
Handphoneku berdering
Mine❤️
"Kamar nomor berapa sayang?"
"415 bang"
Sekian menit berlalu tak lama pintu kamar diketuk, Adam segera berlari membukakan.
"Papa...."
Ozkan segera menurunkan Defne dan Serkan, keduanya langsung berlari ke arahku.
Sementara Adam mencium punggung tangan abang, yang dibalas abang dengan memeluknya erat
"Makin besar ya anak papa"
Adam tersenyum. Lalu abang masuk dan mencium punggung tangan kedua orang tuaku
"Abang, ini kakak perempuanku dan ini kakak iparku" ucapku menunjuk kearah yuk Yana dan kepada istri kak Angga dan kak Andri
Abang mendekati mereka sambil tersenyum dan menyalami mereka
"Sama eyke nggak mau salim?"
Abang langsung memasang wajah datar ketika melihat kak Jen yang mulai kegenitan memandangnya
"Ehm hemm" deheman suara bariton membuat kak Jen memiringkan tubuhnya melihat kearah pintu
"Wadidawwww.... kok ada mereka sih?" ucapnya kaget sambil menutup mulut ketika melihat ada pak Binsar, pak Tomo dan pak Abraham berdiri di depan pintu
"Biar kamu nggak kegenitan sama saya" jawab abang
Aku langsung terkikik dan segera merangkul bahu kak Jen yang bersungut-sungut mendengar jawaban abang
"Come on, say hello with grandma" ucapku pada Twins yang terus menggelendot manja di lenganku
Umak bapakku mendekati mereka dan mengulurkan tangan pada keduanya
Serkan dan Defne bergeming, mereka masih tak bereaksi
"Darling, they are your grandma and grandpa, same with babane and buyukbaba in Turkey" ucap abang
Twins terus menatap wajah umak bapakku lalu dengan pelan mereka meraih tangan umak bapakku lalu menciumnya
Aku tersenyum melihatnya.
"Bagaimana, apakah kita bisa pergi sekarang?"
"Bisa" jawabku
"Loh, kamu nggak mau make up?"
Aku menggeleng
"Kalau aku make up, bisa telat nanti kak"
"Istriku sudah cantik, jadi kamu tidak perlu make up in nya"
Kembali kak Jen mencibir dan memutar-mutar matanya. Aku kembali terkekeh. Dan dengan pasti kami semua berjalan keluar dari dalam kamar.
Pak Abraham cs berjalan di belakang kami. Kak Jen terus saja mencuri-curi pandang pada ketiganya
"Jalan lurus ke depan!!" bentak pak Abraham
Kak Jen terlonjak dan langsung latah yang membuat kami terkekeh
"Awas ya yeay" geramnya kearah pak Abraham yang tetap memasang wajah sangar
"Tuan muda Emir mana, bang?"
"Tadi waktu abang ajak turun dia tidak mau, katanya dia mau menyiapkan sesuatu"
Aku mendecak kesal, mana bisa tuan muda ditinggal sendirian, dia itu cucu ummi, cucu kesayangan ummi. Jika sesuatu terjadi padanya, maka aku tak akan memaafkan diriku sendiri
__ADS_1
Segera aku mengeluarkan handphone dalam tas kecilku
"Tuan muda di mana?"
"Ini masih di kamar bunda"
"Kita sudah mau ke ruangan aulanya, tuan muda cepat turun ya"
"Sebentar lagi bunda"
"Tidak bisa sayang, bunda tidak akan pergi jika tuan muda tidak ada"
"Nanti Emir nyusul bun"
"Tuan muda tidak tahu tempatnya sayang"
"Bunda aktifkan saja lokasi di handphone bunda, nanti Emir bisa lacak"
Aku menarik nafas panjang mendengar jawabannya
"Tapi tuan muda...."
"Jika bunda tidak yakin, bunda bisa kirim satu bodyguard untuk menjemput Emir"
Aku diam sebentar mempertimbangkan usulnya
"Baiklah, bunda kirim bodyguard untuk membawa Emir ke ruang wisuda, ya?"
"Iya bunda"
Lalu aku kembali menarik nafas panjang dan kembali berjalan
"Siapa nak?" tanya umakku
"Cucu ummi ikut mak, dia memang sudah kenal dengan ketiga anakku ketika mereka ke Jeddah"
"Tuan Emir, Khaleed apa Fadh bunda?" tanya Adam
"Tuan muda Emir"
Wajah Adam berseri-seri mendengar jawabanku
"Ini saja mendadak dek, jika dari jauh hari bunda kasih tahu, bunda yakin ketiganya mau ikut"
"Wihhh, pasti makin ganteng ya tuh tuan muda" gumam kak Jen
Aku mengangguk sambil terkekeh
"Namanya saja orang Arab kak, tentu cakeplah. Tinggi, badan besar, hidung mancung"
Mata kak Jen langsung membulat dan dia cekikikan
Kembali pak Abraham berdehem
"Kamu apaan sih?, nggak seneng banget liat orang bahagia!" bentak Kak Jen
Spontan kami tertawa, pak Binsar dan pak Tomo hanya tersenyum sekilas, sementara wajah pak Abraham tetap datar
Sepertinya mereka bertiga tidak bisa tertawa, mau selucu apapun paling cuma tersenyum segaris, benar-benar dingin.
...****************...
Saat kami masuk, acara belum dimulai, masih gladi.
Aku dan abang yang duduk di barisan wali santri celingukan mencari keberadaan Naura
Bunda sama papa sudah di dalam aula yuk, ayuk dimana?
Centang dua, belum dibaca
Aku terus memperhatikan mereka semua, seluruh santri yang akan diwisuda tampak bersholawat dan membacakan ayat Al-Qur'an secara bersama-sama
Di barisan belakang, seluruh keluarga santri juga telah duduk rapih. Termasuk di sana ada umak bapakku dan juga keluarga besar ku.
Defne dan Serkan dalam pangkuan umak bapakku, mereka hanya diam tak berkutik, mungkin mereka heran melihat suasana yang belum pernah sekalipun mereka lihat.
__ADS_1
Acara di mulai, tampaklah seorang mc memimpin acara wisuda ini. Sama seperti acara formal lainnya, awalnya diisi acara sambutan baru setelahnya acara wisuda, bahkan sambutan dari wali santri dari orang nomor satu kota ini.
Satu persatu mc menyebutkan nama lengkap beserta nama orang tua, alamat dan nilai peserta didik. Tepuk tangan memenuhi ruangan setiap nama peserta didik disebutkan
"Tuan muda Emir mana?" bisikku gelisah
Abang melihat kearah Binsar dan Tomo yang berdiri di sudut ruangan
"Abraham tidak ada, mungkin dia sedang menjemput Emir"
Aku menarik nafas panjang dan mulai gelisah
Kamu dimana sayang, acara sudah mulai
Isi pesan what's app ku pada tuan muda Emir. Centang dua dan tak lama berwarna biru, dibaca
Kulihat jika tuan muda Emir sedang mengetik pesan
"On the way menuju kesana bunda"
Aku menarik nafas lega dan ikut bertepuk tangan kembali saat mc menyebut nama peserta didik
"Selanjutnya peserta didik dengan nomor 134, dengan nama lengkap Dinda Naura Wijaya, lahir di Musi Rawas, 13 November 2000 anak sulung dari pasangan Bapak Andi Wijaya dan ibu Indah Yuliani, dengan jumlah nilai 1578 dengan predikat Sempurna...."
Begitu nama Naura disebutkan aku segera diam, detak jantungku berdegup kencang dan dapat aku rasakan jika abang menggenggam jemariku yang terasa dingin
Andi, mengapa harus ada nama Andi disebutkan rutukku dalam hati. Aku menarik nafas panjang dan ikut bertepuk tangan ketika kepala sekolah mengalungkan samir ke leher Naura.
Aku dengar banyak sekali suitan ketika Naura berjalan naik ke panggung dan begitupun ketika dia turun
"Nauraaaa... I love you..." teriak sebuah suara
Ruangan besar ini langsung bergemuruh dan aku lihat jika ada sebaris anak cowok sedang memukuli temannya sambil terbahak-bahak
Naura yang sedang berjalan berhenti sebentar ketika mendengar teriakan itu lalu kembali berjalan cepat, dan Naura menoleh kearah barisan kursi wali murid, dia yakin jika papa dan bundanya ada di sana, lalu dia melambai-lambaikan tangannya.
Hal itu kembali membuat heboh seisi ruangan.
"Nauraaaa.... aku disiniiiiii" kembali terdengar suara teriakan. Dan kembali aku lihat di tempat tadi terjadi pukul-pukulan dan suara terbahak-bahak
Seisi gedung tertawa, dan Naura dengan cepat menunduk dan berjalan terburu ke kursinya. Aku tersenyum mendapati semu di wajah anak sulungku
"Jangkung banyak fans" bisik abang yang membuat mataku berputar malas dan mendecak
"Itu tadi yang bilang I Love you Naura kalau memang serius langsung taaruf ya habis acara ini" ucap mc yang kembali disambut seru dan heboh seluruh peserta didik
Naura yang sangat malu langsung menutup wajahnya dan segera dipeluk dengan teman yang duduk di sebelahnya
"Dia Akmar, kamu tahu kan siapa dia?" bisik temannya pada Naura yang terus menyembunyikan wajahnya
Naura makin mengeratkan pelukannya, sementara teman yang memeluknya terkekeh
Acara berlangsung terus, hingga setelah peserta didik perempuan habis baru pindah pada peserta didik laki-laki
Jantung Naura berdegup kencang ketika mc menyebutkan nama Akmar. Kembali suara tepuk tangan memenuhi ruangan ketika Akmar naik.
Mungkin seluruh Pekanbaru tahu siapa Akmar, dia adalah anak pejabat tinggi nomor satu Pekanbaru, cowok tinggi, tampan, berkulit putih, dan juga cerdas. Juga yang membanggakan adalah dia juga seorang hafidz
Saat selesai kepala sekolah mengalungkan samir ke leher Akmar, dengan gagah pemuda itu berjalan kearah mc, dan tampak seperti berbicara.
Dada Naura makin berdegup kencang melihat Akmar berbicara pada mc, sementara santri laki-laki mulai tertawa-tawa bahkan ada yang bersuit-suit. Bahkan ada yang berteriak
"Semangat Akmaaaarrrrrr..."
Akmar menoleh dan melambaikan tangannya. Seisi gedung mulai kasak-kusuk ketika Akmar mulai memegang mic. Bahkan kepala sekolah dan barisan ustadz ustadzah memandang tajam pada Akmar
"Naura, maukah kau taaruf denganku??"
Duaaaarrrrrr!!!!!
Seisi gedung kembali riuh rendah, santri laki-laki kembali heboh begitu juga santri perempuan. Aku yang telah mengetahui dimana Naura duduk memandang kearahnya tanpa berkedip
Kulihat Naura kembali menyembunyikan wajahnya di pelukan temannya. Lalu aku menatap tajam kearah Akmar yang berjalan gagah turun dari panggung
Abang kembali memegang tanganku sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kasihan Naura" bisikku
Akmar yang berjalan ketempat duduknya, ketika melewati barisan santri perempuan tepatnya ke barisan tempat duduk Naura, tampak membungkukkan badannya dan Naura memejamkan matanya dengan ketakutan, sementara santri yang lain terbahak melihat kelakuan konyol Akmar