
Pak Hermawan segera pulang begitu rombongan pak kades pergi, segera dia masuk kedalam rumah dan terduduk lesu
"Loh kok masih siang sudah pulang pak?, apa nggak jadi loading?" tanya bu Mira
"Jadi" jawab pak Hermawan lesu
"Lah terus kok ini sudah pulang?"
Dengan wajah lesu dan terkadang berubah marah pak Hermawan menceritakan apa yang terjadi di perkebunan.
Wajah bu Mira juga terlihat kaget bercampur marah
"Sombong ya lon****e itu sekarang. Saya mau lihat tampang dia seperti apa sekarang" dengus bu Mira kesal
...****************...
Jam 16.00 wib (12.00 waktu Jeddah)
Aku sendiri di dalam kamar, kedua anakku sedang kerumah tahfidz untuk murojaah. Kedua orangtuaku kebetulan sedang kedusun karena ada keperluan
Aku mencari laptop anakku yang biasa mereka pakai. Ada dalam lemari, dan aku segera menyalakannya dan mencari menu skype.
Tiga minggu tidak bertemu abang, rasanya rinduku sudah sebesar dunia.
Tersambung, karena aku sudah memberitahunya terlebih dahulu melalui bbm, jika aku ingin skype.
Ketika wajah abang tampil aku langsung tersenyum menatapnya.
"Abang hampir mati menahan rindu ini, Indah" buka abang
Aku terkekeh mendengar gombalannya.
"Hampir kan, tapi belum" jawabku
Abang mendelik mendengar jawabanku
"Abang akan menyusulmu kalau begitu, abang akan melamarmu, meminta pada kedua orangtuamu untuk merelakan anaknya menjadi istri abang" lanjut abang dengan mata sendu
Wajahku langsung bersemu mendengar ucapannya.
Dan Ozkan sangat menikmati tingkah Indah yang berubah malu.
Lalu kami saling berbagi cerita, aku menceritakan keseruanku dengan keluargaku, lalu abang bercerita tentang proyek yang harus dia tangani sendiri tanpa kehadiranku
"Semangat abang" ucapku ketika abang mengatakan jika dia capek mengerjakan sendiri, biasanya selalu ada aku yang membantunya.
"Abang ingin suatu hari nanti ikut off-road di video yang kamu kirim"
Aku terkekeh
"Itu jalan menuju kebun sawit abang, bukan jalan off-road" jawabku
Abang lalu tertawa menyadari kekeliruannya.
Cukup lama kami mengobrol hampir satu jam. Setelah melepas kangen dan saling berbagi cerita, obrolan ini kami akhiri dengan sama-sama menempelkan jari kanan kami kelayar laptop, seakan-akan tangan kami saling bersentuhan.
...****************...
2 Week Later
Hari ini aku kembali pergi keperkebunan, kali ini aku pergi dengan kak Angga dan istrinya. Kak Andri tidak bisa cuti lagi, kami pergi memakai mobil bapakku, dan aku yang menyetir.
Sembilan puluh menit kami menempuh perjalanan, dan sekarang kami mulai masuk kearah jalan menuju rumah pak Haryo.
"Kok ada tenda kak?" ucapku pada kakakku yang duduk di belakang dengan istrinya
Kakakku membuka kaca mobil dan ikut melongokkan kepalanya.
Mobil kian mendekat dan tahulah aku, ternyata tenda itu dipasang karena banyaknya orang yang berkumpul
Melihatku datang, pak Haryo dan istrinya segera berdiri dan berjalan menyambut kami
Aku cipika cipiki pada istrinya dan melambaikan tanganku pada tamu yang telah duduk rapih dalam tenda
"Itu serius Indah?" batin Andi.
Sejak Indah turun dari dalam mobil hatinya sudah berdegup tak karuan, ditambah ketika dia melihat Indah berjalan masuk kedalam tenda dan sekarang duduk di sebelah kak Angga
"Ya Tuhan, kenapa dia sekarang jadi cantik, putih lagi" kembali dia membatin
Matanya tak berkedip menatap kewajah mulus Indah, dia ingat dulu perempuan itu berkulit sawo matang, dengan wajah yang juga standar, jauh dari kata cantik
Tapi sekarang, dia benar-benar berubah, wajahnya putih mulus dan dapat dia lihat dari jarinya, jika perempuan itu berubah putih
"Aku harus bisa mendekatinya" tekadnya dalam hati
"Gila, kabarnya bos kita itu janda" ucap lelaki disebelah Andi
Andi menoleh dan menatap tajam kearah lelaki itu
"Janda kaya dong kalau begitu" sambung yang lain
__ADS_1
Lalu mereka cekikikan. Andi mulai tak suka mendengar omongan mereka
"Andai saja aku kaya, aku pasti mau melamarnya" ucap yang lain menatap takjub Indah dari kejauhan
Andi memandang Indah yang saat itu sedang mengobrol dengan para ibu-ibu, lalu menoleh pada lelaki yang tadi berkata mau melamarnya andai dia kaya
"Tidur dulu, baru mimpi!" jawabnya kearah lelaki tadi
Mereka yang mendengar ucapan Andi, terkekeh.
"Mainlah kerumah kami bunda" tawar para ibu-ibu itu padaku
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum dan mengiyakan basa-basi mereka
"Bunda, maaf sebelumnya ini saya ada sesuatu untuk bunda" ucap seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya
Aku segera menoleh kearahnya yang sedang memberikan kantong kresek hitam kearahku
Tanpa ragu aku segera mengambil bungkusan itu
"Aduh, ini apa mbak, kenapa jadi repot begini" jawabku tak enak sambil segera membuka kresek tersebut
Kulihat wajah wanita muda tadi agak tegang ketika aku membuka kresek
"Boleh aku buka isinya?" ucapku ketika aku melihat ternyata di dalam kresek itu ada satu wadah
Wanita itu mengangguk pelan.
Aku segera membuka wadah tersebut dan mataku langsung berbinar
"Ahhhh, terima kasih" ucapku sambil merangkul pundaknya
Wanita muda itu menarik nafas lega dan ikut tersenyum ketika aku merangkul pundaknya
"Hanya makanan kampung bunda" ucapnya ketika melihatku yang begitu antusias memakan getuk lindri yang diberikannya
Ibu-ibu yang lain begitu melihatku makan getuk jadi nyeletuk
"Wong sugeh bakno doyan mangan gethuk"
Aku terkekeh kearah mereka
"Saya orang kampung juga ibu-ibu, orang tua saya juga petani, jadi saya biasa makan makanan seperti ini" jawabku
Mereka tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Ini boleh saya bawa pulang?" tanyaku pada ibu muda itu
Beliau langsung mengangguk cepat dan aku tertawa melihatnya mengangguk
Jika kakakku dan pak kades sibuk mengobrol dengan para pekerja lelaki, maka aku dan yuk Diana beserta bu kades mengobrol dengan ibu-ibu yang rata-rata masih berusia muda.
Anak kecil yang digendong ibu muda tadi sibuk bergerak dalam gendongan ibunya.
"Boleh saya menggendongnya?" ucapku dengan mata berbinar melihat bocah cantik di depanku
Ibu muda itu segera melepas kain gendongannya lalu menyerahkan anak perempuannya kepadaku
"Ben ketularan dadi wong sugih yo ndok" ucapnya
Aku tersenyum. Lalu aku segera menggendong anak kecil tersebut yang ternyata langsung anteng begitu kugendong
"Mau ikut bunda pulang?" candaku pada balita yang berumur setahun itu
Dia tertawa, yang membuatku makin gemas
"Pengen bawa pulaaaang..." ucapku menoleh pada ibu-ibu yang tertawa mendengar omonganku
Aku jadi teringat momen dimana dulu Naura seumuran balita ini. Sering sekali dia kugendong dan dia akan tertawa jika aku ngusel-ngusel tengkuknya.
"Makan siangnya sudah siap bunda" bisik bu kades
Aku mengangguk
"Ibu saja ajak yang lain makan, jangan aku. Kan ibu tuan rumah" balasku juga berbisik
Lalu bu kades meminta pada pak kades untuk mengajak seluruh pekerja bersama keluarganya makan
"Bunda duluan yang ambil" ucap pak kades kearahku
Aku menggeleng
"Bapak saja yang duluan, baru setelah itu bapak-bapak yang lain, saya nanti barengan dengan ibu-ibu setelah yang bapak-bapaknya selesai" tolakku
Pak kades dan yang lainnya takjub dengan kerendahan hati Indah. Jika biasanya yang besar yang duluan, maka disini Indah lebih mendahulukan yang tua
Lalu pak kades memulai mengambil nasi diikuti dengan kak Angga dan seluruh bapak yang lain.
Mataku langsung tak berkedip ketika kulihat di dalam barisan yang antri mengambil nasi ada Andi. Aku yakin itu Andi, walau kulitnya tidak seputih dulu, tapi aku yakin jika lelaki yang mencuri pandang kearahku itu Andi. Bahkan ketika dia makin dekat kearah prasmanan, aku makin yakin jika itu Andi walau dia menundukkan kepalanya berusaha menghindari tatapanku
...****************...
"Nauranya biar saya ambil lagi bunda, nanti bunda repot kalau mau ambil nasi" ucap ibu muda itu setelah yang laki-laki selesai antri
__ADS_1
"Naura?" ucapku kaget
Perempuan muda itu mengangguk dan wajahnya sedikit bengong karena aku kaget mendengar nama anaknya
"Jadi gadis gembul di pangkuan bunda ini namanya Naura?" ucapku sambil kembali mencium pipi gembulnya
"Iya bunda" jawab ibu muda itu lagi
"Sama dengan nama anak saya" jawabku lagi
Ibu muda itu terlihat kaget dan tersenyum senang
"Ahhh... sudah, kalau begitu fix bawa pulang ini" lanjutku
kembali para ibu-ibu tertawa
Lalu aku menyerahkan Naura pada ibunya dan aku berdiri mengambil nasi diikuti oleh ibu yang lain.
Setelah selesai makan kembali aku mengambil Naura.
"Kak, fotoin" ucapku pada kak Angga
Kak Angga berjalan kearahku dan aku memberikan smartphoneku kearahnya.
Lalu kakakku mengambil beberapa fotoku dengan Naura.
"Ayo, ibu-ibu, foto sama saya juga" ajakku
Segera para ibu-ibu itu berbaris bahkan sampai diatur oleh kakakku agar rapih.
Lalu kami kembali mengobrol, bahkan kini ada beberapa anak kecil yang sengaja mengerubungiku yang duduk di kursi
Aku mengelus kepala mereka semua
"Nanti jika besar jadi anak yang berbakti nak ya. Yang sayang sama orang tua" nasehatku
"Heii lon*****e!!!!" teriak sebuah suara yang memaksa kami semua yang ada dalam tenda menoleh
Aku mendapati bu Mira, Laras dan Maria berjalan dengan wajah emosi masuk kedalam tenda.
Dapat aku lihat jika Andi berusaha menghentikan langkah ibu dan saudaranya
Kakakku segera berdiri begitu melihat bu Mira berjalan kearahku
Orang yang ada dalam tenda langsung kasak kusuk ketika melihat tiga orang yang tak diundang itu masuk, terlebih mendengar teriakannya tadi
Dengan dada turun naik bu Mira berjalan kearahku. Aku yang masih memangku Naura bersikap tenang, tetapi para ibu-ibu yang ada di dekatku segera berdiri
"Dasar perempuan sialan tak tahu diri!" bentak bu Mira setelah sampai di depanku
Kakakku langsung menarik pundak bu Mira
"Jaga mulut kamu kalau tidak ingin aku sobek!" geram kakakku
Aku segera mengembalikan Naura pada ibunya
Aku lalu berdiri di depan ketiga perempuan jahat yang selalu memusuhiku itu
"Kalian mau apa?" tanyaku dingin
Pak Kades dan Andi segera berdiri di dekat kami, bahkan Andi kembali memegangi tangan ibunya
"Kurang ajar! wanita sialan!" kembali bu Mira berteriak
"Jaga mulut anda, ya!" tunjukku kemukanya dengan mata melotot
"Bukannya kami tidak tahu jika kamu jadi lon*****e di Arab sana!" ucap Laras
Dadaku langsung bergemuruh mendengar ucapannya. Kak Angga spontan melayangkan tamparannya kewajah Laras
PLAAAKKK!!!
Laras langsung jatuh tersungkur di tanah dan mbak Diana langsung memegangi pundak kakakku yang menahan emosi
Wajah Maria berubah pucat dan bibirnya bergetar, dan dengan gemetar dia mengangkat tubuh Laras. Laras langsung memegang pipinya dan airmatanya langsung mengalir
"Pergi kamu dari sini!" usirku
"Kamu jangan sombong ya, mentang-mentang kamu sekarang banyak uang seenak kamu menghina orang!" teriak bu Mira
Aku tersenyum sinis mendengar ucapannya
"Kalian harus dengar saudara-saudara, perempuan ini jadi lon**** te di Arab sana, dia jual diri, Makanya dia banyak uang!" teriak bu Mira
Tak sadar tanganku melayang kearahnya
Aku menampar perempuan paruh baya itu dengan keras, hingga tanganku terasa panas.
Andi yang melihat Indah menampar wajah ibunya tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya memegang pundak ibunya yang menahan kesakitan
"Heh!, bu Mira. Jaga ya mulut anda. Anda sembarangan bilang bunda dengan sebutan lo*****te, anda tidak sadar, justru yang jadi lo******te itu Laras sendiri!"
Bu Mira menoleh cepat kearah bu kades
__ADS_1
"Jangan ikut campur bu kades, ini urusan saya!" jawab bu Mira
"Ini justru jadi urusan saya, karena anda bertiga sudah membuat kekacauan di tempat saya!" bentak pak kades