Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Aku Tahu, Tapi Aku Diam


__ADS_3

Jam 07.10 suamiku sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Aku yang saat itu sedang di dapur membuatkan teh hangat untuknya melirik dengan ekor mataku saat dia melintas mengambil sepatu dan menyemirnya.


"Bun, tolong siapi baju ayah. Sore ini ayah langsung berangkat ke Bengkulu. Ada meeting"


Aku menghela nafas dalam. Aku tahu, dia pergi bukan untuk meeting tapi untuk bersenang-senang dengan selingkuhannya.


Aku letakkan teh di depannya. Aku berdiri mematung memperhatikannya yang fokus dengan sepatu yang ada di tangannya.


"Berapa hari?" tanyaku


"Malam senin pulangnya" jawabnya tanpa menoleh kearahku


"Emang meetingnya butuh berapa hari sih Yah sampai malam senin baru pulang"


"Ya kan banyak yang mau dibahas bun"


Kembali aku menghela nafas dalam. Ya Rabb, alasan apalagi Andi yang akan kamu lemparkan untuk menutupi perselingkuhanmu ini? batin ku.


"Ayo bun buruan, nanti Ayah telat" ucapnya sambil memakai sepatu yang telah selesai disemirnya.


"Naura bagaimana Yah?" tanyaku masih belum pergi dari hadapannya.


"Naura kenapa?" dia balik bertanya


"Ayahkan tahu, Naura itu tidak bisa jauh lama-lama dari ayah" jelasku


"Ah, nanti dia juga terbiasa kok jauh dari ayahnya" jawabnya enteng


"Maksudnya?" kejarku


"Sudhlah bun, mau tidak nyiapkan baju-bajuku. Kalau tidak mau, aku bisa kok" ucapnya sambil berdiri dan masuk ke kamar kami.


Aku mengejarnya masuk kekamar, aku melihat dia mengambil pakaiannya sendiri, packing sediri.


Aku duduk di tepi ranjang memperhatikannya yang sibuk memasukkan baju kedalam koper.


"Apa meeting pakai baju casual Yah? tanyaku karena sedari tadi yang aku lihat hanya baju-baju casualnya lah yang dimasukkannya. Tidak ada baju kerja


"Kan meetingnya diluar, jadi tidak pakai pakaian formallah" jawabnya


"Ohh" jawabku.


Setelah suamiku selesai dengan packingnya, dia segera menarik kopernya dan keluar dari dalam kamar tanpa mencium ketiga anaknya terlebih dahulu.


Diraihnya teh yang dari tadi terletak di atas meja. Ditenggaknya hingga tandas. Lalu dia mengulurkan tangannya kearahku untuk pamit.


Aku mencium punggung tangannya dan mengekor di belakangnya menuju garasi.


Begitu mobil suamiku mulai menjauh, rasanya hatiku makin hampa. Aku menatap mobilnya sampai hilang di tikungan. Tanpa kusadari air mataku menetes.

__ADS_1


Tidak ingin mbak Dian mengetahui aku menangis, aku segera menghapus air mataku dan masuk kembali kekamar. Sesampainya di kamar, aku segera memeluk Adam yang masih terlelap. Aku menangis sejadi-jadinya sambil mendekap anakku.


Aku bangun dan terduduk di lantai, menutup wajahku yang penuh air mata. Aku memutar tubuhku dan dengan satu tanganku aku memeluk anak-anakku. Kembali aku tergugu.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anakku jika nanti Andi benar-benar meninggalkan kami.


...+++++++++...


Di tempat lain


Andi segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju tempat biasa dia menjemput Gustina. Selingkuhannya.


Dari jauh Andi sudah bisa melihat kekasih hatinya itu sudah menunggunya. Andi segera menghentikan mobilnya tepat di depan Gustina.


Gustina dengan riang membuka pintu mobil dan segera duduk di sebelah Andi.


Mereka segera berpelukan melepas kangen.


Andi segera mengelus paha Gustina yang memang saat itu mengenakan rok yang sangat pendek.


Dengan nakal Gustina segera mencium pipi Andi. Andi makin meremas paha Gustina dengan gemas.


"Hahh!" Andi membuang nafas kasarnya.


"Sabar sayang, malam nanti" jawab Gustina yang faham dengan maksud Andi.


Siapakah Gustina?


Gustina adalah seorang SPG disebuah perusahaan r**ok. Pekerjaannya menuntutnya untuk selalu berpakaian mini.


Dia tidak sengaja bertemu dengan Andi ketika dia sedang mempromosikan keluaran terbaru produk r***k.


Dengan wajah cantik kulit putih dan postur tubuh yang tinggi, serta kelihaiannya dalam berbicara, banyak membuat para cowok yang notabene adalah kaum tembakau kepincut pesona yang ditebarkannya. Tak urung itu juga yang membuat Andi tergoda padanya.


Pada pertemuan pertama ketika Gustina ke kantor Andi dan menemuinya untuk mempromosikan r***k, Andi belum tertarik padanya. Tapi setelah pertemuan tak sengaja mereka, yang ketika itu Andi tak sengaja menolong Gustina saat motornya mogok dan mengantarkannya pulang. Sejak itulah Andi dan Gustina sering saling sapa walau hanya lewat sms.


Apalagi ketika diketahui jika Gustina juga bisa "dipakai", maka Andi semakin sering mengajak gadis itu keluar kota.


Gustina atau yang akrab disapa Tina awalnya bukanlah perempuan nakal yang ditutupinya dengan bekerja sebagai SPG. Dia terjerumus kedunia hitam itu karena dia sakit hati dengan sang pacar yang meninggalkannya setelah merenggut kesuciannya.


Karena sudah kepalang tanggung, akhirnya Tina benar-benar menjadi wanita panggilan. Tapi sejak dia berpacaran dengan Andi, dia sudah lagi menerima panggilan dari pria-pria hidung belang. Karena Andi bisa memenuhi segala keinginannya. Dan Andi sepertinya benar-benar jatuh cinta pada wanita itu.


Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai Andi berhenti di depan sebuah gedung yang diketahui adalah kantor tempat Gustina bekerja.


Sebelum Gustina turun dari mobil, Andi menarik tengkuk gadis itu dan ******* bibir manisnya. Gustina pun membalas pagutan Andi. Mereka saling memilin lidah dan saling menyesap. Dirasa nafas mereka mau habis, mereka melepas pagutan masing-masing.


Andi segera mengelap bibirnya, begitu juga dengan Gustina yang tersenyum. Diambilnya bedak dalam tas kecilnya lalu dia mulai membenahi lipstik yang agak luntur akibat ciuman panas mereka tadi.


Gustina segera membuka pintu mobil dan keluar. Dia melambaikan tangan pada Andi sebelum akhirnya pria itu menjalankan mobilnya menuju kekantornya sendiri.

__ADS_1


...+++++++++...


Di rumah aku masih merutuki nasibku dengan sedih. Mbak Dian aku suruh membawa kedua anakku pulang kerumahnya. Tadi sudah aku bekali dengan susu formula untuk Naura dan Mikail.


Mbak Dian mengetahui jika aku menangis, tetapi dia tidak berani untuk bertanya apa penyebab aku menangis.


"Kakak sama ayuk tolong bawa pulang kerumah mbak saja ya mbak, saya lagi stress" ucapku


Mbak Dian mengangguk lalu dia menggendong Mikail dan menggandeng Naura.


Sebelum mereka keluar dari rumah aku memeluk kedua anakku. Naura dan Mikail hanya diam saat aku memeluk mereka.


"Bunda minta kekuatan ya Nak" ucapku sambil mendekap mereka berbarengan.


Mbak Dian terpaku menatap Indah yang memeluk kedua anaknya. Ada iba dalam hatinya melihat airmata Indah yang mengalir.


Sebelum melangkah keluar, mbak Dian memegang pundakku. Aku tahu, dia berusaha untuk menguatkanku. Aku tersenyum samar kearahnya.


"Dadah sama bunda" ucap mbak Dian pada kedua anakku.


Naura dan Mikail melambaikan tangannya padaku yang kubalas dengan lambaian tangan pula.


...++++++++++...


Sementara itu di tempat lain, Andi dan Tina sedang melakukan perbuatan dosa yang mereka anggap dosa terindah.


Tak sedetikpun Andi merasa bersalah pada istrinya ketika melakukan hubungan terlarang itu. Dia tidak tahu bagaimana keadaan Indah di rumah.


*Di rumah*


Begitu mbak Dian dan kedua anakku pergi, aku masuk kekamar, aku mengamuk di sana. Ku tarik sprei kasur hingga bantal-bantal berjatuhan di lantai, ku lempar semua isi meja riasku. Tak puas sampai di sana, aku menghamburkan isi lemari pakaianku. Jadilah kini kamarku seperti kapal pecah. Aku terduduk lesu di lantai dengan kacau, wajahku penuh airmata dan rambutku acak-acakan.


Kupeluk lututku sendiri dan kembali menangis pilu. Berkali-kali aku memukul lantai sambil memaki-maki suamiku.


Ingin sekali rasanya aku berteriak untuk mengeluarkan sesak yang menghimpit dadaku.


Aku bangkit dan berjalan sambil menginjak pakaian yang berserakan di lantai. Aku keluar kamar dan menuju ruang keluarga.


Sesampainya di sana aku mengambil album foto pernikahan kami. Dengan gemetar aku membuka satu persatu foto di sana. Air mataku kembali luruh ketika aku melihat foto ijab qabul kami.


Di sana tampak Andi sedang bersalaman dengan ayahku. Digenggamnya erat tangan ayahku.


"Saya terima nikah dak kawinnya Indah Yuliani dengan mas kawin emas seberat sepuluh gram, dibayar tunai"


Hahhh... Aku menghembuskan nafas berat saat kembali terngiang ijab qabul hari itu.


Kututup album, karena rupanya hal itu makin membuatku sakit hati.


Andi... Andi... nama itu terus aku sebut sambil menangis pilu.

__ADS_1


__ADS_2