu di liang lahat mu" batinku
Tampak Adam mengangkat kedua tangannya ketika dia selesai adzan
Lalu Adam mulai menutupi jasad ayahnya dengan papan yang diulurkan orang yang ada diatasnya. Setelah itu Adam naik, berganti dengan orang yang turun untuk membentangkan kain saat tanah mulai sedikit demi sedikit diturunkan untuk menimbun jenazah
Setelah dipasangkan nya nisan dan kuburan Andi sudah berupa gundukan tanah merah, Naura dan Nina menyiramkan air keatas kuburan, lalu Nina menaburkan bunga di atasnya
Lalu kembali Adam mengangkat tangannya sambil membaca doa
Allāhummaftah abwābas samā'I li rūhihī, wa akrim nuzulahū, wa wassi' madkhalahū, wa wassi' lahū fī qabrihī.
Artinya: Dengan nama Allah dan atas agama rasul-Nya. Ya Allah, bukalah pintu-pintu langit untuk roh jenazah, muliakanlah tempatnya, luaskan lah tempat masuknya, dan lapangkanlah alam kuburnya"
Selesai dengan doa, Adam menoleh kearah Naura yang masih duduk tercenung menatap gundukan tanah merah
Dengan perlahan aku menyentuh pundaknya dan ikut berjongkok di sebelahnya
"Ayo sayang kita pulang, tugas kita mengurus ayahmu telah selesai, dan sekarang tugas kalian adalah mendoakannya"
Naura diam dia terus terisak. Adam ikut berjongkok dan mengambil kepala ayuknya, dan Naura langsung menempelkan kepalanya di bahu Adam
"Yang tabah, sekarang ayah sudah tidak merasakan sakit lagi yuk"
Naura tak menjawab, hanya air matanya yang terus mengalir
__ADS_1