
Esok harinya ketika aku bersiap mau kekantor, langkahku langsung dihentikan ibu mertua dan abang Ozkan
"Tidak ada kerja-kerja lagi, abang akan menghadap ummi, meminta cuti untuk kamu, bila perlu cuti selamanya"
Mulutku tentu saja langsung ternganga.
"Untuk apa anne di sini, jika kamu kerja, anne di sini mau menjaga kamu"
Aku menarik nafas dalam, mataku sudah terasa panas. Ini tidak adil buatku, aku baik-baik saja, toh jika aku kelelahan atau stress aku akan tahu, kan ini tubuh aku, aku yang bisa merasakannya
Ozkan yang melihat jika istrinya sudah akan menangis segera mendekap dan mengelus kepalanya dengan sayang
"Abang cuma tidak ingin terjadi apa-apa sama calon anak kita"
Aku diam, tapi tak urung, air mataku mengalir.
"Tapi aku baik-baik saja, jadi tolong izinkan aku kerja" rengek ku
Ozkan menarik nafas panjang, aku yang melihatnya segera mendorong tubuhnya dan masuk kedalam kamar, menutup pintu kamar dan menguncinya
Nyonya Aylin yang melihat segera mengejar langkah Indah dan memutar-mutar gerendel pintu memohon agar Indah mau membukakan pintu
Ozkan terlihat panik, segera dia berdiri di depan pintu dan memanggil-manggil istrinya.
Aku diam saja mendengar ibu mertua dan suamiku memanggilku. Aku kembali masuk kedalam selimut, memiringkan tubuhku dan menekuk kakiku.
Aku lalu terisak. Aku menangis bukan karena dilarang bekerja, tapi aku menangis karena aku tidak mau mengecewakan ummi. Ummi sangat percaya padaku, pada kemampuanku, masa cuma karena aku hamil, aku lantas berhenti bekerja.
Lagian ini juga baru hamil muda, dan dokter juga bilang aku baik-baik saja asal aku tidak kecapekan dan stress, toh selama ini aku kerjanya juga enjoy, tidak ada beban yang terlalu berat sehingga aku harus stress??
"Ummi..." lirihku pilu
Handphone dalam saku blazer ku berdering, ku rogoh
Mine❤️
Ku reject, lalu handphone tersebut ku letakkan di dekat kepalaku. Tak lama kembali berdering
Beloved Mother
Segera aku angkat karena anne yang menelpon
"Sayang buka pintunya, jangan buat kami khawatir"
Aku diam tak menjawab
"Askim..?"
"Aku mau buka tapi anne dan abang ijinkan aku kerja"
Diam tak ada jawaban, aku langsung meletakkan handphone dan kembali menarik selimut
Kembali handphoneku berdering, dengan menarik nafas dalam aku berdiri dan berjalan kearah pintu, membukakan pintu.
Ozkan yang berdiri di depan pintu dengan handphone menempel di telinganya, demi melihat wajah istrinya langsung menarik nafas lega dan segera mendekap tubuh istrinya
Aku cemberut, tidak peduli pada abang yang terus mendekap ku. Nyonya Aylin pun turut menarik nafas lega melihat Indah keluar dari dalam kamar
"Anne ikut aku kekantor saja kalau khawatir, jadi anne bisa terus menjaga aku" ucapku
Nyonya Aylin langsung bengong, Ozkan mengusap kasar wajahnya. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Ozkan dan anne menuruti kemauan Indah.
Jadilah dengan gelisah Ozkan mengendarai mobil mewahnya, diikuti dengan tiga bodyguard dengan mobil lain yang mengiring di belakangnya
...****************...
Nyonya Aylin duduk di sofa dengan bosan, berkali-kali dia menoleh pada Indah yang masih saja fokus dengan pekerjaannya.
Berkali-kali juga dia melihat menantunya itu mengangkat telpon dan berbicara dengan bahasa Arab yang fasih dan berkali-kali pula dia melihat karyawan hilir mudik menghadapnya.
"Anne jika capek bisa berkeliling hotel ini, nanti saya minta karyawan nemenin anne"
__ADS_1
Nyonya Aylin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Lalu aku menelpon seorang karyawan untuk nemenin anne jalan-jalan
Di tempat lain
Di kantor pusat Al Mursalat Ibrahim Holding, ummi Afhsa sedang mengobrol serius dengan Ozkan
"Jadi karena itulah saya minta pada ummi, untuk kembali memberikan cuti pada Indah dengan batas waktu yang tak terhingga" ucap Ozkan setelah menceritakan kehamilan istrinya pada ummi Afsha
Ummi Afsha menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menatap tajam pada Ozkan
"Hal ini sudah kau pertimbangkan dengan Indah?"
Ozkan menggeleng
"Tadi pagi saja harus ada drama, ummi"
"Jika begitu biarkan Indah terus bekerja, saya tidak akan memaksanya untuk terus bekerja jika memang dia sendiri yang meminta berhenti pada saya, tapi jika saya yang memintanya berhenti, itu sama saja dengan saya memecatnya. Sedangkan kau tahu sendiri Ozkan, bagaimana sayangnya saya sama Indah"
"Kau bisa sewa pelayan untuk menjaga istrimu selama dia di kantor, dan akan saya pastikan jika pekerjaannya tidak akan menumpuk mulai hari ini. Saya akan kembali menyuruh cucu saya untuk membantu Indah"
Ozkan menarik nafas dalam, setelah cukup lama diam dan mempertimbangkan perkataan ummi Afsha akhirnya dia menyetujui usul ummi Afsha dengan terus membiarkan Indah bekerja
"Ada anne saya yang menjaganya"
Ummi tersenyum
"Baik juga anne kamu"
Ozkan terkekeh
"Hamil itu bukan untuk malas-malasan, justru dengan Indah tetap produktif, janin di dalam perutnya akan ikut produktif pula, dia akan mendengar dan merasakan kegiatan yang dilakukan ibunya"
Ozkan mengangguk dan setelah menyalami ummi dia pergi ke kantornya
...****************...
Dan ketika di kantor pun, anne yang jadi pelayanku, beliau yang mengambilkan makananku, menyuapiku bahkan mendorong kursi roda ketika jam istirahat, mengajakku jalan-jalan
Tapi terkadang bandel ku kumat, ketika abang pergi, maka aku akan turun dari kursi roda dan berjalan seperti biasa
"Anne, aku hamil baru dua belas minggu, tapi kok sudah besar sekali ya perut ku?"
"Lah, periksa kemarin apa kata dokter?"
"Normal"
"Sudah usg?"
"Belum"
"Nanti pulang dari kantor, kita periksa ya"
Aku mengangguk.
Maka ketika sore, saat jam pulang kantor, abang menjemput kami. Dengan sayang, abang mendorong kursi rodaku, dan ketika sampai di dekat mobil, maka anne akan membantuku berdiri lalu aku masuk kedalam mobil
"Kia kerumah sakit dulu, bulan ini kalian belum periksa kan?" ucap anne ketika kami di perjalanan pulang
Abang Ozkan tak membantah, dia melajukan mobil menuju rumah sakit tempat biasa kami kontrol
Begitu masuk kedalam ruangan dokter, aku segera berbaring dan Anne duduk di dekat kakiku, sedangkan abang di sebelahku ketika dokter mulai menyemprotkan krim keatas perutku
"Ada keluhan?" tanya dokter sambil meratakan krim itu
"Tidak ada dokter, cuma kok perut saya besar sekali ya, padahal baru dua belas minggu, terus detak jantung saya akhir-akhir ini rasanya cepat sekali"
"Kita cek ya" ucap dokter sambil memutar-mutar alat di atas perutku
"Nyonya dan tuan Ozkan bisa melihat di layar komputer itu ya"
__ADS_1
Mata nyonya Aylin langsung mendongak menatap layar komputer begitu juga Ozkan, aku pun demikian
"Nah, ini sudah mulai kelihatan"
Mata Ozkan langsung tak berkedip
"Ini tangannya ni, nahh lihat kan?"
Ozkan langsung erat menggenggam tangan Indah, bibirnya mengembangkan senyuman.
"Tuhh lihat tuan Ozkan, dia mulai menggerakkan kakinya, ini detak jantungnya juga mulai berdetak, itulah kenapa istri anda sekarang sering merasakan degup jantungnya jadi cepat" dokter terus memutar-mutar alat di atas perutku
"Sebentar-sebentar..." ucap dokter kembali mengulang memutar-mutar alat di atas perut Indah
"Kenapa dokter?" suara Ozkan berubah panik
Doker diam tidak menjawab, aku segera menoleh kearah abang yang wajahnya tiba-tiba tegang
Nyonya Aylin yang semula duduk, langsung berdiri dan segera menyentuh betis menantunya
Dokter mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu pemeriksaan selesai dan dia segera mengelap perut Indah dan mengambil hasil print out dari hasil usg
Aku dibantu abang duduk, anne langsung duduk di depan dokter
Aku masih duduk di atas ranjang pemeriksaan dan kulihat wajah abang masih tegang.
"Tidak terjadi apa-apakan dokter?" wajah nyonya Aylin juga terlihat tegang
Dokter menyerahkan kertas hasil print out pada anne sambil tersenyum
"Dari hasil usg ini terlihat jika janin yang ada di perut menantu nyonya ada dua"
Mataku langsung terbelalak, dan abang refleks memelukku erat dan anne refleks berdiri dan melompat kegirangan
"Twins?, jadi anak saya kembar dokter?" wajah Ozkan berubah sumringah
Dokter menganggukkan kepalanya
Kembali abang Ozkan memelukku erat dan mencium keningku dengan dalam
Anne pun tak mau kalah, dia segera merangkulku
...****************...
Di Merasi
"Aku mau ikut ayah, aku mau liburan di rumah embah, boleh kan wak?" Naura berkata lirih pada kak Andri, malam ini
Pak Ahmad dan bu Siti hanya diam, tapi berbeda dengan kak Andri, wajahnya langsung menegang. Rahangnya mengeras
"Kan libur ini wak, sepuluh hari saja, nanti begitu mau masuk sekolah, aku pulang tempat nenek"
Kak Andri masih diam. Mikail dan Adam terus saja murojaah tanpa terpengaruh dengan ketegangan di ruang tamu.
"Buat apa kamu kesana?" akhirnya kak Andri bersuara
"Liburan"
"Di sini kan bisa, tanpa harus kesana. Nanti kamu mati kelaparan di sana"
Wajah Naura langsung berubah cemberut
"Kan ada ayah wak, nggak mungkinlah aku kelaparan"
"Mbah mu itu setan, bukan manusia"
Naura diam dan menekuk wajahnya mendengar suara uwaknya yang sudah berubah geram
"Boleh kan wak?"
Kak Andri masih diam, dia menarik nafas dalam dan menyulut sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam
__ADS_1