Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Menunggui Andi Di Rumah Sakit


__ADS_3

Dengan terburu-buru aku berjalan menuju meja administrasi menanyakan dimana tempat suamiku dirawat


Setelah mendapatkan nama ruangannya, aku segera berjalan cepat. Tak butuh waktu lama aku telah sampai di depan kamar dimana suamiku dirawat.


Aku segera mengetuk dan tidak perlu menunggu jawaban aku segera masuk.


Mulutku langsung kubekap saking kagetnya ketika aku melihat kondisi suamiku yang sangat memprihatinkan.


"Ayaaahh..." panggilku dengan suara tercekat


Andi membuka mata demi mendengar ada suara memanggilnya dan dia menoleh kearah sumber suara.


Didapati olehnya, istrinya berdiri tegak dengan berurai airmata.


"Bun..." ucapnya lirih


Aku sudah tidak kuasa lagi, aku segera menubruk tubuh suamiku yang terbaring lemah dan menangis sesenggukan.


"Kenapa.. kenapa dengan ayah?" tanyaku disela isak tangisku


Andi membelai kepala istrinya yang menangis di atas tubuhnya.


"Kecelakaan" jawabnya


Aku masih menangis dan segera memeriksa tangannya yang biru lebam yang sedang diinfus.


Matanya bengkak, bahkan nyaris biji matanya tidak terlihat karena tertutup oleh bengkak itu. Wajahnya lebam, kakinya pun biru lebam dan terlihat bengkak.


"Ya Alloh" ucapku tercekat dan kembali memeluknya


"Kenapa tidak memberitahuku" sambungku nyaris tak terdengar karena aku terisak


"Ayah tidak apa-apa bun, jangan nangis"


Aku masih saja menangis. Memang aku marah dan sakit hati karena dipukulinya, tapi aku tidak tega begitu melihat kondisinya yang begitu parah


"Kapan kejadiannya?" tanyaku lagi


"Siang kemarin" jawabnya


"Maafkan ayah ya bun, ini balasan karena ayah telah jahat sama bunda kemarin" sambungnya


Aku menghela nafas berat dan menganggukkan kepalaku. Dan dengan iba aku mengelus wajahnya yang lebam.


"Maafkan ayah ya bun" ucapnya lagi sambil memegang tanganku.


Aku kembali mengangguk. Saat kami berdua sedang saling tatap tiba-tiba seorang dokter dan perawat masuk dan memeriksa kondisi suamiku


"Masih parahkah dokter suami saya?" tanyaku khawatir

__ADS_1


Andi menatap wajah Indah yang sangat khawatir. Dalam hati dia menyesali kenapa kemarin dia sangat kasar terhadap istrinya. Coba kalau dia tidak termakan hasutan mungkin ini tidak akan terjadi.


"Besok sudah bisa pulang mbak, hanya tinggal pemulihan. Dari hasil rontgen, tidak ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan. Hanya luka luar saja yang masih perlu perawatan"


Lalu dia memberikan secarik kertas resep ketanganku untuk aku beli di apotek.


"Makan siangnya jangan lupa di makan" ucap dokter sebelum meninggalkan ruangan


Sepeninggal dokter, aku segera menyuapi suamiku. Dengan telaten aku menyuapinya.


"Harus banyak istirahat dan minum obatnya, biar kita cepat pulang" ucapku


Suamiku hanya mengangguk.


Lalu aku mengambil air, lalu ku kompres bekas luka di tubuhnya.


"Kecelakaan dimana yah?" tanyaku tanpa menoleh padanya karena masih fokus mengompres kakinya


Andi kelabakan. Dia bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin dia menjawab jujur jika dia habis dihajar tiga bodyguard.


"Mobil, saat ayah mau nyebrang" bohongnya


"Kata pak Alam ayah merevisi laporan. Makanya aku sedikit tenang waktu aku menelpon beliau menanyakan ayah kemana kok nggak pulang"


Andi mengucap syukur dalam hatinya mengetahui jika pak Alam tidak memberi tahu keadaan yang sebenarnya pada istrinya.


Karena pak Alam dan Afdal adalah orang yang mengetahui keadaan dia pertama kali. Karena begitu masuk rumah sakit, dia langsung menelpon Afdal untuk menghandle segala pekerjaan, dan tak lama setelah itu Afdal datang berdua dengan pak Alam


"Tidak apa-apa yah. Semalam aku telah tahun baruan dengan seluruh karyawan yang ceo" jawabku


Wajah Andi berubah tak senang. Dia tentu tahu, jika malam tadi istrinya pasti bersenang-senang.


Andi diam tak menjawab yang membuat Indah tersadar jika suaminya marah


"Tapi aku tidak lama kok yah. Sebelum pergantian tahun aku sudah pulang" bohongnya


Padahal jika Andi mengetahui bagaimana Indah dan Ariadi malam tadi, wah bisa ngamuk dia. Apalagi jika dia melihat bagaimana mereka berpelukan...


Selagi aku membersihkan luka di badan suamiku, ponsel miliknya tiba-tiba berdering


*Gusti*


Aku segera meraih hp tersebut dan dengan wajah masam aku memberikannya pada Andi.


Andi kebingungan saat melihat layar ponsel.


"Angkat saja" ucapku dingin


Panggilan terputus. Tapi tak lama berdering lagi. Andi merejectnya.

__ADS_1


"Beritahulah kekasih gelapmu itu bagaimana keadaanmu sekarang" ucapku tanpa menoleh padanya


"Apaan sih bun" elaknya


Aku tersenyum sinis kearah Andi dan menggeleng-gelengkan kepalaku


"Atau jangan-jangan, kecelakaan ini hanya alasanmu saja" tambahku


"Maksud bunda apa?" suaranya mulai meninggi


"Yang selingkuh siapa, yang dituduh siapa. Kamu yang selingkuh tapi aku yang kamu pukul, yang kamu aniaya, yang kamu maki, yang kamu katakan murahan, hahaha.. hebat sekali kamu bapak Andi Wijaya" jawabku makin sinis


"Sudahlah, lebih baik kamu suruh selingkuhan kamu untuk nemanin kamu, aku mau pulang!" rajukku


"Jangan bunda, kalau bunda pulang siapa yang jagain aku" jawabnya memelas


"Kan sudah aku bilang tadi, suruh selingkuhanmu itu buat jagain kamu" bentakku


"Awas kamu ya" geram Andi


Aku mendekati Andi dan menunduk mendekati wajahnya


"Ini adalah karma untuk kamu Andi, kamu malam menyiksaku, mengurungku di kamar mandi, lalu paginya kamu mencambukku. Coba kamu lihat sekarang. Alloh membalas instan perbuatanmu!" ucapku pelan penuh penekanan


"Kurang ajar kamu ya. Mulai berani ya kamu sama aku" jawab Andi geram


Saat mulutku hendak terbuka menjawab perkataan Andi, hp ku berdering


"Ya bu Suryati?" jawabku


"Kita mau jalan-jalan ke sungai Kampar dan ke Masjid Agung An-Nur, kamu dimana? kita semua nunggu kamu ni"


"Rumah sakit bu"


"Lahhh siapa yang sakit?"


"Suamiku bu"


"Yaaaa, jadi kamu nggak bisa ikut Ndah?" tampak kecewa dari suara bu Suryati


"iya bu, nggak bisa. Maaf, titip salam saja untuk yang lain" ucapku yang sama menyesalnya


Lalu panggilan terputus. Aku lalu duduk di kursi yang tak jauh dari suamiku.


"Maaf, karena aku bunda nggak bisa liburan" ucapnya lirih


Aku menoleh malas padanya, lalu melengos.


"Istirahatlah. Aku juga mau istirahat. Badanku bekas cambukan kamu masih nyeri dan sakit semua" jawabku

__ADS_1


Andi terkesiap mendengar jawaban istrinya. Kembali rasa menyesal itu hadir. Apalagi bekas biru itu masih sangat jelas di wajah Indah


__ADS_2