
Setelah melewati serangkaian persiapan dan administrasi, akhirnya hari ini pihak rumah sakit daerah membawa bu Mira ke rumah sakit rujukan di Palembang
Berangkatlah Andi bersama pak Hermawan di dalam ambulance, sedangkan Laras dan mbak Ningsih di mobil bapak mereka yang dikemudikan Dimas
Ternyata di rumah sakit propinsi tak semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menunggu berminggu-minggu untuk dapat kamar, karena lamanya menunggu akhirnya Andi dan Dimas pulang lebih awal, mereka hanya tiga hari di Palembang, selebihnya yang menunggui bu Mira di ruang tunggu pasien hanya pak Hermawan dan dua anak perempuannya
Sore ini ketika Naura sedang berdinas di kliniknya, Dimas masuk ke area klinik. Andi ikut turun, tapi langkahnya langsung dihentikan security
"Maaf, bapak tidak bisa masuk ke area klinik, silahkan bapak tunggu di luar pagar"
Wajah Andi seketika memerah, dia sangat tersinggung dengan perkataan security tadi
"Baru jadi security saja belagu kamu, kamu tidak tahu siapa saya?"
Security itu tersenyum dan terus berkata sopan menghadapi Andi yang sudah mulai marah
"Ini klinik anak saya, kalau anak saya tahu betapa tak sopannya kamu memperlakukan saya, bisa saya yakinkan tamat karir kamu"
Seorang security lainnya mendekat dan tampak berbicara pada rekannya yang terus dimarahi Andi
"Maaf pak, kami hanya menjalankan tugas dari bu Indah" ucap security yang baru datang
Seketika wajah Andi yang semula marah berubah tegang
"Indah?"
"Iya pak, kami telah memiliki gambar bapak dan keluarga bapak, yang dipesankan bu Indah jangan sampai masuk kesini"
Wajah Andi berubah kesal, dengan menahan kesal dia keluar dari area klinik, menunggu Dimas di luar pagar
"Kelewatan kamu Indah, bahkan untuk masuk ke klinik anakku sendiri saja kamu melarang ku" geramnya
Sementara di dalam klinik Dimas segera menemui Naura karena sebelumnya mereka telah janjian
"Bagaimana mbah kak?"
Dimas menarik nafas dalam
"Belum dapat kamar dek, sampai sekarang mbah dan ibuk tidur di ruang tunggu rumah sakit"
"Kenapa tidak ngontrak saja kak untuk sementara, Ula yakin di dekat rumah sakit banyak kontrakan harian bahkan mingguan"
Dimas mendecak mendengar usul Naura yang membuat Naura menundukkan kepalanya
"Maaf kak.."
Dimas kembali menarik nafas panjang
__ADS_1
"Bisa tidak dek, kakak minta tolong, kali aja kamu ada kenalan dokter atau perawat di sana yang bisa membantu mbah, biar mbah segera dapat ruangan, kasihan mbah kalau lagi kumat. Dia akan menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya hingga matanya nyaris akan keluar saking mbah menahan sakit"
Wajah Naura seketika langsung berubah sedih. Dia tahu bagaimana pasien kanker otak ketika penyakitnya kumat, dia pernah beberapa kali melihatnya ketika dia di Jawa Tengah dulu.
"Kakak kan tahu Ula baru disini kak, belum banyak kenalan dokter atau perawat, tapi Ula akan tanya dengan dokter yang praktik. Ula yakin mereka punya banyak channel dokter di rumah sakit propinsi"
"Iya dek, tolong ya, kasihan mbah"
Naura mengangguk.
"Kakak sendirian kesini?"
"Sama oom Andi, tapi dia dihentikan security tadi"
Naura segera berdiri dari kursinya, berjalan kearah jendela, melihat jauh keluar dimana tampak olehnya, ayahnya berdiri di luar pagar sambil berjalan mondar mandir
Naura menarik nafas panjang dan kembali lagi ke kursi
"Bunda sampai detik ini belum bisa memaafkan ayah, Ula tidak tahu kak bagaimana caranya membujuk bunda memaafkan ayah"
Dimas tersenyum basi mendengar ucapan Naura
"Ini hukuman untuk oom, ya sudah dek, kakak mau pulang, kasihan istri kakak sering ditinggal, mana dia sedang hamil muda sekarang"
"Serius kak?, sudah berapa bulan?"
"Wahh selamat ya kak, akhirnya Ula akan dapat keponakan"
Dimas tersenyum lalu dia bangkit dari kursi, Naura menyalaminya dan mengantarnya sampai depan pintu.
Saat Dimas menuruni tangga, Nina yang habis keluar dari ruangannya segera memanggil Dimas
"Dimas!!"
Dimas mengangkat kepalanya dan mempercepat langkahnya menuruni tangga dan mendekati Nina
"Apa kabar bulek?" tanyanya sambil menyalami Nina
"Bulek sehat, bagaimana mbah?"
"Mbah kian parah bulek, mana belum dapat ruangan. Aku kesini karena minta tolong sama Ula agar dia ngomong sama dokter disini, kali aja dokter disini ada kenalan dokter di rumah sakit propinsi agar mbah bisa segera dapat ruangan"
Nina menarik nafas panjang dan matanya seketika berair
"Alloh mengurangi dosa-dosa mbah dengan memberinya penyakit"
Dimas mengangguk, seakan setuju dengan perkataan Nina
__ADS_1
"Sudah ya bulek, aku pamit pulang, kasihan oom menunggu di depan"
"Sama oom?"
"Iya oom di depan, nggak bisa masuk" sambung Dimas tersenyum kecut
"Iya, wajar sih kalau mbak Indah benci setengah mati sama mas Andi. Bulek aja malu akibat ulah dia"
Dimas mengangguk lalu mencium punggung tangan Nina dan berpamitan.
Setelah Dimas tak terlihat lagi, Nina masuk keruangan Naura yang pada saat itu sedang menelpon
Naura memberi kode pada Nina untuk duduk, sementara dia terus berbicara serius di telpon
Nina terus memperhatikan Naura karena dia mendengar Naura menyebut-nyebut mbahnya
"Alhamdulillah bulek, ada teman dokter Andi di Palembang yang siap bantu mbah, kata beliau besok beliau akan menemui mbah di tempat tunggu khusus pasien"
"Alhamdulillah, terima kasih Naura untuk bantuan kamu. Entah apa jadinya mbah mu jika nggak ada yang bantu"
Naura tersenyum
...****************...
Bu Mira kembali meraung kesakitan sembari memegangi kepalanya. Matanya melotot menahan sakit dan kedua tangannya mencengkram kuat rambutnya
Dia terus meraung kesakitan sampai air matanya berurai keluar tanpa henti
"Ampuunnn... Aku ndak kuaaatt lagii, ampuuunnn..." teriaknya
Bila dia telah kumat seperti itu tak ada yang bisa dilakukan Ningsih dan Laras kecuali ikut menangis. Sementara pak Hermawan memegangi tangan istrinya agar tidak sampai menyakiti dirinya sendiri
Tubuh bu Mira telah mengurus, dan wajahnya telah berubah sedikit agak bengkak. Nafsu makannya hilang bahkan rambutnya mulai banyak yang rontok
Ketika dia kumat, maka dia bisa kejang bahkan tak sadarkan diri dengan terus berteriak seperti yang dilakukannya saat ini
"Istighfar buk, istighfar..." ucap Ningsih dengan suara serak karena menangis
Laras yang ikut panik juga menyuruh ibunya untuk beristighfar. Tapi bu Mira terus saja berteriak dengan terus menjambak rambutnya
"Sakiittt... tolooonggg, sakiiittt..." teriaknya
Beberapa pasien dan keluarga pasien yang juga menunggu giliran dapat kamar perawatan hanya bisa memandang iba tanpa bisa menolong
Sejak di bawa ke rumah sakit propinsi, bu Mira makin sering kumat, segala usaha telah Ningsih lakukan bahkan dengan menemui dokter, tapi mau bagaimana lagi, memang kondisinya rumah sakit penuh, jadi mau tak mau bu Mira dan keluarga harus bersabar lagi menunggu giliran dapat kamar
Pihak rumah sakit juga sudah melakukan pelayanan terbaik, walau bu Mira belum dapat kamar, tetapi tiap hari kesehatan bu Mira di cek, bahkan pak Hermawan beserta Ningsih dan Laras mereka beri selimut agar mereka tak kedinginan jika menunggui bu Mira di malam hari. Bahkan Bu Mira dapat jatah makan pula dari rumah sakit, sama dengan pasien yang lain
__ADS_1