
Sebelum shubuh aku telah bangun, lalu aku mencuci piring kotor. Selagi aku sibuk di dapur, mbak Ningsih bangun. Segera dia masuk kekamar mandi dan terdengar seperti muntah-muntah.
Karena ku fikir dia muntah biasa, aku terus meneruskan aktifitas ku. Tapi setelah cukup lama mbak Ningsih belum juga ada tanda-tanda mau keluar dari dalam kamar mandi.
Dengan sedikit khawatir aku mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Mbak? mbak nggak papa kan?"
Tidak ada sahutan. Aku kembali mengetuk pintu dengan sedikit kencang.
"Mbak? mbak? mbak baik-baik aja kan?" aku mulai panik
"Iya" jawaban lemah dari dalam
Sedikit lega hatiku begitu mendengar sahutan mbak Ningsih.
Tak lama mbak Ningsih keluar dari dalam kamar mandi dengan mata berair khas sehabis muntah.
Segera ku papah pundaknya agar dia dapat berjalan dengan baik. Ku dudukkan di kursi makan dan mengambilkannya segelas air hangat.
Aku duduk di depannya dengan wajah yang masih menyiratkan khawatir.
"Mbak masuk angin kali" kataku
Mbak Ningsih menggeleng.
"Hampir tiap pagi kaya gini te"
"Mbak hamil?"
Dia menganguk. Secepat kilat aku bangkit dan memeluknya dengan bahagia.
"Alhamdulillah, selamat mbak ya" berkali kali aku memeluknya.
"Sudah berapa bulan mbak?"
"Jalan empat"
"Akhirnya berhasil juga mbak ya" ucapku sambil terkekeh.
Mbak Ningsih pun ikut terkekeh. Karena memang aku sudah lama dengar kalau beliau sudah berusaha sana sini untuk bisa hamil lagi, tapi Sang Khalik belum juga memberi, tapi Alhamdulillah sekarang usaha itu berhasil.
"Jauh ya mbak jaraknya dengan kakak"
"Iya, nanti kakak SMP adiknya baru lahir"
"Nggak papa mbak, semuanya rezeki"
"Jadi morning sicknessnya tiap hari mbak?
Mbak Ningsih mengangguk.
"Padahal sudah minum obat pereda muntah" jawabnya
"Nikmati saja mbak, nanti kalau sudah waktunya berhenti, bakal berhenti kok. Ada morning sickness itu trimester awal, ada juga sampe lahiran" jelasku
"Tapi kakak dulu nggak kaya gini te"
"Kan beda-beda mbak"
Dia mengangguk setuju.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara adzan dari masjid, kami berdua lalu mengambil wudhu dan bersiap untuk shalat.
Mbak Ningsih membangunkan suami dan anaknya untuk diajak berjamaah. Ternyata Naura pun iku bangun dengan kakaknya. Dengan rambut panjang yang berantakan dia berjalan kearahku.
Aku segera memeluknya, lalu mengajaknya berdoa
"Bismillahirrahmanirrohiim Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada *maa amaatanaa wa ilaihin..."
" nushur*" sambungnya.
"Pinterrr" jawabku sambil menciumnya
"Ayo wudhu sama kakak" perintahku.
Naura segera bangkit dan menyusul Dimas yang sedang berwudhu.
Selesai wudhu, lalu kami melaksanakan kewajiban kami sebagai umat muslim dengan diimami oleh mas Indra
...****************...
Jarak rumah mertuaku dan rumah Mbak Ningsih tidak lah jauh, hanya sekitar lima puluh meter. Jadi aku masih bisa melihat jika ada yang keluar dari pintu belakang.
Saat aku menjemur pakaian, aku lihat Maria juga sedang menjemur pakaian, tak sengaja kami saling toleh dan sama-sama membuang muka. Lucu rasanya, tapi itulah yang terjadi, kami dari awal tak saling kenal lalu jadi iparan dan bermusuhan.
Selesai dengan jemuran, aku memandikan ketiga anakku. Awalnya tadi mbak Ningsih bersikukuh ingin memandikan Adam tapi aku menolaknya, karena aku tahu saat ini beliau sedang hamil muda, aku tak ingin terjadi sesuatu pada kandungannya karena menggendong Adam yang bobotnya lumayan berat. Andai semalam aku tahu jika mbak Ningsih hamil, aku tidak akan mungkin mengizinkannya untuk menggendong Adam saat dia membawa kami kerumahnya.
"Sini main sama ayah In" mas Indra langsung antusias saat melihat Adam sudah wangi. Dengan tubuh gembulnya Adam berlari kearah mas Indra dan bermanja dengannya.
"Ayuk, sini dulu rambutnya belum dikuncir" ucapku pada Naura yang tak kelihatan.
"Nanti bun" jawabnya dari arah dalam kamar kakak Dimas
"Ehh, rambutnya berantakan loh"
"Loh dapat dari mana?" tanyaku
"Tiap ada yang hajatan kan ada yang jualan te, itu si kakak selalu beli jepit sama kuncir rambut, katanya untuk adek Ula"
Aku tersenyum bahagia. Tak kusangka begitu sayangnya Dimas pada Naura.
Naura segera duduk di depanku. Dan aku mulai menyisirinya. Dimas memilihkan karet dan jepit rambut untuk Naura.
"Yang ini bagus untuk Ula pakek te" katanya sambil menyodorkan padaku. Aku meraih karet dan jepit tersebut sambil tersenyum.
"Kakak Mikail mana?" tanyaku
"Lagi main mobilan dikamar ku te"
"Kakak mau adek cowok apa cewek?" tanyaku sambil mataku tetap fokus pada rambut Naura
"Cowok, biar ada teman maen, kalau cewek biar adek Ula saja"
"Kok biar adek Ula saja?" selidikku
"Biar cuma adek Ula yang jadi adek perempuanku" jawabnya polos.
Aku memeluk pundaknya.
"Makasih ya kak sudah sayang sama adek Ula" ucapku haru
Dimas mengangguk dan segera mengajak Naura ke kamarnya lagi bermain lagi. Terdengar suara tertawa mereka bertiga. Sedang Adam tetap asyik bercanda dengan mas Indra di teras rumah.
__ADS_1
...****************...
Aku yang juga sudah mandi kini duduk depan tivi berdua dengan mbak Ningsih.
"Maafin ibuk ya te, tante kan tahu bagaimana sifat ibuk" mbak Ningsih membuka suara
"Iya mbak, nggak papa"
Selagi kami mengobrol muncullah Laras dan Maria dari pintu belakang.
"Lagi ngomongin apa sih?" tanya mbak Laras
"Ini lagi nyeritain serial azab di tivi" jawab mbak Ningsih
Aku tersenyum dalam hati.
"Kak Dimas, ini ajak Raffa sama Nicholas main, mereka juga adik kakak loh, bukan cuma Naura dan adik-adiknya" mbak Laras berteriak
Dimas keluar dari kamarnya dengan kedua anakku.
"Sini kak" ajak Naura pada Raffa
Namanya anak kecil, mereka mana tahu apa yang terjadi dengan orang tua mereka, Raffa dan Nicholas langsung bergabung dengan sepupu-sepupunya bermain.
"Kami sudah dengar semua dari Andi" mbak Laras to the point.
Aku diam, tak bereaksi. Entah kebohongan apa yang telah dirangkai Andi untuk menutupi kebusukannya kali ini.
"Perempuan itu orang Jambi, kerja jadi SPG rok** di Linggau, mereka sudah lama berhubungan, yaaaa sekitar tiga tahunan lah" jelasnya santai seakan tidak memikirkan perasaanku.
Deg!!! tiga tahun???
Ya Rabbi, nyeri rasanya ulu hatiku. Jadi selama ini Andi begitu pintar membodohiku atau akunya yang terlalu bodoh??
"Kayanya Andi serius sama cewek itu. Buktinya hubungan mereka sampe tiga tahun" sambungnya lagi
"He eh, kalau nggak cinta nggak mungkin dong bisa bertahan selama ini" Maria menambahkan.
Aku tetap diam, aku terus berusaha menahan marah dan sedih yang beradu dalam dadaku.
"Bisa nggak kalian tidak memperkeruh suasana, kita harusnya memarahi Andi karena kelakuannya ini, bukannya malah senang" mbak Ningsih memarahi kedua adiknya.
"Loh kenapa harus sewot yuk, wong Andi sendiri kok yang ngomong sama kita, kalau tidak dia sendiri yang ngomong mana mungkin kita tahu, ya nggak te?" jawab mbak Laras yang dibalas anggukan oleh Maria.
"Siap-siap dimadu kamu, hahahha" Maria tertawa lantang.
"Jaga mulut kamu" bentak ku.
"Ih, nggak sadar diri, tahu mas Andi sudah suka lagi sama kamu, masih saja maksain diri. Punya harga diri dong" cibirnya
Aku mengelus dadaku.
"Pergilah kalian dari sini jika hanya ingin mengolok-olok Indah"
"Ngusir kami yuk?" mbak Laras seakan tak percaya menatap mbak Ningsih.
Mbak Ningsih melengos, dengan kesal mbak Laras dan Maria bangkit dan pergi.
Sepeninggal mereka aku terhenyak dan menutup wajahku. Lama aku tertunduk. Butiran air mengalir deras dari mataku tanpa bisa aku cegah. Mbak Ningsih segera berpindah ke sebelahku. Segera di elusnya pundakku untuk memberi kesabaran dan kekuatan.
"Kenapa mbak? kenapa?" hanya itu yang bisa aku ucapkan di sela isak tangisku.
__ADS_1
Mbak Ningsih menarik nafas dalam bingung harus menjawab apa.