Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Positif


__ADS_3

Satu minggu kami habiskan di Swiss, lalu setelahnya kami pindah ke negara Eropa lainnya.


Baru di minggu keempat, dari Eropa kami menuju Dubai. Voucher dari tuan Malik kemarin menginap selama satu minggu di Burj Khalifa


Jadilah kami seminggu menikmati honeymoon kami di Kota Dubai. Kota dengan sejuta keindahan dan kemegahan.


Selama honeymoon, anne rajin sekali menghubungiku, aku merasa seperti bukan menantunya tapi anak kandungnya sendiri.


Ummi dan nona Alima pun melakukan hal yang sama, mereka beberapa kali meneleponku menanyakan kabar dan keadaanku


Dan hari ini, perjalanan panjang honeymoon kami selesai, kami harus kembali ke rumah karena keluarga besar abang Ozkan sudah menantikan kami.


Saat kami keluar dari pintu vvip bandara, kembali aku lihat beberapa bodyguard membentuk barisan menyambut kami.


Mereka sedikit menundukkan kepala mereka saat aku dan abang Ozkan makin dekat dengan mereka


Tiga buah mobil mewah telah menunggu kami, begitu kami dekat, seorang bodyguard segera membukakan pintu mobil untuk kami, setelah kami masuk, barulah bodyguard yang lain masuk dua mobil yang lainnya dan mobil berjalan pelan menuju istana keluarga Yilmaz


Saat mendengar ada suara mobil yang masuk, nyonya Aylin yang sedang berada di ruang makan melihat tatanan meja makan segera berjalan keluar


"Askim...." ucapnya ketika melihat kami berjalan kearahnya


Dipeluknya erat anak kesayangannya, dan juga memelukku sambil mencium kedua pipiku


Aku tersenyum dan menggandeng tangan anne masuk kedalam rumah


"Anne sudah menyuruh Gulsen masak yang enak-enak" ucap anne sambil membawaku dan abang kemeja makan


"Apa kami tidak mandi dulu anne?" tanya abang Ozkan


Anne menggeleng


"Setelah makan baru mandi dan istirahat" jawabnya


Kami menurut dan segera duduk di meja makan


"Welcome abi..." sebuah kecupan langsung mendarat di pipi Ozkan dari Canan yang masuk tiba-tiba


Lalu Canan berpindah mencium pipiku, menarik kursi lalu duduk di sebelahku


"Gimana?" tanyanya sambil mengangkat alisnya berkali-kali menggodaku


Aku langsung menutup wajahku karena pertanyaan vulgarnya


"Dia malu anne..." ucap Canan terbahak


Ozkan segera mengacak rambut adiknya


"Abi saya ganas nggak?" lanjutnya


"Astaghfirullah..." pekikku tertahan


Anne segera memelukku dari samping sementara Canan terus terbahak


"Cukup Canan, jangan buat wajah menantu anne masak"


Ozkan tersenyum-senyum saja melihat istrinya digoda habis oleh anne dan adiknya


Dia sama sekali membiarkan Indah digoda kali ini


"Biar Indah tahan banting sama sifat absurd anne dan Canan" gumamnya sambil tersenyum


"Gimana, masih ingin terus membuat istriku malu atau mau makan ini?" tanya Ozkan yang sudah mulai mengisi piringnya


Anne dan Canan berhenti, anne lalu duduk di tempatnya tadi.


"Ini" ucap abang memberikan piring yang sudah terisi padaku


Aku tersenyum menerima piring yang diberikan abang


Kembali Canan menggodaku ketika aku tersenyum pada abang


...****************...


"Abang, besok kita pulang ke Jeddah ya"


Ozkan yang sedang bersandar di sandaran ranjang yang sedang memeriksa laporan melalui laptopnya mengangkat wajahnya pada Indah yang sedang memeluk pinggangnya


"Kenapa harus besok?"


"Ummi ngasih jatah libur untukku satu bulan"


Ozkan menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja yang ada di sebelah ranjang, mengelus kepala istrinya

__ADS_1


"Tidakkah kau ingin tetap di Turki, tinggal bersama kedua orang tuaku?"


Aku mendongakkan kepalaku menatap abang


"Bukan begitu, tapi hotel Al Mursalat sudah ummi serahkan kepengurusan sama aku"


Abang lalu mengecup keningku dan kembali mengelus kepalaku


"Jadi kita berjauhan?" ucap Ozkan dengan nada sedih


Aku langsung duduk


"Abang stay di sini?" tanyaku dengan wajah kaget


Abang mengangguk.


Wajahku langsung mendung, aku segera memeluknya dan menangis


"Tapi aku nggak mau jauh dari abang"


Ozkan mengusap-usap rambut Indah sambil tersenyum di kulum


"Ya makanya kamu disini, nggak usah kembali ke Jeddah"


Tangisku kian kencang, dan aku makin erat memeluk abang


Ozkan yang semula hanya berniat menggoda Indah jadi kelabakan ketika tangis istrinya kian kencang


"Hei, abang cuma bercanda, jangan nangis"


Aku melepas pelukanku dan menatap wajahnya yang mengembangkan senyum


"Abang cuma bercanda, baba menyerahkan kepengurusan perusahaan miliknya yang ada di Jeddah untuk abang tangani"


Aku kembali menangis dan memeluknya erat. Ozkan yang sambil tertawa kembali membelai lembut kepala istrinya


"Kita akan selalu bersama, selamanya" bisik Ozkan ditelinga istrinya


Lalu sikapnya mulai berubah nakal, yang semula hanya ciuman lembut berubah ganas, dan tangannya mulai bergerilya di tubuh istrinya.


Hingga kembali dan lagi, permainan panas mereka lalukan seakan tiada hentinya.


Dan tiap kali selesai dengan permainan panasnya, Ozkan akan selalu mencium perut rata istrinya dan membisikkan kalimat doa dan harapan agar di rahim istrinya tumbuh penerusnya


...****************...


Ketika aku turun tuan muda Fadh langsung berlari menyerbuku.


"Bundaaaa..." teriaknya


Aku segera memeluknya erat dan menciumi pipinya


Mendengar teriakan Fadh, nona Alima dan ummi Afsha segera berdiri dan menyambut kedatanganku


"'Ahlan wasahlan, anak ummi" ucap ummi sambil memelukku erat


Abang mencium takzim punggung tangan ummi lalu aku memeluk erat nona Alima


"Saya bahagia karena kamu telah kembali, rumah ini sepi tanpa kamu" lanjut nona Alima sambil membimbingku masuk dan kami duduk di ruang tamu


Suara gaduh di dekat lift membuat kami menoleh. Tampak olehku, si sulung tuan muda Emir dan si bungsu tuan muda Khaleed berlari ke arahku


Mereka langsung menyerbuku dan berebut memelukku


Alima yang melihat kelakuan kedua putra menggeleng-gelengkan kepalanya


"Emir, kamu sudah besar nak, masa masih manja sama bunda?" protes nona Alima


Tuan muda Emir yang memang sudah sekolah menengah atas menoleh dengan wajah cemberut pada mommy nya


"Mereka dari kecil sangat dekat dengan Indah, jadi kamu jangan iri jika mereka akan memeluk dan mencium Indah bahkan di depan kamu" tambah ummi


Abang Ozkan tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan melihat dengan tatapan sayang kepada tiga tuan muda yang duduk menempel pada Indah


"Fadh yang paling manja" sambung nona Alima


Tuan muda Fadh menutup wajahnya, sedangkan kedua saudaranya terkekeh


"Bunda baru sampai, biarkan bunda istirahat di kamarnya, ya?" lanjut nona Alima


"Nggak boleh, bunda kan sudah sebulan ninggalin kita, jadi sekarang bunda harus main dulu sama kami, baru setelah itu bunda boleh istirahat" jawab tuan muda Khaleed


"Siapa takut, ayok!" ajak ku sambil berdiri dan melirik abang yang menganggukkan kepalanya

__ADS_1


Lalu aku mengikuti ketiga tuan muda masuk dalam lift, masuk ke dalam kamar tuan muda Fadh, dan mulai mendengarkan celotehan mereka.


Berkali-kali kami terbahak ketika cerita mereka terdengar lucu bahkan tak jarang aku akan memberikan nasihatku ketika mereka meminta pendapatku


Aku menoleh kearah pintu ketika mendengar suara ketukan. Nona Alima


"Sudah hampir dua jam loh bunda nemenin kalian, sekarang bunda bolehkan istirahat?"


Aku tersenyum kearah tiga tuan muda, secara bergantian mereka memelukku


Barulah setelahnya aku keluar dari dalam kamar tuan muda Fadh dan berjalan naik ke kamarku


Sampai di kamar aku melihat abang telah tertidur. Aku mengecup keningnya lalu masuk kedalam kamar mandi


Setelah itu aku berganti gaun tidur dan masuk kedalam selimut yang dipakai abang


Menyadari jika istrinya masuk di selimut yang sama, membuat Ozkan memiringkan tubuhnya dan memeluk erat istrinya


...****************...


Sudah satu minggu aku kembali kerutinitas ku di Al Mursalat hotel. Dan sudah lima hari pula aku dan abang tak tinggal lagi di rumah ummi, kami tinggal di apartemen abang, apartemen yang dipakainya ketika dulu bekerja sama dalam dua proyek bersamaku


Ummi tidak bisa menolak karena sekarang aku telah bersuami, walau dengan linangan air mata akhirnya ummi mengikhlaskan ku pergi dari istananya, mengikuti suamiku


Pagi ini setelah mengantarkan istrinya kekantor, Ozkan langsung pergi kekantor miliknya. Dia kembali melakukan rutinitasnya seperti biasa, begitu juga denganku, aku kembali dengan rutinitas ku.


Kedatanganku disambut dengan hangat oleh seluruh karyawan hotel. Secara bergantian mereka menyalamiku dengan hangat


Aku berkali-kali memaju mundurkan kepalaku menatap layar laptop. Kepalaku terasa pusing dan aku berusaha berkali-kali memijit keningku agar pusing di kepalaku sedikit berkurang


Aku segera meminum air mineral yang ada di dekat laptop dan menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi


Tapi pusing kepalaku belum juga hilang, aku lalu meraba handphone yang tergeletak di atas meja, mendial nomor abang


"Ya sayang?" jawab abang ketika panggilan tersambung


"Kepalaku pusing"


"Abang jemput ya, kita pulang"


"Iya"


Aku segera meletakkan handphone dan berjalan kearah sofa, berbaring


"Apa aku hamil, ya?" gumamku


Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali aku datang bulan. Dan sedikit kaget, ketika teringat jika aku terakhir dapet itu pas tuan Malik datang. Itu artinya aku sudah telat beberapa hari


Ozkan yang datang ke hotel Al Mursalat langsung masuk menuju kantor istrinya. Begitu dia membuka pintu, didapatinya istrinya tengah terbaring lemah di sofa


"Sayang..." ucapnya panik sambil mencium kening istrinya


Aku membuka mataku dan memaksakan sebuah senyuman


"Ayo kita pulang" ajaknya sambil segera merengkuh pundakku, membawaku keluar dari dalam hotel


Saat kami akan masuk kedalam mobil kepalaku makin terasa berputar dan akhirnya aku tak sadarkan diri


Ozkan yang panik karena istrinya tiba-tiba pingsan segera meminta bantuan penjaga keamanan untuk membukakan pintu mobil


Dengan segera dia melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Ozkan segera menggendong tubuh istrinya lalu beberapa perawat mulai membawa brankar dan memasukkan Indah keruang perawatan


Ozkan yang menunggu di luar berjalan hilir mudik dengan khawatir. Saat dokter keluar, Ozkan segera menghampiri dokter tersebut


"Bagaimana istri saya, apa yang terjadi padanya?" tanya Ozkan dengan nada panik


Dokter tersenyum dan segera menjabat tangannya


"Selamat, istri anda positif hamil"


Ozkan langsung menutup wajahnya dan segera masuk.


Aku yang terbaring lemah melihat abang yang masuk tergesa segera tersenyum padanya


Ozkan langsung mencium kening istrinya dengan dalam


"Terima kasih sayang, terima kasih" ucapnya berkali-kali tanpa berhenti menciumiku


Aku menatapnya heran


"Kamu hamil sayang, kamu hamil" sambung abang sambil menggenggam erat tanganku


Mataku langsung berbinar bahagia mendengar kabar dari suamiku.

__ADS_1


"Serius?"


Abang Ozkan menganggukkan kepalanya, lalu memelukku yang masih terbaring. Aku mengusap-usap kepalanya yang ada di atas bahuku


__ADS_2