
"Kalian lihat ini nak!" ucapku sambil berjalan kearah tumpukan pakaian yang masih teronggok di lantai
Aku letakkan hp di stik holder lalu mengambil beberapa lembar pakaian lalu aku pamerkan kepada ketiga anakku
"Kalian ingat nak sama baju-baju dan celana-celana ini?"
Adam diam, dia fokus memperhatikan, begitupun dengan Mikail. Tapi wajah Naura langsung menyiratkan kekagetan
"Ayuk ingat?"
Naura mengangguk pelan
"Adek sama kakak wajar jika tidak ingat, karena saat itu kalian masih sangat kecil"
"Ini adalah bajunya Raffa dan Nicholas yang diberikan oleh Laras dan Maria pada bunda ketika kita dikontrakan dulu, kalian lihat nak bentuknya. Sudah sobek semua. Dan ini sengaja di sobek" ucapku sambil mengusap air mata yang kian deras mengalir
Ozkan kembali menarik nafas panjang melihat istrinya yang kembali emosi
"Inilah nak yang menyebabkan bunda nekad meninggalkan kalian jadi tkw, akibat penghinaan dan sakitnya hati bunda pada keluarga ayah kalian"
Kembali ketiga anakku terlihat menyusut mata mereka
Mikail tergagap ketika ada tepukan di pundaknya. Dan dia dengan segera langsung mengusap wajahnya
"Ups, maaf Mike" ucap Brendi
Lalu Brendi melongok kearah handphone melambai ke arahku
"Bundaaa..."
Aku tersenyum kearahnya.
"Kakak akhiri duluan nggak papa nak, maaf ya karena sudah ganggu waktu dinas kakak"
Mikail mengangguk sambil tersenyum
"Baca surah Al-Baqarah ayat 153 ya bun"
"Iya nak, In Syaa Alloh"
Lalu Mikail mengucapkan salam pada kami sebelum dia mengakhiri obrolan
Aku memandang wajah kedua anakku
"Masih ingin bela terus keluarga ayah kalian?"
Keduanya menggeleng
"Ya sudah, bunda mau video call sama tante Nina dulu, jangan nangis lagi, bunda tuh sangat sayang sama kalian"
Naura dan Adam langsung tersenyum lebar
...----------------...
Nina dan Ningsih langsung membekap mulut mereka ketika mereka melihat gambar baju yang ditunjukkan Indah
"Ini mbak, Nin. Kalian lihat, bagaimana saya tidak dendam sama Laras dan Maria"
"Hari itu mereka datang berempat ke kontrakan kami, dengan hinaan dan cacian"
"Dan pakaian ini lebih dari lima belas tahun saya simpan, saya jadikan motivasi saya untuk mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membungkam mulut keluarga kalian"
"Maafkan ibuk dan mbak Laras, mbak..." lirih Nina sambil berlinang air mata
"Nina, saya tanya sama kamu, apakah kamu memaafkan suami kamu dan selingkuhan nya karena telah menganiaya kedua anakmu?"
Nina langsung terdiam
"Kisah kita sama Nina. Kita sama-sama diselingkuhi suami tapi bedanya mertua kamu tidak jahat seperti kedua orangtuamu padaku dulu"
__ADS_1
"Aku telah bersumpah aku akan membakar semua ini jika seluruh orang yang menyakitiku telah mati"
Kembali wajah mbak Ningsih dan Nina terkesiap mendengar ucapan Indah
"Maaf ya mbak, tak seharusnya aku marahnya sama kalian, tapi hari ini aku benar-benar emosional mbak, aku benar-benar shock melihat luka Adam"
"Kami mengerti Ndah, sejujurnya kami malu dengan perlakuan ibu dan Laras sama kamu, tapi kamu tahu sendiri bagaimana mereka. Mereka tidak bisa diberi nasehat"
Aku tersenyum basi mendengar ucapan mbak Ningsih
"Sampaikan sama Maria mbak, bilang sama dia, baju sobek yang dulu dia kasih sama aku, aku bawa ke Arab, aku simpan. Dan akan aku bakar ketika dia mati"
...****************...
Mbak Ningsih yang sejak tadi menunggu Maria dan Joni segera keluar dari rumahnya begitu mendengar suara motor Joni berhenti di depan rumah orangtuanya
"Ada rembukan apa lagi sih mbak?" sungut Maria sambil masuk
Di dalam telah duduk pak Hermawan dan Nina. Segera mereka bertiga duduk
"Rumahnya sudah laku apa pak?" tanya Joni
Pak Hermawan diam. Joni menoleh kearah istrinya yang wajahnya terus masam
"Kalian yang ada disini, lihat ini!" ucap Nina sambil meletakkan hpnya bersandar pada gelas
Wajah Maria langsung terkesiap ketika dia melihat wajah Indah yang sedang menunjukkan baju yang dulu dia kasih
Joni langsung menatap tajam Maria dan pak Hermawan secara bergantian
Kedua wajah orang tersebut menegang selama video itu diputar oleh Nina, hingga video berakhir wajah keduanya tetap tegang
Terlebih ketika di dalam video itu Indah juga menunjukkan surat yang dulu dia dan Laras buat
"Bisa kamu jelaskan apa yang dikatakan mbak Indah?" ucap Joni sambil melotot kan matanya
Maria langsung cemberut
Pak Hermawan bergeming
"Sekarang saya tahu mengapa mbak Indah sangat membenci kalian berempat" ucap Joni manggut-manggut sambil menatap tak percaya pada istri dan bapaknya
"Kupikir mbak Indah dendam karena dicampakkan oleh mas Andi, ternyata dendamnya jauh lebih kesumat karena perlakuan dan hinaan kalian" tambahnya
"Wajar jika mbak Indah sangat dendam pada kalian, kelakuan kalian sangat memalukan!"
"Kamu juga Maria, saya heran kenapa kamu sangat membenci mbak Indah, padahal sehari saja kamu tidak pernah kumpul sama dia?"
Wajah Maria makin masam
"Dan bapak, kok ya tega toh pak bilang jika ketiga anak mbak Indah jangan memanggil bapak mbah lagi karena bapak bukan mbahnya"
"Aku sama mas Andi itu anak bapak, jadi anak kami berdua ya cucunya bapak"
"Sekarang saya nggak mau ikut campur lagi, terserah jika kak Andri mau sita rumah ini, terserah jika mbak Indah mau meratakan rumah ini, terserah jika mbak Indah menyumpahi Maria, karena memang kalian pantas mendapatkan kutukan itu"
"Kok mas malah belain Indah sih?" Maria langsung nyolot
"Jika dari awal aku tahu pokok permasalahannya, sudah dari dulu kamu aku hajar!!!"
Wajah Maria langsung terkesiap
"Asal kamu tahu ya, demi menikahi kamu, mbak Indah harus merelakan uang mereka yang untuk beli tanah diserahkan pada bapak dan ibuk!"
"Kamu ini perempuan Maria, dimana perasaan kamu sesama perempuan saat melihat perempuan lain dizolimi?"
"Kamu memang cocok dengan mbak Laras, karena kalian berdua sama gilanya, dan kamu berdoalah sebanyak-banyaknya Maria, semoga doa mbak Indah yang kamu zolimi tidak diijabah dengan Tuhan, karena kamu tahu sendiri doa orang teraniaya itu biasanya terkabulkan!"
Wajah Maria kembali menegang.
__ADS_1
"Kamu kok malah memarahi istrimu sih Jon?"
Joni menoleh kearah bapaknya
"Jika bapak ini bukan bapak saya, saya sudah pasti akan memarahi bapak pula, malu saya punya bapak yang kelakuannya sangat rendah"
Setelah berkata seperti itu Joni berdiri dan keluar meninggal semua yang ada di ruang tamu tersebut
Maria hanya mampu terdiam dengan wajah masam, sedangkan mbak Ningsih yang menatapnya tajam berkali-kali beristighfar dalam dada menahan marah
...----------------...
Sore ini Adam dan Naura mengunjungi ayah mereka setelah sebelumnya mereka berdua meminta izin terlebih dahulu pada bunda mereka
Kena marah dan kena blokir kemarin menjadi obat mujarab mereka untuk kembali normal
Naura walau diliputi kecemasan tentang biaya perawatan sang ayah sekarang tak mampu lagi berkutik. Dia tidak mau menjadi Alqamah seperti yang dikatakan adiknya, Mikail
Dokter yang melihat Naura dan Adam berdiri di luar ICU, segera memberi kode untuk keduanya memakai baju khusus dan masuk
Naura dan Adam menurut, mereka segera berganti pakaian baju khusus dan masuk
Naura langsung mendekati sang ayah yang matanya kembali terpejam
"Ayah saya kenapa dokter?"
Dokter menoleh pada Naura sambil tersenyum
"Tertidur, mbak Naura bisa membangunkannya jika mau"
Naura menggeleng, dan segera menarik kursi, duduk di dekat ayahnya. Meraih tangannya dan menggenggamnya
Mata Andi langsung terbuka dan mengerling kearah Naura
Naura tersenyum
"Maaf jika ayuk mengganggu waktu istirahat ayah"
Jari Andi bergerak
"Adek sini, ayah sudah bangun" panggil Naura
Adam mendekat dan menatap Andi dengan ekspresi biasa saja
"Ayo dek ngomong sama ayah"
"Ngomong apa?" tanya Adam datar
Naura tersenyum
"Ya apa aja dek, ajak ayah komunikasi"
Adam menarik nafas panjang, Naura berdiri dari kursinya, digantikan dengan Adam yang duduk
Naura menyentuh pundak adiknya
"Ayah... aku datang, aku senang ayah sadar, dan aku berharap semoga ayah sehat seperti dulu lagi"
Mata Andi mengerling dan jarinya bergerak
"Ayah, aku cuma mau bilang, bahwa aku adalah satu-satunya anak ayah yang sedarah dengan ayah. Aku bangga ayah, bahwa di dalam tubuhku mengalir darah seorang ayah yang meragukan identitas anaknya"
"Entah apa yang akan terjadi jika darah kita berbeda, aku yakin ayah pasti makin tak mempercayai jika aku anak ayah"
Mata Naura langsung terbelalak dan dia segera menarik pundak Adam
"Adek!, ngapain adek bicara kaya gitu sama ayah?, ayah kita belum terlalu sadar dek, jangan menambahi beban pikirannya"
"Justru aku harus bicara seperti itu yuk, biar ayah tahu sebenarnya bahwa darah akulah yang menolongnya, anak yang diragukannya ternyata adalah anak yang bisa mendonorkan darah untuknya!"
__ADS_1
Dokter yang melihat keduanya bertengkar langsung mendekat dan melerai