
13 November 2000
Alhamdulillah hari ini Indah melahirkan dengan selamat, seorang putri yang cantik yang mereka beri nama Dinda Naura. Dinda adalah gabungan nama dari Andi dan Indah.
Perjuangan melahirkan anak pertama begitu berat dirasakan Indah. Dia menahan sakit selama tiga hari, barulah subuh tanggal 13 November anaknya lahir dengan selamat.
Sehari istirahat di klinik pasca melahirkan membuat Indah lebih baikan. Dan sore ini, mereka sudah berencana mau pulang ke rumah orang tua Indah.
Ketika pertama Indah merasakan kontraksi, Andi segera mengabari keluarga, tapi tidak ada respon. Begitu juga ketika Indah dibawa ke klinik dan dirawat, keluarganya masih tidak ada yang datang untuk menjenguk bahkan ketika mereka hendak pulang ke rumah, lagi-lagi keluarganya tidak ada yang muncul satupun.
Andi merasa tidak enak hati dengan mertuanya, tapi mau apalagi. Terlebih dengan Indah, hatinya semakin malu.
Andi kembali pergi ke wartel terdekat, kembali menelpon keluarganya.
"Hallo" suara di seberang. Andi tahu yang mengangkat adalah adiknya, Nina.
"Bapak mana Nin?"
"Pergi kak"
"Kemana? mau nemuin kakak ya?" harapnya
"Ehmmm..." suara Nina menggantung
Andi segera faham, itu artinya orang tuanya pergi bukan untuk menemuinya melainkan pergi ketempat lain.
"Ya sudah, sampaikan saja sama bapak dan ibuk, anak kakak sudah lahir dengan selamat, anak kakak cewek, Indah juga sehat, kami pulang kerumah orang tuanya Indah, bukan ke kontrakan. *U*dah itu aja ya Nin, makasih"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Nina, Andi segera menutup telepon dan menuju kekasir untuk membayar biaya tagihan teleponnya.
Sementara di seberang, Nina masih menggenggam gagang telepon, perasaannya bahagia bercampur sedih. Bahagia karena dia mendapatkan keponakan baru, tapi juga sedih karena orang tuanya lebih memilih mendatangi hajatan tetangga sebelah ketimbang menengok cucu baru mereka.
Dihembuskannya nafas dalam, lalu meletakkan gagang telepon dan kembali masuk kekamarnya.
Andi berjalan ke ruangan dimana Indah dirawat, tampak olehnya Indah terlelap. Nampak sekali kelelahan di wajahnya. Andi begitu tahu bagaimana perjuangan Indah saat melahirkan anaknya. Proses pembukaan yang begitu lambat, erangan kesakitan Indah, dan perjuangan yang paling hebat adalah ketika Indah berusaha ngeden saat bayinya akan keluar.
Andi yang menggenggam tangannya saat itu tak kuasa menahan tangis saat disaksikan oleh mata kepalanya, sang istri berjuang menyabung nyawanya.
Di usapnya pelan pucuk kepala sang istri. Tak henti-henti hatinya mengucapkan rasa syukur atas keselamatan keduanya.
Anak mereka berada tidak jauh dari Indah, dia diletakkan oleh perawat dalam box bayi. Andi segera beranjak dan membelai pipi mungil sang anak. Anaknya begitu cantik, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung. Benar kata bidan Rini yang menolong proses kelahiran istrinya, kalau anaknya begitu mirip dengan dirinya.
"Bapak sama ibuk mu sudah dikasih kabar belum Ndi?" tanya Bu Siti yang tiba-tiba masuk.
Andi terpaksa membohongi mertuanya, dia tak ingin mertuanya mengetahui jika sampai detik ini jangankan mau datang, niat saja tidak ada pada keluarganya.
Bu Siti hanya menganggukkan kepalanya saja. Lalu beliau melihat Indah yang masih saja terlelap.
"Kita cari angkot saja Ndi nanti buat pulang kerumah" tambahnya
"Iya buk" jawab Andi.
Ketika Indah terbangun, sang ibu segera menanyakan keadaannya. Jelas sekali rasa khawatir pada dirinya terhadap putrinya tersebut. Indah mengatakan jika dia baik-baik saja agar sang ibu tidak khawatir lagi.
Lalu sang ibu, menyuapi Indah makan sementara Andi masih di tempatnya semula bersama anaknya.
__ADS_1
Sore menjelang, sekitar pukul empat, belum juga ada tanda-tanda orang tuanya akan datang, Andi semakin sedih. Semakin rasa malu timbul di hatinya.
Tak lama, muncul sang kakak ipar, Andri.
"Sudah siap?" tanyanya begitu masuk
"Sudah kak" jawab Andi.
Segera mereka berdua membawa semua barang-barang ke dalam angkot yang telah menunggu di halaman klinik. Indah juga sudah duduk di kursi roda dengan di dorong oleh perawat, sementara anaknya digendong sang ibu.
Saat akan menaiki angkot, tampak sekali Indah kesusahan untuk berdiri. Dengan sigap sang kakak mengangkat tubuhnya dan menyuruh Andi membukakan pintu mobil bagian depan agar memudahkannya memasukkan adiknya kedalam angkot.
Andi terperangah melihat Andri menggendong istrinya, sekarang dia faham bahwa sang kakak ipar sangatlah menyayangi istrinya tersebut.
Indah pun terharu mendapat perlakuan dari sang kakak. Dia bisa merasakan betapa sayangnya sang kakak padanya.
Tak lama angkotpun sampai di rumah orang tua Indah. Andi dan Andri yang memakai motor terlebih dulu sampai ke rumah. Ternyata di rumah telah ada kakak perempuan Indah yang tertua, Yana. Melihat sang adik sampai segera dia memapah Indah berjalan dan memeluk sang adik dengan berurai air mata.
Tak lama, para tetangga mulai berdatangan. Bergantian mereka memeluk dan cipika cipiki Indah sembari mengucapkan selamat.
"uy, mirip nian dengan bapaknya" ucap mereka ketika melihat anak Indah.
Menjelang maghrib, para tetangga berpamitan pulang. Sang ibu dan Yuk Yana begitu sigap mengurus Indah. Sudah mereka siapkan air hangat buat Indah mandi dan juga sayur bening buat Indah makan.
"Orang baru melahirkan itu jadi ratu" ucap Yuk Yana. Indah tertawa.
Dia begitu bahagia mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seluruh keluarganya.
__ADS_1