
"Saya pulang sekarang ya pak, kebetulan kontrakan saya tidak jauh dari sini" ucapku pada pak Andreas yang masih tersenyum karena Afdal tadi menggodaku
"Kontrakan?" pak Tobias langsung menoleh heran
Aku gelagapan, Andi juga kaget.
"Ehm, maksud saya tempat saya mengajar pak" ralatku gugup
Afdal langsung menatap sendu pada Indah, tampak raut wajahnya berubah mendung. Dalam hati dia merutuki ketidakpunyaaan hati nurani Andi.
"Kami antar" lanjut pak Tobias
"Tidak usah pak, saya bisa berjalan kaki, tidak jauh kok" cegahku cepat
"Come on pak Andi, anda ini bagaimana. Dari tadi tidak sepatah katapun anda berbicara pada istri anda" ucap pak Miko
Wajah Andi langsung berubah pucat. Dengan terpaksa dia tersenyum ramah pada Indah.
"Saya cuma kaget saja pak ketika bapak-bapak meminta Indah untuk dibawa kekantor" elaknya
Pak Abraham tersenyum menyeringai. Begitu pula dengan Afdal, dia langsung membuang muka.
"Asal pak Andi tahu saja. Kami kesini itu dengan alasan yang sangat kuat" pak Jonathan berbicara serius
Wajah Andi kian tegang.
"Kami tidak ingin menguliti anda di depan istri anda, kami tidak ingin istri anda shock dengan apa yang telah anda lakukan" tambahnya
Andi makin membisu, dia tidak dapat berkata-kata, wajahnya kian pucat. Aku yang mendengar ucapan pak Jonathan jadi penasaran
"Maksudnya apa ya pak?" tanyaku heran
"Belum saatnya mbak tahu, biarlah ini jadi shock terapi buat suami mbak" jawab pak Andreas dingin
Semuanya diam, aku dapat melihat jelas ketakutan dimata Andi. Sejujurnya aku bahagia melihatnya ketakutan saat ini. Ingin sekali rasanya aku tertawa mencemoohnya.
"Oh, baiklah kalau begitu pak, saya pamit. Terima kasih atas kebaikannya, dan sampaikan salam hormat saya pada Bos besar bapak" ucapku lirih
Pak Jonathan menganggukkan kepalanya, dan yang lain tersenyum.
"Mari pak Tobias" ucapku sambil menganggukkan kepalaku.
"Aku antar mbak" ucap Afdal cepat sambil berdiri
"Tidak usah, mbak bisa jalan" tolakku
Disaat seperti itu hp pak Abraham berdering.
"Tunggu mbak Indah" cegahnya sambil mengangkat panggilan
"Ya bos?"
"Antarkan Indah, jangan suruh dia berjalan. Jika kalian tidak ada yang bisa mengantarkannya, saya pastikan kalian tidak ada satupun yang bisa pulang kerumah, kuburan tempat kalian!" bentak suara di seberang
Wajah pak Abraham tiba-tiba menegang.
"Siap bos. Maafkan kami" jawabnya cepat
Panggilan terputus.
Pak Andreas dan yang lain memandang serius kearah pak Abraham
"Bos marah" ucapnya mengarah ke pak Jonathan
Pak Jonathan dan kedua temannya kaget.
"Sini kunci mobil, saya yang akan mengantarkan mbak Indah. Saya tidak mau mati" jawabnya cepat
Pak Jonathan segera memberikan kunci mobil yang langsung disambar pak Abraham
"Ayo mbak" ajaknya padaku
Aku yang dari tadi bengong hanya diam saja ketika pak Abraham berdiri di belakangku
"Aku ikut" jawab Afdal
"Ayolah mbak Indah, jangan buat kami kena marah. Habis kami nanti oleh pak Bos jika kami tidak menjalankan perintahnya" lanjut pak Abraham cemas
Aku mengangguk dan berjalan. Apa segitunya pengaruh abang sampai seluruh bapak-bapak ini sangat takut kepadanya? batinku.
"Anda bisa lihat sendirikan pak Andi, pak Abraham saja yang seorang bodyguard, yang badannya sebesar tronton saja ciut nyalinya ketika pak Ariadi memerintah" ucap pak Andreas
Andi makin tertunduk.
"Anda salah pak Andi jika membuang berlian hanya demi batu kerikil" sambungnya
__ADS_1
"Berlian itu mau diletakkan dimana saja tetap berharga. Anda tidak bisa menghargai istri anda, jadi jangan salahkan jika bos besar kami yang akan mengambil alih tugas anda menjadi pelindung buat mbak Indah" lanjutnya lagi
Wajah Andi memerah. Malu sekali dia mendapat tamparan ucapan seperti itu tadi orang yang baru dikenalnya.
Dalam hati dia semakin memaki-maki Indah. "Awas kamu Indah" batinnya
"Perempuan itu dilihat bukan dari wajahnya saja pak Andi, tapi dari kepribadian, akhlaknya serta attitudenya"
"Wanita itu cantik karena dua hal. Yang pertama cantik sudah dari sananya, dan yang kedua cantik karena dananya" ucap Pak Miko yang disambut dengan terkekeh dari yang lain.
"Lelaki sekarang, malah lebih memilih membuat perempuan lain cantik ketimbang istrinya" sela pak Tobias
Wajah Andi terkesiap
...****************...
"Kami antar mbak pulang saja" ucap pak Abraham ketika mobil telah berjalan
"Motor mbak biar nanti kami yang ambil" lanjutnya lagi
Aku hanya menganggukkan kepala, kali ini aku menurut, aku tidak ingin beliau kena marah abang lagi
Mobil yang dikendarai sendiri dengan pak Abraham berbelok kelorong kontrakanku
"Kok bapak tahu?" tanyaku bingung
"Sudah saya bilang, saya ditugaskan untuk menjaga mbak, jadi saya tahu mbak ada dimana" jawabnya
Aku diam.
Mobil berhenti tepat di dekat kontrakan kami. Aku segera turun demi melihat anak bungsuku menangis duduk di teras
Pak Abraham dan Afdal ikut turun.
"Bundaaaa" teriak Adam berlari menyongsongku
Aku segera menggendong dan menciuminya berkali-kali.
"Maafin bunda nak, maafin bunda" ucapku tertahan menahan tangisku
Saat aku masuk aku melihat kedua anakku tertidur di lantai. Piring bekas mereka makan berserakan, begitu juga dengan bekas nasi dan sayur.
"Mari pak masuk, maaf berantakan" ucapku mempersilahkan mereka berdua untuk masuk
"Bunda kemana, adek takut" ucap Adam sambil tersedu
Pak Abraham dan Afdal masuk, dan mereka duduk dilantai tanpa beralaskan tikar karena tikar kami pakai untuk alas kami tidur
"Maaf ya pak, sekali bapak bertamu ketempat saya malah seperti ini keadaannya" ucapku tak enak
Afdal menatap berkeliling keseluruh kontrakan, begitu juga dengan pak Abraham
Aku meletakkan Adam dan masuk kedalam, mengambilkan air putih untuk mereka berdua
"Seadanya pak" ucapku sambil meletakkan gelas dan teko
"Bundaaa" terdengar suara parau Naura
Aku segera mendekat kearahnya, dia menggeliat sebentar dan langsung duduk
"Salim sama om" ucapku padanya
Naura berdiri lalu dengan malu-malu dia mengulurkan tangan kearah pak Abraham dan Afdal
"Oom ini temannya ayahnya adek" ujar Afdal berusaha mengajak Naura akrab
"Teman ayah?" tanya Naura antusias
Afdal mengangguk dan tersenyum karena umpannya cepat dimakan oleh Naura
"Mana ayah?" tanyanya
Afdal diam, begitu juga dengan pak Abraham
"Ayah kerja sayang, ayah sibuk" jawabku hati-hati
"Tapi om ini bisa kesini, kok ayah tidak?"
"Kan tadi sudah bunda bilang ayah sibuk sayang"
Naura diam, tampak mendung dimatanya. Aku segera membelai rambutnya
"Om, kalau om ketemu ayah, tolong sampaikan sama ayah, jemput kami. Ini bukan rumah kami, kami tidak mau di sini" ucapnya terbata
Afdal menatap kosong pada wajah Naura
__ADS_1
"Ayah.." Mikail bergumam
Aku segera bangkit menghampirinya dan sudah duduk sambil menatap dengan mata ngantuk
Aku segera menggendongnya dan membawanya duduk bersama yang lain
"Ayah mana bun?" tanyanya
Aku menarik nafas dalam. Aku menatap bingung pada ketiga anakku.
"Bunda bohong, katanya kita pulang kerumah kita, tapi kita masih disini" lanjutnya
"Nanti sayangnya, nanti kita pasti pulang. Tapi untuk sementara kita disini dulu, inikan juga rumah kita" bujukku
"Bukan, mau ayah, mau ayah" teriak Naura
Aku segera memeluknya. Afdal jadi tidak enak hati.
"Maaf mbak" sesalnya
"Tidak apa-apa. Naura memang sangat dekat dengan ayahnya" jawabku
"Saya telpon saja mbak ya, menyuruhnya kesini" sambungnya
"Jangan!" jawabku cepat
"Tapi Naura sudah mengamuk" jawabnya khawatir
"Mbak bisa menenangkannya" jawabku lagi
"Ayuk mau ayah bun, mana ayah. Ayaaahhh jemput kamiiii" teriaknya sambil menangis
Aku masih terus memeluknya untuk membuatnya tenang.
Adam dan Mikail ikut menangis juga. Dengan frustasi aku memeluk ketiga anakku. Airmataku jatuh tak tertahankan.
"Pulang, mau ayah" ucap Naura lagi
Aku tak bisa menjawab, airmataku telah deras mengalir.
"Maafkan nak, maafkan bunda" jawabku dengan suara tercekat
Sekitar lima menit akhirnya ketiga anakku diam. Dengan pedih kupandangi wajah mereka.
"Ini rumah kita sekarang ya Nak. Nanti, suatu hari nanti kita akan punya rumah yang jauh lebih bagus dari rumah kita yang dulu" ucapku pada mereka bertiga.
"Janji bunda?" tanya Mikail polos
Aku mengangguk pasti.
"Nanti, biar oom-oom ini yang menyampaikan salam kalian sama ayah, ya?" bujukku lagi
"Bilang sama ayah, jemput kami ya oom, kami rindu" ucap Naura lirih
Afdal mengangguk. Setelahe melihat jawaban Afdal, ketiga anakku bangkit lalu berlari keluar bermain dengan teman-temannya.
Aku menarik nafas dalam dan tersenyum getir di depan Afdal dan pak Abraham
"Apa mereka seperti itu terus mbak?" tanya Afdal
Aku mengangguk
"Terlebih Naura" jawabku sendu
"Kurang ajar pak Andi" geramnya
Aku tersenyum sambil menggeleng
"Jodoh kami telah habis mas Afdal, mungkin ini sudah suratan takdir saya dan anak-anak" jawabku
"Tidak kusangka dia berbuat begini sama mbak" sambungnya lagi
"Apa perlu dia aku beri pelajaran lagi?" ucap pak Abraham geram
"Jangan pak. Nanti beliau makin membenci saya" jawabku
"Kami pamit kalau begitu mbak, mbak yang tabah ya. Saya yakin Alloh tidak akan menguji umatNya melebihi batas kemampuan umat tersebut" ucap Afdal sambil berdiri
"Insha Alloh" jawabku
"Kami pamit mbak" lanjutnya lagi sambil berjalan keluar
"Oom, kalau kesini lagi ajak ayah ya" teriak Naura
"Iya" jawab Afdal sambil tersenyum
__ADS_1
Setelah mobil mereka menjauh aku kembali masuk kedalam dan membereskan rumah yang berantakan