
"Ya Rabbi kenapa kalian malah bertengkar begini?" ucap Dokter Malkan heran
Naura melototkan matanya kearah Adam, dan Adam segera berdiri keluar
"Adek tunggu!" kejar Naura
Air mata Andi kembali mengalir
Sampai di luar ruangan, Adam langsung melepas baju khusus ruang ICU dan meletakkannya di atas kursi lalu dia terus melangkah tak memperdulikan teriakan Naura
"Adek!!!"
Naura yang melihat adiknya terus berjalan bergegas melepas baju ruang ICU dan sama seperti Adam, dia meletakkannya sembarangan di kursi, berlari mengejar Adam yang sudah menuruni tangga
"Adek tunggu!!"
Adam tak menggubris panggilan Naura dia makin mempercepat langkahnya dan segera berlari kearah mobilnya, masuk dan langsung pergi meninggalkan rumah sakit
Naura hanya menatap bengong melihat adiknya pergi meninggalkannya
"Adam kenapa sih?" gumamnya heran
Segera dia mendial nomor Adam tapi Adam yang sedang mengemudi hanya melihat sekilas kearah handphonenya lalu kembali meletakkan benda tersebut
Naura menghentakkan kakinya karena kesal, dan akhirnya memutar tubuhnya kembali masuk kedalam rumah sakit
Sepanjang jalan menuju ruang ICU, Naura berfikir keras tentang perubahan sikap Adam
Perasaan tadi di rumah semuanya baik-baik saja, kenapa ketika tiba di rumah sakit dia berubah, dan dia juga menyesali mengapa tadi dia membentak Adam
Handphone Naura berdering, panggilan dari bidan Maliana
"Ya buk?"
"Maaf sebelumnya mbak Naura, malam ini ibu tidak bisa piket, dan ibu sudah konfirmasi sama dua bidan yang lain untuk menggantikan, dan sayangnya mereka juga nggak bisa gantikan ibu, kira-kira jika mbak Naura ibu lepas mandiri berani belum?"
Naura berfikir sejenak.
"In Syaa Alloh siap bu, toh selama ini ibu dan dua bidan yang lain telah banyak mengajari dan membimbing Naura"
"Nah itu dia mbak, oleh karena itulah makanya kita bertiga tuh percaya kalo mbak bisa dilepas mandiri" terdengar tawa bidan Maliana di seberang
"Jadi nggak papakan ibu nggak piket malam ini?"
"Iya nggak papa bu, nantikan ada suster juga buat bantu saya"
"Benar itu mbak, jika ada kendala kasih tahu kami ya mbak"
"Siap bu"
Lalu Naura tersenyum menatap hpnya
"Mungkin ini adalah waktunya aku harus berani menangani pasienku sendiri" gumamnya
Segera Naura masuk kembali kedalam ruang ICU, menatap kembali wajah ayahnya yang seperti mencari-cari sesuatu
"Adek ada di luar, kata adek dia minta maaf" bohong Naura sambil tersenyum
Jari tangan Andi bergerak
"Iya, nanti ayuk akan bujuk adek untuk kesini lagi, adek nggak tahan bau ruangan ini katanya" sambung Naura sambil masih dengan senyum mengembang di bibirnya
__ADS_1
"Oh iya ayah, Ayuk harus pulang, di klinik tidak ada bidan senior yang piket, jadi semua tugas diserahkan pada ayuk, jadi ayuk minta maaf jika ayuk harus pulang sekarang"
"Doain ayuk ya Yah biar nanti jika ada pasien yang mau melahirkan lancar dan sukses, biar bidan senior makin yakin melepas ayuk secara mandiri"
Jari Andi bergerak dan matanya menatap sayu pada Naura
"Besok ayuk pasti kesini lagi" lanjut Naura sambil mencium kening ayahnya
Setelah mencium punggung tangan ayahnya, Naura berpamitan pada dokter Malkan
Mata Andi terus menatap kepergian anak jangkungnya dengan perasaan nelangsa. Kembali bulir bening mengalir di sudut matanya
...****************...
Naura sudah celingak celinguk di parkiran menunggu Adam yang tak kunjung datang
Kembali dengan kesal Naura mendial nomornya bertepatan dengan mobil Adam masuk ke area rumah sakit
Dengan wajah cemberut Naura membuka pintu mobil dan masuk
"Ke klinik" ucapnya ketus
Adam tak menjawab melainkan segera menjalankan mobil dengan pelan.
Suasana di dalam mobil jadi sepi tanpa ada satupun dari mereka yang bersuara
Untuk membunuh sepi, Adam menepikan mobil sebentar, membuka aplikasi youtube dan mencari lagu shalawatan
Jadilah sepanjang jalan Adam bershalawat mengikuti alunan musik yang berbunyi
Naura pun ikut-ikutan bersenandung lirih, yang membuat Adam tersenyum dalam hati
"Memang benar-benar anak bunda ayuk tuh" gumamnya sambil terkekeh
"Sama-sama keras kepala, kalau marah nggak mau memaafkan, hufff..."
Melihat Adam tidak turun, petugas parkir akhirnya mengarahkan mobil Adam untuk keluar lagi
Sampai di rumah Adam segera masuk kamar merebahkan tubuhnya di kasur
Kembali pikirannya menerawang pada bundanya, pada tangis bundanya yang membeberkan baju bekas yang tak karuan rupanya, pada curahan hati bundanya yang sakit hati dan marah, pada ayahnya yang hanya bisa menggerakkan jari dan menggerakkan mata
Adam duduk kembali, menarik nafas panjang dan turun kebawah, masuk kedalam mushala, dan merujoah untuk melupakan kegalauannya.
Sementara Naura yang telah tiba di klinik langsung mendekati bagian administrasi menanyakan adakah hari ini pasien melahirkan
Alangkah terkejutnya dia ternyata ada tiga pasien. Dengan terburu Naura langsung menemui pasien pertama yang ruangannya ada di lantai bawah
Pada mereka Naura meminta maaf dan segera memeriksa pembukaan.
"Semoga tidak meleset, perkiraannya malam ini"
Pasien dan keluarga tersenyum mendengar jawaban Naura
Dan Naura segera meminta perawat untuk stay di sana, jangan pergi dari ruangan tersebut
Lalu Naura naik kelantai atas, ke ruang khusus persalinan. Di sana ada dua pasien yang tampak mengerang kesakitan
Memang di sana ada bidan yang menunggui, tapi sama seperti Naura belum profesional
"Sudah di periksa mbak, sudah bukaan berapa?"
__ADS_1
"Tujuh bu"
Naura langsung meminta menyiapkan segala peralatan medis dan sarung tangannya. Setelah bercakap-cakap sebentar pada pasien dan keluarga Naura pergi keruang sebelah
Sampai di sana, telah ada satu bidan muda dan dua perawat
"Bukaan berapa?"
"Sembilan bu"
Naura langsung memakai sarung tangan yang telah disiapkan, meminta pada perawat dan bidan untuk menekuk kaki pasien
Lalu Naura mulai meminta pada pasien untuk mengatur nafasnya karena itu artinya sebentar lagi proses persalinan akan berlangsung
Ketika pasien sudah mulai merasa hendak ngeden, saatnya Naura beraksi.
Dengan telaten dan sabar Naura membantu dan membimbing pasien untuk mengatur nafas
Grogi dalam diri Naura hilang entah kemana, bak bidan profesional Naura melaksanakan semua tugasnya dengan baik
"Terus mbak, sudah kelihatan kepalanya..." ucapnya menyemangati pasien
Pasien yang kelelahan ngeden kembali harus mengumpulkan tenaganya
Dengan sabar, bidan teman Naura dan perawat mengangkat pundak pasien, sedang perawat satunya memegangi paha pasien
Setelah bagian pundak bayi nongol, dengan cepat Naura merogoh bayi mungil tersebut dan segera mengangkatnya
Senyum lega dari pasien karena anaknya telah keluar dengan selamat menjadi kepuasan tersendiri buat Naura
"Bagaimana anak saya bu?" tanya suami pasien yang segera masuk begitu mendengar suara tangisan bayi
"Alhamdulillah sempurna dan tampan, selamat ya pak bu, anaknya cowok"
Sang suami langsung berjongkok mencium kening istrinya dengan haru
"Nanti selesai IMD, adzani pak ya.."
Lelaki muda tersebut mengangguk
"Tolong mbak dijahit ya, selesaikan dulu semuanya, aku mau cek ke sebelah"
Bidan dan dua perawat langsung berbagi tugas
Sedang Naura langsung keluar dan langsung masuk keruang sebelah dimana ada dua perawat yang masih setia menunggu
"Sudah siap semuanya?" tanya Naura yang langsung mengelus kepala pasien
"Bismillah ya bu, kita sama-sama berdoa"
Pasien yang mengerang kesakitan tak menjawab ucapan Naura. Naura tak ambil pusing, dia memaklumi sikap pasein, karena saat itu pasien sedang menahan sakit. Segera Naura duduk di sebelah pasien, memijit-mijit pinggangnya
Saat dia tengah memijit pinggang pasien hp disaku baju seragamnya berdering
Dokter Malkan
Wajah Naura berubah tegang, dengan cepat dia menjawab telepon dokter Malkan
"Ya dokter?"
"Kembali lagi ke rumah sakit mbak, kondisi ayah anda menurun drastis"
__ADS_1