Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bukti Dari Rian


__ADS_3

"assalamualaikum, mbak ini aku Rian. Insha Alloh aku bisa bantu mbak, tapi tak banyak yang bisa aku lakukan"


Begitulah isi sms yang aku terima dari Rian tepat satu minggu setelah pertemuan kami kemarin.


Alhamdulillah, akhirnya dia mau membantuku, syukurku pagi ini setelah membaca sms nya.


"terima kasih banyak sebelumnya Rian" balasku.


Segera aku memasukkan hp ku kedalam tas, lalu aku kembali ke belakang melanjutkan rutinitas pagiku.


Seperti biasa, suamiku pergi kerja setelah mengantarkan Naura sekolah. Walau aku tahu bekal yang selalu aku bawakan tidak pernah dimakannya, setidaknya ada Rian nanti yang akan memakannya dengan lahap.


Perang dingin masih terjadi antara kami, aku selalu memasang wajah datar padanya. Begitupun sebaliknya, kami nyaris tidak pernah bertegur sapa.


Biarlah dia merasakan ini. Aku sadar, di luar ada perempuan yang selalu memberikan senyuman padanya, sedangkan di rumah dia selalu mendapatkan wajah masam dariku.


Aku tidaklah munafik, bagaimana aku bisa tersenyum dan pura-pura bahagia, sedangkan hatiku begitu sakit kembali mengetahui perselingkuhannya? bagaimana aku bisa memasang wajah manis dan berkata-kata lembut sedang aku sendiri melihat bagaimana dia berdua dengan perempuan itu.


Tidak, aku tidak bisa menjadi istri yang selalu bisa membuat mata suami teduh bila menatapnya, bahagia bila melihat senyumnya. Tidak, aku tak bisa. Dulu iya, aku bisa melakukan itu. Tapi apa balasannya? ternyata Andi menghianatiku.


Suamiku berangkat kerja setelah dia mengambil bekal yang aku letakkan di atas meja. Aku sendiripun telah bersiap untuk berangkat sekolah.


Tak ada lagi cium punggung tangan, tak ada lagi cium kening, dan tak ada lagi salam serta doa tiap dia mau berangkat.


Entah ini akan terjadi berapa lama aku tak tahu, yang pastinya aku akan berusaha semampuku membuat Andi sadar dan membuat perempuan itu menjauhinya.


Saat mbak Dian sampai, aku segera pergi sekolah. Kedua anakku masih tertidur saat itu, jadi mbak Dian mengerjakan pekerjaan rumah yang belum rampung oleh ku.


"Titip anak-anak mbak" ucapku sambil mencium punggung tangannya berpamitan.


"Iya bun" jawab mbak Dian


Aku segera mengeluarkan motor bebek ku, lalu menjalankannya dengan perlahan menuju sekolah tempatku mengabdi.


...****************...


"Kapan mbak bisa nemui kamu Yan?" sms ku pada Rian siang ini. Aku tahu, ini jam istirahatnya.


"Kapan saja mbak ada waktu, aku bisa nemui mbak" balasnya


"Oh iya, pak Andinya ada?"


"Seperti biasa mbak, pergi"


Aku menghela nafas dalam. Ya Rabb Andi, ternyata kamu makin gila. Sehari saja kamu tidak bertemu wanita itu apa kamu mati?? geramku dalam hati.


"Besok seperti kemarin mbak akan nemui kamu"


"Siap mbak"


Aku duduk termenung di kursi. Ketiga anakku bermain ditemani oleh mbak Dian.


Berkali-kali aku menghela nafas dalam dan menatap ketiga anakku dengan sedih.


"Ada apa bun?" tiba-tiba mbak Dian menghampiri dan duduk di sebelahku


Aku menyeka air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Aku diam belum menjawab pertanyaan mbak Dian.


"Maaf kalau mbak lancang, tapi kalau bunda percaya sama mbak, bunda bisa cerita"


"Ceritanya panjang mbak, sampe aku sendiri bingung mau mulai dari mana" jawabku menerawang


"Mbak yakin bunda pasti kuat"


"Makasih ya mbak, doakan semoga kali ini aku bisa melewati cobaan ini"


Mbak Dian mengangguk. Lalu kami berdua sama-sama diam.


"Bunda telpon ayah, ayuk mau ayah" Naura merengek


Aku tak bergeming, aku hanya diam tak menanggapi permintaannya.


"Ayuk sini main sama kakak dan adek" mbak Dian memanggil


Naura menggeleng dan mengambil hp ku yang terletak di meja.


"Telpon ayah!" perintahnya sambil menyodorkan hp kehadapanku.


Dengan malas aku membuka hp dan mendial nomor suamiku. Panggilan tersambung tapi tak ada jawaban.


"Ayah sibuk yuk, jadi telponnya nggak dijawab" ucapku sambil meletakkan kembali hp kemeja


"Mau ayah, mau ayah" Naura mulai berteriak


Ya Rabb, anak ini kalau tantrumnya kumat, bujuk rayu seperti apapun tak akan didengarkannya.


Kembali aku mengambil hp dan kembali mendial nomor suamiku.


"Ya bun?"


Aku langsung menyerahkan hp ke Naura.


"Ayah, ayah pulang ya"


"Nanti nak ya, ayah masih kerja, nanti sore ayah pulangnya, kalau pulang sekarang nanti ayah kena marah bos ayah"


Naura diam, dia menekuk wajahnya.


"Sayang, sudah ya. Jangan ganggu ayah, nantikan ayah pulang, sekarang matikan ya hp nya, kasihan ayah" bujukku

__ADS_1


"Ya sudah, dadagh ayah. Sayang ayah"


"Sayang ayuk"


Lalu Naura menyerahkan hp ketanganku dan kembali bermain dengan adik-adiknya dengan wajah yang kembali ceria.


...****************...


Aku duduk dipojokan warung yang kemarin tempat aku duduk sewaktu pertama kali aku bertemu Rian.


Aku sengaja datang lebih awal untuk memastikan jika Rian benar-benar datang dan tidak mengingkari janjinya.


Jam di pergelangan tanganku menunjukkan arah hampir ke angka 1. Tapi Rian belum juga muncul ke warteg tempat dia dan teman-temannya makan.


Aku duduk dengan gelisah sambil sesekali menyeruput es jeruk yang tadi aku pesan.


"Mbak yang minggu lalu pernah kesini kan?" mbak yg punya warteg menghampiri dan duduk di hadapanku.


Aku tersenyum kearahnya seraya mengangguk.


"Perkenalkan saya Tika, saya yang punya warteg di sini" dia mengulurkan tangannya dan aku sambut dengan ramah


"Aku Indah mbak" balasku


"Maaf ya mbak Indah, mbak sepertinya bukan orang sini"


"Iya mbak, saya dari Merasi"


Tampak dia manggut-manggut.


Tak lama mulailah muncul para karyawan tempat suamiku bekerja. Aku segera memakai masker yang tadi aku beli untuk menghindari jika ada yang mengenaliku.


Mbak Tika mulai melayani pesanan mereka dan seorang karyawannya mulai mengantarkan pesanan pelanggan ke meja mereka masing-masing.


"Mbak sudah di warteg Yan, kamu dimana?" sms ku pada Rian karena sampai ruangan hampir penuh batang hidungnya belum juga kelihatan.


Tidak ada balasan, aku makin gelisah.


"Gile njir si bos ngajak perempuan itu keruangannya" salah satu dari mereka bersuara.


Aku memasang telingaku dengan seksama, aku ingin mendengar berita apalagi yang dilakukan suamiku kali ini.


"Halahh, kamu ketinggalan, itu sudah sering bro" yang lain menimpali


"Itu perempuan pernah aku lihat dibawa laki-laki lain loh" kembali ada yang menyahut


"Pe**k ya dibawa laki-laki manapun sah aja kali bro, yang penting dibayar"


"Kamu saja kalau ada uang bisa kok pakai dia"


"Maaf bro, gini-gini aku masih punya iman, aku nggak mau kena sipilis"


Mbak Tika sesekali melirik kearahku sepertinya dia mengetahui siapa aku sebenarnya.


"Tunggu sebentar mbak" akhirnya Rian membalas smsku.


Aku sedikit lega setelah membacanya.


"Rian mana?" ada yang bersuara menanyakan keberadaan Rian.


"Rian sih jangan ditanya, dia pasti lagi makan bekalnya si bos, tiap hari loh bekal bos dia yang makan"


"Jangan-jangan Rian ngintip si bos indehoi"


Kembali ruangan gaduh dengan tawa.


Dadaku sesak mendengar kalimat terakhir mereka. Aku tak berani membayangkan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


Dari luar aku melihat Rian berjalan tergopoh-gopoh masuk dan duduk bergabung dengan yang lainnya.


"Woy kemana aja lu?" Sambut yang duduk di sebelah Rian sambil menonjok lengan Rian.


Rian tak menjawab melainkan segera mengeluarkan bekal yang tentu saja aku hafal betul jika itu adalah tempat bekal yang biasa aku siapkan untuk Andi.


"Wedeeee, ajudannya si bos, tiap hari makan istimewa" sindir yang lain begitu Rian membuka bekal.


"Terima kasih nyonya bos, berkat engkau aku bisa mengirit gajiku yang harus aku sisihkan buat pengobatan ibuku, terima kasih karena telah berbaik hati setiap hari menyiapkan bekal untuk ku, aku berdoa semoga nyonya bos bahagia dan panjang umur" suara Rian lantang sekali berucap sebelum dia memakan bekal yang ada di hadapannya.


Teman-temannya memandang heran, dan saling toleh satu sama lain.


"Kesambet setan mana lu, tumben-tumbennya lu doa kaya gitu"


"Aku hanya menyampaikan rasa terima kasihku saja"


"Tiap hari lu makan enak terus sih Yan, menu lu empat sehat lima sempurna terus tiap hari"


Lelaki yang tadi menonjok lengan Rian mencomot lauk yang ada dalam wadah bekal.


"Gile, enak banget njir"


Yang lain mulai memanjangkan tangannya untuk mencicipi masakanku yang sedang dinikmati Rian.


"Wah, parah si bos, istri pintar masak kaya gini kok ditinggal, dan lebih milih perempuan ga jelas itu"


"Mungkin istri si bos ga pintar di kasur, makanya bos nyari kasur lain"


Kembali mereka riuh. Refleks Rian menoleh kearahku, aku menggelengkan kepalaku memberi kode padanya.


Mungkin ucapan mereka benar, aku tak pandai memuaskan suamiku makanya dia mencari kepuasan di luar.

__ADS_1


"Jangan sembarangan kalau ngomong, walau aku tidak kenal istri beliau, tapi aku tahu beliau orang baik" Rian membela.


"Sudah-sudah, kalian ini mbak perhatikan selalu gosipin bos" mbak Tika menimpali dari tempatnya duduk.


Mereka melanjutkan makan siang mereka sambil diselingi obrolan ringan seputar pekerjaan dan sesekali kembali membicarakan Andi.


Satu persatu mereka mulai meninggalkan warteg dan kini yang tertinggal hanyalah Rian.


Rian celingukan sebentar sebelum akhirnya dia menghampiriku.


"Maaf membuat mbak menunggu lama"


Aku menggeleng seraya tersenyum.


"Makasih karena sudah mau membantu mbak"


Rian merogoh saku celananya dan membuka hp lalu memberikannya padaku.


"Ini mbak sebagian bukti yang aku dapatkan beberapa hari ini"


Aku meraih hp tersebut dan mulai mengamati foto-foto yang ada di dalamnya.


Mataku mulai terasa panas saat aku melihat foto-foto itu. Tampak sekali keintiman mereka, dan tanpa malu mereka bercumbu.


"Videonya juga ada mbak" ucap Rian pelan


Aku mulai membuka menu yang ada di hpnya dan mulai mencari video yang Rian maksudkan.


Lemas sudah kakiku. Sekuat tenaga aku melihat video itu hingga selesai. Setelah video itu berakhir aku diam tak bersuara. Mataku menatap kosong sementara airmata terus mengalir.


"Mbak?" Rian bersuara membuyarkan lamunanku setelah sekian menit aku terdiam.


Dengan tergagap aku menoleh kearahnya dan mengembalikan hpnya


"Makasih ya Yan untuk bantuannya" ucapku pelan


"Mbak yang sabar ya"


Aku mengangguk.


"Kalau mbak sudah lihat, semua bukti ini akan aku hapus, aku tidak ingin yang lain mengetahuinya"


"Tunggu dulu, kirimkan sama mbak" jawabku sambil menghidupkan bluetooth di hpku


Rian mengangguk dan mulai mengirimkan semua foto dan video tentang suamiku padaku.


"Kamu kenal dia Yan?" tanyaku


"Kenal tidak mbak, tapi karena dia sering datang ke kantor jadi saya faham dengan dia"


"Rumahnya kamu tahu?" selidikku


Rian menggeleng.


"Kalau kamu tahu, kasih tahu mbak ya Yan"


"Pasti mbak"


Aku memeriksa hpku untuk memastikan seluruh foto dan video tadi telah terkirim semua.


"Sekali lagi makasih ya Yan" ucapku


"Sama-sama mbak, makasih juga buat bekalnya" jawabnya tertawa nyengir


Aku dengan terpaksa ikut tertawa juga.


"Aku kembali kekantor lagi mbak"


Aku mengangguk, lalu Rian beranjak dari kursinya dan meninggalkan warteg.


Sepeninggal Rian, aku duduk termenung sendiri, mataku kembali berembun mengingat video dan foto-foto tadi.


Aku tergagap dan segera mengusap wajahku ketika mbak Tika kembali menghampiriku.


"Maaf mbak kalau aku lancang, aku tadi dengar semua percakapan mbak sama Rian, bukan tadi sih sebenarnya, tapi sudah dari pertama waktu mbak datang kesini" ucapnya


Aku menghela nafas berat, bingung mau menjawab apa.


"Aku cuma bisa ngomong, mbak yang kuat ya, yang sabar, Insha Alloh ini hanya ujian buat mbak"


Air mataku telah mengalir deras saat dia berkata begitu. Mbak Tika berdiri dan mengelus pundakku, dan menatap dengan iba padaku.


"Yang sabar mbak, yang sabar" ucapnya


Aku makin tergugu, sakit sekali rasanya hatiku saat ini. Dan mbak Tika masih setia merangkul pundakku seolah memberikan kekuatan padaku.


Untuk sementara aku menangis di pelukan mbak Tika. Aku menangis untuk melapangkan dadaku yang sesak, dengan harapan setelahnya aku bisa sedikit tenang.


"Aku mau pulang mbak, makasih ya mbak" ucapku sambil menghapus kasar airmata di wajahku.


"Yakin mau pulang?" tanya mbak Tika ragu


Aku mengangguk dan meminum air untuk menenangkan hatiku.


"Aku pamit mbak, Assalamualaikum" pamitku


"Waalaikumusalam"


Mbak Tika menatap sedih kepergian Indah. Sesama perempuan dia bisa merasakan bagaimana sakitnya jika dihianati oleh sang suami.

__ADS_1


Aku mulai menghidupkan motor setelah sebelumnya memakai masker untuk menutupi wajahku. Aku jalankan motorku dengan pelan dengan airmata yang kembali berlinang


__ADS_2