
"Boleh ya wak?" Naura berusaha membujuk
Kak Andri masih diam. Mikail yang mulutnya berkomat kamit menoleh sesekali.
"Apa sih tujuan kamu liburan kesana Yuk?"
Mata Naura berputar sebentar seperti berpikir mencari alasan.
"Nggak ada kan?, jadi nggak usah!"
"Please wak, yaa..."
"Bismillahirrahmanirrahim wa qaḍā rabbuka allā ta'budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna 'indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā" Mikail membaca dengan suara keras
Naura segera memutar kepalanya, melirik tajam kearah adik keduanya itu
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS: Al-Isra ayat 23-24)" sambungnya
"Ayuk kan nggak bentak dek" belanya
Adam terkekeh
"Ada yang tersinggung" sambungnya
Naura cemberut
"Bismillahirrahmanirrahim fa hal 'asaitum in tawallaitum an tufsidụ film-arḍi wa tuqaṭṭi'ū ar-ḥāmakum, ulā`ikallażīna la'anahumullāhu fa aṣammahum wa a'mā abṣārahum"
"Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?, Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya."(QS. Muhammad: 22-23) Naura menyambung dengan wajah cemberut
Kak Andri yang mendengar Naura membaca surah itu diam, dia sedikit melirik kearah Naura yang wajahnya masih di tekuk
"Jadi kamu mengganggap uwak tuli dan buta, begitu?"
Naura dengan cepat menggeleng
"Lah terus tadi apa itu?"
"Itu kan yang ayuk baca kandungan Al-Qur'an wak, intinya bahwa kita itu tidak boleh memutuskan ikatan keluarga"
Kak Andri mengusap wajahnya. Dalam hatinya dia memuji keponakannya itu yang sudah banyak hafal kandungan Al-Qur'an
"Kamu tahu yuk kenapa uwak larang kamu ketempat embah mu dan ikut ayahmu?, karena uwak sedikitpun tidak percaya sama mereka, seujung kuku pun tidak percaya. Tapi karena kamu sekarang juga sudah besar, sudah kelas sembilan juga kan?, jadi kamu bisa mikir mana yang baik dan mana yang buruk. Sebenarnya banyak yang ingin uwak sampaikan sama kamu, tapi bundamu melarangnya. Tapi untuk urusan kalian bertiga tetap dibawah kendali uwak"
Naura segera memeluk kak Andri
"Makasih ya wak karena telah menyayangi kami" ucapnya sambil menyusut air matanya
Kak Andri mengusap kepala Naura yang terbungkus hijab.
"Wak, aku daftarnya kapan?, kan aku sudah mau SMP" ucap Mikail
"Senin saja ya kak, besok kan ayuk mau ketempat embah kalian, apa kakak dan adek nggak mau ikut kesana juga?"
Adam segera menutup telinganya dan mengencangkan volume suaranya
"Yaaa aiyuhal laziina aamanuu shahaadatu bainikum izaa hadara ahadakumul mawtu hiinal wasiyyatis naani zawaa 'adlim minkum aw aakharaani min ghairikum in antum darabtum fil ardi fa asaabatkum musiibatul mawt; tahbi suunahumaa mim ba'dis Salaati fa yuqsimaa"
Kak Andri faham, dia tidak ingin melanjutkan pertanyaannya. Dia hanya menoleh pada Mikail yang menggeleng
"Siapa yang jemput?, ayahmu?"
Naura mengangguk
"Sekarang ayah nginap di rumah temannya di Linggau, besok pagi baru kesini, pamitan untuk ngajak ayuk ke rumah mbah"
"Ayuk sudah lama tidak skype sama bunda, boleh skype bunda, wak?"
Kak Andri mengeluarkan handphonenya. Mengetik bbm "Sat, Naura mau skype. Pastikan dia tidak melihat suamimu"
Aku yang sedang merebahkan kepala di sandaran kursi karena baru pulang dari kantor segera merogoh handphone dalam tas ketika mendengar suara bbm masuk
Anne yang keluar dari belakang membawa jus buah untukku segera memberikan gelas jus padaku
"Minum ini, bagus untuk kedua cucu anne"
Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, lalu meminum jus buatan ibu mertuaku. Lalu aku segera membuka laptop. Nyonya Aylin yang melihat Indah membuka laptop langsung protes
"Baru sampai rumah kan?, stop kerjanya"
"Anakku mau skype, anne" jawabku sambil terus menghidupkan laptop
Anne menganggukkan kepalanya dan ikut duduk di sebelahku
"Suruh lah Naura menghidupkan laptopnya kak, ini aku lagi dengan ibu mertuaku"
Mendapat jawaban dari Indah, kak Andri segera memerintahkan Naura untuk mengaktifkan skype.
Tak mau ketinggalan, Mikail dan Adam segera berlari mengikuti Naura masuk kamar
Aku menatap layar laptop, tak lama ada panggilan skype masuk. Aku langsung menghubungkan panggilan, maka tampillah wajah ketiga anakku
__ADS_1
Wajahku langsung mengembangkan senyum kearah mereka yang juga tampak sumringah melihatku. Anne yang duduk di sebelahku melambaikan tangannya kearah ketiga anakku
"Bunda, itu siapa?" tanya Naura
Aku menoleh pada anne
"Mamanya, bunda"
"Cantik ya bun"
Aku tersenyum, dan kembali menoleh pada anne
"She said that anne very beautiful"
Anne mengembangkan senyumnya
"You are so beautiful too"
Naura tersenyum
"Bunda, rencana besok ayuk mau tempat mbah, boleh?"
Aku diam, kulihat kedua jagoanku hanya menatap ke arahku
"Kakak sama adek?"
"Mereka nggak mau bun, aku aja"
"Sudah ngomong sama uwak?"
"Sudah, kata uwak boleh"
Aku menganggukkan kepalaku.
"Jangan aneh-aneh tempat mbah ya yuk, kalau ada apa-apa cepat hubungin uwak atau yang dekat hubungi buk Ning atau kakak Mas"
"Insha Alloh tidak terjadi apa-apa bun"
Aku menarik nafas dalam
"Semoga kamu di sana nanti dapat jawaban mengapa bunda benci sekali dengan mereka nak" batinku
"Bunda kapan pulang lagi?" teriak Adam
"Kakak sudah mau mondok, satu sekolah sama ayuk. Adek sendirian bun nggak ada teman"
Aku menempelkan tanganku ke layar laptop menyentuh wajah Adam, ada rasa aneh menjalar di dadaku ketika dia bilang jika dia sendirian, ada rasa sedih di dadaku
Cukup lama kami mengobrol hingga mendekati waktu maghrib di Jeddah baru obrolan berhenti, juga karena kakakku menyuruh ketiga anakku tidur karena di Indonesia sudah pukul sepuluh malam lewat
Setelah saling melambaikan tangan kami menyudahi obrolan kami.
Aku menutup laptop dan menyandarkan tubuhku kembali ke sofa. Anne menyentuh bahuku
"Kamu kangen mereka?"
Aku mengangguk dan memeluk anne
"Anne mengerti perasaan kamu, semoga suatu hari nanti mereka bisa kesini ya. Atau jika kamu mau, Anne bisa nyuruh babamu untuk mengirimkan jet untuk menjemput mereka"
"Menjemput siapa anne?" Ozkan yang masuk langsung mengelus perut istrinya
"Apa kabar twins daddy?, nggak nakal kan di perut mama?"
Aku terkekeh, "Apalah orang ini" batinku
"Ketiga anaknya Indah"
"Loh, anne tahu mereka?"
"Barusan skype, istrimu kangen mereka"
"Ozkan sih tidak keberatan membawa mereka kesini, biar Indah tidak jauh lagi dari mereka. Juga biar Ozkan ada alasan menyuruhnya berhenti kerja. Anne tahu sendiri, perkiraan dokter November nanti dia lahiran, dan ini sudah bulan Juni, tapi Indah masih saja bandel"
Aku memutar mataku menghindari ocehan suamiku, sementara anne terkekeh.
"Abang, aku ingin makan model" ucapku tiba-tiba
Ozkan langsung kaget
"Kamu dengar nggak sih abang ngomong apa, kok tahu-tahu ingin makan model"
Aku memonyongkan bibirku.
"Dengar, tapi aku tiba-tiba kepingin makan model"
"Model itu apa?, yang jalan di catwalk itu?"
Aku cemberut
"Masa aku makan orang, emang aku kanibal?"
__ADS_1
Aku langsung berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Istri ngidam itu harus dituruti, jika tidak nanti anak kamu ngeces" anne memasang wajah marah pada Ozkan
"Anne, permintaannya aneh, masa mau makan model"
"Telpon pak Abraham!" aku yang kembali lagi ke depan berkata dengan nada merajuk
"Abraham?"
"Iya, cepat!"
"Sayang, di Indonesia ini telah malam, besok saja ya." Ozkan berbicara dengan pelan berusaha membujuk
Aku kembali memutar badanku, masuk lagi kedalam kamar, melaksanakan kewajibanku pada Illahi Rabbi
Ozkan yang masuk kedalam kamar, demi melihat istrinya tengah shalat segera mandi, setelahnya dia juga melaksanakan kewajibannya
Selesai makan malam, mereka duduk santai di ruang keluarga, dengan sayang Ozkan memangku kaki istrinya. Diletakkannya kedua kaki istrinya di pangkuannya dan memijitnya. Anne yang sedang menonton tivi membiarkan saja anak dan menantunya sayang-sayangan.
"Abang, aku ingin makan pisang"
Ozkan melirik jam tangannya, jam delapan lewat, mall masih buka. Segera dia menurunkan kaki istrinya
"Pisang apa sayang?"
"Pisang Ambon Curup"
Mulut Ozkan ternganga
"Itu apalagi?"
"Pisang Ambon yang ada di kota Curup"
"Daerah apa itu?"
"Daerah yang nggak jauh dari Linggau, kota dingin, di sana banyak sekali buah-buahan segar, dan pisangnya beuuuhhhh enak-enak banget bang"
Ozkan mengusap wajahnya frustasi
"Pisang impor dari Eropa saja, ya?, yang banyak di jual di mall-mall"
Aku menggeleng
"Maunya yang dari Curup!"
Ozkan diam
"Telpon pak Abraham!" suaraku mulai merajuk
Dengan menghembus nafas dalam Ozkan segera mengambil handphone yang diletakkannya di kamar
"Abraham, besok kamu ke..., kemana sayang?"
Aku segera mengambil handphone abang
"Pak, belikan aku pisang ambon yang ada di Curup itu ya, pilih yang bagus-bagus. Terus belikan juga aku strawberry sama jeruk gerga, sama itu pak, bapak ke rumah umakku, minta beras merasi sama belikan aku model, atau nanti aku nelpon umakku nyuruh beliau giling adonan model, bapak ambil di rumah umakku"
Abraham yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul karena saat itu nyaris jam satu malam hanya menjawab iya-iya saja.
...****************...
"Izin bawa Naura ke rumah sebentar ya pak, buk" Andi berpamitan pagi ini pada kedua mantan mertuanya
Pak Ahmad dan Bu Siti hanya menganggukkan kepala mereka saja.
"Kakak sama adek benar nggak mau ikut?
"Kakak kejar setoran yah, sama besok mau daftar masuk pesantren sama uwak" jawab Mikail
"Adek?" tanya Andi pada Adam yang selalu dingin terhadapnya
"Mau di rumah saja" jawab Adam singkat
Andi tersenyum dan mengusap kepala Adam dengan sayang
Naura lalu mencium punggung tangan kedua neneknya. Lalu naik ke boncengan motor yang dikendarai Andi
Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah keluarga pak Hermawan.
Dimas langsung memeluk Naura begitu gadis itu turun dari motor
"Maa Syaa Alloh, tingginya kamu Ula" pujinya
Naura tersenyum lalu berpindah memeluk mbak Ningsih
"Kak Raffa..." sapanya sambil mencium punggung tangan Raffa
Lalu berpindah pada kedua embahnya dan Laras
"Bersikap manis lah pada Naura, kita tahukan siapa Indah sekarang" bisik Andi pada ketiga orang itu sewaktu Naura memeluk Mbak Ningsih
__ADS_1
Ketiganya mengangguk dan tersenyum penuh arti pada Naura yang saat itu tampak bahagia memeluk Ningsih