
Setelah tahu kalau aku hamil lagi, suamiku kembali over protective padaku. Mbak Dian, pengasuh anak kami sekarang diberi tugas tambahan. Selain mengurusi kedua anak kami yang masih balita, tugas rumah pun sekarang dia yang handle.
Sebenarnya aku menolak, karena aku masih kuat kalau hanya mengurus rumah disela-sela jadwalku mengajar. Tapi suamiku bersikukuh melarang, katanya aku sudah terlalu capek jika harus mengerjakan tugas rumah, sedangkan aku juga harus mengasuh kedua anakku jika mbak Dian pulang, ditambah lagi dengan kondisiku yang tengah hamil muda.
Untunglah mbak Dian tidak keberatan saat kami memintanya untuk menghandle tugas rumahku.
...++++++++...
"Yah, aku pengen buah belimbing, tolong cariin di Ceria ya" sms ku pada suamiku siang ini saat duduk santai depan tivi dengan kedua anakku
Seperti biasa, suamiku akan lambat membalas sms ku, mungkin dia terlalu sibuk, hingga tak sempat mengecek handphone nya.
"Apalagi selain belimbing?" akhirnya suamiku membalas setelah tiga jam berlalu.
"mangga, jambu, dan sate" balasku
"Ya" jawaban singkat suamiku.
Kembali aku fokus dengan kedua anakku. Si ayuk karena sudah empat tahun lebih, sudah bisa main sendiri. Si adek karena masih lima bulan lebih jadi masih terus dengan aku.
"Ayuk mau susu?" tawarku
Naura menggeleng dan tidur di pahaku.
"Ayah belum pulang, ayuk mau ayah" ucapnya
"Sebentar lagi ayah pulang, nanti kalau ayah pulang, ayuk baru main sama ayah" jawabku
"Mau ayah, mau ayah" Naura mulai merengek dan menghentak-hentakkan kakinya.
Aku mengelus kepalanya berusaha membujuk.
"Iya nanti, nantikan ayah pulang" jelasku
"Sekarang!, sekarang!" suaranya mulai meninggi dan menangis.
Segera aku dudukkan posisinya yang tadi rebahan. Mikail tetap dalam gendonganku.
Suara tangis Naura mulai kencang, dia memang tidak bisa lama-lama jauh dari ayahnya. Jika sudah begitu, biasanya aku akan mengambil foto ayahnya dan dia akan berbicara sendiri dengan foto tersebut.
Aku melangkah ke kamar, ku raih foto suamiku yang terpasang di dinding kamar, ku bawa keluar dan kuberikan pada Naura.
"Nih ayah, ngomongnya sama foto ayah dulu yah" bujukku sambil memberikan foto ayahnya.
Segera diraihnya foto sang ayah dan mulai tersenyum.
"Cepat pulang ayah, ayuk pengen di gendong, bunda gendong adek terus, ayuk nggak" ucapnya pada foto sang ayah
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Segera aku raih hp yang tergeletak dan mengetik pesan pada suamiku
"Ayuk tantrumnya kumat Yah, sibuk nyari ayah terus" ketikku lalu mengirimnya.
Tak lama handphoneku berbunyi tanda panggilan masuk, ku lihat kalau itu suamiku yang menelpon. Segera kuraih dan memencet tombol jawab.
"Halo Yah, assalamualaikum" ucapku
"Waalaikumussalam" jawab suamiku di seberang sana
"Mana ayuk,? masih ngamuk?" tanyanya
"Ngga, lagi lihat foto ayah dan lagi ngomong sama foto ayah" jawabku sambil tertawa
"Kasih hpnya ke ayuk, ayah mau ngomong"
"Yuk, ayah nelpon, nih ayah mau ngomong sama ayuk" ucapku
Cepat Naura beranjak kearahku dan segera meraih hp yang kuberikan.
"Halo ayah" ucapnya
"Halo yuk, anak ayah lagi apa?"
"Main sama foto ayah"
"Jangan nangis ya, kan bentar lagi ayah pulang, sekarang ayuk main dulu sama bunda, sama adek, nanti ayah pulang..oh iya, jangan lupa mandi ya sayang"
"iya ayah"
__ADS_1
"Sudah ya yuk, kasih hpnya sama bunda"
"Nih bun" ucapnya sambil menyodorkan hp kearahku
"ya Yah?"
"Sudah, ayuk ga bakal nangis lagi. Kan sudah dengar suara ayahnya"
"Iya, makasih ya Yah"
"He eh, ya sudah ayah lanjutin kerjanya ya" tutup suamiku
"Iya yah, assalamualaikum" ucapku
"Waalaikumussalam"
...+++++++++++...
Kehamilan ketigaku ini akhirnya bisa aku lewati dengan baik-baik saja. Walau pada trimester pertama terasa berat, tetapi akhirnya di trimester akhir tidak terjadi apa-apa padaku.
Menurut perkiraan bidan, HPL ku itu pertengahan bulan April. Dan ini sudah akhir bulan Maret. Itu artinya Mikail akan berusia satu tahun sebentar lagi.
Dan siang ini, seperti ayuknya, kami tidak merayakan ulang tahun secara meriah. Kami hanya akan membuat acara khusus untuk kami saja. Sama halnya dengan ulang tahun pertama si adek, kami telah menyiapkan kue dan kado untuknya.
Anak tetangga kiri kanan kami ajak buat makan bersama. Sederhana saja. Yang penting bisa membuat anak-anak bahagia.
"Bunda minta sawerannya" Bilkis anak sebelah rumah menengadahkan tangannya padaku
Aku kaget dan segera terkekeh dengan keberaniannya. Memang saat itu kami menghidupkan musik, jadi anak-anak berjoget-joget.
"Bunda kami minta juga" teriak yang lain
"Iya, sabar ya, bunda ambil sebentar" jawabku
Lalu aku masuk dan keluar lagi dengan uang di tanganku. Mereka seketika langsung gaduh melihat ku keluar membawa uang. Mulai mereka berdesakan maju kearahku
"Satu-satu" ucapku
Suamiku yang saat itu sedang menggendong Mikail turut tertawa melihat aku dikerubuti anak-anak.
Lalu aku mulai membagikan uang pecahan lima ribuan pada mereka. Mereka melonjak kegirangan begitu mendapatkan uang dariku.
"Kami mana bun?" ucap para ibu-ibu yang mengantarkan anak mereka sambil tertawa-tawa.
Aku angkat tangan, dan tertawa ke arah mereka.
"Abis" jawabku
"Ah, ga adil" ucap mereka sambil tertawa.
Setelah acara ulang tahun selesai, para ibu dan anak-anak mereka aku persilahkan untuk makan. Kami makan bersama sambil bercanda dan mengobrol ringan. Setelah selesai, mereka semua pulang dan anak-anak membawa bingkisan jajan satu persatu.
Mbak Dian dan ibuku adalah orang yang capek, selesai acara mereka berdua membereskan rumah dan mencuci piring.
Karena aku sudah hamil tua, aku membantu mereka dengan menyapu rumah. Sementara suami dan kedua anakku segera masuk kamar dan membuka kado-kado yang tadi dibawa oleh anak-anak tetangga.
...+++++++++...
Aku sudah diruang persalinan, ku lihat kedua perawat yang setahun lalu membantu proses kelahiran keduaku juga ada di sana.
Aku meremas seprai ranjang menahan sakit. Berkali-kali aku meringis ketika sakit itu datang
"Sudah bukaan empat" ucap salah satu dari mereka setelah memeriksa jalan lahirku.
"Semoga tidak lama ya mbak" ucapnya
Aku hanya berdehem karena kembali sakit itu datang. Bisa aku rasakan sakit itu datang lima kali sekali. Rasa sakit yang ini melebihi sakit yang pertama dan kedua. Atau mungkin aku saja yang telah lupa sakitnya, karena bagaimanapun sakitnya itu memang luar biasa.
Ku lirik jam di dinding menunjukkan angka sebelas malam, aku masih meringis kesakitan, belum ada tanda-tanda aku mau melahirkan saat itu. Aku berdoa dalam hati. Sementara suamiku terus di sampingku sambil berusaha menguatkan ku.
Ibuku juga ada di sana, beliau berdua dengan kakakku Yana. Ibuku sangat gelisah melihatku meringis kesakitan.
"Ayuk sama adek mana?" tanyaku
Seingatku tadi di rumah sebelum berangkat ke klinik, mereka berdua sudah tidur.
"Ada mbak Dian yang ayah suruh jagain mereka" jawab suamiku
__ADS_1
Aku kembali meringis kesakitan saat kontraksi itu datang.
Jam satu malam, salah satu perawat yang sejak tadi menungguiku memeriksa bukaanku
"Bukaan tujuh" ucapnya
Aku membuang nafas prustasi, harus berapa lama lagi aku menunggu batinku. Sementara sakitnya makin menjadi-jadi.
Selang lima menit dari pemeriksaan tersebut, aku mengedan.
"Jangan ngeden mbak" ucap mereka
"Orang mau ngeden, mau gimana lagi" jawabku kesal
"Kalau belum saatnya jangan paksa ngeden ya mbak, nanti sobeknya banyak" ucap salah satu dari mereka yang tadi memeriksaku.
Kembali aku mengeden. Segera perawat yang satunya bangkit dan kembali memeriksa bukaanku
"Bukaan sembilan" ucapnya
"Cepat telpon bu Rini, mbak Indah sudah bukaan sembilan"
Rumah bidan Rini bersebelahan dengan kliniknya. Beliau memang tidak ikut menunggui pasien yang mau partus, dia akan datang ketika sudah bukaan sembilan
Dalam kesakitan aku masih bisa melihat salah satu dari mereka berbicara di handphone. Tak lama muncul bu Rini dan beliau mulai memeriksaku.
Aku sudah tidak tahan lagi, aku mulai mengedan saat itu juga.
Bu Rini dengan sabar membantu proses kelahiranku. Suamiku dan kak Yana yang saat itu di samping juga turut membantu.
"Bayinya tua di dalam perut ini mbak" kata bu Rini ketika mengangkat anak kami.
"Air ketubannya sudah keruh, dan sedikit" tambahnya.
Aku tidak menjawab apa-apa, aku masih terlalu capek dan lemah untuk menjawab pertanyaannya.
Tepat pukul 01.35 anak ketiga kami lahir dengan selamat.
Kak Yana langsung memelukku haru, ibuku yang menunggu di luar segera masuk ketika terdengar suara tangisan. Sedang suamiku menghembus nafas lega dan mengelus kepalaku penuh sayang.
...+++++++++...
"Buk, minggu ini kami mau ada acara syukuran, tolong sampekan dg Bapak, sama mbak Ningsih dan mas Indra, terus sama mbak Laras dan mas Rudi, kami mau syukuran, kami minta kehadirannya" ucap suamiku pagi ini ketika menelpon ibunya
"Syukuran apa kamu?" tanya ibu mertuaku di seberang sana
"Syukuran akikahan anak-anakku dan juga syukuran rumah kami buk" jawab suamiku.
Aku yang tak jauh darinya yang saat itu tengah memberi asi mendengar percakapan mereka karena diloudspeaker sama suamiku.
"Akikahan anak kamu yang kedua itu?" tanyanya
"Iya mas, sama yang ketiga ini juga" jawab suamiku
"Apa?? anak ketiga? jadi kamu sudah ada anak lagi?"
"Iya buk, tanggal 15 April tadi lahirnya" kata suamiku lagi
"Istri kamu itu bisanya cuma mbayen, tiap tahun bayen, abis duit kamu cuma untuk biayain dia bayen" terdengar mertuaku menggerutu
"Ibuk kok gitu?" ucap suamiku sambil menoleh tak enak hati padaku.
Aku pura-pura tak melihat dan terus menepuk-nepuk Adam yang masih ngenyot padaku
"Mbak mu masih satu semua anaknya, lah bojomu kok tiap tahun mbayen, tiap tahun mbayen, sudah mirip kucing beranak saja bojomu" masih terdengar suara mertuaku menggerutu.
"Pokoknya sampaikan saja ya buk sama keluarga, mohon kehadirannya. Assalamualaikum" ucap suamiku yang tak ingin berlama-lama mendengar ocehan ibunya.
Setelah meletakkan handphone di atas meja rias, suamiku mendekatiku yang masih berbaring. Segera di kecupnya pipi Adam dan mengelus kepalaku.
"Jangan tersinggung ya dengan ucapan ibu tadi" ucapnya.
Aku mengangguk. Bisa kubayangkan seperti apa kekesalan mertuaku.
"Kucing beranak" kata-kata itu kembali terngiang di telingaku. Aku tersenyum geli ketika menggumamkan kata itu dalam hatiku.
Sepertinya ucapan mertuaku benar adanya, aku seperti kucing beranak. Yang tiap tahun melahirkan..Hahaha
__ADS_1