
Kak Andri terus membimbingku sampai di luar. Ternyata di halaman telah banyak para tetangga yang berkumpul. Ya Alloh Andi, buat malu kamu, batinku. Aku lihat mereka menatap iba padaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
"Bunda" teriak sebuah suara
Aku segera menoleh, mbak Dian. Dia langsung berlari kearahku. Kami langsung berpelukan haru,
"Kenapa bunda tidak bilang sama mbak kalau bunda diusir" isaknya
Aku tidak menjawab, akupun ikut terisak
"Apa bunda tidak percaya sama mbak sampai beban seberat ini tidak bunda bagi?" lanjutnya
Aku masih tidak bisa menjawab, masih terus terisak.
"Bunda diusir, pak Andi bawa selingkuhannya, ya Alloh" ucapnya tersekat
"Doain Indah mbak, dan doain anak-anak juga" jawabku sambil tersedu
"Pasti bun, pasti" jawabnya masih dengan terisak
"Ayo sat" ajak kakakku
Aku segera melepas pelukanku pada mbak Indah. Menghapus air mata yang membasahi pipi, lalu memegang tangannya.
"Terima kasih untuk semuanya mbak. Maaf jika aku tidak berbagi sama mbak, aku bukan tidak percaya sama mbak, tapi aku tidak ingin deritaku menjadi tanggungan orang lain" ucapku
Mbak Dian menggeleng
"Bunda sudah seperti adik sendiri bagi mbak" jawabnya sambil airmatanya mengalir lagi
"Aku tempat umak dulu mbak, nanti aku akan bawa anak-anak main tempat mbak. Mereka kangen sama mbak" kataku
Mbak Dian mengangguk sambil airmatanya terus mengalir.
"Hati-hati bunda" ucapnya
Aku mengangguk lalu berjalan kearah motor, lalu menghidupkan motor dan menyusul kakakku yang telah lebih dulu menjalankan motornya
"Aku pamit ibu-ibu, assalamualaikum" ucapku sambil menganggukkan kepalaku kearah ibu-ibu yang berkumpul di sekitar rumah kami
Tampak mereka menjawab salamku dan menganggukkan kepala mereka juga.
Baru setelah itu aku mengegas motor menuju rumah orangtuaku.
Saat aku berbelok di tikungan aku melihat sebuah mobil hitam terparkir di pinggir jalan.
Kaca mobilnya langsung terbuka dan saat aku melirik aku mendapati pak Abraham ada di depan stir.
Aku spontan menghentikan laju motorku. Berbelok mendekati mobil itu.
"Pak Abraham?" panggilku kaget
Pak Abraham menampilkan senyumnya sembari mengangguk kearahku.
"Ngapain bapak disini?" tanyaku
"Menjaga mbak" jawabnya singkat
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum
"Ayo pak ikut saya kerumah orangtua saya" ajakku
"Saya pantau dari jauh saja mbak" jawabnya
Aku mengangkat bahuku.
"Disuruh abang?" tanyaku lagi
Beliau menganggukkan kepalanya.
"Bilang sama abang, aku baik-baik saja" kataku
Beliau mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya.
Lalu aku berpamitan dan segera melajukan motorku.
...****************...
"Ya Alloh nak" ucap ibuku sambil segera memelukku begitu aku masuk rumah
Aku membalas pelukannya dan menangis lagi.
Ibuku membawaku duduk disebelahnya. Diruang tamu ini telah ada bapakku, kak Angga dan kak Andri. Ketiga lelaki kesayanganku ini hanya terdiam melihat aku dan ibuku menangis.
"Ndri, jemput anak Indah!" kata bapakku
Kak Andri langsung berdiri.
"Nanti saja kak" cegahku cepat
"Kenapa?" ucap kak Andri
"Aku tidak ingin anak-anakku tahu kalau aku menangis" jawabku lirih
Kak Andri menghembus nafas dalam lalu duduk kembali.
"Berapa lama ini terjadi?" tanya kak Angga
"Apanya?" jawabku sambil masih terisak
"Kamu dibuat Andi begini sudah dari kapan?" bentaknya
Aku diam dan menundukkan kepalaku
"Kalau tidak karena umak yang mencegahku menyusul Andri tadi, sudah aku patah-patahkan tulangnya" ucapnya geram
"Kenapa kamu tidak bilang nak kalau kamu diusir Andi" ucap ibuku sedih
Tampak sekali luka di matanya. Aku jadi makin berdosa karena telah membuatnya menangis.
Aku memeluknya kembali
"Maafkan aku mak" lirihku
__ADS_1
"Kamu apakan Andi tadi?" tanya kak Angga emosi pada kak Andri
"Sedikit pelajaran" jawab kak Andri santai
"Ada yang patah?"
"Aku rasa tidak kak, karena aku tadi hanya memukul dan membenturkan kepalanya"
"Kenapa tidak kamu bunuh!"
"Pengennya sih tadi langsung aku tembak kak, tapi Pisat mencegah"
Tampak kak Angga menatap tajam kearahku
"Kamu masih mau dengan bajingan seperti itu?" bentaknya
Aku menggeleng cepat
"Terus kenapa kamu mencegah Andri menembaknya!"
"Sudah!! adiknya bukan disayangi malah dibentak-bentak" ucap ibuku
"Ini karena kami sangat sayang sama Pisat Mak makanya kami mau membunuh bajingan itu" jawab kak Angga lagi
Aku kembali menunduk tidak berani menatap mereka. Ayahku hanya diam, tapi aku bisa melihat kilatan kemarahan di matanya.
"Susah kak, Pisat masih mikiri anak-anaknya" jawab kak Andri
"Dia tidak ingin anak-anaknya jadi yatim dan aku masuk penjara. Padahal aku lebih rela mati dari pada melihat Andi hidup" lanjutnya dengan geram
"Kalau kamu tidak bisa menghukumnya, biar aku yang kesana. Mudah bagi aku untuk menghabisinya" jawab kak Angga sambil berdiri dan meraih kunci motor di atas meja
"Jangan kak!" cegahku cepat
Kak Angga menoleh padaku
"Bajingan itu harus mati Sat, jangan sebut kami kakak kamu kalau kami tidak bisa membalas perbuatannya sama kamu!" jawab kakakku dingin
"Jika kalian memang sayang dengan aku. Aku mohon jangan bunuh Andi. Biarlah Andi memakan karma perbuatannya sendiri. Kalau bicara sakit hati, aku jauh lebih sakit hati. Tapi aku harus bertahan demi ketiga anakku" jawabku sambil terisak
Dengan kesal kak Angga kembali duduk
"Urus surat cerai kamu!" ucapnya
"Biar dia yang mengurusnya kak. Aku tidak mau menghabiskan uangku" jawabku
"Pakai uang bapak" jawab Bapakku
Aku menggeleng
"Biarlah dia yang mengeluarkan uang Pak, kita jangan mengeluarkan sepeserpun" ucapku
"Terus, alasan kamu memilih ngontrak ketimbang kembali kerumah, kenapa?" tanya kak Angga lagi
Aku kembali menunduk.
"Aku tidak ingin membuat bapak dan umak sedih, aku tidak ingin menambah beban pikiran mereka. Aku tidak mau bapak sama umak sakit gara-gara masalah aku" jawabku pelan
"Ambil anak-anak kamu, tinggalkan kontrakan itu. Pulang kerumah" sambung bapakku
Tampak matanya berembun. Aku tidak sanggup melihat kesedihan di matanya.
Aku segera bangkit dan memeluk bapakku
"Maafkan aku pak, maafkan aku" ucapku sambil terisak.
Tampak ibuku menyeka airmatanya.
"Pulang kerumah nak ya, ajak cucu bapak tinggal di sini" ucapnya sambil membelai kepalaku
Aku mengangguk dan menghapus airmataku.
"Biar aku yang jemput mereka" ucap kak Andri
"Aku saja kak, aku belum mandi soalnya" jawabku
Kak Andri mengangguk, aku segera mengambil kunci motor lalu bergegas meninggalkan rumah orang tuaku.
...****************...
"Bunda kemana tadi?" tanya Adam begitu melihat aku masuk
Saat itu mereka bertiga sedang duduk di teras bermain dengan anak sesama kontrakan
"Maaf ya dek, tadi bunda dari rumah nenek" jawabku
"Kok tidak ngajak kami" protes kakak
"Ayok sekarang mandi, kita kerumah nenek" jawabku
Serentak ketiga anakku berdiri dan berebut masuk kamar mandi
"Terima kasih mbak karena sudah menjaga anak-anakku" ucapku pada mbak Mila yang keluar dari dalam kontrakannya demi mendengar suaraku
"Sama-sama mbak Indah" jawabnya
Lalu aku masuk kedalam, merapikan tempat tidur kami. Sedangkan anak-anakku masih berteriak-teriak di dalam kamar mandi.
Tak lama akhirnya mereka selesai mandi. Aku segera memakaikan minyak telon dan memakaikan baju mereka.
Setelah anak-anakku rapih, giliran aku juga yang mandi. Tak butuh waktu lama kami segera keluar dari kontrakan, aku segera mengunci pintunya, dan mengajak ketiga anakku naik motor.
Kembali aku melihat mobil yang sama seperti tadi di dekat rumah kami. Aku menghampiri mobil itu
Lagi, kacanya dibuka setelah aku mendekat
"Aku baik-baik saja pak, jadi bapak tidak usah mengikuti aku terus" ucapku
"Saya hanya menjalankan tugas mbak"
"Kalian sehat anak-anak?" tanya pak Abraham ramah pada ketiga anakku
"Sehat oom" jawab Naura
__ADS_1
Pak Abraham tersenyum ramah
"Aku mau kerumah orangtuaku pak, bapakku ingin ketemu anak-anak" ucapku
Pak Abraham menganggukkan kepalanya.
"Bapak bisa pulang" lanjutku
"Ehm, tapi bapak tinggal dimana?" tanyaku
"Hotel, satu kamar sudah disiapkan oleh bos untuk aku tinggal selama disini"
Aku ber O panjang mendengar jawabannya.
"Ya sudah pak, aku pamit, assalamualaikum" pamitku
Pak Abraham tampak menjawab salamku lalu aku mengegas motor menjauh, berjalan menuju jalan raya kerumah orang tuaku.
...****************...
"Nek nooooo" teriak ketiga anakku saat motor kami berhenti
Berebutan mereka turun, dengan sigap kak Andri mengambil anak-anakku dan menurunkan mereka.
Ketiganya berhamburan kepelukan umak bapakku. Kulihat airmata mengalir di wajah umakku saat dia menciumi ketiga anakku.
Kak Angga yang tak lama kami sampai akhirnya pulang kerumahnya. Masing-masing anakku diberinya uang biru untuk jajan.
Setelah anak-anakku dengan orangtuaku, aku masuk kedapur, memulai rutinitasku seperti tujuh tahun yang lalu.
Aku harus kuat di depan orang tuaku , aku tidak boleh terlihat rapuh di depan mereka. Jika aku rapuh, hati mereka pasti lebih rapuh lagi. Aku tidak ingin melihat airmata kedua orang tuaku mengalir karena sedih melihat nasibku
Selesai memasak, aku masuk kembali kekamarku dulu. Kamar yang sudah lama aku tinggalkan. Suasana kamarku tidak berubah. Foto-fotoku masih terpajang di tembok, lemari pakaianku masih di tempat yang sama, tempat tidurku masih rapih, poster artis idolaku masih menempel, dan boneka beruang besarpun masih terletak di sebelah bantal, semua masih sama.
Aku tersenyum bahagia melihat ini semua. Aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur dan memeluk guling, yang dulu menjadi teman tidurku.
Rasanya hatiku lebih nyaman, tentram bisa kembali tidur di kamarku. Aku kaget ketika hp yang ada dalam kantong gamisku berdering.
Nomor baru
"Hallo" jawabku
"Assalamualaikum Indah"
Deg!! Abang? batinku
"Waalaikumussalam. Ini abang?" jawabku ragu
"Iya"
"Hari ini, hari yang berat buat kamu" ucap Abang
Aku menghembus nafas dalam
"Insha Alloh aku bisa melaluinya bang" jawabku
"Abang yakin kamu bisa"
Kami sama-sama diam. Aku bingung aku harus ngomong apa, karena saat ini degup jantungku berdetak sangat kencang
"Indah..."
"Hemmmmm"
"Have a nice day" ucap abang
"Have a nice day too sir" jawabku
"Abang, not sir"
Aku terkekeh
"Iya abang" jawabku
Lalu panggilan berakhir. Aku tersenyum menatap hp yang telah mati.
Begitupun nun jauh disana, Ariadi tampak tersenyum simpul sambil melihat hpnya.
"What wrong Ozkan, kenapa kamu jadi gugup saat bicara dengan Indah..Come on, di Turki kamu idola, banyak yang mengejarmu, kenapa hanya untuk berbicara sama Indah saja kamu tidak bisa" rutuknya sendiri.
Ariadi mengusap kasar wajahnya.
"Selfi ah" ucapnya bingung
Setelah itu dia mengirimkan hasil jepretannya.
Aku yang masih senyum-senyum memikirkan abang jadi kaget ketika hp ditanganku berbunyi tanda pesan masuk.
Pesan multimedia dari nomor baru
"Ya Alloh" ucapku sambil menepuk jidat, saking deg degannya sampai nomor abang lupa aku save.
Aku segera membuka pesan multimedia tersebut dan langsung tercengang.
Aku segera menutup wajahku dengan bantal demi merasakan wajahku yang tiba-tiba panas.
"I hope you like this"
Satu sms masuk. Degup jantungku kian tak karuan
"Like this so much, this a lovely picture" balasku
Terkirim
"Ya Alloh" aku kaget sendiri dengan balasanku.
Aku menelan ludah dan meletakkan hpku dengan cepat karena malu yang tiba-tiba menjalari hati dan wajahku.
Aku merutuki kecerobohanku, kenapa aku bisa membalas seperti itu. Dasar bodoh!! rutukku
Ariadi yang membaca balasan Indah tersenyum simpul. Dan mengepalkan tangannya
__ADS_1
"Yes, she like this" ucapnya bahagia