
Berita tentang diusirnya aku dan anak-anak dari rumah serta Andi yang membawa Tina kerumah telah menjadi konsumsi publik.
Hingga berita itu sampai pula ketelinga kedua kepala sekolahku. Seperti pagi ini, aku dipanggil pak Suparno keruangannya.
Aku yang tidak tahu apa-apa dengan sedikit khawatir menghadap beliau. Sesampainya di hadapan beliau aku langsung mendapati banyak pertanyaan seputar gosip perselingkuhan suamiku dan tentang kabar terusirnya kami.
Dengan berat hati aku mengiyakan saat pak Suparno bertanya tentang perselingkuhan suamiku. Aku tidak banyak bercerita, aku tidak ingin masalah keluargaku jadi bola salju. Aku hanya mengatakan jika suamiku benar selingkuh dan kami sudah bercerai secara agama.
Begitupun ketika beliau menanyakan kebenaran aku yang mengontrak, semuanya aku iyakan.
Tampak beliau menarik nafas dalam saat mendengar jawabanku. Lama beliau diam, sedangkan aku hanya menunduk.
"Bapak harap masalah ini tidak mengganggu keprofesionalan kinerja kamu mbak" ucapnya setelah lama diam
"Insha Alloh pak" jawabku
"Bapak salut sama kamu mbak Indah, lebih sebulan masalah ini dan mbak bersikap biasa saja saat di sekolah. Hingga kami nyaris tidak mengetahuinya"
Aku hanya tersenyum samar. Aku hanya berusaha menutupi pak, batinku.
Setelah beliau memberiku nasehat dan support, dan setelah aku mengucapkan banyak terima kasih, aku keluar dari ruangan beliau.
Aku bergeming ketika sampai di ruang guru. Seluruh teman sekantorku menatap kearahku, aku merasa seperti terhakimi saat seluruh mata itu menatap kearahku.
Aku menelan ludah saat bu Isma berjalan kearahku. Tanpa kusangka beliau segera memelukku erat.
"Yang sabar dek, yang sabar" ucapnya terisak
Tak urung perlakuannya membuat air mataku mengalir. Aku membalas memeluknya dan aku menangis.
Ya, aku menangis kali ini. Tangisku pecah setelah lebih sebulan aku menahannya. Kali ini aku menangis cukup kencang.
Sakit hati yang aku pendam, aku tumpahkan semua di pelukan bu Isma. Beliau membimbingku duduk di kursi tamu yang ada di ruang guru dan kembali beliau merengkuh pundakku.
Beberapa teman yang lain ikut duduk didekatku. Bahkan ada yang mengelus pundakku dan ikut menitikkan airmata
" Sing sabar dek" ucap bu Kris sambil mengelus pundakku, beliau tampak menitikkan airmata.
__ADS_1
Aku sudah lupa dengan rasa malu. Aku tidak malu menangis yang menimbulkan suara di depan teman-temanku. Saat ini yang aku butuhkan adalah melegakan hatiku, aku berharap dengan menangis aku bisa mengurangi beban di hatiku.
Cukup lama aku menangis sampai mataku sembab. Ketika sudah agak tenang, aku mengangkat kepalaku dari dada bu Isma. Dan kulihat hijab beliau basah oleh airmataku.
"Maafkan aku ibu-ibu" ucapku lirih
Mereka menggeleng dan masih menatap iba padaku.
"Kamu yang kuat ya dek, kami yakin kamu bisa lewati ini" ucap bu Yaya sambil menggenggam tanganku
Aku mengangguk padanya.
"Jangan buang airmata kamu untuk lelaki yang tidak mencintai kamu, airmata kamu berharga, jadi jangan tumpahkan hanya karena penghianatan. Kamu harus bangkit, jangan hancur. Mantan suami kamu akan bangga, akan besar kepalanya kalau melihat kamu hancur. Kamu harus tunjukkan sama dia, kalau kamu bisa jauh lebih bahagia dan jauh lebih segala-galanya dibanding perempuan pilihannya itu." ucap bu Yaya memotifasiku
"Tunjukkan kalau kamu bisa berdiri di atas kakimu tanpa bantuan dari dia, rawat dan besarkan anak-anakmu, bimbing mereka, jadilah ibu kebanggaan untuk anak-anakmu, bukan ibu yang lemah. Ayuk yakin, kamu bisa. Ayuk tahu kamu kuat dek" tambahnya lagi
Air mataku kembali mengalir mendengar ucapannya.
"Tidak ada satupun takdir yang Alloh tuliskan kepada hambaNya yang tak membawa kebaikan, bahkan termasuk rasa kecewa yang melanda hati kita saat ini, sudah pasti akan ada hikmah yang luar biasa setelah ini. Terkadang kekecewaan hadir untuk mengajarkan bahwa hidup ini tak selalu berjalan sesuai kehendak kita"
Aku mengangkatkan kepalaku saat pak Suparno berkata demikian. Aku meresapi setiap kalimatnya, mencoba mencerna dalam benakku.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku menghapus kasar wajahku, menarik nafas dalam dan memaksakan senyuman tegar depan semua sahabatku.
...****************...
Aku segera menjemput ketiga anakku begitu jam mengajarku telah habis. Sejak kejadian aku dimarahi oleh kakakku, aku setiap hari menitipkan anak-anakku pada umakku. Setiap pagi aku akan mengantarkan Naura sekolah, baru setelahnya aku akan menitipkan kedua jagoanku pada umakku.
Terkadang Naura ketika pulang sekolah dijemput bapakku, atau mbak Dian yang akan menjemputnya.
Rupanya kasih sayang mbak Dian tidak berubah pada ketiga anakku. Aku jadi tidak enak hati padanya karena aku belum bisa membayar jasanya. Sewaktu aku mengutarakan kesungkananku, beliau marah.
"Mbak tidak butuh bayaran, mbak ikhlas menjemput Naura dan mengasuh kakak sama adek" jawabnya kala itu.
Aku terharu. Ternyata beliau mempunyai hati yang tulus.
Tak terasa motor telah sampai di halaman rumah orang tuaku. Mendengar suara motorku, si bungsu langsung menghambur kepelukanku.
__ADS_1
Segera aku menggendong dan membawanya masuk.
Aku langsung membuka tudung saji lalu meletakkan Adam di kursi. Tapi dia segera turun dan berlari ketempat umakku. Tanpa babibu aku langsung mengambil piring dan makan.
"Makan mak" ucapku pada umakku yang duduk santai sambil menonton tivi
"Makanlah, umak sudah" jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari TV.
Kulihat ayuk sedang mewarnai di ruang depan sambil ditungguin bapakku. Sesekali terdengar suaranya berteriak karena pensil warnanya dimainkan oleh Mikail.
Selesai makan aku ikut duduk depan TV bersama umak dan Adam.
"Ada surat dari pengadilan Ndah" kata umakku
Aku langsung menoleh pada beliau.
Umak berdiri dan membuka lemari, diambilnya amplop berwarna coklat dan diberikannya kepadaku.
Aku menerima amplop itu dengan perasaan kacau balau. Sedih, marah, kecewa, bahagia campur jadi satu.
Tapi aku berusaha tenang. Ku lihat di amplopnya tertulis kop pengadilan negeri agama kota Lubuklinggau.
Surat itu ditujukan untukku dengan alamat rumah orang tuaku.
Aku segera membuka amplop tersebut dan mengambil surat yang ada di dalamnya, lalu membacanya dalam hati.
Panggilan sidang pertama. Aku menarik nafas dalam begitu aku selesai membacanya.
Aku tersenyum pada umakku yang menatapku tak berkedip.
"Tanggal 10 ini aku ada panggilan sidang" ucapku lirih
Tampak ibuku menghembus nafas dalam. Jelas sekali aku lihat kepedihan di matanya.
"Ini yang terbaik mak, umak jangan banyak fikiran. Doakan terus aku. Hanya doa dan ridho umak yang aku harapkan" ucapku menggenggam tangannya.
Setelah mengecup kening Adam yang fokus menatap layar tivi aku masuk kekamar.
__ADS_1
Aku segera terduduk di atas ranjang. Airmataku mengalir, mengalir deras tanpa bisa aku cegah, ada rasa yang tak bisa aku ungkapkan.
Kembali aku menatap kertas panggilan dari pengadilan yang ada di tanganku. Menatap kosong dan hampa